Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Akhirnya aku tahu


__ADS_3

Ibu terlihat merenung 


"Agar lebih jelas,  saya bisa membawa lembar perjanjian tersebut serta mengajak orang tua saya kemari kapan pun Ibu mau. Atau kalaupun perlu penerbangan mantan istri saya bisa saya suruh tunda saja sampai masalah ini selesai" Ujar Galang kembali


"Ibu percaya sama gus,  jadi belum perlu mengajak orang tua kemari nggih, penerbangan juga jangan ditunda. Nanti kalau Kadek sudah baikan kalian mengobrollah yang baik,  apapun keputusan Kadek nanti,  Ibu sama Putu tidak akan turut campur.  Ibu hanya bisa bantu memberikan saran nanti sama Kadek kalau dia membutuhkan karena ini sifatnya sudah masuk ke hal yang sangat pribadi" Jawab Ibu bijak kearah Galang


Kemudian Ibu menoleh kearah Putu "Tu coba takonang kadek dije ye jani,  meme merasa inguh, sube pasti ye sebet sajan ne" (Tu coba tanya kadek lagi dimana sekarang, ibu merasa gelisah. Pasti dia lagi sedih sekali) 


"Nah me kal takonang jani" (Iya bu sekarang saya tanyakan) Putu menjawab sambil mengetik pesan di ponselnya


"Ye sedeng di dagang es buah, jani yang kal kemu malu nah pang sing ye bes keliwat sebet" (Dia lagi di dagang es buah, sekarang saya mau kesana biar dia tidak terlalu sedih) Kata Putu ke pada Ibunya kemudian menoleh ke arah Galang yang tampak bersalah


"Galang pulang saja dulu,  nanti aku kabari lagi, yang pasti aku percaya sama kamu.  Aku akan bantu sebisaku,  semoga dia mau mengerti" Sahut Putu sambil menepuk-nepuk pundak Galang untuk menenangkan perasaannya yang campur aduk itu.  


"Terimakasih Bli Putu sama Ibu sudah mau mengerti dan membantu saya"


" Nggih gus,  nanti hati-hati dijalan jangan fokus sama masalah ini saja." Sahut Ibu khawatir


"Baik bu,  tiang pamit,  bli putu saya tunggu kabarnya"


Putu mengangguk pelan dan tersenyum. 


Sekitar 15 menit kemudian Putu sudah sampai di pasar Ketapian. Setelah memarkir sepeda motornya,  bergegas ia menuju pedagang es buah langganan Nami yang letaknya tidak jauh dari tempatnya memarkir sepeda motor.


Pedagang es buah tersebut tepat berada di depan pintu masuk utama pasar. Dijajakan diatas gerobak besar berwarna hijau muda. Terlihat buah-buahan segar ditata rapi didalam salah satu rak gerobak yang ditutup dengan kaca sehingga nampak dari luar gerobak. 


Nami duduk dibangku panjang yang disediakan didepan gerobak membelakangi wilayah parkir sepeda motor menghadap kearah pedagang. 


Aku merasa ada tangan besar yang mengucek rambutku bagian atas yang sedang tergerai bebas ini. Aku merapikan rambutku kembali dengan jari-jariku. Kebiasaan bli Putu tidak berubah sejak aku kecil,  kalau sedang mengambek atau merengek dia selalu mengucek rambutku sampai berantakan untuk mengalihkan tangisanku. Memang tangisanku akan berhenti hanya saja aku akan memarahinya habis-habisan karena rambutku menjadi berantakan  dan dia makin semangat mengerjaiku, aku mengejarnya mengelilingi rumah sampai lelah dan akhirnya berakhir dengan derai tawa kami berdua. 


Putu duduk disebelahku berlawanan arah, aku duduk menghadap pedagang,  sedangkan dia sebaliknya.  Dia menghela nafas panjang.


" masih enak esnya"? 

