Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Nyonyah Dharmawan


__ADS_3

Setelahnya, kami menikmati dessert berupa puding dengan lelehan saus strawberry cokelat dengan potongan buah segar.


"Gimana? Enak? " Tanya Dira


"Iyah, enak"


"Aku selalu suka melihatmu makan, lahap dan cara mengunyahmu itu cute" Katanya sambil terkekeh sendiri


"Aku jadi kasihan sama dia, aku tahu Dira kamu benar-benar menyukai ku, tapi aku tetap nggak akan bisa membalasnya" Aku bergumam dalam hati


"Kenapa diam Nami, bisa beritahu aku isi pikiranmu itu? Aku berjanji tidak akan marah"


"Benar yah kamu tidak akan marah? "


"Iyah aku janji, kalau aku marah kamu boleh menamparku"


"Mana bisa aku menamparmu, aku yakin kalau kamu marah kamu akan beringas memelukku lagi seperti waktu itu, dan sudah pasti tanganku tidak bisa bergerak bebas"


Dira terkekeh lagi "try me" Katanya menantang


"Terimakasih untuk makan malam yang indah ini, tapi tanpa bermaksud mengecilkan usahamu selama ini, aku rasa ini tidak cocok dengan hubungan kita sekarang" Kataku sambil mengigit bibirku


"Menurutmu hubungan kita ini apa? " Tanyanya dengan gesture tubuh yang santai


"Entahlah Dira, tiba-tiba saja kamu memaksa masuk ke kehidupanku. Aku pikir kita hanya sebatas kenal? Karena kalau aku bilang teman , kita berdua tidak seakrab itu. Kalau aku bilang kekasih? Tentu saja bukan"


"Nami...aku sangat menyukaimu. Aku tahu kamu belum mau menerima kehadiranku saat ini. Tapi aku sedang berusaha" Katanya terus terang


"Kamu tidak lelah dengan penolakanku? "


Dira menggeleng "karena aku yakin suatu saat nanti hatimu pasti akan berpaling untukku"


"Ya Tuhan aku kenapa jadi bersimpati padanya, tapi simpati itu bukan cinta! Nami. Ingat orang ini sangat terobsesi denganmu. Dia pastinya akan sangat posesif. Apa kamu yakin dia tidak akan menyulitkan hidupmu dimasa depan dengan aturan-aturannya yang tidak masuk akal?!! Ck! Hmmm...Sepertinya aku sedang terbawa suasana romantis ini! " Aku berdebat lagi dalam benakku.


"Aku saat ini tidak berharap banyak, tapi aku yakin usahaku tidak akan sia-sia. Kamu tahu, tadi saat kamu mengusap lenganku, hal sesederhana itu saja sudah merupakan rewards buat usaha aku selama ini. Aku senang kalau kita bisa terus sedekat itu" Dira berkata pelan sambil menatap ku lekat.

__ADS_1


"Apa dia mencoba menurunkan kewaspadaan ku ? Aku rasa begitu. Ok, kamu harus tetap fokus pada rencanamu. Kalau tidak hidupmu akan lebih rumit" Lagi-lagi aku berbicara sendiri dalam hati.


Gani tiba-tiba saja menghubungi Dira


" Yah Gani ada apa? Hmm... Mmm ok, saya kesana sekarang" Lalu Dira berdiri dan mendekatiku


"Jangan terlalu memikirkan hubungan ini, kita jalani saja seperti biasa Nami. Aku harus pergi sebentar, kamu jangan kemana-mana, tunggu aku disini yah" Lalu tiba-tiba saja mengecup keningku dan bergegas pergi.


"Aduh kenapa aku jadi deg-degan begini yah? " Aku hanya bisa mengatur napasku kembali sambil memijit dahiku.


"Fokus Nami... Fokus!!!" Aku bergumam.


Setelah beberapa lama menenangkan diri aku berniat untuk pergi mencari Ibunya di funtion room tapi suara langkah kaki dari sepatu berhak tinggi terdengar mendekat kearahku.


Saat aku menoleh aku melihat Ibunya Dira mendekat padaku dengan raut wajah yang angkuh. "Nah ini yang aku cari" Aku berkata dalam hati sambil menghidupkan perekam suara di ponsel ku dan kuletakkan diatas meja.


"Enak makan malamnya" Kata Ibunya Dira tersenyum sinis.


"Enak bu" Kataku mencoba santai, padahal degup jantungku bertalu-talu menghadapi situasi ini.


