
"Biang , Biang,.....!!! kok tamu-tamunya ditinggal, katanya sudah mau pamit, Mereka bingung nyari Biang dimana"
Terdengar suara berat dan besar Gung de dari luar.
" Oh iya Biang lupa, antiang jebos nggih gek, jak ngajeng bareng-bareng sama semuanya, (Oh iya Biang lupa, tunggu sebentar yah gek nanti kita makan bareng-bareng sama semuanya) Biang mau lihat tamunya sebentar ke depan"
"Nggih Gung Biang"
"Ohh pantes tamunya ditinggal, ada anak bandel ini toh disini" Kepala Gung de menyembul di balik pintu dengan Suara menggelegar seperti biasa
Aku tersenyum "Hi wi" Sapaku santai
"Sama siapa kemari? "
"Sama Galang, tadi main catur sama Gung Aji, loh kemana yah dia? " Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Paling diajak keruangan kerjanya Aji"
Seperti Gung de, Gung Aji juga seorang arsitek kemungkinan besar karena pekerjaan samalah Galang cocok dengan keluarga ini selain memang dia seorang yang pandai bergaul.
"Hayoloh bengong, pacarmu nggak bakalan hilang disini"
"Ih apa wi (kak)! "
"Itu tadi kenapa bengong, kalau nggak diajak pacarmu mana mau kamu datang sendiri kemari?"
"Aku nggak pacaran sama dia"
"Yang bener, keluar bareng sering-sering begini nggak pacaran? Hahahaha kok aneh"
"Siapa yang bilang kita sering pergi bareng? "
"Galanglah, kan dia juga sering datang kemari"
"Tapi beneran aku sama dia belum jadian"
"Teman tapi ciuman? Hahahaha kayak anak sekolahan aja nunggu jadian dulu hahahaha"
"Yeee biarin"
"Tapi kamu suka nggak sama dia"? Suka yah?.. Nanti aku bilangin deh" Gungde menggodaku
"Ck wi Gung ini loh! " Sahutku geram sambil tetap berbisik
"Ya sudah, hahahaha " Gustu terkekeh
"Gung Gek sama Gung Gus cakep-cakep kok bisa yah? Hahaha " Tanyaku iseng sambil tertawa geli
"Kamu nggak liat ajinya?" Katanya sambil tersenyum Bangga, menaikkan kedua tangannya.
"Nggak hahahaha " Jawabku iseng
"Siapa suruh ngilang, kalau nggak ngilang kan anaknya bisa lebih cakep lagi" Katanya berterus terang
Senyumku otomatis musnah "Loh kok jadi kesana wi, Tadi Biang sempat cerita sedikit tentang Ibunya" Ujarku lagi mengalihkan pembicaraan
"Nasibku memang harus begini mungkin, tapi aku bahagia kok masih punya orang-orang baik disekelilingku" Katanya menerawang
" Pembicaraan berat yah ini, gimana kalau kita makan aja yah sudah laper banget, Gung Biang belum selesai yah?! "
"Sepertinya belum? "
__ADS_1
"Kemungkinan masih sibuk sama tamu-tamunya, gimana kalau aku bantuin bersiap-siap diruang makan? "
"Yok sini bareng" Kata Gung de sambil menarik tanganku untuk diajak ke ruang makan.
Ia mengeluarkan piring dan beberapa alat makan, dan aku membantu mengaturnya dimeja.
Kulihat lauk sudah disiapkan pada sisi kanan dapur, dibawah rak piring. Semua kupindahkan ke meja makan. Sup sepertinya ada diatas kompor, aku menghidupkan kompor untuk sedikit menghangatkan sup yang sepertinya soup ikan.
Gung de hanya memandangiku sambil tersenyum dan melipat tangannya didada. Badannya bersender ditembok dapur dengan kaki kiri yang bertumpuk diatas kaki kanan seperti kebiasaannya dari dulu.
