
Melia selesai mengganti bajunya dengan hanfu berwarna hijau tosca kebiruan. Ia terlihat sangat cantik walau belum memakai bedak
Tok ... Tok ...
" Putri Mahkota," panggil seseorang dari luar kamar Melia.
Melia segera melangkah dan tak lupa memakai cadar untuk menutupi wajah cantiknya sesuai titah sang Kakak, lalu membuka pintunya. Di sana tampak dua pelayan berdiri dan dengan badan sedikit membungkuk dan tangan mereka bertumpu diperut.
" Selamat pagi, Putri Mahkota. Hamba Lian er,"
" Dan hamba, Quan er. Kami adalah pelayan baru Tuan Putri,"
Sapa kedua wanita berbaju pelayan itu.
" Hmm ... Apa Gege yang mengirim kalian?" tanya Melia
" Benar, Tuan Putri," jawab mereka serentak
" Baiklah," kata Melia dan menarik kembali pintu kamarnya
" Tunggu, Tuan Putri," cegah Lian Er
" Ya, ada apa lagi?" tanya Melia tak mengerti
" Kami akan melayani, Tuan Putri," ucap Lian er
" Oh, tak perlu. Aku sudah selesai, tinggal berdandan sedikit karena aku mau bertemu Ayahku," jawab Melia enteng
" Akan kami bantu, Tuan Putri," jawan Quan er
" Hahaha ... tak perlu. Aku tak suka berdandan terlalu menor. Aku suka biasa-biasa saja," kata Melia
" Menor?" tanya Quan er bingung
" Ehm ... maksudku terlalu tebal,"
" Oh, baik, Tuan Putri. Kami ..."
" Haish ... tak perlu. Kalau kalian mau membantuku, bisakah kalian tidak memanggilku Tuan Putri dan panggil aku Mei Lan? Aku lebih suka dipanggil seperti itu," ucap Melia dengan sebal
" Tapi ..."
" Haish ... kalian bilang mau membantuku," ucap Melia dan mengerucutkan bibirnya
" Ba-baiklah, Tu .. ehm .. Mei- Mei Lan," jawab Lian er
Wajah Mei Lan menjadi sumringah mendengarnya. Kedua pelayan itu juga ikut tersenyum
" Nah, sekarang pergilah. Kalian bisa lakukan hal lain. Aku harus bersiap ... Daaa .." ucap Melia dan segera menutup pintu kamarnya
" Tapi ..."
Kedua pelayan itu menghela nafas dan beranjak pergi.
" Sepertinya Tuan Putri tak menyukai kita," ucap Quan er
__ADS_1
" Hei! Kalau dia tak menyukai kita, kenapa dia tak mau kita panggil dia Tuan Putri? Kau lihat wajahnya saat kita memanggilnya Tuan Putri lalu manggil namanya, berbeda bukan?" kata Lian er
" Hmm ... benar juga,"
" Baiklah, ayo kita bersih-bersih saja,"
Melia memakai sedikit bedak dan menata alisnya dengan tangan. Ia masih belum bisa memakai pewarna alis dari arang yang tersedia di kamarnya. Selesai dengan dandanannya, Melia memakai kembali cadarnya.
" Kkamjagiya! ... Uppsss ..." Melia menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu terkejut karena saat ia membuka pintu kamarnya, dua orang pelayannya sudah berdiri menunggu, tepat di depan pintu
" Nona Mei Lan, Anda memanggil siapa?" tanya Quan er sambil melihat kesana kemari
' Kenapa aku pakai bahasa Korea, sih ... Ahh ... jadi kangen Oppa Lee Min Ho ...' batin Melia
" Ahhahaha ... bukan siapa-siapa ... itu hanya keluar begitu saja dari mulutku ... hahaha ..." jawab Melia memaksakan senyumnya dan berlalu sambil menepuk-nepuk bibirnya
" Ah ... Lian er, Quan er, antarkan aku ke Paviliun Gege ..." pinta Melia
" Baik, Nona," jawab keduanya serentak dan Quan er mulai memimpin jalannya, sedang Lian er berada di belakang Melia
Dengan anggun Melia berjalan menyusuri paving dan taman juga lorong-lorong
' Hmm ... rumah kuno memang besar-besar. Ini 10 kali lebih besar dari restoran Mama. Hebat!' batin Melia senyum-senyum sendiri dibalik cadar dan melihat kesana kemari. Lian er yang berada dibelakangnya, terus memperhatikan gerak-gerik aneh Nona Mudanya
" Nona, apa Anda sedang mencari seseorang?" tanya Lian er
" Ah ... oh, tidak. Hanya saja ... aku merindukan rumah ini, ya ... begitu ... aku sangat merindukan rumah ini," ucap Melia gugup
" Ah, begitu ... hamba mengerti, Nona. Anda memang sudah satu tahun meninggalkan rumah ini, sejak Anda menjadi Putri Mahkota, Anda selalu saja sibuk dengan Putra Mahkota dan tak peduli dengan Tuan Besar," Lian er seketika menutup mulutnya, ketika ia melihat Melia berhenti dan menoleh dan berbalik kearahnya dengan alis yang bertaut
" Maaf, maafkan saya, Nona. Saya sudah lancang, maafkan saya," ucap Lian er sambil berkowtow
Melia memegang bahu Lian er dan membantunya berdiri
" Lian er, aku tak marah. Tidak apa-apa. Maaf kalau tadi aku menakutimu, aku tadi hanya bingung, apa benar sudah selama itu aku tak kembali dan ... kau bilang Ayahku sakit? kenapa tak ada yang mengabariku?" tanya Melia
" Sungguh Nona tak marah?" tanya Lian er gugup.
