
Sementara itu Galang yang sedang rebahan di kamarnya masih galau menatap chat yang dikirimkan bli Putu beberapa hari yang lalu.
Bli Putu: "Galang, jangan ganggu Nami dulu yah dia lagi bener-bener shocked. Kapan dia siap nanti pasti dia chat. Memang butuh kesabaran kalau dia lagi tertutup begini"
Galang: " Iyah bli saya mengerti, tapi dia sedang baik-baik saja kan sekarang? "
Bli Putu: " Iyah baik-baik aja kok, hanya butuh waktu sendiri sementara, yang sabar yah dia nggak akan ke mana-mana hanya sedang kembali masuk ke zona-amannya-dia aja itu."
Galang : " Suksma bli, maaf yah bli saya merepotkan"
Bli putu "santai bro, nanti tak update lagi kalau ada apa-apa 👍"
Galang : 👍
Galang membuka galeri foto di ponselnya, ia menatap satu foto Nami yang sedang tersenyum " I miss you so much sayang, aku benar-benar merasa bersalah. Sepertinya aku harus lebih bersabar sedikit lagi" Galang bergumam sendiri
"Tapi sebenarnya aku nggak bisa bersabar lebih lama lagi, makin lama rinduku makin berat, aku takut kamu akan lebih menjauh lagi" Galang bergumam lagi sambil memasukkan ponselnya ke saku kemeja kemudian beringsut dan pergi mengendarai sepeda motornya.
Di sepanjang jalan Galang berpikir untuk menemui Dewi, teman kecil Nami. Mungkin saja dia bisa membantu melunakkan hati Nami.
Sesaat Galang telah sampai dirumah Dewi
"Om Swastiastu, permisi" Galang menyembulkan kepalanya di Gerbang rumah Dewi.
"Nggih Om Swastiastu" Terdengar suara Seorang wanita, tampak seorang wanita setengah baya dengan garis wajah tegas datang mendekat
"Selamat siang bu, saya Galang, Dewi nya ada bu? " Galang bertanya dengan raut wajah ragu
"Sebentar yah, Dewi!!!! Wikkkk ada tamu" Ujar wanita tersebut sambil membukakan gerbang untuk Galang.
"Iyah ,siapa mek?! Terdengar suara dari belakang, tampak ia berlari pelan mendekat
" Loh Galang, kok tumben ada apa ini? " Terlihat Dewi bingung melihat Galang yang sedang berdiri tenang di depan rumahnya.
"Ne be calon suaminya Dek Nami mek" (Ini dia calon suaminya Dek Nami bu) Dewi menoleh kepada Ibunya yang sedari tadi memasang raut wajah bertanya-tanya.
"Ohh keto, nggih masuk dumun gus" ( oh gitu, mari masuk gus) Ibu Dewi mempersilahkan Galang masuk.
Setelah mereka duduk, Dewi tanpa basa basi langsung berkata
" Untung hari ini aku tukar shift kalau nggak bisa nggak ketemu kita, Ada masalah sama Nami yah Galang?" Dewi tampak penasaran
"Iyah wik, maaf aku nggak tahu nomormu jadi aku langsung kemari. Aku lagi bingung harus gimana, aku cerita yah sama kamu masalahnya"
Selang beberapa menit terlihat Ibu Dewi membawa dua buah teh dalam kemasan kotak dan setoples kue kering
Cerita Galang terhenti
"Silahkan sekedar pelepas haus" Kata Ibu Dewi
"Suksma (terimakasih) bu" Galang tersenyum kearah Ibunya Dewi
__ADS_1
"Nggih silahkan" Kata Ibunya Dewi sambil berlalu dari hadapan mereka.
Galang melanjutkan ceritanya kembali. Wajah Dewi terlihat kaget dan sedih.
"Inget nggak waktu pertama kali kita bertemu di warung rujak?? Aku sudah pernah bilang kalau mau dekat dengan dia harus sabar. Ini dia salah satunya yang aku maksud".
" Aku tahu, sekarang aku bingung harus gimana. Kalau aku maksa bertemu Nami pasti marah. Tapi kalau nggak sampai kapan begini wik. Aku takut dia makin jauh" Galang terlihat gusar
" Maaf aku harus cerita sedikit bagaimana hubungan dia dengan Bumi mantannya dulu.
Mungkin Galang juga sudah pernah dengar nama dia kan??
Nami pacaran sama dia kurang lebih tiga tahun galang, selama tiga tahun itu Bumi sangat…sangat perhatian dan sayang sama Nami.
Perhatiannya Bumi ke Nami dan Nami Ke Bumi itu benar-benar bikin iri semua orang yang tahu. Bumi sangat posesif, pertengkaran mereka itu lebih banyak karena hal ini.
Dan Bumi punya sisi yang kayak harus selalu punya semacam selingkuhan diluar sana. Nami awalnya nggak tahu, dia kan orangnya dulu itu hanya percaya dengan apa yang dia lihat, tentu saja sambil Mencari bukti benar nggak sih Bumi seperti gosip orang-orang.
