Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Pamit


__ADS_3

Sabtu sore saat pulang dari bekerja, aku berniat mencari Goldie untuk berpamitan, juga pada pak Tomo dan Putra. Aku merasa tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi khususnya Goldie, karena kepulanganku kembali ke rumah Sanur.


Sepeda motor ku parkir diseberang jalan di depan rumah Goldie. Pintu gerbangnya seperti biasa sedikit terbuka setiap sore hari. Kemudian aku memanggil nama anjing itu dengan kencang. "Goldie!!... Goldie!! .. Goldie!!!... Aku bisa mendengar dia menyalak dari dalam lalu terdengar hentakan kaki Goldie yang berlari kencang keluar. Aku berjongkok untuk memeluknya erat sementara Goldie tentu saja tak mau diam. Dia menyundul dan menerjangku. Ekornya bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan kencang "Duh aku kangen banget sama kamu. Kamu nungguin aku tiap sore yah?! " kataku sambil mengusap punggungnya


Setelah dia agak tenang aku bicara padanya pelan sambil mengelus kepala dan dadanya, "Goldie aku mungkin tidak akan bisa kemari lagi. Ibuku baru saja sembuh dari kecelakaan. Aku harus pulang dan tidak bisa lagi tinggal disini. Aku akan menengokmu sesekali kalau aku sempat. Jadi anjing yang baik ya Goldie" Kataku sedih


Goldie hanya menyalak sekali, mungkin saja dia mengerti apa yang aku bicarakan.


Tanpa aku sadari ada sosok laki-laki berdiri didepan pintu gerbang sedang memperhatikanku. Perlahan dia melangkah mendekat, aku yang baru sadar ada seseorang mendekat langsung menoleh kearahnya. Aku benar-benar terperanjat karena laki-laki yang mendekat ini tenyata Galang. Aku berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah. "Tuhan kenapa dia ada disini?! Semua ketenanganku beberapa bulan ini akan kacau kalau sampai dia tahu identitasku. Aku yakin dia takkan mengenaliku karena saat ini aku sedang memakai masker dan helm" Aku bergumam dalam hati.


Aku berbalik dan bergegas menuju sepeda motorku yang berada tak jauh dari sana. Aku bermaksud untuk pergi begitu saja. Ketika aku akan menyalakan sepeda motorku, tangan Galang yang panjang dengan cepat menarik copot kuncinya. "HEII!!! Aku memekik kaget


Aku turun dari sepeda motorku untuk mencoba mengambil nya kembali dari tangan Galang. Aku menengadahkan tangan kananku di depannya.


Dia menggeleng "buka dulu helmnya" Katanya dengan suara lembut menatapku lekat. Suara Galang yang lembut ini sukses membuat perutku tiba-tiba mendapat nyeri-nyeri aneh kembali seperti dulu. Aku menghela napasku dan berbalik badan, berniat untuk kembali ke sepeda motorku agar sedikit berjarak dengannya. Jantungku sepertinya tidak ketinggalan berbuat ulah dia ikut serta dengan semangatnya berdegup. "Astaga kenapa hanya dengan satu kalimat tadi sudah mampu memporak-porandakan perasaanku begini sih?!ini tidak boleh terjadi. Kamu kuat Nami, kamu harus pergi dari sini" Aku kembali bergumam, tanganku memang erat stang motorku.


Galang mendekatiku, tangannya menjulur padaku dan membuka kaitan helm yang aku gunakan dengan cepat. Aku memegang kedua tangannya sambil menggeleng.


"Aku ingin melihat wajahmu Nami, aku rindu padamu" Katanya kemudian berbisik.


"Hah dia mengenaliku?" Lagi-lagi hanya dengan sepenggal kata itu saja, membuatku tidak bisa berkutik, mataku mendadak dipenuhi genangan air yang siap meluber sewaktu-waktu. Aku membiarkan tangannya menurunkan tanganku kemudian membuka pelan helm dan masker yang aku gunakan.


Dia menatapku sambil tersenyum, kemudian aku bisa melihat setetes demi setetes air mata mengalir disudut mata Galang yang jernih. Aku tidak bisa lagi membendung emosiku saat ini. Aku memukul dadanya dengan telapak tanganku berulang kali sambil terisak. Galang lalu memelukku erat meski aku masih mencoba memukulinya.


