
“Melia! Melia! Dengarkan aku, Melia!” seru Wayne. Melia tak menggubris dan terus berjalan cepat menuju ruangannya.
Dihempaskannya tubuhnya di kursi kebesarannya. Rambutnya yang indah menjadi pelampiasan kekesalannya
“Kenapa ini? Kenapa kau bisa menghubungi Wayne, sementara aku tunanganmu ... kau ..” Melia memejamkan matanya. Kembali mengingat masa – masa berpacaran dirinya dan Felix.
“Aku sungguh tak mengerti kau lagi, Felix,” gumamnya.
Setelah menyisir rambutnya dengan tangan dan memberi touch up pada wajahnya, Melia segera berdiri dan memulai harinya.
Ia melakukan visite pada beberapa pasiennya dan ke klinik. Baru beberapa orang ia tangani. Deringan telepon menghentikan kegiatannya
“Hallo” sahutnya setelah mengangkat gagang telepon itu
“Melia ... segera ke ruang VVIP dan lakukan pemeriksaan rutin pada Tuan Muda Long,” titah seseorang di seberang
“Bukankah biasanya Wayne, pak?” tanya Melia
“Wayne ada operasi denganku. Cepatlah. Ingat! Jangan buat kesalahan!”
Tuttt ...
Melia melihat gagang telepon di tangannya dan menutupnya.
“Maaf, membuat Anda menunggu,” ucap Melia. Pasiennya itu hanya tersenyum dan mengangguk
30 menit kemudian, Melia sudah siap dengan seorang petugas dari lab untuk memeriksa orang yang berada di VVIP. Ini pertama kali buatnya berkesempatan memeriksa orang penting
“Hm, aku ingin lihat siapa sih Tuan Long itu,” gumamnya
Tok ... tok ...
Ceklek
Seorang laki – laki berkacamata membuka pintunya. Ia mempersilahkan Melia dan petugas lab itu masuk
“Selamat siang, Tuan Long,” sapa Melia dengan senyumnya
Lelaki bermarga Long itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Melia. Jantung Melia berdegup sangat kencang. Melia menahan nafasnya dan perlahan menghembuskannya. Ia mendekati lelaki itu dan mulai mengambil sarung tangan latexnya
“Tuan Muda, saya dr. Melia Su. Saya yang akan bertugas untuk memeriksa Anda hari ini,” jelas Melia dengan senyumnya.
Long menutup bukunya dan melepas kacamatanya. Sangat tampan dan lebih muda bila tanpa mata sambung itu.
__ADS_1
“Dimana Wayne?” tanya Long. Melia melihatnya sekilas dan kembali tersenyum
“Dokter Wayne saat ini sedang di ruang operasi. Saat Anda di ruang CT tadi, ada seorang pasien darurat yang harus segera ditangani,” jelas Melia
Long mengangguk dan terus memperhatikan wajah ayu Melia. Tak ada reaksi dari wanita itu. Ia terus melakukan tugasnya.
'Aduh ... kenapa dia terus lihat aku sih ... aduh, Melia sadar, sadar. Kamu sudah bertunangan. Tidak boleh tergoda. Tidak boleh,' batin Melia yang terus memperingatkan dirinya sendiri
“Ehm ... Tuan Muda, apa ada sesuatu di wajah saya?” tanya Melia tanpa melihat ke arah lelaki itu
“Ah, tidak. Hanya saja ... kau sangat enak dilihat,”
Deg ... deg ... deg
Jantung Melia seakan hampir lepas dari tempatnya. Wajahnya memerah. Tuan Muda tersenyum melihatnya.
“Ekhem ... saya sudah selesai. Hasil darah akan selesai 1 jam lagi. Untuk ritme jantung, kita harus tunggu setengah jam. Suster Yim akan berjaga disini. Saya permisi,” pamit Melia
“Tunggu! Aku adalah orang VVIP. Seharusnya kau yang menemaniku. Karena kau seorang dokter,” kata Tuan Muda Long dengan wajah tenangnya
“Maaf, Tuan. Tapi saya ...”
“Apa perlu saya mengganti rumah sakit?” ancam lelaki itu. Melia tersenyum paksa dan mengangguk. Ia berjalan dan duduk di sofa.
30 menit terasa bertahun – tahun bagi Melia. Dari tadi, pandangan mata lelaki di atas bed, yang berada tak jauh darinya tak pernah lepas darinya
“Ehm, sa-saya akan ambil air minum dulu,” pamit Melia dan berdiri
“Yang! Ambilkan minum untuk dr. Melia,” titah lelaki itu. Melia terkejut dan terpaksa duduk kembali.
