
“Hmm ... Mei Lan, ini ...”
“Yang Mulia, jangan kuatir soal hamba. Ayah dan Yin gege juga ada bersama dengan hamba. Ijinkan hamba yang mulia,”
“Mei Lan, apa kau tahu kalau orang – orang Xue memiliki kultivasi antara tingkat 4 dan 5? Dan prajuritnya saja memiliki kultivasi yang sama dengan prajuritku. Kau ...”
“Yang Mulia, seekor gajahpun akan kalah dengan semut. Mohon Yang Mulia pertimbangkan,” ucap Mei Lan
seraya membungkuk
Mou Han mengerutkan wajahnya. Yuan memejamkan matanya dengan erat
“Mei Lan, kenapa kau melakukan ini?” lirihnya
Bai Yan menatap iba junjungannya itu. Ia mendesah. Konsekuensi yang tak pernah disangka
‘Yang Mulia, apa yang akan Anda lakukan sekarang?’ batin Bai Yan
“Hmm ... baiklah. Kau boleh pergi,” kata kaisar
“Yang Mulia, mohon dipertimbangkan kembali,” pinta Yuan, Mou Han dan beberapa pejabat yang berharap dapat menikahkan putranya dengan Mei Lan
Kaisar melihat ke arah semua orang yang menunduk dan memohon untuknya menarik ijin Mei Lan
“Mei Lan ... apa kau ...”
“Yang Mulia, percayalah pada hamba. Hamba permisi dan akan berangkat bersama kakak hamba,” jawab Mei Lan
Kaisar mendesah dan mengangguk. Ia mempersilahkan Mei Lan dan Mou Han pergi. Mei Lan tersenyum senang dan membungkuk
“Terima kasih, Yang Mulia. Hamba mohon undur diri,” ucap Mei Lan lalu berbalik dan menghampiri kakaknya
“Ge, ayo cepatlah,”
Mou Han menatap kesal Mei Lan menunduk undur diri. Mei Lan menyeret Mou Han keluar dan sampai diluar Istana, ia menarik Mou Han dengan Qigongnya lalu melesat pergi
Kediaman Keluarga Yin
Semua tampak sepi ketika mereka memasuki halaman rumah itu. Hanya ada pelayan yang sedang membersihkan halaman. Keduanya berlari ke arah ruang tamu. Kosong.
Ruang kerja. Kosong. Kamar. Kosong
“Ge, kau sudah melihat ayah dan Yin gege?” tanya Mei Lan saat keduanya sudah kembali ke ruang tamu. Mou Han menggeleng. Mei Lan mendesah kesal
“Mereka sudah berangkat. Kalau begitu ayo kita juga berangkat,” ajak Mei Lan
Tangan Mei Lan ditarik oleh Mou Han
“Lan er, aku yakin ayah dan Yin gege akan marah kalau kau ikut ke ...”
“Ge, kau berangkat sekarang denganku atau kau berangkat sendiri? Karena aku akan berangkat sekarang,” potong Mei Lan
Mou Han menyerah dan mengangguk. Ia terpaksa berangkat dan membawa Mei Lan. oops ... terbalik. Mei Lan yang membawa Mou Han, karena saat ini, Mei Lan yang membawa Mou Han dan memegang pinggang kakaknya dan berlari melesat cepat dengan Qigongnya
Tatapan Mou Han kosong saat ia dibawa Mei Lan. Matanya mengerjap. Ia biarkan setiap daun yang menampar wajah tampannya.
Di tempat lain
Seorang wanita menggeram kesal, karena rencananya hampir saja gagal. Tapi, saat ia memikirkan Mei Lan meminta ikut ke medan perang, membuat sudut bibirnya terangkat
“Hahaha ... Mei Lan, Mei Lan hanya dengan kultivasimu kau mau ikut berperang? Hahaha ... itu sama saja kau mengantar nyawamu. Hahaha ... bagus ... bagus ... hahaha ...”
“Sekarang, adalah waktunya untukku memulainya ... hahaha ... hahaha ...”
Kediaman Putra Mahkota
Praangg ... pyaar ... brakk ...
Bai Yan mendesah dan berdiri di depan pintu kamar Yuan. Melihat langit yang kian terang.
“Nona Mei Lan pasti akan terkejut saat kembali nanti,”
Raut wajah Yuan sangat menyeramkan. Ruangan yang sudah tertata rapi menjadi sangat berantakan. Semua buku dan berbagai pecahan vas ada dimana – mana
“Mei Lan ... kenapa kau melakukan ini?! Eerghh ...”
__ADS_1
Yuan mencengkeram erat rambutnya. Wajah Mei Lan terbayang jelas di pikirannya. Ia memejamkan erat matanya dan berbaring di lantai
“Kenapa ... kenapaaa ... MEI LAAANNN!!!” teriaknya
Bai Yan kembali mendesah,” Yang Mulia, seandainya dulu Anda tak menyia – nyiakannya?”
Perbatasan Ming dan Xue
Pertempuran sudah dimulai. Tentara Ming yang ada dalam komando Tuan Besar Yin semakin kewalahan. Yin sudah tampak kelelahan. Disisi lain, Yin Mou Chou juga tak memiliki tenaga lagi.
“Rong Yan! Cepat perintahkan Yin untuk mundur. Jika seperti ini ... kita ... kita akan kalah ...”
Bamm ... duarrr ...
Suara dentuman meriam jerami berapi terdengar. Yin Mou Chou dengan sisa kekuatannya, berdiri dan memegang dadanya. Ia melihat bagaimana tentaranya terbakar dan beralrian.
