Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Pak Sudira 2


__ADS_3

Ia baru sadar sekitar 2 jam kemudian. Dilihatnya seorang wanita sedang duduk tenang sambil membaca majalah di depan tempat tidurnya.


Ia mencoba menggerakkan kakinya yang terasa kesemutan.


"Sudah sadar yah pak, sebentar saya info ke perawatnya dulu, sementara jangan bangun dan bergerak terlalu banyak" Aku mendengar wanita itu berbicara.


Perawat datang beberapa detik kemudian dan mulai memeriksanya.


Perawat itu melepaskan selang oksigen yang ia gunakan.


"Bagaimana mba" Kata wanita itu kepada si perawat.


"Kondisinya membaik, tapi usahakan jangan banyak bergerak dulu tunggu kunjungan dokter nanti sore yah. Kalau mau minum atau makan bangunnya pelan-pelan saja" Kata perawat dengan lembut.


"Baik, terimakasih mba"


"Sama-sama"


Perawat meninggalkan kamarnya.


"Saya Nami pak, tadi siang bapak jatuh pingsan di Bandara. Untungnya tidak apa-apa. Kata dokter yang memeriksa kemungkinan bapak kelelahan dan stres" Kata wanita itu sambil mengambil kursi dan duduk disebelahnya


" Saya Sudira panggil saja Dira, Terimakasih yah mba Nami sudah menolong saya bahkan bersedia menemani di Rumah Sakit." Kata Dira pelan dan terbata


"Sama-sama pak, kebetulan pekerjaan saya hari ini di kantor tidak banyak. Oh iya tadi saya sempat menelpon kantor Bapak, katanya keluarga bapak sedang diluar kota. Jadi mereka baru sampai nanti sekitar setengah jam lagi" Ujar Nami lagi sambil melihat jam di ponselnya.


"Kalau mbanya ada kesibukan yang lain silahkan saja mba, terimakasih banyak atas bantuannya hari ini" Jawab Dira lagi masih dengan suaranya yang pelan.


"Saya akan tunggu sampai ada keluarga atau kerabat bapak datang kemari"


"Bisa saya minta tolong mba, naikkan bagian ini" Pak Dira menyentuh tempat tidur pada bagian kepala.


Nami membantunya dengan cepat


Sekarang ia bisa melihat dengan jelas Wanita yang bernama Nami ini.


Cantik, masih sangat muda.rambutnya panjang sebatas lengan, berkulit bersih dan, bermata besar berbinar. Wanita ini Cekatan luar biasa waktu menolongnya di Bandara tadi.


Ia memperhatikan dengan seksama


"Pak, Bapak kenapa? " Suara Nami membuyarkan perhatiannya.


"Hmm saya boleh minta minum" Katanya kemudian masih sambil memperhatikan gerak gerik Nami.

__ADS_1


Nami menyodorkan segelas air yang ada di atas nakas.


"Saya boleh minta kartu namanya mba?"


"Boleh pak, sebentar yah" Nami mengambil tasnya dan mengeluarkan dompet kartu dari dalam tasnya.


"Ini pak"


"Bisa minta tolong mba, ambilkan dompet saya"


Pak Dira mengambil dompet dari tangan Nami dan menyelipkan kartu nama Nami. Ia juga mengeluarkan kartu namanya sendiri dan menyerahkannya pada Nami.


Nami mengambilnya dan menyelipkannya juga ke dalam dompet kartunya tanpa membacanya terlebih dahulu.


Nami duduk kembali disebelahnya. Dia ingin sekali mengobrol dengan wanita menarik ini, tapi keadaannya tidak memungkinkan. Badannya masih terasa lemas.


Selang beberapa saat ada banyak suara kaki mendekat


Orang tuanya ternyata telah sampai


"Duh Dira mama kan sudah bilang, jaga kesehatanmu kenapa tidak dengar kata-kata mama sih?! " Ujar mamanya langsung begitu sampai dikamar rawat inap ini, nadanya khawatir dengan suara meninggi.


"Maaf Bu, pak, saya Nami yang membantu beliau tadi di Bandara. Karena kalian sudah ada disini saya sebaiknya pulang saja. Kata perawat keadaanya sudah membaik. Beliau sepertinya stres dan kurang istirahat"


"Aduh terimakasih banyak yah mba, sudah menolong anak saya" Kata Ibunya


"Baik mba" Kata ibunya lagi sambil tersenyum. Setelah Nami pergi perhatian mereka lalu kembali lagi ke keadaannya.