__ADS_1


" Masih,  kamu mau pesan seperti biasa? "


" Boleh"


" Dagangnya sedang mengantar buah potong kesitu, tunggu bentar aja" Sambil menunjuk ke arah Bu Nyoman pergi tadi


" Abis Nangis? "


"Mmm " Aku menjawab dengan enggan


"Dia kerumah tadi mukanya panik banget"


" Panik karena ketahuan? " Jawabku malas


" Bukan,  kamu salah sangka"


Aku menoleh ke arah Putu


"Iyah kamu salah sangka,  dia tadi cerita kalau tiba-tiba kamu sudah berada di belakang dia saat di mall,  dia kaget dan mengejar kamu tapi tidak berhasil.  Wanita yang kamu lihat sama dia itu mantan istrinya,  anak kecil itu bukan anak kandung Galang" 


"Jadi dia sudah pernah menikah? "


"Iyah... Aku ceritain yah apa yang dia bilang tadi" Lanjut Putu


Aku mendengarkan cerita Putu sampai selesai. 


Perasaanku kini campur aduk,  entahlah apa namanya,  aku merasa dibohongi selama ini.  


"Aduh maaf nggih gek menunggu lama,  tadi Ibu tiba-tiba bertemu teman lama Ibu disana " Ujar Bu Nyoman dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal,  yang sontak membuyarkan pikiranku akan masalah ini. 


"Nggih Bu ten kenapi,  pesen es satu lagi Bu sama seperti pesenan tiang tapi esnya sedikit. 


" Oh untuk temannya nggih? "

__ADS_1


"Niki kakak saya,  jarang saya ajak kemari biasanya saya pesan bungkus esnya"


"Oh begitu,  iyah Iyah saya buatkan sekarang" Bu Nyoman tersenyum kearah Putu yang sedang tersenyum juga sedari tadi memperhatikan Bu Nyoman. 


"Trus gimana sekarang? " Tanya Putu


"Entahlah, aku jadi merasa dia tidak sepenuhnya terbuka bli,  aku kok merasa kayak ditipu yah,  ngerasa dibohongi gitu"


"Iyah karena dia nggak bilang dari awal tentang statusnya,  kira- kira dia kenapa nggak bilang dari awal sama kamu? "


"Dia takut aku pergi? " Sahutku sambil mengambil es buah pesanan Putu yang disodorkan Bu Nyoman "makasi Bu" Sahutku ke Bu Nyoman.  Kuberikan es buah tersebut ke bli Putu yang tampak berfikir.  


"Itu tahu,  katanya kamu rada nggak suka sama duda kan?,  jadi dia mau jelasinnya bingung. Kalau dijelasin diawal takut kamu ilfil padahal dia suka banget sama kamu. Kalau dijelaskan belakangan kamunya ngerasa dibohongin kayak sekarang kan jadinya. Bahkan kamu tahu karena nggak sengaja kayak ketangkap basah gitu kan? " Kata Putu sambil mengaduk-aduk es buahnya agar gula dan krimernya tercampur rata. 


"Kaget banget loh aku lihat dia lagi sama cewek cantik banget,  terus ada anak dipangkuan dia,  rasanya kayak ketimpa tembok pagar besi tahu nggak,  sakiiiittttt banget.  Aku nggak pernah ngerasain sakit hati yang kayak tadi itu bli, bahkan waktu sama Bumi sekalipun. Dada rasanya sesak"


"Artinya harapanmu ke Galang tinggi,  kamu sayang banget yah sama dia?"


Aku mengangguk pelan


"Kamu tahu nggak belum pernah aku melihat kamu bercerita tentang lawan jenis ke aku itu dengan mata yang berbinar seperti kamu bercerita tentang Galang sebelumnya dek.  Bahkan saat dibandingkan dengan Bumi,  kamu masih terlihat biasa saja"


"Terus aku mesti gimana bli yah? "


"Yah tergantung kamu,  mau sama duda atau nggak? Duda rasa perjaka loh" Kata Putu menggodaku 


"High quality Duda itu dek" Putu lanjut menggodaku  dengan air muka yang serius sambil menyuapkan sesendok penuh es buah ke mulutnya


Aku tiba-tiba merasa geli mendengarnya dan mencubit gemas pinggang kakakku yang mulai gempal berlemak diusianya yang semakin matang. 


"Aduhhh duhhh...  Cie yang akhirnya jatuh kepelukan duda" Putu menggodaku lagi sambil meringis kesakitan,  dia buru-buru meletakkan es yang dia pegang tadi diatas meja dibelakangnya. 


"Bli Putu!!!!! 

__ADS_1


Aku mencoba mencubit lagi pinggangnya tapi kali ini tidak berhasil karena tangannya dengan cepat menyambar tanganku dan aku hanya bisa tertawa geli. 


__ADS_2