
Aku mengirimkan pesan pada Beni untuk bersiap menungguku dilokasi tadi sore dimana aku diturunkan.
Aku : "Siap-siap yah Ben, aku bentar lagi nyampe disana"
Beni: "baik nyah 😌" Jawabnya cepat
Setelah kurasa situasi sudah aman, aku mulai memanjat tembok yang lumayan tinggi itu. Beruntung tembok itu memiliki banyak ukiran sehingga dengan mudah aku menjejakkan kaki disana sini. Aku bahkan tidak ingat harga gaun yang aku kenakan, kemungkinan gaun indah yang sedang kupakai akan rusak mengenaskan malam ini. Tas clutch ku masukkan kedalam sisi dada sebelah kanan gaun ku. Begitu juga sepatu berhak tinggi yang aku pakai. Aku melepaskannya dan menggigit talinya agar aku bisa leluasa bergerak. Akhirnya aku sampai diatas tembok tinggi ini.
"Kalau begini aku jadi lebih mirip maling" Aku bergumam dalam hati, sambil menahan tawaku sendiri dan lupa dengan kesedihanku tadi. Setelah sampai diatas tembok, dengan Mengendap-endap aku akhirnya berada di ujung tembok ini, lalu turun menyisiri tembok bagian luar untuk bisa turun ke sisi jalan raya.
Aku mengedarkan pandangan, kulihat batu besar disisi jalan, aku berjingkat menghindari tanaman perdu yang bisa melukai kakiku. Aku bisa merasakan gesekan tangkai tanaman itu di kakiku, rasanya perih. Setelah mengendap- endap lagi akhirnya aku berjongkok dibelakang batu besar yang baru saja kutemukan. Aku mengintip sekali lagi, sepertinya situasinya aman. Aku berlari kencang menuju mobil Beni yang sudah siap diujung sana.
Tanpa sepengetahuan Nami. Galang yang tadi diam-diam membantu Nami di toilet pergi mencarinya lagi sampai ke pintu Gerbang. Setelah dia yakin Nami ada di belakang patung di depannya, dia pun ikut bersembunyi di belakang patung yang lain dalam gelap. Sehingga tak satu pun orang menyadari kehadirannya. Galang bisa bernapas lega setelah pihak keamanan yang mencari keberadaan Nami nampaknya kembali ke tempat acara. Namun saat ia melihat Nami tiba-tiba saja sedang memanjat tembok yang besar itu, jantungnya terasa mau copot. Dia kehilangan kata-kata, hanya sanggup memandang dari kejauhan dengan rasa khawatir. Diperhatikannya lagi dengan teliti. Kaki Nami naik tanpa ragu. Gaun yang ia pakai sudah tidak berbentuk lagi. Galang bisa melihat dengan jelas kaki dan paha Nami tanpa ditutupi sehelai benangpun memanjat naik keatas tembok. Dia merasa antara takjub, khawatir dan sekaligus geli. Dia menahan tawanya dibawah sana. Dia berkali-kali menggeleng melihat kelakuan wanita yang ia sangat cintai itu. "Kalau memang Nami akhirnya tidak memiliki hubungan dengan siapapun, aku akan mengejarnya lagi setelah proyek ini selesai. Bagaimana pun caranya aku akan berusaha. Semoga kami bisa bersama lagi" Galang berjanji dalam hatinya.
Galang tidak menyadari bahwa ini terakhir kalinya dia bisa bertemu dengan Nami dan akan kehilangan jejaknya dalam waktu yang sangat lama.
Beni menunggu Nami didalam mobil dengan perasaan khawatir, tangannya tak henti-hentinya mengetuk-ngetuk setir dengan gelisah. Beberapa menit kemudian, dia melihat seseorang lari dengan cepat kearah mobilnya. Rupanya Nami telah kembali, Beni akhirnya bisa bernafas lega. Dia langsung saja menghidupkan mobilnya.
Begitu sampai Nami masuk kedalam mobil secepat kilat, dan segera memasang sabuk pengamannya lalu bersandar pada jok mobil dengan napas memburu. Mobil Beni mulai bergerak.
