Dikejar Cinta Tyson

Dikejar Cinta Tyson
Lapangan Puputan


__ADS_3

Galang tampak tenang duduk di atas motor menungguku naik ke boncengan belakang.


Begitu duduk berboncengan,  jantungku mulai berdebar kencang,  tangan kiriku memegang bokor yang aku taruh dipangkuan sedangkan tangan kananku karena merasa ragu untuk merangkul Galang akhirnya kuputuskan untuk memegang pinggiran samping bajunya saja.


Kamipun berangkat dengan santai menjemput teman Putu, diperjalanan Galang menoleh kebelakang sepertinya ada yang ingin dia sampaikan, aku mendekatkan wajahku ke arah kepala Galang,  yang alhasil membuat perasaanku semakin tak menentu.


"Kenapa Galang?! " Aku bertanya dengan suara yang kuatur tenang berbanding terbalik dengan debaran jantungku


" Badanmu geser maju sedikit, tanganmu juga kenapa disitu,  bawa ke pinggangku aja,  aku takut kamu jatuh kalau posisinya begitu"


"Hmm bentar" Aku merasa harus menuruti saran Galang menggeser badanku kedepan dan merangkul pinggangnya untuk alasan keamanan.


"Tuhkan lebih nyaman begini,  kamu kayaknya takut meluk pinggangku,  kenapa? "


"Iyah kan kita...  Hmm nggak enak aja terlalu mepet" Sahutku ragu


Galang tertawa


"Kenapa tertawa?! " Tanyaku penasaran


Galang menggeleng, kemudian dengan tangan kirinya dia mengusap-usap tangan kananku yang memeluknya erat. Dia hanya memegang stang motor menggunakan tangan kanan.


Hangatnya usapan tangan Galang merembet keseluruh permukaan kulitku dan berkumpul di perutku yang serasa berputar diaduk-aduk tapi rasanya menyenangkan.


" Kamu terlihat cantik memakai kebaya ini Nam"


" Masak?! Ehemm" Sahutku sambil menjaga suaraku agar tetap terdengar wajar.


"Serius"


"Kamu belajar ngegombalnya udah level berapa?  Hahahaha kita mau sembahyang loh nggak bole gombal-gombalan" Aku terkekeh


Galang ikut tertawa


Sampai dirumah Deka,  ternyata Deka memang sudah siap, ada dua teman bli putu juga sudah menunggu,tanpa basa basi lagi deka langsung naik Keboncengan Putu sambil menoleh kearahku dan tersenyum. Kami pun langsung berangkat menuju Pura.


Sepanjang jalan jadilah kita berdua mengobrol tentang banyak hal,  mulai dari masalah sampah  sampai pada keamanan kota Denpasar yang belakangan mulai tidak aman,  beberapa kali ada berita tentang penjambretan dijalan raya.


Saking asyiknya mengobrol tanpa sadar kita sudah sampai di parkiran Pura.


Pura Jagatnatha terletak di tengah kota Denpasar, sehingga tidak terlalu jauh dari rumahku. Letaknya bersebelahan dengan Museum Bali dan disebelah barat pura terdapat lapangan Puputan I Gusti Ngurah Made Agung atau lebih dikenal dengan nama lapangan Puputan Badung.


Seperti biasa setiap bulan purnama,  Pura Jagatnatha memang ramai dikunjungi anak-anak muda yang sebagian besar berasal dari atau tinggal di Denpasar,  bahkan untuk hari raya Siwaratri banyak juga anak-anak muda yang datang dari luar kota.  Tujuannya tentu saja untuk bersembahyang sekaligus sebagai ajang pergaulan anak-anak muda Denpasar.


"Ramai banget" Galang berkata sambil memandang sekeliling


"Pernah kemari sebelumnya Galang? "


"Belum pernah sih sebenernya,  beberapa kali diajak teman tapi belum pernah tertarik untuk ikut"


"Pertama kali yah artinya"


"Yuk langsung aja" Putu mendahului kami dan kamipun ikut mengekor


Kami pun kemudian masuk ke areal pura dan melakukan ritual persembahyangan dengan khusuk.


