
“ Listrik? Apa itu?”
“ Oops ... eh ... itu ...”
“ Apa itu?” Tanya Mou Han lagi
“ Ehm itu seperti energi yang bisa menggerakkan alat dan memberi penerangan,” jawab Mei Lan. Ia tak mungkin menjelaskannya seperti bahasa Fisika bahwa Listrik adalah aliran muatan antara proton (muatan positif) dan elektron (muatan negatif) yang mengalir pada sebuah penghantar (konduktor) dalam suatu rangkaian, bukan? Bisa-bisa semalaman ia tak akan selesai menjelaskan dan dianggap gila
“ Apa seperti ini?”
Mou Han menggerakkan tangannya dan tubuhnya ke kanan dan kekiri lalu kedua jari telunjuk dan tengah ia satukan dan sisanya ia tekuk, kemudian dijulurkannya tangannya ke arah tanah kosong, dan
Darrr ...
Mei Lan berjingkat kaget ... matanya mengerjap dan perlahan melihat ke arah Mou Han yang menarik nafas dan menggerakkan tangannya untuk menetralkan kembali tenaganya.
“ Ehm ... bukan ... seperti itu,” jawab Mei Lan. Mou Han tertunduk lesu
“ Sudahlah. Sekarang, kita bersiap, kita akan mencari bunga Adulam,” kata Yin
“ Baik, Ge. Eh, mana Ibu Selir?” tanya Mei Lan
“ Aku sudah mengantarnya ke kamar tadi,” kata Yin enteng dan segera kembali ke Paviliunnya.
“ Ge, aku akan bersiap dulu,” pamit Mei Lan pada Mou Han yang masih berdiri melamun. Lelaki itu hanya mengangguk sedih dan melangkah gontai menuju Paviliun ibunya. Mei Lan menatapnya sedih. Ia merasa gagal dan tidak dapat membantu.
Di Paviliunnya, Mei Lan mengganti baju dengan baju putih kehijauan yang sederhana namun tetap membuatnya sangat cantik. Setelah siap, ia memakai topi dari bambu dan melilitkan kain transparant lalu memakainya. Kedua pelayannya seperti biasa sudah menunggu di depan pintu kamarnya.“ Kalian dirumah saja. Aku akan keluar dengan Gege,” kata Mei Lan
“ Baik, Nona Mei Lan,”
Mei Lan memutar bola matanya malas mendengar kata Nona disematkan padanya. Ia merasa risih, karena ia sedari kecil hidup dalam keluarga sederhana.
Dengan seorang Yeye (Kakek dari pihak Ayah) yang hanya seorang tabib pengobatan tradisional atau biasa disebut Shinsei, seorang Ayah yang bekerja sebagai sopir taksi dan seorang ibu tukang masak, sedang Kungkung (Kakek dari pihak Ibu) adalah pendiri restoran yang saat ini diteruskan Ibu Melia.
Yin sudah menunggunya di depan pintu gerbang Kediaman Yin dengan kereta kuda. Mei Lan segera naik dan diikuti Yin.
Ruang Belajar Istana Kekaisaran Ming
Kaisar sedang menulis jawaban untuk semua laporan dari bawahannya, ketika soerang Kasim kepercayaannya masuk dan memberi salam padanya.
“ Lapor, Yang Mulia Kaisar,” ucap Kaisar itu
__ADS_1
“ Hmm,” Tanpa melihat dan terus menulis diatas kertas dengan kuasnya, Kaisar hanya berdehem
“ Menteri Pertahanan Yin meminta menghadap,” lapor Kasim Gu
Kaisar mengangkat wajahnya dan melihat Kasimnya lalu menarik nafas dan menaruh kuas ditangannya.
“ Baiklah, suruh dia masuk,”
“ Baik, Yang Mulia,” sahut Kasim lalu menunduk dan berjalan mundur kemudian berbalik melangkah membuka pintu
“ Menteri Pertahanan, Silahkan masuk,” kata Kasim Gu dengan membungkuk. Tuan Besar Yin mengangguk dan melangkah dengan gagah memasuki ruangan
“ Hormat hamba, Yang Mulia Kaisar. Semoga Yang Mulia panjang umur dan sehat selalu,” salam Tuan Besar Yin sambil menunduk dan mengepalkan satu tangannya sedang jemari tangan yang lain merapat dan menyatu diatas tangannya yang terkepal
“ Menteri Pertahanan, bangunlah,” kata Kaisar
“ Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Tuan Besar Yin
“ Ada apa Menteri Pertahanan? Bukankah kau baru saja kembali dari perbatasan?” tanya Kaisar basa-basi. Sejujurnya ia tahu, bahwa Menteri Pertahanan akan membatalkan pertunangannya dengan Putranya. Dan itu membuatnya sedih
“Benar, Yang Mulia. Hamba sampai kemarin malam. Karena itu hamba datang untuk memberi hormat pada Yang Mulia dan sekaligus ...” Tuan Besar Yin melipat bibirnya
“ Sekaligus untuk memohon agar pertunangan Putri hamba dan Putra Mahkota ... dibatalkan,” ucap Tuan Besar Yin sambil kembali menunduk
Kaisar mendesah dan tertunduk sedih. Kepalanya mengangguk-angguk. Ini memang yang terbaik, begitulah pikiran Kaisar.