"Wi ambilin aku mangkok agak besar, aku nggak tahu tempatnya"
Gung de mengambil mangkok sayur yang berukuran sedang dan menyerahkannya ke tanganku. Aku memindahkan sup ikan beberapa sendok besar ke dalam mangkuk dan kuletakkan dimeja makan.
"Kamu tetap saja cekatan seperti biasa" Tiba-tiba Gung de sudah berada disebelahku yang baru saja meletakkan sup dimeja makan. Aku menoleh dan tersenyum.
"Ada kebiasaan yang memang tak berubah wi" Aku berbicara pelan dan setengah berbisik
" Apa termasuk kebiasaanmu lari dari orang yang sayang sama kamu? " Pertanyaannya seperti memberikan pukulan telak bagiku
Aku terdiam hanya memandang sup ikan yang aku letakkan tadi.
"Aku yang terlambat menyadari gek, begitu sadar kamu sudah pergi menjauh"
Kami terdiam beberapa saat.
" Ok duduk dulu yuk, kita bicara serius tentang ini yah, biar wi juga nggak salah paham terus" Kataku kemudian memecah kesunyian.
Gustu menarik kursi didepannya dan duduk dengan santai, akupun duduk disebelahnya.
" Sebelumnya aku mau minta maaf wi, mungkin wi pikir aku melarikan diri " Aku berkata sambil menghela nafas
"waktu itu aku sudah merasa kalau ternyata wi punya perasaan lebih ke aku, aku merasa nggak pantas karena beberapa hal " Sahutku kemudian
"Salah satunya, waktu itu kan aku baru lulus, masih banyak yang ingin aku lihat wi, aku takut salah mengambil keputusan untuk masa depanku sendiri. Aku pergi untuk memberi waktu pada diriku sendiri. Usia wi juga sudah sangat matang waktu itu, sedangkan aku baru merasakan masa muda"
Gustu terdiam hanya mengangguk lemah.
"Masalah kasta juga sangat menjadi pertimbanganku, banyak aturan yang mungkin akan membatasi langkahku, belum lagi tekanan sana sini, aku belum siap menghadapi konflik yang seperti itu"
"Artinya kamu tahu benar perasaanku waktu itu?"
"Iyah aku tahu"
"Kenapa tidak bercerita saja seperti ini, mungkin akan berbeda jadinya dan tidak menjadi pikiranku berbulan-bulan bahkan sampai tadi sebelum kita bicara"
"Aku yang umur segitu masih belum bisa seperti sekarang wi, mulai darimana ngomongnya, itu aku nggak ngerti"
" Artinya juga kamu memiliki perasaan yang sama denganku waktu itu? "
"Mungkin wi, karena terus terang aku merasa nyaman saat kita bersama, tapi itu kan belum tentu cinta. Masih inget kan aku masih belum move on dari mantanku waktu itu, terus dapat perhatian lebih seperti itu rasanya abu-abu, antara aku memang suka atau pelarian aku juga nggak tahu"
Gustu menghela nafasnya
Dia menghadap kearahku dan meraih kedua tanganku "terimakasih gek sudah jujur seperti ini, terus terang aku tidak pernah marah. Hanya sedikit kecewa tapi setelah mendengar penuturanmu tadi sepertinya aku mengerti situasimu saat itu. Kamu kesannya seperti pergi begitu saja tapi sebenarnya kamu memikirkan masa depanku juga. Karena kamu merasa tidak mampu kamu berharap aku bisa bertemu dengan wanita lain yang mungkin lebih pantas, lebih cepat lebih baik, benar kan? "
Aku mengangguk dan tersenyum kecil.
Gustu terdiam sejenak dan menatapku kembali.
"Aku senang kita bisa bertemu kembali, sering-seringlah kemari, sama Galang juga boleh. Aku sudah menganggap kamu seperti keluargaku sendiri mungkin seperti adik, adik yang pernah ada dalam hatiku, dan itu tidak akan berubah. Kalau tiba-tiba kamu berubah pikiran entah hidup ini akan bagaimana dimasa depan, aku masih ada disini gek, dan tetap mau membantu kalau ada masalah yang kamu sulit hadapi sendiri.
