
Aku kembali ke meja ku dan meletakkan semua kotak makanan itu disana.
"Kiriman makan siang lagi? " Tanya bu Ida
"Iyah bu " Jawabku lemah
Sejujurnya aku sedang dalam mood yang sama sekali tidak baik, ditambah dengan hal yang tidak kusukai terjadi bisa jadi emosiku akan memuncak sebentar lagi. Aku mencabut satu kartu yang menempel pada kotak dessert , dan membacanya
"Jangan marah Nami, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu saat ini" ❤ Dira
"Ok, right!! sekarang sudah ada tambahan gambar lovenya besok mungkin ada tambahan gambar dua cincin saling terkait, orang ini halu banget" Kataku sendiri dengan ketus
Bu Ida yang sedang memperhatikanku tertawa mendengar ucapanku, "kamu marah pun masih lucu yah, astaga Nami saya yang dengar saja jadi geli"
"Aduh bu kok nasib percintaan saya begini banget yah" Aku menutup mataku "harusnya ini rejeki yah bu dapat kiriman, disukai orang berada, tapi kenapa yang saya rasakan berbeda yah" Aku mengeluh pada bu Ida
"Bersyukur saja Nami, tidak semua wanita mempunyai kesempatan yang sama seperti ini. Banyak wanita bahkan rela melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan perhatian seperti ini"
"Bukan tidak bersyukur bu, tapi saya benar-benar merasa ini tidak pantas dilakukan. Saya tidak menyukai pak Sudira bu"
"Namanya perasaan Nami, kita tidak bisa mengatur siapa yang boleh dan tidak boleh suka pada kita. Pak Sudira hanya mencari perhatianmu, dia sedang berusaha mendapatkan cintamu, jadi wajar saja. Asal bukan kamu yang meminta dia melakukannya"
"Ya sudah saya makan saja lah ini, saya lagi nggak ada tenaga untuk keluar lagi mencari makan siang"
Aku memutuskan untuk pasrah menikmati saja apa yang kuterima hari ini, termasuk rasa sakit semalam.
Bu Ida hanya menggeleng iba pada Nami.
Ku lihat ada pesan yang masuk dari Dira
Dira:" enak nggak? Pesanku tak usah dibalas. Nikmati saja makan siangmu 😊"
Aku tentu saja tidak akan membalas pesannya.
Hari telah beranjak sore, sepertinya niatku untuk pulang lebih awal tidak terjadi.
"Nami katanya mau pulang cepat?? " Kata Bu Ida di sela-sela kesibukannya.
__ADS_1
"Iyah kok saya lupa, ya sudahlah bu tanggung lagi 45 menit" Kataku sambil memperhatikan waktu yang tertera dilayar komputer ku.
"Pak Dito kemana yah? Kok tidak ada kekantor Nami? "
"Saya juga kurang tahu bu, mungkin ada acara keluarga" Sahutku ikut mengira-ngira
"Mungkin, biasanya sempat saja ke kantor, tidak biasanya begini" Kata bu Ida sambil mencari berkas di lemari kaca tempat semua berkas diletakkan.
"Nami tolong carikan saya filenya pak Sudira, kok dari tadi nggak ketemu yah? Padahal saya sudah masukkan disini" Kata bu Ida lagi dengan wajah kebingungan.
Aku bangun dadi dudukku dan menghampiri bu Ida. "Coba saya cari disini bu" Aku mengambil satu box file besar dari dalam lemari.
Bu Ida kembali ke mejanya.
Aku mengeluarkan semua isi dari box file yang berlabelkan huruf D . Dua bulan yang lalu aku berinisiatif memisahkan berkas-berkas yang ada dalam lemari berdasarkan huruf depan nama perusahaannya. Masing-masing aku masukkan dalam box file yang sudah kulabeli dengan huruf. Ini kulakukan agar mudah mencari berkas tersebut jika diperlukan.
Aku mengambil satu persatu berkas tersebut dan membukanya, persis seperti dugaanku berkas Dharma Hotel terselip diantara berkas lain. "Ketemu bu" Kataku sambil memperhatikan berkas tersebut. Aku langsung teringat dengan kejadian dompet dan berkas dengan lambang perusahaan sama yang tidak sengaja masuk kedalam tas blacu ku tempo hari.
"Aku baru ingat, itu hari dimana Galang akan bertemu seseorang untuk membahas proyek besar, Jangan-jangan proyek yang dia dimaksud punyanya Dira. Kenapa aku baru sadar, artinya bisa jadi ini ada kaitannya dengan keputusan Galang memutuskan hubungan kami. Ah apa aku terlalu cepat menyimpulkan??! Entahlah! "
40 menit berlalu ponselku bergetar saat aku bersiap untuk pulang. Sepertinya ada pesan yang masuk, aku melihat nama Dira lagi disana.
Dira: " Masih di kantor yah?, boleh kita bertemu Nami?"
