
Macet jalanan by pass jimbaran sore ini teramat parah dari hari-hari biasanya. Akhirnya aku sampai dirumah sekitar pukul 18 lewat 20 menit. Usai mandi, aku berniat untuk rebahan sebentar untuk menghilangkan penat. Ponselku yang kuletakkan diatas meja berbunyi. Dari nada dering yang terdengar aku tahu pasti itu Galang. Langsung saja aku mengangkat teleponnya
"Bli bagus Galang kemana aja? kok baru nelepon" Aku berkata dengan suara manja.
"Hmmpt" Galang tertawa kecil mendengar suara Nami, "Ya Tuhan mendengar suara Nami saja bisa membuat moodnya jadi lebih baik seperti ini" Bathin Galang sedih
"Sayang lagi ngapain?
"Lagi tiduran, baru pulang kerja" Jawabku masih dengan nada manja.
"Besok kan tanggal merah, jalan yuk seharian tapi ?"
"Mauuuu ,beneran nih? "
"Iyah aku mau ngajak jalan, dari pagi sampai malam" Galang berkata pelan
"Asikkkkk, memangnya nggak lagi sibuk bli?" Nami teringat akan banyaknya proyek yang dia kerjakan belakangan ini. Galang bilang dia mau menyelesaikan beberapa proyek terakhir dengan cepat sebelum dia diterima jadi bagian dari satu proyek besar hotel berbintang lima. Itu yang Nami ingat saat mereka beberapa hari yang lalu di kedai kopi itu.
"Yang kemarin-kemarin sudah selesai, yang skala besar ini aku lagi nunggu kabar baik aja. Besok aku jemput yah pagi jam 06.00
"Iyah"
"Nggak usah sarapan di rumah kita sarapan diluar aja. Bawa handuk, baju ganti, buat persiapan aja siapa tahu kita bisa berenang atau kegiatan semacamnya.
"Kita mau kemana sih? "
"Besok sambil sarapan kita putuskan mau kemana, spontan aja yah"
"Ya deh"
Tiba-tiba Galang terdiam beberapa detik.
"Sayang... "
"Mmm kenapa bli? "
"I love you so much"
Suara Galang terdengar berbeda
"I love you so much too bli, ada apa bli? "
Kudengar dia menghela nafasnya di ujung sana
"Nggak ada apa-apa sayang, ya sudah siap-siap aja yah besok kita ketemu"
"Iyah bli siapp"
Aku memutuskan pembicaraannku dengan Galang. "Kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak yah? Mudah-mudahan semua baik-baik saja " Aku berharap dalam hati.
Sementara di kediaman Galang, setelah menutup teleponnya, tangis Galang akhirnya pecah. Ia terisak sendirian sambil menutup matanya. "Aku harus kuat!!! " Teriaknya dalam hati
Keesokan harinya, aku bangun jam 05.00 pagi untuk bersiap-siap. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku berniat menghaturkan canang dan sesaji nasi sebelum berangkat pagi ini.
__ADS_1
Kulihat meme sedang sibuk di dapur.
"Dek adi tumben semengan be bangun (dek kok tumben jam segini sudah bangun)
" Yang kal ajakne melali mek, kije kaden, Galang ngorahang joh, bise ked ke peteng" ( saya mau diajak jalan-jalan buk, nggak tahu kemana tapi Galang bilang jauh. Mungkin sampai malam)
"Oh nah, putu ade nelpon dek? " (Putu ada telepon dek)
"Ade, ye sedeng sibuk jani mek. Kayangne gen ye mulih " (Ada, sekarang lagi sibuk dia , nanti pasti dia pulang)
"Mek ningeh orte kone putu sedeng paak jak Rani, sajan to dek? Kok ajak ye nah dek? Tawang dek kan engken nak e ngortang Rani? " ( Ibu dengar gosip Putu katanya lagi dekat dengan Rani, bener itu dek? Kok sama dia yah? Tahu kan gimana orang-orang ngomongin Rani?) meme terlihat khawatir
"Yang nawang kok, bli putu maan nyambat dugas ne" ( saya tahu kok, Bli putu sempat bilang waktu ini)
Aku menceritakan semua yang aku tahu dengan meme.
Setelah mendengar ceritaku ibu tampak berpikir "men keto bise masih pelih nak ngortang, bise masih beneh saru dek" (Kalau begitu bisa gosipnya salah bisa juga benar, nggak jelas dek)
"Kalau misalnya cerita orang salah tentang mbok Rani, pedalem masih ye mek. Be je orahin yang adeng-adeng malu bli, pang jelas mare je" ( kasihan juga dia buk, saya juga sudah bilangin bli Putu untuk pelan-pelan saja biar jelas dulu)
"De be to sangetin mek, nak mare paak sing ade ape nden. Bli Putu masih sube kelih pasti nawang kok ye cen ne seken beneh cen ne pelih. Ye logis sajan anakne" ( jangan terlalu dipikirkan bu, mereka juga baru dekat belum ada apa-apa. Bli Putu juga sudah dewasa pasti dia tahu yang mana benar yang mana salah. Dia orangnya logis banget kok) aku berkata lagi untuk menenangkan meme.