__ADS_1
"Iyah wi aku paham, suksma sudah mau mengerti"
"Ehmm" Tiba-tiba Gung Aji masuk ke ruang makan bersama Galang yang memandang tajam kearahku. Air mukanya terlihat tidak seperti biasanya, kalau boleh aku bilang itu air muka marah dan gelisah jadi satu.
Gung de melepaskan genggaman tangan kami dengan santai.
"Biang kemana? " Gung Aji bertanya
"Masih didepan, sekarang tiang panggil ji" Jawab Gungde sambil berdiri dan melangkah keluar
"Gek yang siapain ini? " Tanya Gung Aji sambil tersenyum
"Nggih Gung Aji karena sudah malam tadi titiang minta bantuan Wi gung juga, Biang sepertinya masih sibuk"
"Sepertinya begitu, tiang juga sudah lapar apa kita duluan aja yah? "
"Nggih Gung aji silahkan duluan titiang nunggu Gung Biang saja sebentar lagi"
Terdengar langkah pelan mendekat ke ruang makan
"Ohh sudah disiapkan ternyata, suksma nggih gek jadi ngerepotin tamunya" Ujar Gung Biang gembira
"Nggak seberapa Gung Biang, Gung Biang kan juga lagi sibuk, nggak enak kalau nggak ikut bantuin sedikit. Tamunya semua sudah pulang nggih? "
"Tamu-tamunya baru saja pulang, tadi Biang nganter anak- anak ke kamarnya, sekarang mereka lagi sama pengasuhnya . Kalau begitu ayok kita langsung saja ini, sudah lewat jamnya makan malam " Gung biang tampak menoleh kearah jam dinding yang menempel di tembok diatas rak Piring.
Kita pun menikmati makan malam hari itu dengan santai dan penuh pembicaraan-pembicaraan ringan yang dilontarkan Gung Aji.
Terus terang aku merasa Gung Aji sepertinya tahu situasi menjadi sedikit tegang setelah kejadian tadi. Aku memperhatikan Galang yang sama sekali tidak mau melihat kearahku sejak duduk di meja makan ini, hal ini membuatku geli setengah mati.
"Duh laki-laki satu ini, ngeliat aku pegangan tangan sama Gung de aja ngambek, kelihatan banget cemburunya " Aku berfikir sendiri
Setelah makan malam yang ditutup dengan pudinng buah yang aku bawa, aku berpamitan pulang.
"Cepat sekali waktu berlalu nggih, ini sudah jam sepuluh kurang sepuluh menit, sepertinya titiang harus pamit Gung Biang" Aku menoleh kearah Gung Biang yang duduk disebelahku.
" Iyah loh cepat sekali yah, main-main kesini lagi nggih kalau ada waktu, Biang belum puas mengobrol gek"
"Nggih Gung Biang pasti tiang kemari lagi"
Aku berdiri, dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh yang lainnya. Di halaman sudah sepi, tampak dua asisten rumah tangga saja yang sedang beberes membersihkan halaman sekitar
Aku memeluk Gung Biang lama sekali, dan menyalami Gung Aji yang menepuk-nepuk pundakku dan mengelus kepalaku.
Gungde mengucek rambutku sambil berkata
"Hati-hati dijalan yah Gek Sama Galang juga"
"Iyah Wi"
"Nggih Gung Aji, Gung Biang, wi Gung tiang mepamit"
Kataku kemudian
"Tiang juga mepamit nggih Gung Aji, Gung de, Gung Biang" Kata Galang kemudian
"Nggih" Kata mereka berbarengan
"Jaga anak ini yah bro, jangan sampai lengah sedikit saja hahaha" Kata Gung de menggodaku
Aku hanya berdecak dan ikut tersenyum kecut
__ADS_1
"Siap bro" Jawab Galang
Aku melambaikan tanganku, semua tampak melambaikan tangan juga kearah kami.