
Seseorang dengan menggunakan jiwa gandanya, melihat Mei Lan dengan senyum sendunya. Ia melihat bagaimana Mei Lan sangat akrab dengan kakak palsunya, Yin.
Ya, ia tahu siapa Mei Lan dan bagaimana Melia berakhir menjadi Mei Lan. Karena ia pun memiliki kemampuan meramal
“Mei Lan ... kenapa kita tak berjodoh? Seandainya saja aku bisa mengubah takdir kita,’ lirihnya. Tangannya terulur memegang pipi Mei Lan yang sedang duduk bercengkerama dengan Ayah dan kakaknya di dalam perpustakaan
Mei Lan merasakan ada hawa lain di sekitarnya. Tapi, karena kemampuannya saat ini hanya bisa mendeteksi hawa jiwa ganda, ia tak dapat melihat jiwa siapa itu. Alisnya berkerut.
“Ayah, berhenti!” kata Mei Lan tiba – tiba. Yin dan Tuan Besar Yin saling memandang tak mengerti
“Ada apa, Nak?” tanya Tuan Besar Yin dan tak jadi memgambil barang yang ada di bawah kursinya
Mei Lan tak menjawab dan langsung berdiri
“ Tuan atau Nyonya yang terhormat, saya tahu Anda bukan orang jahat. Mei Lan mohon keluarlah, jika ingin bertemu. Jangan menggunakan cara tak terhormat seperti ini.”
Yin dan Tuan Besar Yin menjadi waspada. Mereka sudah siap mengeluarkan sihirnya
“Ayah, dia tak memiliki hawa jahat. Jadi, aku yakin dia orang baik. Bukan begitu?” kata Mei Lan lagi seraya matanya terus mencari kesana kemari. Demikian halnya Tuan Besar Yin dan Yin
Bayangan itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya
“Kau sangat peka. Kau baru tahap awal keabadian, tapi kau sudah bisa mendeteksiku. Mei Lan, kau selalu membuatku terkejut,” ucap bayangan itu
Cuss ...
Sebuah kertas dan kuas melayang di atas meja Tuan Besar Yin
Ha .. ti .. ha .. ti .. lah
Ke .. pa .. da .. pu .. tri .. Yu .. an .. Ning
Di .. Fes .. ti .. val .. Bu .. nga
Mei Lan mengeja setiap huruf yang dituliskan di atas kertas itu. semuanya saling memandang.
Tuan Besar Yin memberi gestur Baoquan yaitu hormat untuk para praktisi di dunia persilatan dan mengarahkannya ke berbagai arah. Demikian pula Yin dan Mei Lan
“Tamu yang terhormat, terima kasih atas peringatannya. Kami sangat menghargainya,” ucap Tuan Besar Yin dan menundukkan kepalanya
Bayangan itu tersenyum. Tangannya memegang tangan Mei Lan, walau tak benar – benar bisa menyentuh. Karena bayangan dan jiwa, tak memiliki raga yang dapat bergesekan untuk bisa merasakan sensasi sentuhan.
“Mei Lan, aku akan terus melindungimu,” ucapnya
Mei Lan yang merasakan ada sesuatu yang memegang tangannya, mengerutkan alisnya. Sebenarnya, bukan tangannya yang bisa merasakan, tapi inti jiwa Mei Lan.
Bayangan itu tersenyum dan menghilang
“Mei Lan, apa dia sudah pergi?” tanya Tuan Besar Yin
Mei Lan mengangguk. Ketiganya mendesah. Tuan Besar Yin mengambil kertas itu dan memiringkan kepalanya
“Ayah, ada apa? Apa Ayah mengenali tulisannya?” tanya Mei Lan
Tuan Besar Yin mengangguk ragu. Ia berjalan keluar dari balik meja dan melipat bibirnya. Mei lan tersenyum senang dan melihat kakaknya.
“Jadi, tulisan siapa itu, Ayah? Kenapa dia menolong kita?” tanya Mei Lan tak sabar
__ADS_1
“Hehh ... aku lupa,”
Senyum Mei Lan dan Yin seketika menghilang. Keduanya mengerucutkan bibir dan kembali duduk. Yin membuka
kipasnya dan Mei Lan melipat tangannya di depan dada. Namun, keduanya sama – sama memicingkan matanya ke arah sang Ayah
“ Hei! Ayah memang lupa. Ayah sudah tua, jadi banyak yang bisa dilupakan, kan? Khem ...” kilah Tuan Besar Yin dan kembali duduk di balik meja
“Kalau masalah seperti ini, Ayah katakan Ayah sudah tua, tapi kalau masalah mencari istri lagi, Ayah bilang ayah masih muda dan masih bisa tambah Anak,” sindir Yin
“Kau!”
Tuan Besar Yin menatap kesal anaknya dan mengangkat tangan menunjuk anak sulungnya itu
Mei Lan terkejut mendengar perkataan Yin
Brakk
“Ayah! Ayah mau menikah lagi?! Apa Ayah kurang puas dengan 1 istri? Berapa banyak wanita yang mau Ayah cicipi?! Apa kalian laki – laki tak pernah bisa cukup hanya dengan satu istri?! Kenapa suka sekali main celup sana sini?!” geram Mei Lan sambil berkacak pinggang dan suara lantang.