Satu saat Kepergok lah Bumi lagi asyik sama cewek di taman kampus.
Bumi pikir Nami waktu itu sudah pulang. Marah besar dong Nami langsung minta putus
ditempat. Bumi nggak pernah menerima kata putus dari Nami"
Galang terlihat serius dengan cerita Dewi.
" Perlu waktu yang cukup lama untuk Nami lepas dari Bumi. Karena Bumi bisa setiap hari datang ke kampus, kerumah Nami, nunggu di depan rumahnya. Udah kayak stalker, akhirnya aku dengar dia dipaksa orang tuanya melanjutkan kuliah di luar Bali.
"Bumi angkatan di bawahku dua tahun" Galang menjawab dengan pelan
"Baru setelah itu Nami merasa agak lebih tenang, tapi dia ternyata sudah kembali ke Bali dan pastinya akan menggangu Nami lagi" Dewi menghela nafasnya.
" Ternyata Bumi sifatnya memang dari dulu dia begitu ya"
"Bumi? Memang, makanya Nami jadi kayak trauma dekat dengan laki-laki. Udah sakit karena diselingkuhin eh orangnya juga masih posesif walaupun sudah putus"
"Aku yakin kejadian kemarin sama Galang membuat Nami mundur sekian langkah lagi untuk menjaga perasaannya yang sudah rapuh. Iyah dia mundur sekian langkah, tidak hanya satu Galang. Makanya aku bilang harus sabar untuk dapetin trustnya lagi" Ujar Dewi lagi"
"Aku mengerti Dewi, tapi aku kangen banget sama dia, aku merasa sangat bersalah"
"Aku mengerti posisimu, jangan terlalu merasa bersalah. Naminya saja yang belum sepenuhnya terbuka. Satu lagi aku yakin Beni belum tahu masalah ini, kalau dia sampai tahu pasti Beni yang telepon kamu duluan sebelum Nami".
" Kenapa gitu? "
" Kalau Beni tahu aku yakin Nami pasti di omeli bolak balik hahahaha " Dewi tertawa geli.
"Beni itu udah kayak emak-emak kalau ngomel, tipe Teman yang kalau teman baiknya salah dia akan bilang kalau itu tuh salah bukan cuman yang dukung- dukung aja. Apalagi kalau dia tahu Nami balik jadi batu kayak sekarang pasti deh"
"Kita berdua itu tahu kalau Nami sampai punya pacar lagi setelah sekian tahun itu sudah pasti dia cinta banget. Dia susah percaya sama laki-laki ditambah dia trauma itu makin susah didekati. Jadi kamu juga jangan terlalu khawatir kalau dia akan berpaling hahahaha" Ujar Dewi terkekeh
Galang hanya bisa tersenyum " Tetep aja aku masih was-was"
__ADS_1
"Aku telepon Beni yah, kalian ketemuan diluar kali yah biar kamu kenal juga sama Beni. Biasanya dia ada aja akalnya. Sayangnya aku nggak bisa nemenin, hari ini aku shift malam"
"Iyah Boleh deh aku juga pengin ketemu sama Beni"
"Bentar yah"
Dewi menghubungi Beni dengan cepat.
Terdengar nada dering berbunyi tiga kali
"Apa wik? " Terdengar Suara Beni yang berat diujung sana
" Aku lagi sama Galang"
" Pasti ini masalah besar sampai Galang kesitu, kok Nami belum cerita ke aku yah?! "
"Takut diomelin kamu kali hahahaha"
"Ck! Anak itu, tadi aku ketemu dia jam makan siang, aku bawain tiket konser Band Sephia 7 buat malming besok"
"Aku mauuuu, mana buat aku eh aku besok shift malam lagi hiks "
"Tuh kan pasti nggak bisa aku kan tahu jadwal shift mu"
"Yahhhh, eh iya ini Galang mau ketemu kamu"
"Kebetulan aku juga lagi dijalan, abis ketemu klien boleh deh. Mau ketemu dimana? "
Galang menyebutkan salah satu kedai kopi di Jalan Teuku Umar.
"Iyah bilangin 20 menit lagi aku sampai, kasih nomorku ke dia yah" Kata Beni
"Yah siap Ben"
"Ada aja dah ini temenmu wik hahaha"
"Kayak bukan temenmu juga hahaha"
"Ya deh aku tutup yah" Kata Dewi lagi
"Ok wik"
Galang pamit setelah Dewi memberikan nomor ponsel Beni
" Galang aku percaya sama ketulusanmu, aku yakin dia akan bahagia sama kamu. Nanti kalau kalian sudah baik- baik lagi , kamu akan tahu cinta seperti apa yang Nami Miliki. Nami mempunyai cinta yang tulus dan besar Galang"
"Iyah Dewi aku tahu, terimakasih banyak untuk hari ini"
"Sama-sama Galang, hati-hati dijalan yah"
"Iyah Dewi"
__ADS_1
Galang telah berlalu dari hadapan Dewi yang hanya bisa berdoa didalam hati untuk sahabatnya "Semoga mereka akhirnya baik-baik saja"