
"Aku kayaknya harus jauh-jauh deh biar 'dia' bisa tenang lagi" Aku berniat untuk turun dari pangkuan Galang.
Tangan Galang memegang erat pinggang ku "nggak usah kemana-mana, nanti juga dia tenang sendiri" Bisik Galang lagi
Kami berdua beberapa saat hanya terdiam saling menatap.
"Mmm sayang aku tadinya mau bilang orang tuaku ingin berkunjung kerumahmu" Ucapan Galang memecah kesunyian kami
"Hah" Aku terperanjat "ini serius? Kapan!!?? "
"Nggak usah tegang gitu mukanya, biasa aja hehehe" Galang tertawa geli sambil mengusap wajahku yang terlihat panik
"Ih gimana nggak tegang, kenapa mereka kerumah bli??"
"Yah bertamu biasa aja, biar saling kenal sayang. Kenapa?? Kamu mikirin apa sih mukanya sampai khawatir begitu?" Galang memelukku erat
"De nden idih yang bli (aku jangan dipinang dulu bli)" Ucapku pelan.
Galang meregangkan pelukannya dan menatap mataku "Kamu nggak mau nikah sama aku?" wajah Galang terlihat sedih
"Kan aku udah pernah bilang mau, kenapa nanya lagi?"
"Melihat wajahmu tadi, aku tiba-tiba aja jadi takut kamu berubah pikiran"
"Aku boleh nunggu bli Putu nikah duluan nggak bli? Aku nggak mau ngelangkahin dia"
Galang mengangguk sambil memejamkan matanya bernapas dengan lega "astaga aku hampir saja lemas ,aku pikir dia berubah pikiran" Galang berkata dalam hati.
"Rencananya kami datang hari selasa sore, pas kamu pulang kerja. Santai aja yah sayang anggap kayak ketemu keluarga biasa"
"Gimana mau nganggap biasa, yang datang calon mertua. Mana belum pernah ketemu sama sekali" Aku menutup mataku
"Kan dulu sempat aku ajakin singgah kamunya nggak mau"
"Yah aku pikir nggak kayak begini"
"Tenang gen Bli kal sing ngidih *gek sing nden (tenang aja, bli belum akan meminangmu *gek)" Galang menatapku lembut.
Suara Galang terdengar berbeda, mungkin karena aku jarang sekali mendengar aksennya berbahasa Bali begini. "Suaranya kenapa jadi terdengar makin seksi ditelingaku sih"
"Lagi mikirin apa sayang?"
"Ah hehehehe kok aku jadi salfok sama bahasa Bali bli yah.Aku jarang dengar bli ngobrol pakai bahasa Bali"
"Emang jarang, kebiasaan aja. Kalau ada yang ngajak ngobrol yah dijawab sesuai bahasanya kan. Ada yang aneh?"
"Bukan aneh, cuman kayak seksi aja gitu"
"Ck! Bisa aja bikin orang jadi happy, nanti kalau kita sudah nikah tiap malam aku bisikin pake bahasa Bali deh hmm" Galang mengecup bibir ku berkali-kali, dan aku menjadi kewalahan dengan serangan beruntun darinya. Aku terkekeh sambil menghentikan wajahnya.
"Bentuk love languange bli pasti physical touch yah, kita kayanya sama deh"
"Iyah aku suka kayak gini. Kalau ada kamu penginnya nyentuh aja. Walaupun kayak cuman megang tangan. Rasanya jadi dekat" Galang meremas tangan ku.
__ADS_1
"Hmm oh yah lanjut ngomongin yang tadi. kok jadi kemana-mana sih. Aku kerumah sama orang tua ku sekaligus mau minta maaf sama orang tuamu. Biar mereka tahu aku serius sama kamu. Terus terang aku masih malu sama mereka. Kalau aku tiba-tiba datang sendiri jelasin ini itu kan kesannya kayak main-main. Kemarin mutusin anak mereka eh kenapa tiba-tiba dipacarin lagi. Aku kalau jadi orang tua, anakku diperlakukan begitu sudah marah besar itu"
"Tapi kalau anaknya cinta banget sama pacarnya gimana?" Kataku dengan nada manja
"Ck!" Galang kehabisan kata-kata hanya bisa berdecak dan memelukku erat "iyah aku tahu, terimakasih sayang untuk cintanya"
aku membalas erat pelukannya.
"Bli Besok jadi makan siang bareng?" Aku tiba-tiba teringat rencana tadi
"Jadi dong, kan mau sekalian ketemu bu Made
Minta restu juga mau jagain kamu" Galang menarik kedua pipiku lembut dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.
