
"Yuk dekAyu duduk di sini aja" Ajaknya kemudian.
Aku duduk di kursi teras rumahnya.
"Istriku ternyata lagi nemenin anakku yang kedua tidur, anakku yang paling besar lagi belajar" Katanya lagi
Aku tersenyum sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh area rumah ini. Bangunannya masih sama seperti ingatanku, rumah sederhana yang teduh.
"Rumah ini masih sama yah boy, hanya sedikit yang berubah"
"Iyah begitulah, aku belum mampu membuat rumah ini jadi lebih baik dek" Katanya sambil mengigit bibirnya.
"Bukan maksudku begitu, tapi aku jadi merasa kembali ke masa- masa kita remaja boy"
"Banyak kenangan yah dek, bandel banget yah kita dulu hehehehe. Teman-teman yang lain juga sudah tidak pernah kemari semenjak semua sibuk dengan hidupnya masing-masing"
"Nama aslimu siapa yah? Kok aku lupa, Anang? Bukan yah, Adek? Siapa sih? "
"Alex hahahaha, mana pernah kamu manggil aku alex"
"Nggak cocok boy hahaha, mana sekarang bapak-bapak banget vibenya. Sarungan,kaos oblong, ck! kemana boy yang digemari cewek-cewek sekolah itu pergi, mulai dari Ibu kantin sampai ke guru wali semuanya jadi fans berat" Aku menggodanya sambil terkekeh.Ku pandangi wajah Boy sekarang yang jauh sekali berbeda dari yang aku kenal dulu. Guratan wajahnya nampak lebih dewasa dari umur yang sebenarnya.
"Banyak hal yang berubah dari hidupku dek. Hmm kamu sekarang malah kelihatan lebih dewasa, tambah cantik berbeda dari yang aku tahu juga" Katanya tersenyum
"Tuntutan hidup usia segini boy" Aku menjawab sekenanya.
"Iyah aku tahu. Masa remaja kita menyenangkan yah dek"
Aku tertawa sambil mengangguk
kamu masih ingat nggak waktu kita nonton konser musik besar itu yang di serangan?, gila itu konser paling seru yang pernah aku tonton. Waktu itu sama kamu, topik, made, Gilang hmm siapa lagi yah Dek? Aku nggak akan pernah lupa hari itu. Dari pagi sampai malam yah hahaha" Boy mengurai kenangannya kembali
"Iyah seru bangetttt!!, sama Dewa satu lagi. hahaha masih dong kamu naik ke barikade pagar pembatas penonton cuman karena mau minta stiker sama pick gitar yah boy" Aku mengingat-ngingat lagi kenangan yang sama.
"Apaan cuman aku?!! , kamu juga ikutan manjat dek hahahaha mana kita dikejar tentara nyuruh turun, kita langsung ngibrit. Tapi dapet pick dong dari gitaris band terkenal"
"Iyah pulang-pulang hujan deras ck! "
Kami terbahak mengingat itu semua,
"Kalau dipikir-pikir diusia sekarang , itu sebenarnya nggak ada gunanya yah dek" Boy tersenyum kecut.
" Iyah bener, Aku nggak menyangka kamu masih tinggal disini yah boy"
__ADS_1
" Ya masih lah dek, dulu memang orang tuaku mengontrak rumah ini. Waktu tuan rumah berniat menjualnya, orang tua gerak cepat membelinya. Ini satu-satunya warisan dari mereka dek"
"Orang tuamu apa kabar? Mereka sehat? "
"Mereka sudah lama meninggal dek, waktu aku semester 5 apa 6 kalau nggak salah" Jawabnya sambil berfikir
"Ah maaf boy aku nggak tahu, kenapa nggak ngabarin waktu mereka meninggal?" Kataku sedih
"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan. Gimana mau ngabarin temen, aku aja keadaannya kacau. Waktu itu rasanya aku udah nggak punya masa depan dek. hidupku rasanya hancur. Kuliahku jadi berantakan. Untungnya aku masih punya Mia, istri ku sekarang. Dia satu-satunya penyelamat hidup ku dek, kalau nggak ada dia entah jadi apa aku sekarang. Berkat dia aku punya semangat lagi untuk melanjutkan kuliah. Aku kuliah sambil kerja."
"Hebat boy!! Terus sekarang kerja dimana? "
"Aku guru bahasa Inggris eS eM A, kadang ngisi les private juga " Jawab Boy sambil tersenyum malu
"Hahahaha ampun dah akhirnya murid paling bandel dan playboy jadi guru juga"
Kami berdua terbahak-bahak.
"Kamu dah nikah? Kerja dimana sekarang, pasti wanita karir ini" Katanya bersemangat
"Aku belum nikah, baru aja putus boy. Terus hari ini aku juga baru resign" Kataku lemah langsung teringat kembali dengan semua masalah ku
"Kenapa resign? "
"Ya Tuhan, jambret yah? " Wajah Boy terlihat khawatir
"Bukan, kalau jambret kenapa bisa dua hari berturut-turut aku dipepet boy. Aku ngebut kan nyampe di depan sana terus aku inget kamu tinggal disini, ya udah aku kemari. Untung aja gerbang rumahmu terbuka"
Boy hanya bisa menggeleng " Kamu punya masalah sama siapa? "
"Aku nggak tahu pasti, tapi kayaknya ada hubungannya sama orang yang lagi suka sama aku boy...