"Maafkan aku sayang, kamu berhak marah, aku lebih rela kamu marah seperti ini. Daripada tidak bisa melihatmu lagi sama sekali" Galang berbisik ditelingaku. Aku hanya bisa terisak lebih kencang kala mendengar apa yang dia katakan.


"Kamu jahattttt!!!, kamu melepaskan aku Galang. Kenapa sekarang kamu datang lagi. APA MAUMU???!!!! " Aku berteriak emosi dipelukan Galang masih sambil tersedu.


Galang masih saja memelukku erat, tanpa mengatakan apa-apa.

__ADS_1


Sekian detik berlalu, emosiku sepertinya sudah mereda. Aku menarik tubuhku dari pelukan Galang dan menghapus sisa-sisa airmataku dengan telapak tangan.


"Aku berhutang penjelasan padamu Nami" Kata Galang memecah kesunyian


"Kenapa baru sekarang? Kamu yakin sekali aku mau mendengarkannya. Sebaiknya tidak usah menjelaskan apa-apa. Kemarikan kunciku, aku mau pulang hari juga sudah mulai gelap" Jawabku dingin.


"Karena sekaranglah saat yang tepat " Ujarnya lembut seperti berusaha membuat aku tenang kembali.


"Hahh??!! Setelah banyak hal yang aku lalui sendirian??!! Kamu bilang sekarang saat yang tepat? Luar biasa Galang" Sahutku sinis


"Aku mohon dengarkan aku dulu Nami. Setelah ini silahkan saja kalau pada akhirnya kamu benar-benar....pergi dan.... benci padaku" Suara Galang terdengar bergetar.


Aku memegang dahiku yang terasa panas. Ku keluarkan sebotol air mineral dari dalam tasku dan meneguk nya cepat menyisakan setengah dari isinya. Galang mengambil botol itu dari tanganku dan meneguk nya tandas.


"Itu airku" Kataku ketus


"Oh yah?! kok nggak ada namamu disini? "


Aku yang sedang tidak ingin bercanda hanya bisa menelan ludah dan menggigit bibirku menahan tawa.


"Aku dengar tadi ibumu kecelakaan?"


"Iya, ditabrak dari belakang waktu naik sepeda motor ke pasar pagi-pagi"


"Terus sekarang bagaimana keadaannya?" Galang terdengar khawatir


"Sudah baikan"


"Ck! Ada- ada aja yah namanya di jalan, semoga Ibumu cepat pulih"

__ADS_1


"Iyah makasi" Kataku cepat


"Aku dengar tadi juga kamu bilang harus kembali ke rumah Sanur, memangnya kemarin-kemarin tinggal dimana? " Tanya Galang lagi sambil duduk menyamping pada jok motor dibelakangku.


"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu? "


Jawabku memunggunginya.


"Karena aku ingin tahu, apa yang terjadi setelah kita berpisah" Katanya lembut.


Aku menggeleng "kenapa kau ingin tahu?


" Karena aku masih sangat mencintaimu Nami, aku tidak bisa melepaskan dirimu begitu saja"


"Lelucon apa ini? Nggak lucu sama sekali!! April's fool sudah lewat" Jawabku kesal dengan posisi badan masih memunggunginya.


"Memang nggak lucu, ini aku serius" Galang mendorong pelan kepalaku dengan kepalanya dari belakang.


Dorongan kepalanya ini membuat perasaan ku menjadi campur aduk.


"Turun dulu yuk, aku mau mau bicara. Kenapa rambutmu jadi pendek begini? Warnanya juga jadi biru" Galang meraih beberapa helai rambutku dan memilinnya pelan.


Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku mengambil ponsel dalam ransel ku untuk mengirimkan pesan pada meme, untuk mengabarkan pada beliau kalau aku akan pulang terlambat hari ini.


Sementara tanpa ku ketahui Galang dibelakang sedang mengendus wangi rambutku dengan antusias.


Aku turun dari sepeda motor ku "mau bicara dimana?"


"Didalam sana" Galang menunjuk kearah rumah Putra.

__ADS_1


Aku melangkah dengan cepat, sementara Galang mengekor padaku dengan senyum lebar.


__ADS_2