Mata indah Mei Lan berubah memerah dan tampak garang
Brakk
Selir Hong menjatuhkan nampan camilannya ke lantai, ketika ia mendengar ucapan vulgar Mei Lan. Sementara,
mata Yin dan Tuan Besar Yin membelalak kaget. Mata keduanya mengerjap pelan
“Yin er, apa ... dia benar ... adikmu?”
Brakk
“Kenapa kalau aku bukan Mei Lan? Apa Ayah mau memakanku juga?! Dasar mata keranjang!!!”
Uhuk ... uhuk ...
Tuan Besar Yin dan Yin terbatuk
Glodak
Selir Hong terjatuh. Matanya mengerjap
Mei Lan menghentakkan kakinya dan pergi dengan langkah lebar. Tak lagi menampakkan cara jalan seorang wanita bangsawan, yang ia tunjukkanselama ini
“ Yin er, sepertinya, jiwa orang tadi meninggalkan sedikit hawa jahat pada Mei Lan,” gumam Tuan Besar Yin dan diangguki putranya itu
Hatchimm ...
Seseorang di tempat lain, yang sedang duduk menikmati indahnya pemandangan di depannya, tiba – tiba bersin
“Siapa yang berani mengataiku?” gumamnya
Kembali kepada Mei Lan
__ADS_1
Mei Lan kembali ke Paviliunnya dengan geram. Sampai disana, Quan er dan Lian er saling menatap bingung.
Pasalnya, Mei Lan dengan asal membuang hanfu luarnya di ruang tengah dan terus berjalan menuju kamar mandinya. Membuang cadarnya asal dan duduk berendam di dalam bak mandi
“ Ayah, sampai kau berani – berani menikah lagi, bakal aku bikin jadi impoten atau sekalian aku sunat jadi kasim!”
Tangannya meremas kain untuk membersihkan tubuhnya itu dengan geram dan memerasnya sekuat tenaga.
Dhek ...
Kain tak bersalah itu pun putus.
Blurp
Mei Lan memasukkan kepalanya ke dalam bak mandi dan memunculkannya setelah beberapa saat. Ia mengusap wajahnya kasar dan memikirkan apa yang telah terjadi
“Hehh ... mungkin karena aku ingat Felix, makanya aku jadi begitu emosi. Fiuuhh ... eh ... kabar Long bagaimana, ya? Apa benar dia tidak menghianatiku?” kata Mei Lan pada dirinya
Ia memutar telapaknya, tampaklah pedang Aura yang sangat cantik muncul. Bibir Mei Lan tersungging senyum
“Aku bisa menunggumu, tapi ... jika pada akhirnya kau mengecewakan, kau pun akan berakhir sama dengan para kasim Istana,” kata Mei Lan seraya menaikkan alisnya dan manggut - manggut
Mei Lan tertawa geli membayangkan jika Long yang tampan menjadi seorang kasim yang melayani kebutuhannya.
“Hahaha ... hahaha ...”
Seorang anak kecil yang sedang berbaring dengan lelap, merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya dan menarik selimutnya
Istana Kerajaan Ming
Semua persiapan untuk Festival Bunga telah siap. Penginapan di Ibukota sudah penuh dengan para pelancong dari kalangan bangsawan yang ingin ikut dalam acara yang digelar oleh Istana
Yuan memberikan sebuah hanfu yang indah untuk Xia Ling. Wanita itu sangat bahagia menerimanya.
“Yang Mulia, apa kau menghadiahiku kali ini, karena sebentar lagi kau akan mengabaikan aku seperti dulu saat kau sudah menikah dengan Wen Jia Li?” tanya manja Xia Ling
Yuan mendorong kasar Xia Ling dan menatapnya tajam
“Kenapa kau selalu membuatku teringat pada Jia Li?! Kau tahu karena dia aku hampir kehilangan nyawaku, kalau bukan karena seorang biksu yang baik hati menolongku, aku sudah lama mati!” ucap Yuan kesal
Ia segera berdiri dan memakai hanfunya. Xia Ling memegang celana Yuan dan memasang wajah memelasnya
“Maaf, maafkan aku. Aku hanya ... aku hanya ... cemburu. Karena aku sangat mencintai Anda, Yang Mulia,” rengek Xia Ling
“Kalau kau mencintaiku, kau harusnya tahu kesulitanku,”
Yuan melepas tangan Xia Ling dan kembali memakai hanfunya
“Yang Mulia, ini sudah larut. Tidurlah disini,” rayu Xia Ling dengan tubuh yang hanya berbalut kain tipis. Xia Ling mengeluarkan serbuk pemikat dan menjentikkannya
Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Yuan patuh dan mengikuti kemauan Xia Ling. Saling menindih hingga pagi menjelang
__ADS_1
***
Crazy Up? Vote n Like ya ...