Aku hanya bisa tersenyum dan menutup mulutku menahan rasa maluku yang tiba-tiba muncul entah darimana datangnya.
"Ih Pake nutup mulut segala, kayak masih perawan aja, eh iya yah beneran masih kan!! hahaha" Galang terbahak dengan ucapan nya sendiri. Aku jadi ikut terbahak.
"Doh Kebiasaanku yang komen aneh begini nggak usah nular kali bli"
Galang makin terbahak mendengar ucapanku.
Note: *gek: dari kata jegeg (cantik) \= geg \= gek, sebutan/panggilan untuk perempuan sebaya atau usianya lebih muda.
________
Pekerjaan di hari senin memang selalu banyak. Nami yang sedang sibuk, sudah pasti lupa akan janji makan siangnya. Dari keruwetan isi mejanya hari ini menunjukkan bahwa Nami memang sedang benar-benar sibuk. Dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon sementara itu Galang telah sampai di kantor Nami. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat 30 menit.
"Selamat siang, mau mencari siapa pak?" sapa satu orang karyawati pada Galang dengan senyum manis yang berlebihan. Matanya berbinar-binar melihat Galang tersenyum padanya.
"Selamat siang bu, saya mau bertemu dengan Bu Made. Bu Made nya ada?" jawab Galang dengan cepat. Galang memang ingin bertemu Bu Made terlebih dahulu, karena ia tahu Nami pasti sedang sibuk. Pesan yang ia kirimkan 1 jam lalu saja tidak dibalasnya sama sekali.
"maaf nama bapak siapa?" tanya karyawati itu lagi
"Saya Putu tabanan, bilang saja begitu sama bu Made. Beliau pasti kenal"
"Sebentar yah pak" katanya kemudian.
Karyawati itu lalu terlihat sibuk menelepon.
"Silahkan lewat sini" katanya setelah menutup teleponnya.
Galang hanya mengangguk kemudian mengekor padanya. Karyawati lain yang tadi memandangnya ternyata masih melakukan hal yang sama bahkan disertai dengan senyuman menggoda, Galang menjadi sedikit risih.
Mata Galang kembali mencari-cari Nami didalam ruangan ini. di sudut sebelah kanan akhirnya ia bisa melihat Nami sedang berbicara di telepon dengan wajah yang serius. Mejanya penuh dengan dokumen, tangan kirinya memegang telepon sedangkan tangan kanannya sedang mencatat sesuatu diatas kertas.
Galang hanya bisa tersenyum, dia jadi teringat kenangannya awal bertemu dengan Nami di kantor Dito, mirip sekali dengan situasi sekarang. Ia lewat berulangkali pun belum tentu dia tahu. Tepat saat Galang melewati mejanya, seperti dugaan tadi Nami sama sekali tidak menyadarinya. Galang hanya bisa menggeleng sambil mengulum senyumnya "duh si cantik fokus banget kalau lagi sibuk" ia bergumam sendiri.
Akhirnya mereka tiba didepan sebuah ruangan berpintu biru tua, karyawan yang mengantarnya mengetuk pintu "tok.tok.tok" dan membuka pintu.
Galang masuk dan langsung disambut hangat oleh Mekde "Putu!! kok tumben kemari. Ada apa ini? saya sampai kaget hahaha gimana kabarnya?" Suara Mekde terdengar renyah
"Tiang Baik bu, ini saya bawakan sedikit cemilan kue untuk Bu Made sama karyawan disini. Dan ini ada makan siang untuk Bu Made. Pak Jaya pasti sedang di lapangan nggih Bu?" Tangan Galang mengulurkan bawaannya.
__ADS_1
"Waduh rejeki nomplok hahahaha, Pak Jaya seperti biasa memang lebih sering diluar. Terimakasih yah tu ini pasti ada sesuatu, saya yakin hahaha" Mekde terbahak sambil mengambil dua kotak dan satu tas kertas dari tangan Galang.
"Saya boleh duduk dimana Bu? " tanya Galang sambil melihat sekeliling masih menenteng satu tas kertas berwarna orange
"Haduh saya jadi lupa mempersilahkan duduk, sini aja tu" kata Bu Made menepuk sofa di sebelahnya.
Bu Made meletakkan bawaan Galang diatas mejanya dan ikut duduk disebelah Galang.
