
Mei Lan mulai mengulurkan tangannya. Ia hendak mengambil buah apel, tapi mengingat perkataan Dashu, ia memilih anggur. Tiba -tiba
Splashh ....
Sebuah cahaya menghantam tubuh mungil Mei Lan dengan cepat
“ Aaaaa ....” pekiknya. Buah anggur yang dipegang Mei Lan terlepas dan menjadi abu. Kedua rusa pun menghilang dan di sekitar Mei Lan berubah menjadi gelap.
Tubuh Mei Lan terus berputar dan melayang. Semakin lama semakin tinggi dan tinggi. Seluruh pakaian Mei Lan terkoyak dan lepas. Mata Mei Lan tertutup. Pikirannya kosong. Tubuh polos Mei Lan mengeluarkan cahaya berwarna biru pada bagian depan dan kemerahan di bagian belakang.
Lama kelamaan kedua warna itu melingkari tubuh Mei Lan dan berubah menjadi cahaya yang sangat menyilaukan. dan berubah menjadi garis-garis sinar dengan warna putih, emas dan biru
Tak lama kemudian, Tubuh Mei Lan kini berbalut hanfu berwarna ungu dan sebuah bunga teratai besar berada di tangannya. Kilauan di sekitar tubuhnya tidak menghilang dan terus memedar di tubuh Mei Lan.
Teratai ini besar sekali ...” gumam Mei Lan
“ Selamat Melia, gadis yang terpilih. Kau sudah berhasil melalui 3 rintangan. Kau berhasil taat untuk menguatkan hati dan bersatu dengan alam. Kau juga telah berhasil taat untuk tak mengikuti pendengaranmu saja, terakhir kau telah berhasil menaati perintah dan menghilangkan rasa takutmu. Ketulusan hatimu untuk melalui semua rintangan, menjadikanmu layak untuk menjadi bagian Perguruan Bai Yun,”
Suara menggema di sekitar tempat Mei Lan berdiri, terdengar seperti suara guntur. Tak ada rasa takut lagi yang Mei Lan rasakan. Senyum merekah di bibir merah mudanya. Seorang Dewi baju warna warni datang dan tersenyum
“ Mei Lan, selamat datang di Perguruan Bai Yun. Aku adalah Dewi Bunga, Hua Nue, gurumu,” ucap Dewi Bunga
“ Benarkah? Anda akan menjadi guruku?” tanya Mei Lan dengan mata berbinar. Dewi Hua mengangguk dan tersenyum
“ Ya, tapi kau juga memiliki guru lain, yaitu Dewa Obat, Zie Yi Xue dan juga Imortal Bai dan Imortal Liu yang akan membantumu dengan kultivasi.” Terang Dewi Hua
“ Ah ... baik, Dewi ... hehehe ...”
“ Baiklah, ayo masuk,” Dewi Hua menutup matanya dan menaruh tangannya di dada
Berangsur-angsur hutan itu berubah menjadi sebuah halaman yang di penuhi bunga persik. Ada sebuah jalan yang berwarna putih bersih di sisi kanan Mei Lan.
__ADS_1
Mata Mei Lan membulat kagum. Mulutnya menganga.
“ Ini ... sangat ... indaaaahhhh ....” seru Mei Lan dan berlarian kesana kemari. Dewi Hua tersenyum melihat sikap kekanak-kanakan Mei Lan
“ Ayo, kita masuk. Kau masih harus mengikuti satu tes terakhir untuk menentukan tingkat Elemen Qi mu,” kata Dewi Hua
“ Oh, baik Dewi.” Kata Mei Lan
Dewi Hua berjalan dengan anggun diikuti Mei Lan yang terus berjalan tanpa melihat di depannya. Matanya terus memandang kagum pemandangan disekelilingnya.
“ Wahh ... ini luar biasa,” kata Mei Lan
Bukk ...
“ Arrghh ... sakitt ... dan ini keras sekali,” rintih Mei Lan seraya mengusap dahinya.
Tangannya meraba apa yang ditabraknya. Mata Mei Lan membulat. Sebuah dada yang sangat keras dengan hanfu putih dan bau maskulin yang sangat memikat. Mei Lan menelan salivanya dengan berat
“ Ah ... hormonku, bekerjasamalah ...” gumamnya
“ Hormon? Apa itu?” suara baritone menyapa Mei Lan sangat dekat. Suara yang mampu menggetarkan hati wanita. Termasuk Mei Lan
“ Aaaa ...” pekik Mei Lan dan menatap terkejut laki-laki di depannya.
