
“ Belum saatnya,” jawab sosok bertubuh tinggi besar dan sangat tampan itu dan mulai mengangkat lengan hanfunya tapi terhenti ketika ia mendengar tangisan Mei Lan
“ Hiks ... hiks ... Mama ... hiks ... hiks ... “
Sosok tampan itu melirik ke arah orang disampingnya, dan dengan anggukan, orang itu memutar tubuhnya dan menghilang
Perlahan sosok tampan itu mendekat dan duduk di samping Mei Lan terbaring. Tangan besar lelaki itu membelai lembut pipi Mei Lan.
“ Mama ... hiks ... aku rindu ... hiks ... hiks ...” isak Mei Lan dalam tidurnya
Sosok itu tersenyum, lalu memposisikan diri berbaring dan memeluk Mei Lan. Merasa ada kehangatan, Mei Lan memiringkan badannya dan masuk ke dalam pelukan sosok itu. Senyuman terukir diwajah tampan sosok putih itu. Dengan lembut ia membelai rambut Mei Lan yang tergerai indah.
“ Tidurlah ... Permasuriku,” ucap sosok putih dan mengecup pelipis serta puncak kepala Mei Lan.
Paviliun Bunga Teratai (Harem Putra Mahkota), Kediaman Putera Mahkota Yuan
Xia Ling terus berteriak dan mengumpat kepada para pelayan yang membantunya mengoles salep pada punggungnya. Saat Yuan datang, rengekan Xia Ling semakin menjadi. Yuan hanya mendesah dan membiarkan wanitanya mendekapnya erat.
“ Sayang, aku merindukanmu. Kenapa kau baru datang?” rajuk Xia Ling
“ Kaisar sangat marah padaku, apa kau pikir aku bisa terang-terangan melawannya dan menjengukmu?” ucap Yuan dingin
“ Ehm ... maafkan aku, sayang. Aku hanya tak tahan bila tak melihatmu,” ucap manja Xia Ling dengan wajah sedihnya. Yuan merengkuh tubuh seksi Xia Ling dalam pelukannya.
“ Ughh ...” rintih Xia Ling. Punggungnya yang terbuka tergores hanfu Yuan
“ Oh ... maafkan aku,” ucap Yuan lalu membantu Xia Ling memakai kembali Hanfunya dengan benar
“ Sayang, apa kau tidak akan memberikanku status?” tanya Xia Ling. Jemarinya menelusup masuk hanfu Yuan dengan gerakan sensual. Yuan memegang tangan Xia Ling dengan cepat dan mengecupnya
“ Kau tahu, kalau Ayahanda masih tidak merestui hubungan kita. Aku hanya bisa memberi gelar Selir saja,” kata Yuan
“ Iya, tapi ... tak bisakah kau mengangkatku sebagai Selir Kehormatan atau Selir Agung?” pinta Xia Ling dengan mata sendunya
__ADS_1
“ Xia Ling! Kau tahu aku tak bisa!” sergah Yuan. Tangannya menghempaskan kasar tangan Xia Ling dan membuat wanita itu sangat terkejut
“ Ma-maafkan aku. Aku, aku bersedia dengan gelas Selir saja. Tolong jangan marah lagi, ya? Hmm?” bujuk Xia Ling dengan memeluk pinggang Yuan. Yuan mengatur nafasnya dan perlahan membalas pelukan wanitanya. Xia Ling tersenyum senang dan semakin menempelkan kepalanya pada dada bidang Yuan
“ Sayang, apa kau ... tak ingin menyentuhku?” kata Xia Ling malu-malu dan menaruh wajahnya tepat di dada Yuan. Yuan tersenyum dan meraih dagu Xia Ling. Mengecup bibirnya dan menatap lekat mata wanita dalam pelukannya
“ Kau sedang sakit, jadi beristirahatlah. Aku juga masih ada urusan. Minumlah obatmu dan jangan lagi menolak pelayan untuk mengolesimu obat, hmm?” tutur Yuan. Xia Ling hanya bisa mengangguk patuh. Xia Ling menatap kepergian Yuan dengan kesal
“ PELAYAN!!! Bawakan aku arak!” titahnya. Pelayan segera datang dan memberikan Xia Ling arak. Mereka tak berani untuk melawan. Jika tidak, tubuh mereka pasti akan melepuh karena lemparan jarum beracun Xia Ling.
