
** Di tempat lain**
Yin berjalan mondar - mandir di depan ruang ganti. Ia terlihat sangat gelisah
‘Gawat, kenapa Mei Lan lama sekali? Apa dia tertangkap? Aduh bagaimana ini? Apa aku masuk saja?’ Pikirannya terus berputar.
“Yin Mou San, kenapa kau ada disini? Ke mana Mei Lan?”
Yin memalingkan wajahnya dan melihat seseorang yang dibencinya berdiri tak jauh darinya. Ia membalikkan badannya dan tersenyum getir
“Oh, Putera Mahkota. Kenapa kau mencari adikku? Aku rasa kalian berdua sudah tidak memilki urusan lagi,” jawab Yin dengan senyum seringainya
Yuan mengeraskan rahangnya,” Bukan urusanmu kenapa aku mencari adikmu.”
Yin tertawa sinis. Ia merasa ini sangat lucu. Setelah ia membunuh adiknya, dia masih bisa berkata seperti itu? Kalau tidak ada Melia, mungkin lelaki didepannya akan tertawa gembira, karena berhasil membunuhnya
“Apa hamba tak salah dengar, Yang Mulia? Hahaha ... Anda berdua sudah tak terikat hubungan apapun. Dan adik hamba ... sudah memiliki calon suami. Jangan lupakan, Anda yang sudah berusaha membunuhnya dan membuatnya terluka. Hamba dan keluarga hamba ... tidak akan pernah melupakan perbuatan Anda, Yang Mulia Putera Mahkota!” ucap Yin dengan mata yang tajam dan nada yang dingin
Yuan mengepalkan tangannya dan menatap tajam Yin. Ia tak bisa membantah semua yang dikatakan kakak Mei Lan itu
“Dia baik – baik saja, jadi aku rasa ...”
“Hamba rasa sebaiknya Yang Mulia jangan pernah berharap lebih. Anda tahu kenapa? Sejak ia tahu Anda menyuruh seseorang membunuhnya, ia sudah menganggap Anda bukan siapa - siapa. Dan, semuanya sudah berakhir,” potong Yin
Nafas Yuan memburu. Ia membalikkan badan dan beranjak dari sana.
“Kau ingin kembali mendapatkan adikku, jangan harap!” kata Yin dengan matanya yang tajam
Yin kembali teringat adiknya.
Tok ... tok ..
“Lan er ... Lan er ... kau di dalam?” panggil Yin sedikit berbisik
Tak ada jawaban. Yin semakin cemas. Ia menupuk – nepuk tangannya dengan kipas
Yin mendongak ketika ia mendengar suara langkah mendekat
“Mou Han, kenapa kau kemari?” tanya Yin, ketika ia melihat itu adalah adiknya, Mou Han
“Ayah memintaku mencari kalian. Kenapa lama sekali?” tanya Mou Han seraya sesekali melihat ke dalam ruangan. Yin sedikit menggeleng dengan ekspresi cemas. Mou Han menaikkan alisnya dan berusaha membuka pintunya
Klek
Pintu terbuka, tapi sebuah penghalang, menghalagi mereka melihat ke dalam. Yang tampak hanya ruangan kosong. Mou Han saling berpandangan dengan Yin
“Sepertinya dia sudah pergi,” kata Mou Han. Yin melihat sekali lagi. Ia tak yakin.
“Apa dia gagal dan tertangkap?”tanya Yin.
“Ada yang datang,” kata Mou Han. Keduanya segera keluar dan menutup pintu ruang ganti. Mereka berjalan menjauh tanpa ekspresi, lewat jalan lain
__ADS_1
2 orang laki – laki datang dan berdiri di depan ruang ganti
“Apa benar dia masih didalam?” kata laki – laki itu
“Aku tak melihatnya diluar,” kata seorang lagi
“Baiklah, sebaiknya kita tunggu disini,”
Tiba – tiba saja mereka membeku tak bergerak. Demikian pula semua yang sedang berada di panggung pertunjukan dan seluruh Istana
Kembali ke Mei Lan
Mei Lan terus berlari mencari arah ruangannya. Ia sudah 2 kali berputar dan tak menemukan jalan kembali
“Aduh, bagaimana ini. Itu kembang api di sebelah sana, lalu ruang ganti sebelah mana, ya?”
Mei Lan menggaruk kepalanya dan berusaha mengingatnya. Nihil. Ia mengarahkan matanya untuk melihat ke bawah. Matanya membulat
“Mereka, tak begerak?” gumam Mei Lan
Ia mengambil sebuah biji yang ada di atap itu dan melemparnya pada orang yag dibawah, untuk mengujinya
“Ah, benar. Mereka seperti di’Pause’ seperti yang ada di TV ... wah hahaha ... hebat. Siapa yang melakukan ini? Kenapa aku sendiri yang bisa bergerak? Apa karena aku bukan orang jaman ini?’ gumamnya sendiri
Brukk ...
Mei Lan turun dan menggerakkan tangannya di depan orang – orang itu. ia tertawa geli.
Mei Lan berjalan dengan leluasa di dalam Istana. Terkadang, ia mengerjai prajurit dengan menempatkan topi mereka secara terbalik. Seorang Kasim ia buat berpelukan dengan seorang pelayan dan mendekatan wajah mereka seperti hendak berciuman.
