
Perguruan Bai Yun
Darr ... darrr ... darr ...
“ NONAA!! NONA YIIINNN!” panggil seseorang dari luar pintu kamar Mei Lan.
“ NONAAAA .... BANGUUUUNNN!!” seru seorang lagi. Kedua pelayan itu saling bertatapan dan terlihat kesal
“ Bagaimana ini? Kenapa Nona kita belum bangun juga? Kalau sampai Nona terlambat, Dewa Obat pasti akan marah besar,” kata pelayan itu pada temannya
“ Aku tahu. Bagaimana ini?” sahut pelayan lainnya
Sementara di dalam kamar, Nona yang ditunggu-tunggu masih asyik mendengkur di atas tempat tidur yang ia katakan tak akan nyaman untuknya tidur.
Zzz ... brrr .... Zzzz ...
Darrr ... darrr .... darrr ..
Bukk ...
“ Aarrghh ... ufff ... siapa sih yang bikin ribut sepagi ini? Ufff .. keras sekali lantainya. Sakit sekali pantatku,” oceh Mei Lan tanpa membuka mata dan mengusap bokongnya karena terjatuh dari tempat tidur
“ NONAAAA!!!”
“ Isshh ... BERISIIIIKKKK!!!” teriak Mei Lan. Ia menutup wajahnya dengan selimut dan kembali tidur
“ Hmm ... sepertinya Permaisuriku suka dengan tempat tidurnya, ya?”
Mata Mei Lan terbuka lebar di dalam selimut. Dengan cepat dibukanya selimut tebal yang menutupi wajahnya. Matanya membulat sempurna dan mengerjap. Netranya melihat lelaki tampan yang sudah mencuri ciuman pertamanya, berdiri di hadapannya dengan senyuman memikatnya
Mei Lan mengedarkan matanya melihat sekeliling
‘ Ini benar kamarku, lalu dia ...’
“ Aaaaaa ..... mmpphhh ...” pekik Mei Lan dengan mata tertutup, tapi ...
Lagi, lelaki tampan itu membekap bibir Mei Lan dengan bibirnya. Mata Mei Lan kembali terbuka dan membulat. Dengan rakus lelaki itu ******* bibir Mei Lan. Tangannya pun mulai bergerak tanpa kontrol memeluk dan meraba lekuk tubuh gadis cantik itu. Perlahan namun pasti, tubuh besar lelaki itu sudah mengkungkung tubuh kecil Mei Lan
Mei Lan tersentak dan mulai memberontak. Tangannya memukul lengan dan punggung lelaki yang terasa keras itu serta mendorong dadanya. Dengan sigap lelaki itu menangkap tangan Mei Lan dan menaruhnya diatas kepala.
“ Sayang, kau harus dihukum,” ucapnya lembut dan mulai mencium Mei Lan lagi sebelum sempat kata-kata Nona Muda keluarga Yin itu keluar
Darrr ... darrr ... darr ...
Dengan lengan hanfunya, lelaki itu membuat gerakan setengah lingkaran di sampingnya. Kedua Pelayan dan semua yang bergerak kecuali Mei Lan, membeku dan tak bergerak.
“ Tak ada pengganggu lagi,” kata lelaki itu dengan senyumnya yang dapat meruntuhkan iman setiap wanita
“ Kau! Apa yang kau lakukan? Lepaskan! Dasar Mesum!” teriak Mei Lan
“ Sayang, sudah ku bilang, kau harus mendapat hukuman. Karena kau sudah berani dekat-dekat dengan pria lain dan tersenyum pada mereka,”
__ADS_1
Dan tanpa malu, ia langsung memasukkan tangannya ke dalam atasan Mei Lan dan merabanya lembut
“ Kau! Mmphh ...”
Lelaki itu kembali membungkam bibir Mei Lan dengan bibirnya
“ Setiap kau marah dan memakiku, kau akan kuhukum seperti tadi,”
Mei Lan menatap kesal lelaki dengan tubuh atletis dan tinggi itu. Dengan senyum kemenangan, tangan besarnya membelai punggung Mei Lan dan membuat wanita itu membusungkan dadanya karena geli
“ Wah ... kau sangat agresif, sayang,” goda lelaki itu. Mata Mei Lan melotot tak terima, tapi mulutnya tak berani berkata-kata karena ingat ancaman pria berhanfu putih nan tampan yang masih berada diatasnya itu
“ Untuk yang itu ... setelah kita menikah, sayang. Jadi, bersabarlah ...” ucapnya dengan suara baritone yang menawan dan mata menatap dua gundukan Mei Lan yang menempel pada dadanya
“ Siapa yang menikah denganmu?” ketus Mei Lan
“ Kau, sayang. Siapa lagi?”
