
Mei Lan dan rombongan berjalan diiringi bisikan – bisikan. Sebenarnya kalau dikatakan bisikan juga bukan. Karena mereka berbicara seperti biasa pada temannya tanpa mengurangi volume suara mereka. Tuan Besar Yin mengepalkan tangannya.
Mei Lan meraih tangan Ayahnya, dan tersenyum. Tuan Besar Yin menepuk tangan putrinya dan ikut tersenyum. Mereka tak menyapa siapapun. Sampai di panggung, Tuan Besar Yin menyapa setiap pejabat yang menyapanya
“Oh ... Menteri Pertahanan Yin. Kau datang juga?” sapa seorang laki – laki tua yang diketahui adalah seorang Perdana Menteri
“Tentu saja, Perdana Menteri Hu. Ini adalah acara Yang Mulia Kaisar, jadi aku harus datang,” jawab Tuan Besar Yin tanpa ekspresi
“Hahaha ... ya, ya ... benar itu benar, lalu ... mana putrimu yang akan menampilkan bakat seninya? Apa itu ... Selir Xia?” sindir Perdana Menteri.
Tuan Besar Yin mengertakkan giginya. Perdana Menteri tampak seperti berpikir
“Ah, tidak, tidak. Bukankah Selir Xia sudah bersama dengan Putera Mahkota, jadi tidak mungkin, kan? Jadi ... apakah Mei Lan yang ... brufft (menahan tawa) ... akan tampil?” lanjut Perdana Menteri.
Semua yang ada disitu ikut tertawa kecil
“Apakah ada yang salah? Karena Mei Lan adalah putriku satu – satunya,” jawab enteng Tuan Besar Yin.
Perdana Menteri dan semua yang ada di sekitar panggung tertawa mendengarnya. Seakan mendengar lelucon
“Kakek Perdana Menteri,”
Tawa Perdana Menteri seketika berhenti, ketika ada seseorang yang mengambilnya kakek. Matanya berubah tajam menatap gadis kecil dengan cadar
“Kau! Apa kau bilang? Kakek? Aku bukan kakekmu! Lagi pula, aku dan Ayahmu hanya berbeda beberapa tahun,” ketus Perdana Menteri
Mei Lan tersenyum dibalik cadarnya,” Maaf, Tuan Perdana Menteri. Anda terlihat seperti ... umur 70 tahun. Jadi, Mei Lan pikir ... Maaf. Mei Lan tak tahu,” jawab Mei Lan dengan mata yang ia buat sesendu mungkin
Tuan Besar Yin menahan tawanya, demikian juga Yin dan Mou Han. Wajah Perdana Menteri merah padam mendengar perkataan Mei Lan
Seorang gadis berhanfu hijau berjalan cepat ke arah Mei Lan dengan wajah garang. Matanya menatap tajam Mei Lan. Namun, Mei Lan menanggapinya biasa
“Kau kurang ajar! Berani sekali kau mengatai Ayahku!” teriak gadis itu, yang tak lain adalah putri Perdana Menteri, Ru
“Oh, jadi begini tata krama Putri Perdana Menteri. Wah ... wah ... aku baru tahu,” sindir Mou Han. Mata Ru beralih pada Mou Han. Matanya seketika berubah.
Ru menjadi salah tingkah dan menelan ludahnya. Alisnya melengkung dan melipat bibirnya menatap Mou Han. Mou Han menatap jijik wanita di depannya
‘Sialan, kenapa aku tak tahu kalau Mou Han gege ada dibelakang gadis jelek ini,’ gumam Ru
__ADS_1
“Ru, jaga sikapmu. Maaf, Menteri Pertahanan. Aku akan kesana dulu,” pamit Perdana Menteri dan memberi isyarat pada putrinya untuk mengikutinya
Setelah mereka pergi, Tuan Besar Yin mengajak semua anak- anaknya untuk duduk.
“Adik, kata – katamu pedas juga, ya? Hihihi ...” bisik Mou Han. Tuan Besar Yin dan Yin tersenyum. Kepala keduanya menggeleng
“Ge, aku hanya salah bicara. Jangan diambil hati. Gege kan tahu, aku tidak tahu banyak tentang orang – orang disini, jadi aku hanya bisa menebaknya dari wajah,” jawab Mei Lan dengan sedikit mengeraskan suaranya, agar semua bisa mendengar
Perdana Menteri yang mendengar itu mengeraskan rahangnya. Ru mengepalkan tangannya. Semua yang ada disana berbisik – bisik tak sedap tentang Mei Lan
“ Sudah, sudah. Ini minumlah,” kata Tuan Besar Yin pada Mei Lan,” Jangan banyak bicara lagi. Semua memperhatikanmu
Benar, semua orang melihat ke arah mereka sinis. Mei Lan mengangkat alisnya dengan cepat dan meminum tehnya dengan hati – hati agar wajahnya tak terlihat. Ia ingin menampar semua orang nanti. Dan sekarang, bukan saatnya
Mata Yuan terus menatap Mei Lan dengan tajam. Jing Shi melihatnya dan menggelengkan kepalanya,” Ge, apa kau lupa kalau dia adalah adik Yun? Kenapa kau begitu membenci gadis itu?’
