
Pagi ini aku datang ke kantor dengan kondisi yang kurang baik. Semalam tidurku tidak nyenyak sama sekali. Aku menghubungi Galang berkali-kali tanpa ada jawaban. Pesanku pun tidak dibalasnya.
Aku menghidupkan komputerku seperti biasa, dan langsung memeriksa email yang masuk. Ponselku berbunyi, sepertinya ada pesan yang masuk.
Galang: maaf yah sayang semalam aku ada urusan penting dan tidak sempat mengabarimu sama sekali. Nanti ku hubungi lagi ❤😘
Membaca pesan dari Galang membuat perasaanku tidak enak dan aku enggan menjawab pesannya ini.
Aku menuju Pantri untuk membuat kopi, "iyah membuat kopi sepertinya ide yang baik " Aku bergumam sendiri.
Aku membawa kopi ini ke meja kerjaku.
Bu Ida tampaknya juga telah sampai di kantor.
"Selamat pagi bu, kok sudah ngantor lagi. Katanya mau istirahat dulu"
"Saya sudah merasa lebih baik Nami, kalau dirumah saya jadi nggak tenang memikirkan kerjaan ini "
"Kan masih ada saya bu"
"Iyah saya tahu Nami pokoknya saya mau kerja hari ini, biasanya kalau saya bawa sibuk, sakitnya cepat sembuh hehehe" Jawab bu Ida bersemangat.
"Mau saya buatkan teh hangat bu? "
"Duh terimakasih tawarannya kamu baik sekali, tapi saya sudah bawa termos dari rumah. Isinya teh kesukaan saya. Hmm Gimana semalam?? hihihihi, saya kok jadi penasaran" Bu Ida tertawa jahil
"Ahhh yang pasti tidak menyenangkan buat saya bu"
"Kok bisa? Memangnya dia tidak bersikap baik? "
"Baik bu, tapi sayanya saja yang kurang klik! sama orang itu".
" Nggak ada rasa ser- seran ketemu yang Ganteng hebat kayak dia Nami? "
"Iyah bu ser-seran, tapi lebih ke merinding hahaha" Aku terkekeh
"Kayak ketemu hantu dong hahaha ada -ada aja" Ibu Ida ikut terkekeh
"Kringgg!!! "
Obrolan kecil kami berdua terputus oleh suara telepon di meja Bu Ida dari internal kantor
"Selamat pagi, dengan Ida Sales... "
"Ya pak Dito"
"Jam 10? Iyah pak nanti saya siapkan"
"Hah? pak Sudira?
__ADS_1
Bu Ida memutar kursi kerjanya ke arahku yang sedari tadi memang sedang memperhatikan ia berbicara di telepon.
" Ok baik Pak, saya mengerti"
Bu Ida menutup teleponnya dan menyeret kursi kerjanya dengan kaki untuk mendekat kearahku.
Aku yang mendengar nama Sudira seperti merasa langsung mulas.
"Nami pak Sudira yang punya Dharma Hotel mau datang kemari jam 10 "
Aku yang tadi hanya mendengar sedikit dari pembicaraan bu Ida tentu saja sudah menduganya.
"Ngapain dia kemari bu? "
"Mau jalin kerjasama untuk hotel-hotelnya, katanya dia dengar penjualan wedding kita untuk Aussie laku keras setahun ini. Jadi dia ingin mengajak bekerjasama"
"Terus kenapa dia sendiri yang kemari? CEO kok ngurusin kontrak wedding , kayak kurang kerjaan aja. Nggak sibuk apa yah dia? "
"Hsstt " Bu Ida menutup mulutnya dengan telunjuk "
"Kalian membicarakan apa saja semalam? , sampai dia mau datang kemari hari ini? " Bu Ida berbisik
" Beneran deh bu nggak ada, saya hanya ikut makan malam dan pulang. Itu saja"
"Mencurigakan sekali" Kata Bu Ida "Jangan-jangan... "
"Apa yang mencurigakan? " Kata Pak Dito yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang kami.
"Nanti saya mau semuanya sempurna bu Ida, tolong dokumen yang saya minta tadi dipersiapkan benar-benar" Katanya lagi dengan raut muka gelisah.