"Iyah nyonyah makan malamnya enak" Ulangku lagi


"Kamu siapa berani-beraninya dekat dengan anak saya? "


"Saya Nami Nyonyah"


"Saya tidak sudi wanita seperti kamu mendekati anak saya"


"Saya wanita seperti apa memangnya nyonyah? "


"Kamu kampungan!!! Orang tuamu bekerja apa?! Saya yakin orang tuamu dari kalangan tidak mampu. Kalian bukan level keluarga kami. Kamu paham?!" Katanya lagi dengan suara meninggi


"Iyah nyonyah keluarga saya memang dari kalangan biasa, tapi bukan berarti Anda berhak menghina saya apalagi keluarga saya. Perlu anda ketahui, saya tidak mendekati Dira. Tapi Diralah yang mengejar saya"


"Tidak mungkin!!! anak saya seleranya tinggi. Bukan yang kampungan seperti kamu ini. Paling gaunmu beli di pasar loak. Atau dari menjual diri yah?! "

__ADS_1


"Gaun ini kiriman dari anak anda, saya kemari atas undangan anak anda juga! " Sahutku tegas sambil menahan emosiku.


"Oh Saya tahu kamu cuma mengejar harta anak saya saja kan??! Ini kan yang kamu mau?!! " Dia mengeluarkan selembar cek dari dalam tasnya dan dilemparkan kearahku.


Aku menangkap cek yang dia lemparkan. Aku Membaca nominal yang tertulis disana "tiga ratus juta rupiah" Aku tertawa geli


"Kurang??!? Dasar wanita tidak tahu diri. Ambil cek itu dan pergi tinggalkan Dira. Kalau tidak, saya tidak akan segan-segan membuat hidupmu menderita!!! " nyonyah Dharmawan berteriak padaku.


"Tidak perlu bersusah payah menyuruh saya meninggalkan anak anda. Anda jaga saja Dira agar tidak mengganggu hidup saya" Kataku tajam.


"Hei wanita sialan, Apa katamu??! Anak saya berpendidikan tinggi, pergaulannya luas. Buat apa dia mengganggu mu. Tidak masuk akal!! "


"Silahkan Anda tanyakan saja pada sopir Dira, bagaimana dia memaksa masuk ke kehidupan saya. Sejak awal saya sudah menolaknya. Terus terang tujuan saya kemari karena memang ingin agar anda mengawasi Dira!!! ANDA PAHAM??!!! " Aku menjawab dengan suara meninggi dan berlalu dari hadapannya dengan rasa marah yang memuncak. Di pintu masuk villa bisa kulihat 4 pengawal si Nyonyah sombong itu menunggu dengan wajah garang. Aku mempercepat langkahku pergi dari tempat itu.


Aku sangat paham akan resiko penghinaan ini sebelum datang kemari. Tapi tetap saja mendengar hinaannya secara langsung seperti ini rasanya hatiku tetap saja sakit. Aku berniat untuk pergi dari sini secepatnya. Dalam perjalananku menuju ke lobby, sebuah tangan menangkap lenganku. Aku menoleh, rupanya Dira. Nafasnya memburu kemungkinan dia baru saja berlari kemari. "Tunggu sebentar Nami, aku ingin bicara" Katanya masih terengah-engah


Aku menggeleng "aku mau pulang Dira, disini bukan tempatku" Jawabku dingin.


Dira menarik paksa tanganku mengikutinya, aku bersikukuh menahan tanganku dengan kuat. "Aku mohon Nami ikutlah sebentar denganku" Ujarnya pelan


"Tidak mau, aku mau pulang!! " Suaraku meninggi.


"Jangan berteriak padaku di tempat umum, Nami" Dira mengedarkan pandangan ke sekitar. Beruntung tidak ada satu pun orang yang melihat ini semua.


Dira kemudian mendekat dan berjongkok didepanku, aku yang kebingungan melihatnya hanya bisa terdiam. Tiba-tiba saja badanku melayang karena Dira memanggulku, kemudian dia mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan aku yang meronta kasar padanya.


"Dira lepaskan aku, aku mau turun!!! " Aku meronta sekuat tenaga. Tanganku memukul dan mencubit punggungnya yang keras. Aku juga menggigit punggung nya, sialnya karena punggung nya keras yang aku bisa gigit hanya kain dari jasnya saja.


Dira akhirnya menurunkan ku di sebuah bangku taman yang sepi, jauh dari function room.


Dira menarikku paksa ke dalam pelukannya.


Aku merasa malam ini sangat melelahkan, jiwa dan raga. Aku hanya bisa terisak karena sedari tadi menahan emosi.


"Maafkan Ibuku Nami, maafkan aku juga" Bisiknya sedih.

__ADS_1


__ADS_2