Ia juga bertemu dengan salah satu selir yang pernah bersengkongkol untuk mendorongnya jatuh ke kolam. Seringai muncul di bibirnya
“Aha! Revenge time (Waktunya balas dendam)! Hihihi ...”
Mei Lan menggeret selir itu lalu mendorongnya jatuh ke kolam yang tak terawat dengan air yang hanya sebatas mata kaki. Mei Lan melirik ada juga beberapa tikus di sana yang berhenti di tempatnya.
“Kau tahu Selir Xi, pembalasan itu lebih kejam lho ... hehehe ...”
Mei Lan mengambil beberapa tikus dan melemparkannya ke tubuh Selir Xi. Ia juga mengambil kecoak dan laba – laba dengan sihirnya. Dilihatnya hasil karyanya dan merasa cukup puas
“Ah, seandainya ponselku ada, aku bisa memfoto dan jadi kenang – kenangan. Sayang sekali,”
Mei Lan segera berlalu dari sana. Saat ia salah berbelok, ia melihat satu kamar yang terbuka dengan beberapa pelayan yang ada disana
Mei Lan masuk dan melihat seorang wanita yang terbaring dengan bibir membiru. Mei Lan mendekati wanita itu dan meraba nadinya.
“Racun lagi?” ucapnya,” Kenapa orang - orang zaman ini suka sekali meracuni orang. Ah, sudahlah. Tanganku yang malang ...”
Mei Lan menatap tangannya yang baru beberapa saat lalu ia lukai, dan kembali membukanya.
Ia membuka mulut wanita itu dan meneteskan darahnya ke dalam mulutnya. Setelah selesai, ia kembali menutup mulut wanita dengan hanfu biru muda itu dan mengusap wajahnya
__ADS_1
“Kau cantik. Semoga aku benar sudah menolongmu. Aku harap hatimu juga baik,” ucap Mei Lan. Ia mengambil pergelangan tangan wanita itu dan memeriksa nadinya. Ia mengangguk.
“Cepat sembuh, aku pergi.”
Mei Lan keluar dari kamar itu, dan menutup pintunya.
“Aduh, kemana lagi aku sekarang ... huft ...”
Mei Lan kembali berjalan dengan melihat kembang api. Setelah beberapa lama ia menyusuri koridor, ia melihat ruangan yang tak asing. Tapi, ada 2 orang laki – laki yang tak ia kenal berdiri disitu.
“Siapa mereka. Itu bukannya kamar gantiku?”
Mei Lan segera mendekat dan memeriksanya, “ Benar, ini dia. Tapi, siapa mereka. Kalau dari pakaiannya,
mereka sepertinya Pangeran. Apa salah satu dari mereka adalah Yuan?”
Timbul pikiran usil di pikiran Mei Lan. Bibirnya tersenyum licik
Sosok yang terus mengawasi Mei Lan, menepuk wajahnya sendiri
“Mau apa lagi dia? Aku membantumu, kenapa kau malah main – main?” ucapnya sambil berkacak pinggang dan menggelengkan kepala. Melihat keusilan Mei Lan
Mei Lan lagi – lagi menggeret beberapa kasim dan pelayan dengan wajah yang tak cantik. Ia mendudukkan 2 laki – laki itu ke lantai, lalu menaruh 2 kasim di pangkuan laki – laki dengan hanfu mewah berwarna biru dan menaruh 2 pelayan di pangkuan laki – laki dengan hanfu putih.
"Ehm ... kurang meyakinkan. Sebentar,"
Mei Lan membuka sedikit hanfu laki - laki dengan hanfu mewah itu. Mei Lan menelan ludah.
"Wah, roti sobek," gumamnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat dan memulai aksinya. Membuat baju kasim dan pelayan itu sedikit berantakan.
Mei Lan kembali melihat hasil karyanya, ia menjentikkan jari dan mengacak rambut mereka semua
“Ahaha ... sempurna! kalian berdua sangat mesum. Kasim dan pelayanpun tak kalian lepaskan, ckckck ...” Mei Lan tertawa sendiri melihat ulahnya
Sosok yang berdiri tak jauh darinya ikut terpingkal. Ia memutuskan untuk melihat ulah apalagi yang akan dibuat Mei Lan
“Hmm, sekarang aku harus ganti baju. Dan kembali pada Ayah,”
Mei Lan masuk ke dalam ruangan dan mengeluarkan hanfu merah lainnya lalu memakainya. Ia juga menata kembali rambutnya.
Saat ia keluar semua masih belum bergerak. Bibirnya tersenyum. Dengan cepat ia melangkah menuju tempat pertunjukan
“Wah, ini akan semakin menarik,” ucapnya
Mei Lan segera berlari ke arah Kaisar dan memegang nadinya dan membuka sedikit matanya. Matanya membulat sempurna. Mei Lan segera memberikan darahnya. Dengan cepat ia menggerakkan kedua tangannya dan mengarahkan hawa murninya pada Kaisar
“Apa yang dia lakukan pada Kaisar?” gumam sosok itu. ia mendekat untuk mencari tahu. Matanya menatap Mei Lan dan menautkan alisnya
“Kau, sudah bisa merasakan hawa Iblis?” ucapnya dengan ekspresi tak percaya
“Mei Lan, kekuatan seperti apa yang kau miliki setelah kau dan Tian Long bersatu? Dan setelah Gulungan itu kau kuasai?”
__ADS_1