Setelah selesai kami memutuskan untuk duduk-duduk sebentar di taman kota lapangan puputan. 


Malam itu nampak banyak pedagang asongan yang berlalu lalang menjajakan dagangannya,  termasuk beberapa stal pedagang sate babi plus sambalnya yang pedas gurih dimakan dengan ketupat yang legit. Ada juga pedagang jagung bakar dan kacang tanah rebus yang ikut serta berdagang bersama disebelah timur lapangan.


Galang, bli Putu dan teman-temannya terlihat sudah kembali asyik mengobrol, tentu saja tentang game online, dan sesekali juga mereka membicarakan gadget yang sedang marak digunakan saat ini.  Aku melihat jam diponselku,  saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.47


Karena memang sudah lama tidak pernah lagi menikmati kacang tanah rebus,  aku akhirnya membeli 4 bungkus kacang dan 4 botol air mineral untuk teman mengobrol kami.


Kacang tanah rebus yang aku beli kebetulan enak,  kacangnya besar-besar,  sedikit gurih empuk tapi masih sedikit renyah.


Biasanya kalau Putu sudah mengobrol dengan temannya aku paling sering menjadi pendengar,  karena obrolan mereka biasanya seru dan sangat bervariasi.

__ADS_1


Aku duduk dibangku taman yang memiliki meja dan bangku berhadapan.  Disebelahku Galang dan didepanku Bli Putu dan teman-temannya.


"Enak dek, makasih yah " Deka berkata sambil menunjukkan kacang tanah rebus ditangannya.


"Iyah Bli ka,  tapi mule lebih jaen daripada ne taen beli rage pidan (tapi memang lebih enak daripada yang pernah kita beli dulu) ,  kacangnya lebih besar".


" Pasti kacangnya lupa olahraga makanya besar-besar" Kata Putu menimpali.


"Kebanyakan main game online sih kacangnya , untung nggak brewokan hahaha" Aku terkekeh


"Ihh senengnya nyindir aku hehehe"  Kata Putu sambil tertawa


Galang hanya tersenyum geli sambil menikmati kacang rebusnya.


Ponsel Bli Putu berbunyi, pertanda ada pesan masuk,  Bli Putu meraih ponselnya.


"Aku sama yang lain mesti ke tempat teman sebentar Nam,  kerumahnya Sana"


"Oh gitu, ya udah hati-hati di Jalan,  salam buat Bli Sana yah"


"Iyah,  aku salamin pake salam apa?  Kangen ya? Hahaha"


"Nggak , ihhh Bli Putu loh " Aku menghardiknya


"Galang, aku kasih tahu yah dulu waktu jaman putih abu anak ini kemana-mana kan ngikut aku,  kalau aku lagi sama pacarku dia pasti dibonceng Sana,  Dekat sih mereka, dekat banget tapi nggak pernah jadi hahaha" Bli Putu terkekeh


"Diem ah bli" Sungutku sambil menempelkan jari telunjukku di bibir.


"Hahahaha Galang titip adikku yah,  Hati-hati di Jalan,  jangan pulang terlalu malam,  bentar chat yah"


"Yah Bli sip"


"Yuk dek,  Galang" Teman- teman bli Putu berpamitan.


"Ya Bli"


"Dah " Aku melambaikan tanganku


"Sana kenapa?! " kata Galang tiba-tiba


"hah? Sana? cerita lama " aku menjawab pendek


"Iyah cerita lama, aku pengin dengar ceritanya gimana? "


"Nggak penting sih sebenarnya udah lama banget aku udah kayak lupa sama dia "


Galang tetap diam memperhatikan


"Ok, aku sama Sana itu beneran nggak pernah pacaran. Kami dekat memang mungkin karena sering ketemu. Dia kan bisa setiap hari main kerumah. Curhat-curhatan cinta monyet sama aku. Dia sempat kayak mau serius pedekate, eh akunya punya pacar hahahaha, aku putus eh dianya punya pacar. gitu aja terus sampai ikan lumba-lumba bertelur " aku bercerita sambil terbahak.