Pertanyaan itu yang terus menghantui pikiran Jing Shi.
‘Aku ingin lihat, pertunjukan apalagi yang akan dibuat gadis sialan itu,’ batin Yuan. Sama halnya dengan Yuan, adiknya Yuan Ning pun berpikiran sama.
Permintaan mengharuskan semua putri pejabat berumur 20 tahun kebawah untuk menampilkan talenta seninya, adalah idenya. Seringai liciknya tak luput dari mata Yi Xuan, kakaknya
Yuan Ning mengangkat alisnya dan melirik sang kakak seraya dengan anggun menyesap tehnya
“Jika tidak, bukankah kita akan menjadi bosan?” jawabnya enteng
“Hahahaha ... kau benar, kau benar ... hahaha ...”
“YANG MULIA KAISAR DAN PERMAISURI TIBA!!” seru Kasim Gu dengan suara cempreng khasnya
Ini adalah kali pertama bagi rakyat Ming, melihat wajah Kaisar mereka. Tuan Besar Yin mengerutkan alisnya melihat banyak perubahan di wajah Kaisar. Wajah yang dulu sangat cerah dan tegas, kini seperti lelah dan sedikit menggelap
Mei Lan mengerutkan alisnya. Diam – diam ia menggunakan sihirnya untuk membuka mata batinnya. Hitam. Bayang kematian
“Ayah, Kaisar yang saat ini bukan Kaisar yang Ayah kenal dulu,’ bisik Mei Lan. Tuan Besar Yin melihat ke arah putrinya dan kembali kepada Kaisar
“Apa maksudmu? Apa dia Kaisar palsu?” tanya Tuan Besar Yin dengan alis bertaut. Mei Lan menggeleng
“Bukan, tapi ... saat ini, Kaisar sudah kehilangan energi murninya. Ia sudah tak bisa mengenali mana yang benar dan salah lagi,” jawab Mei Lan
__ADS_1
“Apa?! Bagaimana bisa?”
Tuan Besar Yin menatap sang Kaisar. Ia berdiri dan memberi hormat seperti yang lainnya. Dan kembali duduk, setelah dipersilahkan duduk oleh Kaisar
“Lalu bagaimana?”
Mei Lan mengerutkan alisnya dan kembali berpikir. Satu – satunya cara untuk mempertahankan nyawa Kaisar hanyalah ... memberi darahnya. Tapi caranya
“Ayah, aku punya cara untuk membantu Kaisar. Tapi, kita harus bisa mendekati Kaisar,” ucap Mei Lan
Tuan Besar Yin, Yin dan Mou Han berpikir keras untuk hal itu. hingga mereka tak menyadari bahwa Perdana Menteri dan putrinya juga para para pangeran putri Kaisar melihat mereka curiga
“Tunggu, dimana Putri Fei?”
Tuan Besar Yin mencari Putri Fei dengan matanya, tapi ia tidak melihat salah satu Putri Kaisar dan Permaisuri terdahulu itu. Putri Fei adalah satu – satunya putri yang berperilaku baik dan sopan. Seperti halnya ibunya.
“Putri Fei?” tanya Mouhan dan Yin. Tuan Besar Yin bercerita tentang Fei.
“Hmm ... jadi dia berbeda dengan putri – putri lainnya?” tanya Mei Lan. Tuan Besar Yin mengangguk
“Ya, dia berbeda. Karena, Fei adalah satu – satunya putri yang diasuh Fan Xiang Li,” jawab Tuan Besar Yin. Wajahnya menjadi sedih bila ia mengingat sahabat kecilnya itu
“Ayah, nanti aku akan usahakan menyelinap ke Istana, saat aku selesai tampil,” ucap Mei Lan
“Nak, apa kau yakin? Aku tahu kau tak memilki bakat apapun. Kita bisa pulang dan ...”
“Ayah, tenanglah. Aku dan Mei Lan yang terdahulu sudah berbeda. Aku akan membuat Ayah bangga. Apa ayah lupa dengan janji Ayah di kereta tadi? Ayah berjanji akan percaya dan mendukungku,” potong Mei Lan dan meraih tangan Ayahnya. Tuan Besar Yin tersenyum dan mendesah. Akhirnya laki - laki itu pun mengangguk
“Baiklah, semuanya sudah hadir. Acaranya bisa dimulai!” titah Kaisar
Semua bersorak gembira. Genderang dan musik – musik lain berbunyi. Penari – penari mulai masuk dan menari. Semua bersenang – senang. Mei Lan pun duduk dengan tenang. Tapi, otaknya berpikir keras untuk bisa mendekati Kaisar
***
Crazy Up 2
__ADS_1