“Wah, Anda sangat haus ternyata, dokter?” goda Tuan Muda Long. Melia tersenyum kaku dan memalingkan wajahnya
Tit .. tit ...
Melia berdiri dan menghampiri alat ECG dengan banyak kabel yang digunakan untuk mengecek ritme jantung itu. Melia memeriksanya dan melingkari beberapa garis disana.
“Tuan Muda, sejauh ini, semua normal. Hanya, saya anjurkan Anda untuk mengurangi kerja berat. Kurangi begadang dan makan makanan yang tidak terlalu banyak mengandung lemak,” saran Melia
“Hmm ... kalau begitu, kau bisa mengawasiku dan mengingatkanku kalau aku terlalu lama bekerja. Untuk begadang, kalau denganmu aku tak akan bisa tak begadang. Makanan, nantinya aku hanya akan makan masakanmu,” ucap Tuan Muda
Semua terkejut mendengar perkataan Long. Terutama asisten Yang yang selama ini mengikutinya. Tak pernah sekalipun ia melihat atasannya itu merayu wanita. Sebaliknya, banyak wanita yang merayunya, tapi selalu berakhir penolakan
Melia menelan salivanya dan memiringkan wajahnya lalu menatap Tuan Muda keluarga Long yang merupakan keluarga bangsawan nomor 1 di negara itu.
“Maaf, Tuan Muda. Saya dokter. Bukan asisten rumah tangga ataupun ibu Anda. Yang bisa menjaga Anda adalah ...”
“Kau. Kau yang punya hak untuk melarangku bekerja dan menyuruhku makan, makanan yang kau mau aku makan. Aku mau kau,” jawab enteng Tuan Muda Long dengan sedikit senyumnya serta mendekatkan wajahnya pada Melia.
Melia reflek memundurkan badannya. Lelaki itu menaikkan alisnya lalu kembali duduk serta mengambil dan membuka bukunya.
“Maaf, Tuan Muda. Saya sudah bertunangan dan kami akan menikah sebulan lagi,” jawab Melia tegas. Lelaki itu menutup bukunya dan melemparnya asal ke samping
“Siapa tunanganmu? Apa dia lebih baik dariku? Lebih tampan dariku?” rentet Tuan Muda Long dan menatap lekat Melia
__ADS_1
“Dia tidak lebih baik dari Tuan. Tapi, saya mencintainya,” jawab Melia. Lelaki itu mengeraskan rahangnya
“Kau boleh pergi,” ucapnya datar dan dingin
Melia sedikit membungkukkan badannya dan pergi dari ruangan itu. Ia terus berjalan dan berbelok. Ia berhenti disana dan menepuk – nepuk dadanya
“Ya, Tuhan ... dia sangat mesum,” gumamnya. Sudut bibirnya terangkat dan berjalan. Tapi ia tiba – tiba berhenti dan menggelengkan kepalanya serta memukul kepalanya sendiri
“Melia! Ingatlah! Kau sudah bertunangan!” lagi ia mengingatkan dirinya dan kembali berjalan
Di dalam kamar, Tuan Muda Long terlihat gusar.
"Yang! selidiki siapa tunangannya! Aku tunggu hasilnya 1 jam lagi!" titah Long
"Baik, Tuan," jawab Yang. Lelaki berkacamata itu mulai menelepon seseorang
"Melia, kau hanya boleh menikah denganku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," gumam Tuan Muda Long. Ia melihat ke arah pengawalnya
"Xi Yao (nama pengawal) belikan bunga mawar merah 99 tangkai dan berikan padanya," instruksinya pada si pengawal
"Baik, Tuan Muda,"
Melia kembali ke ruangannya setelah ia selesai dengan visitenya. Tubuhnya terasa lelah. Ia membaringkan tubuhnya ke sofa. Semalam ia tak bisa tidur, dan hari ini ia harus melayani banyak pasien. Baru saja ia memejamkan mata, seseorang mengetuk pintunya
Melia berdiri dan menata rambutnya. Ia berjalan dan membuka pintunya
Ceklek
Mata Melia membulat melihat buket bunga mawar yang sangat besar berada tepat didepannya, saat ia membuka pintu
"Wah ... dia romantis sekali," terdengar bisik - bisik seseorang
"Iya, eh ... bukannya itu ..."
__ADS_1