
“ Whoaahhh .... segaaarrr ...” seru Mei Lan.
Selesai berenang dan menyandarkan tubuhnya pada sebuah batu besar dan melihat sekelilingnya
“ Tempat ini sangat mengagumkan. Ada sungai di gunung tapi airnya hangat. Seandainya ini di masaku, aku bisa kaya raya ... hihihi ... di sana untuk hotel dan disana cafe ...uuhhh ... hahaha ...” ucap Mei Lan dengan khayalannya.
“ Hmm ... baiklah, aku rasa sudah cukup berenangku hari ini,” ucap Mei Lan
Yang tak Mei Lan sadari, air menjadi hangat bukan karena air sungai itu yang memang hangat, tapi karena ada seseorang yang mengubahnya agar Mei Lan tak kedinginan. Karena saat itu adalah musim gugur. Musim dimana udara sangat dingin, terlebih ini adalah gunung
Selesai berpakaian, Mei Lan segera pergi dari sana dan melanjutkan perjalannnya. Seseorang yang terus mengawasinya, juga telah membuka pelindungnya, agar Mei Lan dapat keluar dari sana.
“ Melia!” panggil seseorang
“ Aaaaa ...” teriak Mei Lan terkejut dan reflek melihat ke sampingnya. Disana, sudah berdiri Dewi Yue yang menatapnya cemas
“ Dewi, ada apa?”
“ Apa kau baik-baik saja?” tanya Dewi Yue dengan mata memperhatikan Mei Lan, namun tak menyentuhnya
“ Iya, Dewi. Aku baik-baik saja. Tapi, kenapa Dewi sepertinya cemas?” tanya MeiLan
“ Aku tak bisa mendeteksi keberadaanmu tadi. Kamu dari mana saja?” tanya Dewi Yue kuatir
“ Aku tadi berenang di sungai di sana, Dewi. Airnya sangat segar dan hangat ... hehehe ...” kata Mei Lan dengan cengirannya. Dewi Yue menatap Mei Lan dan menoleh melihat arah yang ditunjuk Mei Lan
‘ Air sungai hangat? Tapi, aku tak melihatnya disana. Ada apa ini sebenarnya?’ batin Dewi Yue dengan alis berkerut
“ Dewi ... Dewi ...” panggil Mei Lan
“ Ah, ya Mei Lan?”
__ADS_1
“ Dewi kenapa?”
“ Ah, tidak apa-apa. Baiklah, segeralah lanjutkan perjalananmu. Kau akan melewati rintangan pertama. Berhati- hatilah,” kata Dewi Yue dan menghilang.
“ Selalu saja seperti itu. Datang tak diundang, pulang tak diantar. Seperti jalangkung saja si Dewi ... hiiiii ... hahaha ...” ucap Mei Lan tertawa.
Mei Lan mulai melanjutkan langkahnya. Sekitar beberapa menit kemudian, Mei Lan melihat 3 buah kolam dengan warna berbeda. Putih, jernih dan hitam. Dan juga ada 3 buah jalan di seberang kolam.
“ Hmm ... apa aku harus memilih salah satunya?” gumam Mei Lan. Otaknya berputar keras berusaha memilih warna kolam yang ada.
“ Uhhhh ... ini sangat sulit. Baiklah, pakai cara seperti waktu di sekolah dulu saja, hahaha ....”
Mei Lan menutup matanya, menjulurkan satu tangannya ke depan dan mulai berputar 3 kali lalu
berhenti. Mata cantik itu kembali terbuka. Tangannya menunjuk pada kolam yang jernih.
Setelah mengangkat buntalan dan hanfunya sedikit lebih tinggi, hingga terlihat celana dan sepatunya, Mei Lan memasukkan kakinya ke kolam itu. Awal yang dirasakannya adalah kakinya seperti kesemutan dan digigiti sesuatu.
Mei Lan tak menghiraukannya dan memasukkan kakinya yang kedua. Ia mulai melangkah perlahan. Sampai di tengah kolam, tubuhnya mulai terasa sakit seperti ditusuk banyak jarum. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan sekujur tubuhnya.
“ Kau memilih yang tepat, Melia,” ucap Dewi Yue,” Bertahanlah,”
“ Aaaaaaa ...” pekikan Melia kembali terdengar. Kali ini tubuh kecilnya seakan di sayat-sayat dan terasa sangat perih. Hal itu berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Mei Lan terus berusaha bertahan
“ Aku harus bertahaaannn ... aku bisaaaa ...” jerit Mei Lan di tengah kesakitannya
“ Kau memang calon Permaisuriku,” gumam seseorang
Setelah sekitar lebih dari 3 jam, rasa sakit Mei Lan mulai berkurang dan berganti dengan rasa dingin. Tubuh Mei Lan mengigil. Bibirnya memucat, bahkan wajah dan seluruh tubuh Mei Lan mulai memutih seperti salju yang menempel.