Kediaman Menteri Pertahanan Yin
Selir Hong merasa segar saat bangun pagi ini. Semalaman ia tak lagi merasakan dingin atau sakit pada kepalanya. Bahkan, ia tak lagi berhalusinasi. Senyum cerah terukir diwajahnya. Mou Han yang datang untuk menjenguk Ibunya, ikut bahagia mendengar penuturan Selir Hong
“ Ibu, benar ibu merasa lebih baik?” tanya Mou Han. Selir Hong menepuk tangan puteranya yang memeluknya dari samping
“ Iya, Nak. Ibu merasa lebih baik. Tidur Ibu sangat nyenyak dan tak merasa sakit kepala lagi,” ucap Selir Hong senang
“ Ohh Ibu, ... syukurlah. Aku sangat senang mendengarnya.” Ucap Mou Han dan mendekap erat Selir Hong sambil tersenyum
Keduanya berjalan dengan canda tawa hingga ke ruang makan.
“ Ekhem .. hem ...”
Keduanya menoleh dan terkejut karena Tuan Besar Yin sudah berada di sana menunggu
“ Ah ... Tuan Besar. Maafkan aku, karena terlambat,” ucap Selir Hong dengan wajah menunduk takut
“ Ayah, maaf. Kami terlambat,” kata Mou Han sambil menunduk dan memberi hormat pada Ayahnya
“ Hmm ... sudahlah, ayo duduk.” Kata Tuan Besar Yin
“ Baik, Tuan Besar,”
__ADS_1
“ Baik, Ayah.”
Mou Han dan Selir Hong terus menatap pintu dan itu tak lepas dari pengamatan Tuan Besar Yin. Ia mengerti siapa yang mereka cari dan tunggu
“ Kita makan sendiri pagi ini. Yin er dan Lan er sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan perjalanan Lan er siang nanti,” kata Tuan Besar Yin
“ Perjalanan Lan er? Kemana?” tanya Mou Han terkejut
“ Lan er ... akan berlatih kultivasi di Gunung Bisha Ji,” kata Tuan Besar Ji.
“ Apa?! Tuan Besar, apa Anda mengijinkan Lan er kesana? Tuan ... Anda tahu kan perjalanan ke sana sangat berbahaya. Saya sangat kuatir ..” ucap sedih Selir Hong. Tuan Besar Yin menghela nafas. Sebenarnya ia juga tak tega dan sangat mengkhawatirkan putri kesayangannya itu. Tapi, melihat keseriusan Mei Lan saat berbicara dengannya semalam, ia tak bisa mencegahnya.
“ Aku tahu, tapi ... Lan er sangat ingin pergi ke sana. Ia berkata bahwa ada seseorang yang akan membantunya. Dan, walaupun aku melarangnya, aku yakin ia pasti akan pergi juga,” jawab Tuan Besar Yin. Jelas raut kesedihan ada di wajah lelaki yang masih saja tampan di usia yang tak lagi muda itu
“ Ayah, aku akan menemani Adik,” kata Mou Han kemudian
Tuan Besar Yin menggeleng dan menaruh sumpit serta mangkoknya, “ Gunung Bisha Ji, hanya bisa didatangi oleh orang yang memang ditentukan untuk berlatih disana. Sedang Adikmu, ia sudah ditakdirkan untuk menjadi murid Perguruan Bai Yun,”
“ Maksud Ayah?”
Flashback on
Liang Hua dan Yin Mou Chou telah menikah selama 8 tahun dan sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yang mereka namakan Yin Mou San dan adiknya yang berbeda usia 2 tahun bernama Yin Mou Yun.
Saat mereka tengah asyik menempuh perjalan mengunjungi keluarga Tuan Besar Yin yang ada di kota Wenyang di sebelah selatan, tiba-tiba saja mereka bertemu seorang lelaki tua yang terluka parah.
Yin Mou Chou membantu mengangkat lelaki itu ke dalam keretanya dan istrinya mengobati dengan penuh kesabaran dan tanpa rasa jijik, setiap luka yang dialami lelaki tua itu.
Yin Mou Chou juga menyewa penginapan agar bisa merawat lelaki tua itu. Di hari ketiga, saat lelaki tua itu mulai pulih, dengan tertatih ia mendekati Yin Mou Chou dan istrinya serta kedua Anaknya yang sedang makan.
“ Ah ... Pak Tua, Anda sudah bangun?” sapa Yin Mou Chou lalu memapah lelaki tua untuk duduk semeja dengannya
“ Pak Tua ... ini, makanlah. Setelah itu, saya akan merebuskan obat Anda,” kata Liang Hua dengan senyumnya. Lelaki tua itu mengangguk dan memakan makanannya.
__ADS_1
Selama melahap makanannya, lelaki tua itu terus menatap perut Liang hua dan membuat Liang Hua tak nyaman, bahkan Yin Mou Chou hampir kehilangan kesabarannya