Bibir MeiLan membuka dan menutup, ia kehabisan kata-kata untuk melawan kemesuman lelaki dengan ketampanan tingkat dewa itu.
‘ Kalau kau tidak tampan sudah kubuang kau ke laut,’ geram Mei Lan dalam pikirannya
“ Jadi, kau mengakui kalau aku tampan?”
Mei Lan terkejut. Matanya mengerjap.
“ K-kau ..”
“ Tak usah melihatku begitu. Kau akan segera memilikiku. Jadi, jangan kuatir kalau kau tak
akan melihatku lagi. Sekarang, mandilah. Kau harus ikut latihan pertamamu, sampai bertemu nanti, sayang,” lanjut lelaki itu dan menghilang begitu saja
Semua kembali normal. Kedua pelayan di depan kamar Mei Lan kembali menggedor pintu kamar. Kesadaran Mei Lan pulih. Dengan kesal ia melempar bantal dan gulingnya ke lantai
‘ Kau bisa membaca pikiranku, ya? Baik, dengarkan! Kau itu ******** tengik yang suka memperdaya wanita. Kau memang tampan tapi kemesumanmu benar-benar tingkat dewa! Kalau kau jadi suamiku akan kuremas-remas kau seperti ini,’ umpat Mei Lan di dalam pikirannya dengan tangan meremas bantalnya hingga kapas didalamnya membual keluar
‘ Benarkah, sayang. Kau sudah tak sabar rupanya, hmm?’
“ Aaaaa ...”
pekik Mei Lan dan bantal ditangannya ia buang begitu saja. Ia dapat mendengar suara lelaki itu dengan sangat jelas di telinganya.
“ NONAAA ... NONAAA ... BUKA PINTUNYA! APA ANDA BAIK-BAIK SAJA?” seru seorang pelayan dari luar kamar
Mei Lan segera membuka pintu kamarnya dan terlihat 2 orang pelayan dengan 2 cepolan rambut di kanan kiri kepalanya, berdiri membawa nampan dan sebuah baskom dan handuk
“ Nona, ada apa? Kami mendengar Anda menjerit tadi. Apa Anda bermimpi buruk?” tanya seorang pelayan sambil mengikuti Mei Lan masuk ke dalam kamar
“ Ya ... mimpi yang sangat amat buruk,” kata Mei Lan dengan kesal
‘ Mimpi yang sangat amat buruk? Kau menyakitiku, sayangku,’
__ADS_1
Lagi suara itu terdengar di telinga Mei Lan. Dengan cepat Mei Lan menutup telinganya dengan erat dan memejamkan matanya.
Kedua pelayannya saling berpandangan dan mengedikkan bahu
“ Nona, segeralah membersihkan diri. Jangan sampai Anda sampai di Aula Obat dan Dewa Obat sudah disana,” ujar seorang pelayan
“ Oh, memang kenapa?” tanya Mei Lan dan mulai mengelap wajahnya dengan handuk basah yang dibawakan pelayan
“ Dia akan menghukum Anda dengan banyak hal, Nona. Dari menghafal nama-nama obat dan dedaunan sampai meracik obat,” kata pelayan itu
“ Oh ...” dengan entengnya Mei Lan menjawab, kedua pelayan itu saling menatap dan menggelengkan kepala
“ Ah, iya. Nama kalian siapa?”
“ Saya, A-Bei dan ini A-Hwa,” jawab pelayan itu sambil menekuk lutut dan menaruh tangannya dipinggang
“ Hmm ... oke. Tapi, panggil aku Mei Lan. Oke?”
“ Oke? Apa itu?”
Mei Lan menepuk jidat, “ Artinya setuju. Apa kalian oke dengan permitaanku tadi?”
“ Oh ... Oke ...”
“ Hehehe ... Sip!”
“ Sip? Apalagi itu Nona? Bahasa apa itu?”
“ Haishh ... sip itu artinya bagus. Itu bahasa dari negara yang jauh dari sini. Ya ... jauh dari sini,” jawab Mei Lan asal
“ Oh ...”
" Nona, saya sudah siapakan bajunya. Mari," ucap A Bei
" Aku ganti sendiri. Kalian keluarlah,"
" Baik, Nona .."
" Hei!"
" Oh, Mei Lan,"
Mei Lan tersenyum dan memberi isyarat dengan tangannya agar mereka keluar
" Whoaah ... bajunya halus sekali. Wahaha ... tahu begitu, aku tak usah repot-repot bawa baju. Ternyata, mereka sudah sediakan disini," gumam Mei Lan sambil memakai hanfunya dan terus tersenyum
Lelaki berhanfu putih yang mengawasinya tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya
" Aku senang kau menyukai pemberianku, Permaisuriku," gumamnya
" Yang Mulia!"
__ADS_1