Beni menoleh kearah Nami yang sedang membisu, "engken Nam? Kok siep gen uli tuni (Gimana Nam? Kok diam aja dari tadi) " kata Beni khawatir. Karena gelap Beni tidak menyadari penampilan Nami yang sudah tidak berbentuk lagi.
"Kamu be maem? (Kamu sudah makan) " Katanya lagi
"Udah Ben, bisa mampir bentar ke toko 24 jam? Aku mau beli tisu basah sama air mineral"
Beni menyerahkan air yang ia miliki, aku mengambilnya dan meneguk air mineral itu cepat sampai tandas.
"Pelan-pelan, kamu baik-baik aja kan? "
Aku mengangguk
"Ok, kita mampir ditoko sebelah sana yah" Kata Beni menunjuk ke satu toko dengan warna logo merah biru yang mencolok. Mobil Beni berhenti didepan toko itu.
Aku menoleh kearahnya "Ben boleh minta tolong beliin nggak, aku nggak berani keluar"
"Bajumu terlalu seksi? "
"Bukan cuman itu" Aku menghidupkan lampu dalam mobil Beni
Beni memperhatikan Nami dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Astaga Nami, kamu habis ngapain kok benyah latig (hancur lebur) gini " Ujar Beni dengan wajah kaget.
Beni bisa melihat Make upnya yang berantakan, gaunnya penuh debu dan kusut, kakinya yang kotor tanpa memakai sepatu. Rambutnya apalagi, mencuat kesana kemari seperti habis dijambak orang.
__ADS_1
"Beliin Ben, aku mau hapus make up dulu" Kataku dengan wajah sedih
"Bentar yah" Jawab Beni bergegas turun dari mobil. Dengan cepat Beni sudah kembali ke dalam mobil. Tisu basah yang diberikan oleh Beni langsung saja ia gunakan untuk menghapus riasan wajah dan membersihkan seluruh debu dan kotoran yang menempel di badannya. Beni terlihat sibuk ikut membantu membersihkan wajah dan punggungku tanpa banyak bertanya.
Setelah selesai aku kembali menjatuhkan badanku ke jok mobil Beni.
"Kamu besok pagi ada acara sama Shinta? "
"Nggak, besok aku ke rumahnya sore"
"Nongkrong yuk Ben, aku lagi pengin ngobrol banyak" Kataku pelan
"Yuk, mau dimana? "
"Dimana ajalah, disini juga boleh"
"Ya udah sambil jalan aja" Kata Beni sambil Menghidupkan mesin mobilnya
"Tadi itu aku abis manjat tembok besar itu loh Ben"
"Yang tinggi tadi? Ck! Nekat banget, udah kubilang nggak usah kesana sekalian, nyusahin diri sendiri aja!! kalau kamu jatuh siapa yang susah? yah kamu!!" omel Beni
"Iyah, aku mana tahu bakalan di tahan, mau dengar rekaman Ibunya nggak?" aku berkata pelan
Aku tertawa "persis" Jawabku , lalu memutar rekaman pembicaraan antara aku dan Ibunya Dira. Beni mendengarkan dengan wajah dingin.
"Kurang kata kampungan aja ternyata" Kata Beni nyengir setelah seusai mendengarkan rekaman itu.
"Aku berasa kayak lagi di tempat shooting wanita teraniaya, aku yang sudah siap mendengar kata-kata mutiara aja masih sakit rasanya gimana yang tiba-tiba yah? Ck! Emosi aku dengarnya pengin ku jambak aja Ibunya hehehehe" Aku terkekeh
"Kalau si Dira gimana? Nggak bilang "Maafkan Ibuku sayang?" Nggak gitu?" Ujar Beni menirukan suara laki-laki berwibawa.