"Maaf tiang mengganggu Bu Made dijam sibuk, apalagi tidak ada janji sebelumnya" ucap Galang yang terlihat tenang
"Nggak ganggu kok tu, kebetulan urusan saya juga baru saja selesai. Memang niatnya mau makan siang, eh ada rejeki datang hehehe. Ada apa tu? kalau memang ada masalah yang saya bisa bantu yah pasti saya bantu. Apalagi saya sering sekali dapat bantuan di lapangan sama Putu"
"Kemarin tiang lihat ada cewek cantik rambutnya agak biru masuk ke kantor ini sepertinya tiang kenal" Galang bermaksud mengerjai Bu Made karena ia tahu beliau humoris.
"Oh Ayudia, itu ponakan saya. Jegeg yah? hahahaha. Kapan hari maunya saya kenalin kalian , tapi Ayu menolak. Kasihan anak itu belum bisa ikhlas diputusin cowoknya padahal sudah berbulan-bulan. Belog (bodoh!) sekali mantannya itu, kok mutusin cewek sebaik ayu" katanya sedikit emosi
Galang sedikit terperanjat dengan ucapan belog yang dilontarkan oleh Bu Made untuk dirinya secara tidak langsung.
"Ada terus cowok yang kaya raya deketin dia juga, amit-amit ratu betare (Ya Tuhan) keluarganya sombong luar biasa" Tiba-tiba mekde terdiam "Eh kok saya ngomongin orang hahahaha maksud saya, pokoknya saya mau ponakan saya dapat yang baik. Yang sayang sama dia, sapa tahu Putu ada niat mau berkenalan. Biar saya yang bantu, sepertinya kalian bisa cocok. Saya senang kalau yang baik ketemu sama yang baik, bukan begitu tu?"
"Benar bu Made hahahahaha" Tiba-tiba saja aku tidak bisa menahan tawa geliku
Bu made bingung melihat Galang tiba-tiba tertawa " kenapa tu? "
"Jangan marah yah Bu tiang bercanda, sebenarnya tiang sudah lama kenal sama Ayu. Saya pacarnya yang belog itu bu" Galang tersenyum
"Loh jadi cowok yang mutusin dia itu Putu? ampura (maaf) tu yah bukan maksudnya begitu. Saya tadi terbawa emosi hahaha" Mekde terbahak dengan ucapannya sendiri
"tidak apa-apa bu, tiang akan ceritakan semuanya ke Bu Made sekarang kenapa saya harus putus dengan ayu waktu itu"
Galang akhirnya menceritakan semua kepada Bu Made. Wajah Bu Made yang tadinya ceria berubah menjadi serius sampai beliau mengernyitkan dahinya mendengar cerita Galang.
"kelewatan memang Sudira itu, tapi sudahlah yang penting masalah Putu sudah beres semua. Untung Ayu juga tidak kenapa-kenapa, masak harus sampai mengganggu kehidupan dia begitu. Untungnya dia ingat tawaran saya, kalau nggak kemana dong dia harus bersembunyi?"
"Tiang sangat bersyukur, Ayu punya bibi sebaik Bu Made. Makanya tiang kemari biar jelas semua. Tiang sama Ayu sudah kembali baik Bu" kata Galang sambil tersenyum
"Oh sudah balikan, yah bagus. Semua yang saya lakukan untuknya memang kewajiban saya sebagai bibi dari ponakan Tu. Ayu sudah kayak anak saya sendiri. Dia juga baik sering bantu-bantu kemari, dari kecil memang rajin anaknya nggak manja. Duh jodoh mungkin ini yah. Saya kok mau ngenalin orang yang sudah pacaran hahahaha" Mekde terkekeh kembali. Galang ikut tertawa mendengar penuturan mekde.
"Tiang serius sama Ayu, bu. Mohon doa nya biar kami bisa bareng-bareng terus" kata Galang dengan wajah serius
Mekde mengangguk dan tersenyum sumringah "Saya doakan kalian berjodoh tu. Untuk urusan lainnya yah terserah kalian maunya gimana. Yang penting jaga Ayu dengan baik yah"
"iyah Bu"
"Eh sudah bertemu orang tuanya Ayu, tu? "
"Sudah Bu beberapa kali sebelumnya, tapi setelah putus tiang belum berani lagi kesana. Rencananya besok mau ngajak orang tua tiang datang berkunjung. Sekedar berkenalan sambil minta maaf karena masalah yang terjadi itu"
"Wah saya suka cara Putu kalau begini, artinya Putu memang serius dengan Ayu. Yah kalian jalani saja sesuai dengan rencana kalian"
"Terima kasih Bu Made" kata Galang yang terlihat senang.
"Iyah tu" Bu made ikut tersenyum sumringah.
__ADS_1