Galang ikut tertawa mendengar ceritaku.


"Kamu kalau di rumah dipanggil Kadek yah" Galang bertanya sambil menyandarkan kepala pada tangan kirinya yang bertumpu pada sandaran kursi taman menghadap ke arahku.


"Iyah dari kecil "


"Hmmm kok aku nggak dipanggil Bli lagi"


"Hahaha masih inget aja loh" Aku terbahak


"Bli Galang Ganteng harusnya yah hahaha " Galang ikut terbahak


"Aku senang kamu ajak ke Pura ini,  pengalaman baru buat aku,  ternyata seru juga.  Ini kacang juga aku pertama kali nyicipin,  padahal biasanya aku paling nggak suka ngemil,  enak yah ternyata" Galang berkata lagi.


"Memang enak, kalau nggak enak aku nggak beli loh Bli Galang"


"Yuk candle light Dinner, kan udah manggil pakai Bli lagi" Canda Galang

__ADS_1


"Hehehehe " Aku tertawa geli


Galang mencubit manja pipiku


"Gemesin banget sih"


Aku memegang pipi yang tadi disentuh Galang sambil menggeleng


"Debaran itu datang lagi, sialan!!! bisa tenang nggak. sih kamu, baru di toel pipi aja udah blingsatan" aku memarahi diri sendiri dalam hati


"Kamu masih belum percaya cinta pada pandangan pertama?" Tanya Galang kemudian


"Hmm masih, kalau barang sih bisa jadi tapi kalau sama orang kayaknya belum pernah, kenapa bahas itu lagi? "


"Karena aku pernah dan perasaanku setelah kenal dekatpun tetap tak berubah malah makin sayang"  Kata Galang sambil memandangku lekat


"Wanita yang kamu suka itu?,  kenapa nggak bilang langsung ke orangnya? " Entah kenapa tiba-tiba ada lubang serasa menganga dihatiku


"Aku belum siap mendengar jawabannya"


"Dia sepertinya nggak suka?  Pehape? "


"Sepertinya sih dia mulai suka,  tapi aku nunggu momen yang pas aja dan itu bukan sekarang"


"Dan itu bukan kamu Nami, ingat kalian hanya hateesan alias tanpa status,  karena dia mau bantu kamu menikmati kembali masa mudamu" Aku membatin


"Nami Kok bengong?"


"Nggak papa,  pulang yuk dah malam besok mesti kerja kan? "


"Marah yah? "


Aku menggeleng


"Kenapa marah? Kan aku jawab pertanyaanmu"


"Gini deh aku juga tanya ke kamu,  ada cowok yang kamu suka sekarang?"


"Ada"


"Kenapa nggak jalan sama dia,  kenapa mau jalan sama aku?”


"Entahlah"


Galang tertawa geli


"Tuh kan sama kitanya,  kenapa belum jadi sama yang itu?"


"Belum yakin sih dianya juga suka hehehe" aku melengos


"Kenapa nggak nanya langsung? "


"Kalau ternyata dia sukanya sama yang lain gimana?  Aku kan jadi malu"


"Hahahaha" Galang terbahak


Setelah tenang secara tiba-tiba tangannya terarah kedaguku kemudian dia mengangkat daguku sehingga kepalaku mendongak memandangnya.


Sesaat kami beradu pandang,  kemudian dia mendekatkan sedikit wajahnya dan terhenti.


Dia tersenyum dan menggeleng sendiri


"Kamu mau apa? " Aku bingung melihatnya


"Nggak jadi,  pulang aja yuk dah malem hehehe"


Galang terlihat salah tingkah

__ADS_1


"Yeee...  Kan dah diajakin dari tadi" Aku menjawab sambil berusaha mewajarkan suaraku yang hampir terdengar parau karena peristiwa tadi.


Kita berjalan bergandengan tangan seperti biasa menuju parkiran motor.


__ADS_2