Ibuku hanya mengangguk dan tersenyum
Kemudian aku bergegas mempersiapkan sarana untuk menghaturkan sesaji dan bersembahyang.
Setelah selesai aku ke kamar untuk mengganti bajuku dan mengambil tas punggung kecil dan satu tas besar yang berisi baju ganti, handuk dan perlengkapan lainnya.
Sekitar pukul 05.45 menit ada suara mobil berhenti di depan rumah.
" Pagi Bli " Aku menyapanya
"Pagi sayang, udah siap? "
"Udah, yuk masuk dulu"
Galang mengekor padaku, baru dua langkah Galang tiba-tiba memegang lenganku lembut.
Aku menoleh dan menaikkan kedua alisku seperti bertanya "ada apa? "
Galang mengecup bibirku cepat, aku hanya bisa tersenyum malu.
Aku bergegas mengambil tas ku yang tadi aku letakkan di meja makan di dapur.
"Tu Galang, sampun sarapan? " (Tu Galang sudah sarapan)? Meme berkata sambil tangannya mematikan kompor gas. Meme juga memanggil Galang dengan sebutan Putu.
"Dereng (belum) bu, niki (ini) mau ngajak Nami sekalian sarapan di luar, makane tiang mriki semengan (makanya saya datang pagi) " Jawab Galang sopan.
"Yuk Bli berangkat aja sekarang" "mek yang berangkat" Aku berpamitan ke meme
" bu tiang pamit " Galang mengambil tas besar dari tanganku
"Hati-hati nah "
__ADS_1
"Yah" Aku menjawab meme
"Nggih bu" Kata Galang juga
Galang mengendarai mobil dengan santai pagi ini. Karena ini masih pagi jalan terlihat lebih lenggang.
"Mau sarapan soto sapi nggak? " Galang berkata sambil memegang tanganku
"Boleh, beli dimana? "
"Langganan ku ada di Denpasar Barat "
"Aku akan ikut saja pokoknya kemana pun bli pergi" Aku menatapnya lekat
Galang menoleh padaku dengan wajah yang terlihat agak murung kemudian dia tersenyum.
Aku menjangkau tombol radio mencari-cari lagu yang kira-kira pas untuk perjalanan hari ini. Terdengar satu lagu dari Hindia - secukupnya.
"Ah lagu ini " Aku berkata sambil ikut bernyanyi
Galang pun ikut bernyanyi bersamaku , begitu pun juga beberapa lagu yang terdengar setelah itu.
20 menit kemudian kami pun sampai di warung soto sapi yang Galang maksud tadi.
"Warung soto pak Made Arnawa" Begitu tulisan yang aku baca di depan warung ini. Warungnya terletak di dalam sebuah pasar tradisional, dengan cat temboknya yang berwarna biru muda. Tempatnya juga cukup bersih. Namanya pasar tradisional pasti sangat ramai di jam-jam ini.
Aku mengikuti Galang untuk duduk di satu meja dekat dengan pedagang soto yang sedang mempersiapkan dagangannnya. Tampak satu dua orang juga sedang menunggu pesanannya.
"Soto nasi kalih (2) pak, minumnya teh hangat manis " Kata Galang kepada pak Made
"Nggih" Pak Made menjawab sambil mengambil dua buah mangkok. Terlihat asap mengepul dari dalam panci yang besar, wangi kaldu sapi menguar tat kala pak Made mengaduk kuah kaldu dengan sendok sup panjang. Dengan cepat pak Made mempersiapkan pesanan kami.
Pesanan kami telah siap diatas meja, aku langsung mengucurkan sedikit perasan air jeruk nipis dan menambahkan sambal ke atas soto sapi ku. Aku mencicipi sesendok kuahnya "mmm enak, segar dan gurih" Ucapku tidak sengaja
Galang hanya tersenyum melihat aku begitu bersemangat. Kami pun menikmati sarapan kami dengan tenang.
Sedang asyiknya aku makan, Galang terlihat termenung "hei bli, jangan bengong "
Ucapanku membuyarkan lamunannya
Dia sedikit kaget dan hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya.
"Ada masalah apa sih bli? Dari kemarin aku merasa bli agak sedikit aneh, kita rasanya jauhhh banget " Aku menyentuh tangannya
"Bukan masalah besar sayang, kita kan mau happy hari ini jadi bahas yang seru-seru aja yah" Jawabnya kemudian sambil menatap tepat ke mataku
Aku segera saja mengenyahkan rasa aneh yang menjalar, rasa tidak nyaman yang tiba-tiba saja datang entah darimana.
"Ya sudah, tapi aku akan selalu ada buat bli kapanpun bli siap bercerita" Aku berkata kemudian menyendokkan sisa nasi terakhir ke mulutku.
"Kita kemana dulu yah sebaiknya? Ke bedugul yuk, abis itu mampir-mampir ke kebun strawberry ,terus ke pasarnya juga gimana? " Tanya Galang dengan semangat.
"Aku sih iyess, nggak tahu mas anung" Ujarku bercanda menirukan juri salah satu acara kompetisi menyanyi di televisi.
__ADS_1
"Hehehe" Galang terkekeh tertahan mendengar candaan ku
"Duh mood banget memang kalau jalan sama dia " Gumam Galang dalam hati.