Dira: "Kalau tidak boleh artinya aku yang akan kesana 😄"
Dengan cepat aku menjawab
Aku: 😕
Dira: "akhirnya dijawab juga, kalau aku tidak boleh kesana, temui aku di tempat lain yah, see you"
Kepalaku terasa berdenyut pening, melihat jawaban Dira ini "tolonglah aku Ya Tuhannnm!!! Aku bergumam geram sendiri. Aku melihat sekelilingku ternyata memang sudah mulai sepi. Bu Ida sudah sejak tadi mendahului aku untuk pulang.
Tampak ada notifikasi chat dari Dira mengirimkan lokasi tempat dia ingin ditemui.
Aku bergegas menuju tempat itu, sesampainya aku disana, ternyata itu adalah sebuah rumah kecil yang tampak sepi. Aku merasa ragu untuk masuk. Aku bisa melihat Dira sudah menungguku di halaman rumah tersebut, sambil bersandar pada mobilnya.
__ADS_1
Kalau saja dia menyuruhku masuk kedalam rumah sudah pasti aku akan kabur.
Aku mendekat dan menjaga jarak dengannya
"Kenapa aku harus kemari menemuimu!?" Kataku dingin
"Aku hanya ingin melihatmu, hari ini aku sedang merasa senang luar biasa Nami" Dira menjawab lembut.
"Baguslah kalau harimu menyenangkan. Kita sudah bertemu kan?! Kalau tidak ada hal yang penting aku pulang dulu" Sahutku tak peduli.
Aku berbalik bermaksud untuk menuju ke motor yang terparkir di belakangku.
Tanpa aku duga sebelumnya, dengan langkah panjangnya Dira menyusul dan menarik tanganku keras sehingga aku menabrak dadanya yang bidang. Dia lalu memelukku erat. Aku yang masih kaget, belum sadar bahwa aku telah jatuh dalam pelukannya dengan mudah. Dengan tubuhnya yang tinggi dan berotot mudah saja baginya untuk memeluk tubuhku yang kecil ini.
Ketika aku sadar aku meronta, mencoba melepaskan diri. Bisa kurasakan kekarnya lengan Dira memelukku sangat erat.
"Sebentar saja Nami, jangan bergerak " Katanya pelan
"Lepaskan aku Dira, ini pelecehan!!. Kamu pikir ini adegan drama Korea hah?!!" Aku berteriak
Aku masih meronta-ronta, aku mencubit dan memukul sembarangan bagian manapun yang bisa kuraih dari tubuh Dira.
Sebelum aku sempat berteriak lagi, Dira berhasil mengecup bibirku beberapa kali, nyaris saja aku menggigit bibirnya.
Pak Nyoman keluar dari mobil dan mendekat. Lalu berbisik di telinga Dira. Segera setelah itu pelukannya merenggang. Langsung saja aku menjauh dari Dira. Warna wajah Dira menjadi tegang. Tanpa mengatakan apa-apa lagi aku menggunakan helm ku dan segera naik keatas motorku lalu berlalu menjauh dari sana.
"Cicing!! (*nji*g), bang***, Dira t*i!!! Aku memaki dijalan raya karena kesal diperlakukan seperti itu. Baru kali ini aku bertemu orang yang sekurang ajar ini kelakuannya. Setelah berkali-kali memaki aku mulai tenang kembali dan fokus ke jalan raya di depanku.
Tiba-tiba saja entah darimana datangnya sebuah motor mengebut dari belakang dan mencoba memepet motorku. Aku yang terbiasa refleks saat berkendara langsung membanting setang motorku sedikit kekiri dan memutar gasku lebih kencang, jantungku berdegup kencang "Apa lagi ini Tuhan?! " Aku bergumam sendiri.
Lalu ku lihat ada sebuah mobil yang melintang hendak memutar didepan, langsung saja aku menyelinap kekanan dengan cepat. Orang yang membantu mengatur mobil itu tampaknya kaget melihat aku masih melaju kencang. Karena sejak tadi ia memberikan tanda agar kendaraan yang menuju kearah sana berhenti sementara. Aku bisa melihat dari spion motorku, motor yang mengejarku tadi tidak nampak lagi. Aku rasa dia dihentikan oleh mobil tadi.
Aku memutuskan untuk mengambil rute lain, karena aku yakin dia akan mengejarku kembali setelah ini. Aku masih mengebut dan berbelok kekiri. "biarlah aku jadi banyak memutar dan lebih lama sampai dirumah asalkan aman" Aku berkata dalam hati.
Setiap beberapa menit aku melihat ke belakang dari spion, tidak ada yang mencurigakan. Sekitar 40 menit akhirnya aku sampai dirumah dengan selamat. "Itu apa yah barusan?!, kenapa seperti mengejar dan hendak membuatku celaka?! " Aku bergumam dalam hati. "Apa orangnya Dira? Atau jambret?? ! Entahlah" Aku menggeleng.
Kejadian tadi dengan Dira dan motor itu lumayan mengalihkan pikiranku dari Galang. Semalaman aku berfikir tentang apa yang harus aku lakukan selanjutnya.
__ADS_1