Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Tuan Muda Long Mengejar Cinta


__ADS_3

Mawar itu perlahan diturunkan. Wajah si pembawa bunga terlihat. Melia mendesah dan memijat pangkal hidungnya


“Tuan Muda, apa maksudnya ini?” tanya Melia tenang, walau sebenarnya jantungnya berdisko ria didalam. Baru kali ini ia mendapat kejutan romantis seperti itu. Felix sering memberinya bunga, tapi sekedar saat mereka akan berjalan bersama dan itu hanya bunga kecil


“Kau tak mengajakku masuk?” laki – laki itu bertanya balik


Melia melihat kesana kemari. Beberapa suster dan dokter melihat ke arahnya. Melia tersenyum dan melihat Tuan Muda itu. Ia mengangguk dan melangkah mundur. Tapi


Bammm ...


Melia menutup pintu ruangannya dengan keras . Semua orang melihat ke arah Tuan Muda dan cepat – cepat berbalik ketika mereka melihat tatapan matanya


Laki – laki itu membuang begitu saja mawar di tangannya ke lantai. Sementara, Melia di dalam ruangan terus berusaha menetralkan degupan jantungnya


“Ya, Tuhan. Aku sepertinya tadi keterlaluan. Tapi ... aku harus setia. Aku mau menikah, ...” gumam Melia membela dirinya sendiri.


Melia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan melihat ke arah pintu


“Fiuh ... kalau kau tak memberiku bunga di hadapan mereka, mungkin akan langsung ku terima, haihh ...”


Tuan Muda Long melangkahkan kakinya dengan cepat dan meninggalkan rumah sakit itu. Diantar oleh direktur rumah sakit sendiri, Long menaiki mobil mewahnya dan pergi


“Panggil dr. Melia Su ke ruanganku, sekarang!” geram direktur


asistennya itu membungkuk dan segera mengerjakan perintah atasannya.


Melia yang mendapat perintah untuk bertemu direktur meremas lagi rambutnya


“Aufff ... kau memang bodoh, Melia. Kau bodoh! Aufff ...” runtuknya


“Ah ... baiklah. Nasi sudah jadi bubur. Aku harus hadapi,” ucapnya lagi menguatkan hati dan beranjak pergi


 


 


Disinilah ia sekarang, berada di depan sang direktur. Laki – laki tua berumur sekitar 60 tahunan dan berkepala botak


“Dokter Melia! Apa yang sudah kau lakukan?! Kau mendapat kesempatan untuk melayani Tuan Muda nomor satu di negeri ini, dan kau ... berani – beraninya kau membanting pintu di hadapannya. Besar sekali nyalimu!” seru direktur geram


Melia menundukkan kepalanya tak berani membantah.


“Dokter Melia, seharusnya kau bersyukur. Tuan Muda menyukaimu, kenapa kau begitu jual mahal?! Memangnya orangtuamu sanggup menanggung kalau sampai Tuan Muda marah? Hah?!”


Ejekan direktur membuat Melia mengeraskan rahang dan mengangkat kepalanya.


“Pak direktur, saya memang bukan orang kaya. Tapi saya masih punya martabat. Saya bukan barang untuk dijual. Saya dokter yang bekerja hanya untuk menolong pasien yang sakit. Bukan untuk menjilat penguasa dan menjual tubuh hanya demi sebuah kedudukan dan harta!” balas Melia


Wajah direktur memerah. Disambarnya kotak yang ada di atas mejanya dan ia lemparkan ke arah Melia.


Glodak...


benda itu jatuh ke lantai, namun sempat menggores pipi mulus Melia. Matanya menatap tajam sang direktur


“Saya akan melaporkan Anda karena tidak kekerasan secara mental dan fisik!”


Direktur itu segera berdiri dan berjalan mendekati Melia


Plakk ...


"Mau melaporkanku? Ayo coba! Siapa yang akan berani memprosesnya?” tantang direktur


“Wah, Anda mengakui kalau Anda sedang menyalah gunakan kekuasaan, ya?” ledek Melia dengan senyumnya


“Memang kenapa kalau iya? Jangan kau pikir kau bisa berani melawanku karena Felix adalah tunanganmu,”


“Maaf, tapi saya tidak pernah sembunyi di balik laki – laki,” sahut Melia,” Saya rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi, direktur. Saya permisi,”

__ADS_1


Melia tersenyum dan sedikit membungkuk. Ia berbalik dan berjalan pergi


“Aku belum selesai berbicara, dokter Melia!” sentak direktur


“Menurut saya sudah selesai,” jawab Melia


Melia berjalan kembali ke kantor. Kekesalannya sungguh memuncak


“Hah!!! kenapa hari ini aku selalu sial,” runtuknya


Melia hanya kembali ke ruangannya untuk mengambil tas dan pergi lagi.


Ting


Sebuah pesan masuk dari puhak HRD rumah sakit. Melia tersenyum getir.


“Dipindahkan? Baiklah ... siapa takut,” gumamnya dan melanjutkan langkah


Melia teringat akan Yin dan ayahnya. Ia segera berjalan ke kamar rawat Tuan Besar Yin.


Tok ... tok ...