“ Baiklah, Menteri Pertahanan. Akan aku kabulkan. Dan ... maafkan aku dan Puteraku,” ucap Kaisar menahan kesedihannya. Tuan Besar Yin terkejut dan reflek mendongak. Ia melihat raut kesedihan di wajah Kaisar.
“ Te-terima kasih, Yang Mulia,” ucap Tuan Besar Yin dan kembali menunduk
“ Hmm ... sekarang, apa ada yang lainnya?” tanya Kaisar dengan wajah masih menunduk
“ Ehm .. tidak ada, Yang Mulia. Karena itu hamba pamit undur diri dulu,”
Kaisar mengangguk dan mengibaskan tangannya dan Tuan Besar Yin sekali lagi memberi hormat dan berjalan mundur beberapa langkah barulah ia berbalik dan meninggalkan ruang baca Kaisar
Melihat mantan calon besannya sudah pergi, Kaisar tak dapat menahan air matanya. Kasim yang ada bersamanya ikut tertunduk sedih
“ Kasim Gu, apa aku sudah gagal sebagai Ayah? Aku hanya ingin yang terbaik untuk Putraku .... dan bersanding dengan putri dari Liang er, wanita yang tidak dapat kuraih,” ucap Kaisar walaupun kalimat akhirnya ia teruskan di dalam hati
“ Yang Mulia, jangan bersedih mungkin mereka memang tak berjodoh,” hibur Kasim Gu
__ADS_1
Kaisar Tan Yuan, sebelum terpaksa menikah dengan Permaisuri Fan, ia sudah jatuh cinta dengan seorang wanita dari rakyat jelata bernama Xue Liang Hua. Seorang wanita yang sangat cantik dan baik hati. Keceriaannya bagai mentari di hati Kaisar yang saat itu masih berstatus Putra Mahkota dan tengah menyamar sebagai orang biasa.
Liang Hua adalah seorang tabib yang membantu orang-orang sakit dari kalangan tak mampu tanpa meminta bayaran. Ia membiayai hidupnya dengan berjualan bubur dan makanan lainnya di sebuah kedai kecil di luar benteng Ibu Kota.
Karena perjodohan, Tan Yuan terpaksa merelakan Liang Hua. Ia tak mendapat restu dari Kaisar dan Ibundanya, Permaisuri Zhao. Liang Hua akhirnya menikah dengan Menteri Pertahanan Yin Mou Chou, setelah Liang Hua menolongnya ketika terluka parah dan melarikan diri ke hutan, dekat tempat tinggal Liang Hua.
*Back to story
Keluar dari ruang baca Kaisar, Tuan Besar Yin tak menyangka akan langsung bertemu mantan calon menantunya. Dengan berat hati, ia berhenti dan menunduk memberi hormat
“ Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota,” ucapnya
Putra Mahkota mengerutkan alisnya dan menatap tajam Ayah dari wanita yang ia sangat benci. Tak menunggu balasan, Tuan Besar Yin segera menegakkan badannya dan melangkah pergi tanpa berbicara lagi. Putra Mahkota semakin geram dibuatnya.
Dengan langkah lebar ia berjalan menuju ruang baca Kaisar dengan maksud untuk menemui Ayahnya.
“ Putra Mahkota, maaf, tapi ....” Kasim Gu yang berdiri di depan pintu memberi hormat dan memberhentikan Putra Mahkota. Ia menoleh ke arah ruang baca dan kembali menatap Putra Mahkota yang menatapnya garang
“ Yang Mulia Kaisar tak ingin diganggu untuk sementara ini,” lanjut Kasim Gu
Putra Mahkota mengeraskan rahangnya dan menatap tajam penuh amarah ke arah ruang baca dan berbalik. Ia tak bisa melawan Ayahnya, jika ingin menjadi Kaisar, maka ia harus menuruti semua titah Kaisar.
“ Kurang ajar, apalagi yang dikatakan si keparat tua itu?”geram Putra Mahkota
“ Yang Mulia, saya dengar kalau ...” Bai Yan, pelayan Putra Mahkota mengigit bibir bawahnya, ragu untuk memberitahu atau tidak
“ Ada apa?” tanya Yuan dingin
“ Ehm ... saya dengar dari mata-mata kita di Kediaman Menteri Pertahanan, Nona Mei Lan meminta ...”
“ Katakan!” sentak Yuan karena ia melihat pelayannya ragu-ragu untuk berkata
“ Nona Mei Lan meminta pembatalan Pertunangan dengan Yang Mulia,” ucap Bai Yan
Yuan berbalik dan menatap tajam Bai Yan. Matanya memicing tak mempercayai telinganya.
“ Katakan lagi,”
“ Nona Mei Lan meminta kepada Ayahnya untuk membatalkan Pertunangannya dengan Anda,” ucap Bai Yan
“ Hah?! Benarkah? Ah .... hahahaha ... dia meminta pembatalan pertunangan? Hahahaha ....” Bai Yan menatap kepergian Putra Mahkota dan menggaruk kepalanya. Ekspresi tak percaya dan tingkah Yuan, seperti tidak rela menerima kabar itu.
__ADS_1