Setelah kesehatannya pulih ia disibukkan oleh urusan pekerjaan yang sempat tertunda karena harus dirawat di rumah sakit. Padahal ia ingin sekali mencari Nami dan berbincang dengannya. Akhirnya sebulan setelah kesibukannya mereda dia bisa mencari Nami ke kantor tempat dia bekerja sesuai dengan kartu nama yang dia berikan waktu itu.


"Kadek Ayu Namidia Purnama, sales admin travel XOB" Ia membaca kartu nama Itu berkali-kali sepanjang perjalanan ke kantor Nami. Ternyata sesampainya disana ia harus menelan kekecewaan. Nami sudah tidak lagi bekerja di kantor itu.


"Sampai kapanpun aku akan mengingatmu Nami, semoga kita bisa bertemu kembali" Dira berjanji dalam hatinya.


Melihat Nami lagi secara tidak sengaja hari ini membuatnya bersemangat. Seperti angin segar untuk kehidupannya yang tandus dan gersang. Hari-harinya selalu saja disibukkan oleh bekerja, bekerja dan bekerja. Memang benar usaha tidak akan mengkhianati hasil, karena saat ini usaha hotel yang ia geluti sedang berjaya. Namanya masuk ke dalam jajaran pengusaha Bali yang sukses. Berkali-kali wajah dan hasil wawancaranya masuk media nasional. Namun kesuksesannya tidak dibarengi dengan urusan asmara. Karena terlalu fokus dengan ambisinya ia lupa dengan urusan percintaan. Akibatnya sampai hari ini ia tidak memiliki pasangan padahal usianya sudah menginjak 35 tahun.


Dengan sabar Dira menunggu Nami keluar dari kedai itu.


Nami melihat jam pada ponselnya " Hmm cepet banget yah sudah jam segini, aku harus ke seberang sekarang"


"Ya deh, nanti telepon yah kalau sudah sampai dirumah " Kata Galang yang ikut berdiri untuk mengantarkan Nami keluar dari kedai.


"Iyah bli, semangat yah semoga bli mendapatkan proyek besar ini. Tapi aku yakin pasti dapat" Ucapku bersemangat

__ADS_1


"Terimakasih sayang" Galang melepaskan tangannya dari Punggung Nami


"Dah bli"


Galang mengangguk sambil menyunggingkan senyuman.


Aku bergegas keluar dari kedai, tanpa aku duga ada seseorang yang sedang terburu-buru menabrak ku kemudian. Aku terjatuh dalam posisi duduk. Tas blacu yang aku pegang lepas dari tanganku dan jatuh terguling. Berkas yang ada dalam tas jadi tumpah berhamburan. Aku kaget luar biasa.


"Maaf mba saya terburu-buru jadi tidak sengaja menabrak mba" Katanya dengan wajah menyesal sambil ikut membantu memasukkan kembali berkas-berkas ku ke dalam tas blacu.


"Tidak apa- apa mba, tidak masalah " Jawabku cepat.


Galang yang melihat kejadian tadi berlari kearah mereka dan membantu Nami berdiri.


"Sayang Nggak apa-apa kan? "


"Nggak bli, nggak apa-apa kok? " Jawabku sambil merapikan pakaianku.


Wajah Galang terlihat kesal, karena dari apa yang dia lihat tadi, dia merasa wanita ini sengaja menabrak Nami.


"Sudah bli aku baik-baik saja. Aku ke seberang yah" Aku mengelus lengannya lembut sambil tersenyum. Aku berharap usapan tanganku tadi meredakan emosinya yang terlihat sekali di air mukanya tadi.


"Mari mba" Aku menoleh ke wanita yang menabrak ku


"Eh iya silahkan, maaf yah sekali lagi " Jawabnya dengan wajah sangat menyesal.


Aku hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapannya.


Galang berbalik ingin kembali ke mejanya.


"Selamat siang Pak Galang" Terdengar olehnya suara Wanita tadi menyapanya.


Galang menoleh, dilihatnya wanita yang menabrak Nami ini tersenyum kearahnya.


Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman


"Perkenalkan saya Gani, sekretaris Bapak Dira"


Galang menjabat tangan Gani dengan cepat


" Saya Galang Bu, Pak Dira jadi datang kan bu?"


"Panggil Gani saja pak, Beliau sebentar lagi kemari. Saya disuruh menjumpai pak Galang terlebih dahulu karena Beliau sedang menerima telepon" Gani tersenyum ramah.

__ADS_1


"Ok Gani, mari silahkan duduk disini" Galang mempersilahkan Gani untuk duduk di mejanya tadi.


Sorot mata Gani terlihat jelas sedang mengagumi Galang.


__ADS_2