Ceklek


Kosong. Mata Melia membulat. Ini baru hari ke 5 dan mereka sudah tidak ada? Melia melihat seorang suster yang lewat dan menghentikannya


“Sus, dimana pasien di ruangan ini?” tanya Melia


“Mereka sudah minta pulang, dokter. Dan dr. Wayne mengijinkannya karena mereka sudah memaksa,” jelas suster itu. Melia mengangguk


“Haduh, mereka memang keras kepala,” gumamnya. Melia akhirnya meninggalkan tempat itu


 


 


 


Seorang wanita terbaring lemas dengan pandangan kosong. Seorang laki – laki bertelanjang dada dan hanya memakai celana boxernya, duduk bersantai dan menyesap wine di gelas cawan yang ada ditangannya


Matanya menatap sinis ke arah wanita yang tak berbalut satu benangpun di atas ranjang hotelnya. Seorang laki – laki datang menghampirinya


“Bos!” sapa laki – laki itu


“Pakaikan dia baju yang dia beli kemarin dan antar dia ke keluarganya,” titahnya dengan nada datar


Laki – laki itu mengangguk dan segera melakukan tugasnya. Beberapa kali ia menelan salivanya. Laki – laki yang duduk di sofa itu menaikkan alis dan menyeringai


“Kau boleh mencicipinya. Setelah itu, kembalikan dia,” ucapnya


Laki – laki itu tersenyum lebar dan mengangguk cepat. Ia mulai kembali melepas pakaian dalam wanita itu, yang tadi sempat ia pasang. Ia menggotongnya dan membawanya keluar.


“Tunggu!”


Bawahan laki – laki itu berhenti dan berbalik melihat atasannya


“Carikan lagi untukku setelah kau selesai,” titahnya.


“Siap, bos!”


 


Laki – laki dengan mata yang yang tajam itu berdiri dan melihat kota Shanghai


“Dimana kau? Kenapa sulit sekali menemukanmu,” ucapnya dan mengeraskan rahang


Tarr ..

__ADS_1


Gelas ditangannya pecah. Cairan merah dan keunguan mengalir dan menetes ke lantai. Perlahan ia melihat tangannya dan sebuah asap hitam menutup lukanya


“Waktuku sudah tak lama lagi. Aku harus segera menemukannya,”


 


 


Istana Langit


 


Feng Huang menggeram kesal karena Tian Long pergi tanpa izinnya. Kini, Kaisar Langit menugaskannya sementara untuk mengatur alam.


“Anak nakal! Berani sekali dia mengerjai pamannya seperti ini,” omel Feng Huang


“Dia sangat mencintainya, biarkan saja,” ucap seseorang yang tiba – tiba saja muncul


“Dewi, dari mana? Apa kau bertemu Mei Lan lagi?” tanya Feng Huang. Dewi mengangguk. Ia menatap horizon yang begitu indah di depannya


“Aku setiap hari mendatanginya dalam mimpi. Aku harap, ia segera ingat dan kembali,” ucap Dewi Yue penuh harap


Feng Huang mendesah. Ia saat ini juga hanya bisa menunggu


“Wei Tao sekarang sudah mengikuti Mei Lan ke dunia itu. Tian Long juga kesana untuk melindunginya. Tapi, perbedaannya adalah, Wei Tao ingat siapa dirinya sedangkan Tian Long ...”


Dewi Yue mengangguk,” Ya, aku tahu itu. Tapi kita tak bisa membantu mereka selain memperingatinya,”


“Bagaimana dengan Kaisar Langit?” tanya Dewi Yue kemudian


“Ia menyerahkan tugas Tian Long sementara padaku. Aku yakin, ia juga tahu tentang rencana Tian Long menyusul Mei Lan,”


Dewi Yue menipiskan bibirnya,” Yin Mou Chou sudah kembali dan keadaannya sudah jauh lebih baik. Tapi, pikirannya masih pada Mei Lan. Aku ...”


“Aku tahu Dewi. Kita saat ini hanya bisa berharap Mei Lan bisa mengingat dan kembali kemari,”


 


 


 


Melia saat ini dipindahkan di distrik yang lumayan jauh. Ia harus berpindah 3 kali MTR untuk bisa sampai ke tempat kerja barunya.


“Fiuh ... aku masih harus naik taksi lagi kesana. Hmm ...”


Melia keluar dari stasiun dan mulai mencari taksi. Ia menunggu beberapa saat disana.


“Aduh, kenapa taksi sulit sekali disini. Sudah mau telat lagi aku ...” gerutunya


Ciit ...


Melia menaikkan alisnya dan memundurkan badannya. Sebuah mobil mewah berhenti. Seorang laki – laki turun dan mendekatinya


“Nona ... silahkan naik,” ucap lelaki itu sopan


“Hah?” Melia melihat ke kanan kirinya dan kembali menunjuk dirinya sendiri,”aku?”


“Iya, Nona. Mari silahkan masuk,”


Laki – laki kurus dan bertubuh sedikit lebih pendek dari Melia itu membuka pintu belakang mobilnya dengan terus tersenyum


“Mm ... terima kasih. Tapi maaf. Saya tidak kenal dengan Tuan Mudamu,” tolak Melia halus


“Kau masuk, atau kugendong,” suara baritone yang cukup jelas didengar Melia mengagetkan wanita pemiliki 160 cm itu.


Melia menunduk dan melihat ke dalam mobil

__ADS_1


__ADS_2