" Iya, Lian er. Aku sungguh tak marah. Sekarang katakan, Ayahku sakit apa?" tanya Melia sambil berjalan namun dengan langkah yang melambat.
" Tuan Besar tiba-tiba merasa sakit di bagian dadanya dan kesulitan berjalan. Semua tabib sudah dipanggil. Mereka berkata kalau Tuan Besar terkena sakit jantung dan kakinya menurut tabib beliau terkena Niaosuan (asam urat)," jelas Lian er
" Lalu kenapa tak ada yang mengabariku?"
Lian er dan Quan er menunduk, enggan untuk menjawab. Melia menghentikan langkahnya dan melihat kedua pelayannya bergantian
" Tuan Muda sudah mengirim utusan ke Istana beberapa kali, tapi ... Anda menolak untuk kembali," kata Quan er kemudian
Melia menghela nafas dan kembali berjalan
" Adik!"
Melia kembali berhenti dan melihat Kakaknya baru saja keluar dari Paviliunnya.
__ADS_1
" Ge!" sambut Melia dengan senyum yang lebar dibalik cadar
" Ayah sudah di ruang makan menunggu kita," kata Yin. Melia mengangguk dan mengikuti Kakaknya menuju ruang makan. Dua orang pelayan Melia sudah kembali berjalan di belakang Melia dan Yin
" Ge, kenapa kau tak memberitahuku kalau Ayah sempat sakit dan memintaku kembali kesini?" tanya Melia tiba-tiba. Yin berhenti lalu berbalik menatap dua pelayan Melia
" Ge! Jangan salahkan mereka, aku yang bertanya pada mereka," kata Melia. Yin menghembuskan nafasnya kasar
" Aku sudah mengirim pelayan untuk memberitahumu, tapi ... saat itu ternyata kau habis dihukum Permaisuri. Jadi, aku tak lagi memberitahumu," jelas Yin
" Lalu bagaimana keadaan Ayah sekarang?"
" Dia sudah lebih baik. Karena tak bisa bertemu denganmu, Ayah memutuskan kembali ke perbatasan. Jujur ia memang kecewa, tapi setelah tahu alasanmu, ia mengerti," kata Yin sambil tersenyum
Mereka telah sampai di ruang makan, di sana sudah berkumpul seorang lelaki berumur sekitar empat puluhan, seorang wanita yang mungkin berumur di akhir tiga puluhan dan seorang laki-laki yang berumur sedikit lebih tua dari Melia.
" Selamat pagi Ayah, Ibu Selir," salam Yin dengan satu tangan mengepal dan satu terbuka yang disatukan, tak lupa kepala yang menunduk
Melia mengerjap dan menatap kakaknya, dan mulai akan mengikuti kakaknya tapi
" Salam kepada Putri Mahkota," ucap ketiga orang di depan Melia dengan sikap yang sama seperti Yin. Melia terkejut melihatnya.
" Ehhh ... Ayah, Ibu Selir, Gege ... apa-apaan ini. Kenapa kalian menghormat padaku seperti itu?!" ucap Melia kesal dan menekuk wajahnya sambil berlari mendekati orengtuanya. Walau memakai cadar, jelas sekali dari matanya bahwa wanita itu sedang kesal
Menteri Pertahanan Yin Mou Cou (Ayah Yin Mei Lan), Selir Hong dan Yin Mou Han (Kakak tiri Yin Mei Lan dari Selir Hong), saling berpandangan. Biasanya, Mei Lan tak pernah tak menerima salam mereka. Mei Lan hanya akan tersenyum tapi tak melarang mereka seperti itu
" Putri Mahkota?" ucap Tuan Besar Yin
" Ck ... Ayah, bisakah kau memanggilku, Mei Lan saja? Aku tak suka Ayahku menunduk dan memberi hormat padaku," ucap Mei Lan masih dengan nada kesalnya lalu menghempaskan bokongnya duduk di sebelah Selir Hong dan melipat tangannya di depan dada. Yin menggelengkan kepalanya dan tersenyum, sementara Mou Han mengangkat alisnya melihat Yin tersenyum
' Baru kali ini aku lihat dia tersenyum,' batin Mou Han
" Eh ... maafkan Ayahmu, Lan er. Baiklah, kami akan memanggilmu dengan Lan er lagi seperti dulu, hmm?" kata Selir Hong dengan lembut
(
( Selir Hong)
Melia memiringkan badannya dan menatap Selir Hong
" Sungguh?" tanya Melia dengan mata berbinar. Ayahnya yang melihat binar mata Melia tersenyum
" Iya, Nak. Kami akan kembali memanggilmu, Lan er, seperti dulu. Jangan marah lagi dengan Ayahmu ini, ya?" ucap Tuan Besar Yin
Senyum Melia merekah seketika. Keluarga Yin menikmati makanannya dengan canda tawa yang sudah lama hilang.
' Terima kasih Nona Melia, kau mengembalikan kebahagiaan keluargaku,' batin Yin
" Ah, Ayah ... Mei Lan mau minta tolong," kata Mei Lan ragu ( mulai saat ini kita akan memakai nama Mei Lan ya pembaca)
" Hmm ... apa itu, Nak?" tanya Tuan Besar Yin
" Bisakah Ayah membatalkan pertunanganku dengan Putra Mahkota?" tanya Mei Lan
__ADS_1