“Pasukan Xue mendekat! Tuan Jenderal! Segera pergi dari sini! Hamba akan berusaha menahan mereka!” seru wakil Jenderal Rong pada Yin Mou Chou
“Aku tak akan lari hanya demi menyelamatkan nyawaku. Kau pergi dan segera menghadap kaisar. Jangan biarkan semua pasukan datang. Mereka akan ... segera menyerang ibukota ... cepat! CEPAATTT!!”
Wakil Jenderal Rong menatap tak rela Tuannya dan menggeleng
“Wakil Jenderal Rong, kuperintahkan kau ke Ibukota dan melapor pada kaisar. SEKARAAANG!!” titah Yin Mou Chou
UHukk ... hukkk ..
“Tuaaan!!” pekik Wakil Jenderal Rong. Darah keluar dari dada Yin Mou Chou
“CEPAATT!!!” teriak Yin Mou Chou
Wakil Jenderal Rong mengangguk dan memberi hormat dengan air mata mulai menetes. Ia meninggalkan kemah dengan enggan.
Yin Mou Chou menutup mata dan menetralkan energinya lalu meminum obat dari putrinya. Matanya terbuka dan kembali berjalan tertatih menuju mendan pertempuran yang hanya berjarak kurang dari 500 meter dari tempatnya berdiri.
Yin yang sempat melihat ayahnya tertatih, semakin mengerahkan tenaga dalamnya. Ia menggerakkan tangannya dan mengarahkan cahaya biru kehijauan ke arah pasukan Xue
Baam ...
Aaaa ...
Beberapa pasukan Xue terpental, mendapat dentuman keras serangan Yin
Lagi, Yin mengeluarkan tenaga element airnya dan mengarahkannya pada pasukan Xue
Hyaaaa ....
Baammm ...
Aaaa ...
Pasukan Xue yang berusaha mengirim meriam terpental dan meriam mereka terbakar.
“Kurang ajar! Xue Yang! Cepat bantu pasukan!” seru seorang laki – laki setengah baya pada seorang laki – laki berpakaian hitam
Laki – laki berpakaian hitam itu segera melesat pergi dan melayang di langit di hadapan Yin.
“Oh ... sepertinya kau kelelahan, ya?” ledek lelaki bernama Xue Yang
Yin melihat ke atas dan segera menarik tangannya. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan elementnya ke arah Xue Yang
Hiyaaa ...
Hupp
Sebuah tameng menangkis serangan Yin. Xue Yang menyeringai. Yin kembali mengerahkan sisa tenaganya
Hiyaaa ...
Serangannya tetap tak bisa menembus tameng lelaki itu. Yin Mou Chou yang melihat itu tak bisa membantu. Dengan sisa tenaganya ia melawan tentara Xue dengan pedangnya.
Walau tenaga sudah mulai habis, tapi kelihaiannya bermain pedang dan refleksnya sangatlah bagus.
Crasss ... traang ...
Traaang ... crasss ...
__ADS_1
Ia menebas pasukan musuh dan menangkis pedang yang diarahkan padanya
Shuttt ...
dengan cepat ia menghindari serangan tombak padanya
Brakk ...
dan mematahkan tombak itu
Crass ...
lalu menebas prajurit yang menombaknya
Crasss ...
Hyaaaa ...
Yin Mou Chou berbalik, ia melihat serangan tombak yang disatukan mengarah padanya. Ia melayang dan menaiki tombak itu
Bakk ..
Yin Mou Chou berdiri diatas tombak - tombak itu
Crasss ...
Tebasannya mengenai prajurit – prajurit itu. Seluruh tombak terjatuh ketanah dengan Yin Mou chou diatasnya
Dengan cepat ia membungkuk, mengambil semua tombak itu dan melemparnya ke arah para prajurit yang berdatangan untuk menyerang
Tapi, saat ia akan menebas seorang prajurit, sebuah panah melesat cepat ke arahnya dan
Jleb ... jleb ...
2 panah menembus dada dan bahunya
“Ayaaahhhh!!!” seru Yin. Ia segera mengerahkan segenap kekuatannya dan mengarahkan pada Xue Yang
Hupp .. Hyaaaa ...
Xue Yang dengan tenang menangkisnya dengan satu tangannya.
“Ah, aku bosan. Aku akhiri saja,” katanya
Dengan satu tangan ia melakukan gerakan dan
Haaaa ...
Daaasss ...
Sebuah bola api menghantam dada Yin
Hempghh ... bruttt ...
Seketika Yin mengeluarkan darah dari mulutnya. Mata Mei Lan dan Mou Han membulat ketika pemandangan ini yang mereka dapat ketika mereka sampai
Mei Lan melepaskan pegangannya dari Mou Han. Ia sgera terbang dan menyerang Xue Yang
Haaaa ...
Dusss ...
Sebuah api murni keluar dan menghantam sisi tubuh Xue Yang dan membuatnya terjatuh bebas ke tanah
“Aaaa ... eemrgh!”
Xue Yang menoleh cepat ke arah penyerangnya dengan mata yang tajam membunuh. Mei Lan pun melihatnya dengan tajam. Mata yang penuh amarah
Xue Yang terpana dengan kecantikan yang ada didepannya.
“Hmmpgh ... siapa kau? Kenapa menyerangku?” tanyanya
Mei Lan tak menjawab dan kembali menggerakkan tangannya untuk mengeluarkan element apinya. Xue Yang segera bersiap dan mengeluarkan tameng
“Tamengmu tidak akan dapat menyerang seranganku, brengsek!!” seru Mei Lan
Hiyaaa ....
Bammm ...
Xue Yang terpental jauh. Seluruh pasukan yang melihat itu terkejut. Yin yang memeluk ayahnya juga terkejut. Terlebih Mou Han yang selama ini tak mengetahui kekuatan adiknya yang sebenarnya
***
Crazy up? Vote n Like nya yaa ... hehe.
__ADS_1