Belum selesai aku bicara, ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dari dalam tasku, ku lihat ada telepon masuk dari satu nomer asing. Segera saja ku angkat
" Halo Selamat malam, hallo.. Halooo! "
Selama beberapa detik orang yang menelpon ku terdiam, akhirnya aku bisa mendengar suara serak seorang laki-laki di ujung sana.
" Menjauhlah dari Pak Sudira!!. Tadi hanya peringatan. Kalau nona berani mendekati dia lagi, saya bisa lebih kejam dari ini" "Tut.. Tut.. Tut!!!
Telepon lalu terputus. Aku masih kaget atas apa yang baru saja aku dengar. "Ini memang teror rupanya. Aku mendekati Dira??? What?? Kebalik, setannn!!!! " Aku bergumam kesal dalam hati.
Boy memperhatikan raut wajahku yang awalnya kaget, lalu berubah kesal "telepon dari siapa? Kayaknya kesel banget"
__ADS_1
"Aku baru saja dapat ancaman boy" Aku memegang keningku. Kepalaku terasa mulai berat.
"Apa katanya? "
"Aku cerita sedikit yah"
Kemudian aku menceritakan tentang Pak Sudira kepada Boy.
Wajah Boy terlihat serius mendengarkan ceritaku
"Oh orang terkenal itu yah. Hmm dia yang dekatin kamu, eh kamunya yang diteror. Aku berani bertaruh teror ini berasal dari keluarganya dek"
"Aku juga berpikir begitu, sapa lagi coba??" Jawabku kesal
"Nanti aku akan mengawal kamu pulang, kita lewat jalan di belakang aja dek, yang dulu jalan kecil itu loh. Sekarang sudah diaspal"
"Nggak usah boy, nggak enak sama isterimu"
"Dia pasti mengerti, aku tahu dia seperti apa dek. Demi keselamatanmu dek, teman baikku dimasa lalu " Katanya tersenyum
"Sebaiknya aku pulang sekarang yah boy, sudah malam. Tadi aku lihat di ponselku sudah jam 9"
Aku meraba dalam tas untuk mengambil dompetku, ku keluarkan 5 lembar uang berwarna merah "boy jangan tersinggung, aku mau kasih kamu ini"
"Apa sih dek, aku nggak bisa terima uang ini" Katanya tegas
"Aku nggak ngasih ke kamu. Aku ngasih keponakanku. Aku bahkan nggak tahu kapan kamu nikah, eh udah besar aja ponakanku. Ini nggak seberapa, aku nggak punya cash lagi boy"
Boy tampak terdiam
"Terima yah boy, aku belum tentu bisa nengok mereka lagi dalam waktu dekat. Masalah yang kuhadapi ini besar boy. Do'akan aku baik-baik saja, dan masalah yang kuhadapi cepat selesai" Aku tersenyum
Boy menerima pemberian ku dengan wajah sungkan.
"Nah gitu, kayak sama orang lain aja" Aku merengut
"Terimakasih kasih yah dek. Kamu mampir aja sudah membuat aku senang. Dah lama juga kita tidak bertemu. Untuk masalahmu ini maaf dek aku nggak bisa bantu. Aku do'ain biar cepat selesai dan kamu baik-baik saja" Kata boy khawatir.
" Iyah makasi yah Boy. Ya sudah, kamu jadi ngawal aku pulang? " Tanyaku lagi
"Jadilah, bentar yah pamit ke istriku dulu" boy bergegas masuk kedalam rumah dan menyusulku dengan motornya beberapa saat kemudian.
Saat perjalanan pulang aku memikirkan cara agar bisa lepas dari gangguan Dira, karena yang aku tahu sumber masalahku kali ini adalah Dira." Kemanapun aku pergi, dengan kekuasaan dan kekuatan dia sekarang lambat laun dia pasti akan menemukanku lagi.Yang menerorku kemungkinan Ibunya Dira, karena yang aku tahu Dira tidak memiliki kekasih. Kalau begitu apa aku harus menemui Ibunya?! " Aku bergumam sendiri "Ahh tapi kalau ternyata yang memepetku tadi bukan orang suruhan Ibunya bagaimana? , " Kalaupun bukan, sebenarnya nggak masalah. Ibunya harus tahu kalau Dira mengganggu kehidupanmu dan kamu tidak menyukai anaknya. Kalaupun Ibunya tidak percaya kemungkinan paling buruk adalah kamu akan dihina oleh Ibunya" Aku berdebat sendiri dalam hati. "Sepertinya aku akan datang ke acara Dira, dan aku yakin ini akan menguras emosiku. Ya aku siap, kamu lihat saja nanti Dira" Aku mengangguk yakin.
__ADS_1
Saat hampir sampai dirumahku, aku melambai pada Boy di belakang ku, menandakan ini sudah aman. Boy membalas lambaian tanganku dan mengebel kemudian berbalik arah untuk pulang.