“ Sssttt ... kalau kau berteriak, semua orang akan salah paham dan akan langsung menikahkan kita, aku tak masalah. Tapi, bagaimana denganmu, hmm?” ucapnya dengan suara lembut dan menggoda
“ Oh my God, may I kiss those lips ( Ya, Tuhan. Boleh tidak aku cium bibir itu)?” kata Mei Lan cengengesan dan kembali harus menelan salivanya. Perlahan ia mendorong dada keras lelaki itu, tapi pelukannya semakin erat
“ Bahasa apa itu? Apa kau mengejekku?” tanyanya dengan suaranya yang sangat seksi, membuat Mei Lan menahan nafasnya.
Ia takut khilaf dan menyerang lelaki di depannya. Ya, kalian tahu kan bagaimana rasanya kalau berhadapan dengan orang yang sangat tampan dan begitu dekat. Mei Lan berusaha untuk menahan nafsunya yang selama ini tak pernah bangkit. Waktu berpacaran dan bertunangan dengan Felix ia tak pernah memiliki nafsu itu, tapi berhadapan dengan lelaki satu ini, iman Mei Lan semakin goyah.
“ Ah ... tidak-tidak. Aku tidak mengejek Anda. Saya hanya bilang, bisakah Anda menyingkirkan tangan Anda?” kilah Mei Lan dengan cengir kudanya. Ia melihat kesana kemari dan tak melihat Dewi Hua atau orang lain
‘ Kemana semua orang?’ batinnya
“ Mereka tak ada disini. Mereka sudah berada di Aula menunggumu,” ucap lelaki itu lembut
__ADS_1
“ Ah ... benarkah? Kalau begitu tolong lepaskan saya, saya harus kesana,” pinta Mei Lan
“ Baik, aku akan melepaskanmu, tapi ... kau harus berjanji melakukan sesuatu untukku,” katanya
‘ Hah? Kenapa orang-orang disini selalu menyuruh berjanji dulu jika ingin membantu sih, kenapa tidak langsung bantu saja, ish .... meyebalkan ...’ gerutunya dalam hati. Tapi tetap menampakkan senyumnya
“ Ehm ... baiklah. Asal aku bisa. Katakan apa itu?” tanya Mei Lan
“ Cium aku,”
Mata Mei Lan membelalak. Mulutnya terbuka dan menutup seperti ikan. Mei Lan membasahi bibirnya. Ia tak menampik kalau ia memang tergoda untuk merasakan bibir lelaki itu, tapi itu akan membuatnya terlihat sangat murahan.
“ Ak ..mmmpphhh ...”
Bibir Mei Lan yang hendak berucap dibungkam dengan bibir seksi lelaki itu. ******* yang tak pernah Mei Lan rasakan membuat desiran yang sangat luar biasa dirasakan wanita yang menjaga bibir dan tubuhnya selama 23 tahun agar tak tersentuh siapapun selain suaminya. Lelaki itu sedikit mengigit bibir bawah Mei Lan dan kembali **********.
Lelaki itu menarik sedikit wajahnya untuk membiarkan Mei Lan mengambil nafas. Mata Mei Lan terbuka dan wajahnya memerah. Baru saja Mei Lan hendak berkata, lelaki itu kembali membekap bibir Mei Lan dengan bibirnya
Tanpa Mei Lan sadari, ia menikmati ciuman itu dan mulai membalasnya. Namun, lelaki itu menarik bibirnya dan tersenyum manis. Mengusap bibir Mei Lan dengan ibu jarinya dan menatap dengan tatapan menggoda.
Mei Lan perlahan membuka matanya dan menatap bola mata kecoklatan lelaki tampan yang tak dikenalnya. Wajah Mei Lan semakin memerah. Ia merutuki dirinya sendiri karena terbuai.
“ Pergilah, mereka sudah menunggumu. Kita lanjutkan nanti,” ucapnya dan berlalu dari sana tanpa dosa. Mei Lan menipiskan bibirnya, nafasya memburu dan menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Entah kesal karena lelaki itu menyudahi ciuman mereka atau karena ia telah kehilangan ciuman pertamanya. Hanya author dan Mei Lan sendiri yang tahu.
Mei Lan segera berlari mencari arah Aula. Ia melihat seorang laki-laki dengan pedang di tangannya. Sepertinya ia juga seorang murid
“ Ehm ... permisi. Maaf, apa bisa tolong katakan dimana Aulanya?” tanya Mei Lan dengan tersenyum. Wajah lelaki itu memerah menatap Mei Lan. Senyuman Mei Lan sungguh sangat menawan
“ Hallo ... halooo ... Tuan ...” panggil Mei Lan
“ Ah ... ma-maaf. Kau bertanya apa, Dik?”
‘ Dik? Bukannya dia terlihat lebih muda dariku? Ah, masa bodoh ..’ batin Mei Lan
__ADS_1
“ Ehm, bisa tolong tunjukkan dimana Aulanya. Saya seharusnya ikut tes penentuan Elemen Qi,” kata Mei Lan
“ Oh, aku juga akan kesana. Ayo bersamaku saja,” kata lelaki muda itu. Mei Lan tersenyum dan mengangguk.