Bu Ida mencubit kecil pahaku dibawah meja
"Baik Pak Dito"
"Pak Jiwa, tolong minta OB baru lebih memperhatikan kebersihan kantor. Bersihkan lagi siapa tahu ada sudut-sudut yang terlewat. "
"Baik Pak, sekarang saya cari dia" Kata pak Jiwa
Dito mengangguk dan berlalu kembali ke ruangannya.
Setelah yakin pak Dito sudah masuk ke ruangannya kembali, bu Ida dan aku saling berpandangan. Kami berdua kemudian tertawa kecil berbarengan.
"Baru kali ini saya melihat pak Dito begitu gelisah, karena seorang tamu penting akan kemari" Bu Ida menggeleng.
Aku hanya bisa tersenyum.
"Pak Dito saja gelisah gimana perasaanmu yah Nami? " Bu Ida terkekeh sambil mencolek ku
"Ah Bu Ida, saya kok jadi males. Pokoknya nanti kalau dia datang, saya mau ngumpet aja di pantri" Kataku bersungut-sungut.
__ADS_1
Ibu Ida makin terkekeh-kekeh.
Setelah membalas email penting hari ini, aku melihat jam di ponselku, ternyata masih ada 15 menit lagi sebelum orang itu datang.
Bu Ida tampak sibuk mempersiapkan dokumen yang diminta pak Dito dan berlalu ke ruang meeting.
Aku memutuskan ke pantri lebih awal seperti rencanaku tadi, karena perasaanku mengatakan dia akan datang lebih awal 5 atau 10 menit sebelumnya.
Belum ada 10 detik aku masuk ke pantri terdengar Pak Dito bergegas melangkah menuju kantor depan.
Aku masih bisa melihat kedalam kantor dari celah jendela pantri yang tertutup gorden.
Dito terlihat bergegas ke kantor depan setelah Pak Suta menghubunginya, bahwa mobil Pak Sudira telah masuk ke parkiran.
Di belakangnya tampak bu Ida mengikuti pak Dito.
Pak Sudira turun dari Mobil bersama Sekretarisnya menuju kantor Dito.
"Selamat pagi Pak Sudira, saya Dito "
Pak Dito menjabat tangan pak Sudira dengan erat.
"Saya Ida, sales manager disini pak" Tampak Bu Ida juga menjabat tangan pak Sudira.
Mereka mengantarkan pak Sudira dan Gani menuju ruang meeting yang telah disiapkan sedari pagi tadi.
"Mari pak silahkan ke ruang meeting kami " Ibu Ida mendahului mereka untuk menunjukkan jalan.
Seperti biasa Dira terlihat tampan dan berkharisma. Langkah Dira tegap dan berwibawa, membuat semua staff di kantor terdiam memperhatikannya. Suasana terasa sangat sunyi hanya ada suara hentakan kaki beberapa orang.
Aku yang mengintip mereka dari pantri merasa gelisah. "Mudah-mudahan dia datang kemari memang untuk urusan bisnis, dan benar-benar melupakan dirinya. Tapi kok perasaanku tidak mengatakan demikian." Aku bergumam sendiri.
Dira tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika masuk ke dalam kantor kami, ia mengedarkan pandangan kesana kemari seperti mencari sesuatu, bukan dia sedang mencari seseorang tepatnya.
"Please jangan mencariku , please" Aku memohon dalam hati.
"Ada masalah apa pak Sudira? " Tanya pak Dito
"Saya tidak melihat Nami, kemana dia? dia tidak ikut meeting bersama kita?? "
Aku menutup wajahku "astaga tuh kan benar!!! Dia kesini memang mencariku" ."Kenapa dia memanggil namaku saja, kenapa tidak ada sebutan Ibu, ? Mba atau selain namaku saja, orang -orang pasti salah sangka dengan sebutan itu. Mereka akan berpikir aku sudah cukup lama mengenalnya dan kita akrab"
Aku memukul dan menendang angin disekitarku, rasanya sungguh menyebalkan.
"Ok, profesional Nami, kamu harus profesional... Tenang... Terik nafas dan mari kita hadapi orang aneh ini" Aku berkata pada diri ku sendiri
Pak Dito tampak kaget "Pak Jiwa, tolong cari Nami sekarang dan infokan langsung untuk ikut meeting kami yah" Dito menoleh ke arah Pak jiwa.
"Baik Pak, sekarang akan saya cari"
__ADS_1
Sedangkan bu Ida hanya sanggup menahan tawanya dalam hati "pasti Nami kaget mendengar namanya disebut seperti ini, anak yang malang"