"Hahahaha banget, kok tahu?? template abisss ya?!" Aku tergelak
"Ck! gitu doang, eh ceknya kamu jadi ambil? Rugi kalau nggak, lumayan bisa beli mobil, beli tanah 1 are atau buat liburan" Tanya Beni dengan wajah antusias
"Hahahaha tadinya mau begitu, tapi aku masih punya harga diri, gila hargaku cuman tiga ratus juta Ben!! . Aku lempar aja ceknya tadi ke mukanya Dira"
"Epic!!! Hahahaha aku yakin Dira akan inget seumur hidupnya. Ada cewek balikin cek yang dikasih ibunya ke muka dia hahaha"
"Tapi jujur aku merasa kasihan sama dia Ben. Aku kok tiba-tiba aja tadi ngerasa kayak simpati gitu ke dia yah? Wajar nggak sih? "
"Kapan muncul rasa kasihan sama simpatinya? Waktu kamu lempar cek itu? "
__ADS_1
"Bukan, waktu dia ngajakin candle ligth dinner tadi setelah acara"
"Wahhh pantesan aja simpati, usahanya untuk dapetin kamu itu luar biasa. Dari kirim makanan untuk kamu dan teman sekantormu, dibelikan gaun branded, sepatu,tas , sampai candle light dinner. Wanita mana sih yang nggak suka diperlakukan istimewa begitu Nam?! "
"Iyah aku tahu , biasanya juga lama-lama simpati bisa berubah jadi cinta gitu kan maksudmu"
"Iyah, tapi perlu diingat lagi ada orang tuanya yang nggak suka sama kamu. Itu aja udah masalah besar Nam. Belum lagi kayaknya Dira ini mirip Bumi yah. Bener nggak omonganku?! "
"Sangat perhatian tapi posesif ?, iya sih mirip" Aku mengingat lagi beberapa hal di masa lalu.
"Mirip Bumi bahkan mungkin lebih advance. Artinya dia bakalan lebih posesif dan sangat dominan dalam segala hal"
"Kok kamu tahu Ben?! "
"Nebak aja sih hehehehe kayaknya begitu, orang kayak dia biasanya nggak suka dibantah, kamu kan nggak bisa nurut anaknya. Ck! bakalan sering bertengkarlah kalian"
"Tadi aja ada cowok senyum ke aku, dia sewot sambil bilang " Nggak usah ikut bales senyum laki-laki lain, aku nggak suka" Ihhhhh ngeri lempar senyum aja nggak boleh "
"Hahahaha nemu aja yah laki-laki kayak begini. Belum jadian aja udah posesif gimana kalau udah jadi. Mungkin kamu ke warung sebelah aja mesti lapor dulu"
"Udah kayak tahanan, wajib lapor hahaha. Tadi kan Dira dipanggil Ibunya nah aku nggak dikasih kemana-mana, dijagain staffnya. Katanya dia mau nganter pulang. Ih ogah, bisa nggak pulang beneran malam ini"
"Ck! Serem banget sih, takutnya malah diajak nginep, hayoloh di ajak kawin lari hahahah mau nggak Nam? "
"Nggakkk...hahaha duh jadi merinding ngomongin ini"
"Kawin kok lari yah mana enak hahaha" Beni terbahak dengan leluconnya sendiri
"Ihh leluconnya " Aku mendelik ke arah Beni
"Hahaha terus gimana caramu kabur? "
"Aku bilang pengin ke toilet, eh tiba-tiba aja Galang dateng ngajak ngobrol staffnya, ya udah aku Kabur aja langsung"
"Galang ada disana?" Beni terperanjat
"Ada, aku malah sempat pandang- pandangan sama dia tapi nggak sempat ngobrol sih. Dia makin ganteng Ben. Aku jadi sedih ketemu dia" Kataku sambil menghela napas panjang
"Kok aku yakin yah, ada masalah yang memang dia sembunyikan dari kamu. Dia masih cinta Nam, Buktinya kalian masih tatap- tatapan. Terus dia masih nolongin kamu kan walaupun kita nggak yakin dia nolong atau memang nggak sengaja"
" Aku kangennn banget sama dia Ben" Air mataku tiba-tiba saja sudah menggenang kembali dan jatuh begitu saja tanpa diminta. Aku mengambil selembar tisu lalu duduk menyamping bersandar pada jok mobil sambil memeluk lututku. "Aku harus apa Ben?! " Sambil terisak "rasanya sakit kalau inget dia lagi" Kataku pelan sambil menghapus air mataku.
Beni hanya bisa menepuk pelan kepalaku "nangis aja Nam, biar perasaanmu bisa lebih lega"
__ADS_1