“ Dingiiiinnn ....” gumam Mei Lan, namun ia tak bisa mendekap sendiri tubuhnya. Bahkan, jemarinya pun tak bisa ia gerakkan.
“ Melia ... teruslah bertahan dan kuatkan hatimu,” gumam Dewi Yue
__ADS_1
“ Hrrrr .... dii .... ngiiin .... hrrr ....” bibir Mei Lan gemetar tak beraturan karena rasa dingin yang amat sangat. Hingga hampir satu jam, akhirnya rasa dingin itu berganti lagi dengan rasa hangat yang mulai menjalar mulai dari kaki dan naik hingga bagian atas tubuhnya. Rasa hangat itu, lama kelamaan berubah menjadi rasa panas yang amat sangat
“ Aaaa .... panaaaassss ...” teriak Mei Lan. Keringat terus bercucuran di seluruh tubuh Mei Lan. Kedua tangannya terkepal berusaha untuk terus bertahan. Kekuatannya semakin melemah setelah hampir beberapa jam ia mencoba bertahan
“ Melia ... bertahanlah. Kalahkan rasa itu dengan menerimanya dan jangan melawannya,” terdengar suara yang sangat jelas di telinga Mei Lan.
“ Ba ... ikkk ... Deee ... wii,” lirihnya. Mei Lan mengatur nafasnya dan mulai berusaha menikmati sensasi panas yang ia rasakan. Malam pun datang, tubuh Mei Lan tak lagi menolak rasa panas itu. Berangsur-angsur, tubuh kecil Mei Lan sudah tak lagi merasakan panas. Mei Lan perlahan membuka matanya. Namun, tiba-tiba
Byurrr ...
Blurp ... blurp ...
Kedua kaki Mei Lan di tarik ke dalam kolam. Dengan sekuat tenaga, Mei Lan mengatur nafasnya. Karena itu sangat tiba-tiba dan ia tak siap, hingga ia sedikit menelan air kolam itu. Ia berusaha untuk berenang naik ke atas, tapi sia-sia. Seakan tubuhnya tak bergerak naik sedikipun. Malahan permukaan semakin terlihat menjauh darinya
“ Ambil posisi lotus,” bisikan di telinga Mei Lan, sangat terdengar jelas olehnya. Mei Lan mengambil posisi lotus. Di dalam air, Mei Lan mulai menyilangkan kakinya dan menaruh kedua tangannya diatas lutut dan kedua jari tengah dan ibu jari menyatu. Entah berapa lama ia dalam posisi itu, saat ia membuka matanya, ia sudah berada diatas air tetap dengan posisi lotus. Dan, di sekelilingnya sudah terlihat bunga-bunga bermekaran dengan sangat indah.
“ Apa, ini sudah selesai?” gumamnya dan melihat sekelilingnya. 2 kolam lain yang ia lihat sebelumnya, menghilang. Mei Lan mulai berdiri
“ Eh ... tadi aku berdiri juga sebatas ini saja airnya, lalu ... kenapa aku tadi bisa tenggelam dan airnya tadi sangat dalam, ya?” gumamnya, seraya tangannya meraba dasar kolam yang memang sangat dangkal.
“ Fiuhh ... tunggu dulu, kenapa bunga-bunga sudah mekar? ini kan sedang musim gugur sangat aneh,” gumamnya dan mulai melangkah. Sampai di seberang kolam, Mei Lan kembali berjalan mengikuti jalan setapak yang ada di dekat kolam itu. Kolam di belakangnya berangsur menghilang dan berganti dengan semak dan tanah.
Mei Lan terus berjalan tanpa henti. Tubuhnya terasa ringan. Ia bahkan tak menyadari bahwa kulit tubuhnya kian menjadi putih dan halus. Wajahnya pun bertambah cantik.
Langkah Mei Lan terhenti. Ia mendengar suara seseorang minta tolong. Saat ia hendak mencari suara itu, tiba-tiba ia teringat peringatan Dewi Yue
‘ Jangan ikuti suara-suara yang kau dengar ..’ akhirnya Mei Lan mengurungkan niatnya dan kembali berjalan. Suara rintihan minta pertolongan tadi juga berangsur menghilang
Mei Lan berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Ia bisa melihat indahnya pemandangan dari tempat ia berdiri. Ia memilih untuk beristirahat sebentar dan menikmati pemandangan sore hari
" Eh .. kenapa aku tidak lapar, ya? Ini kan sudah sore. Aku terakhir makan sebelum matahari di atas kepala, berarti itu sebelum jam 12, lalu ... kenapa sampai sekarang aku belum lapar?” gumam Mei Lan.
__ADS_1
“ Tapi ... aku makan saja. Dari pada aku telat makan. Nanti kalau maagku sakit, aku sendiri yang susah,” katanya lagi dan mulai membuka buntalannya untuk mengambil Mantou.
“ Hah?! Lho ... kok sudah busuk? Kan baru tadi pagi dimasak. Kenpa sekarang sudah busuk?” Mei Lan membuang Mantounya dengan kesal