
Seorang kasim mendekati Mei Lan dan berbisik. Mei Lan mengangguk dan memberikan beberapa lembar kertas
“Lan er, sebentar lagi giliranmu. Apa kau sudah siap?” tanya Yin cemas
Mei Lan tersenyum dan menggenggam tangan kakaknya. Ia mengedipkan satu matanya dan berkata
“Kakak lihat saja, hmm? dan bantu aku mengawasi para pemusik,”
Yin menarik nafas dan membuangnya kasar. Ia mengangguk. Mei Lan memalingkan wajahnya dan tersenyum pada Ayah dan Kakaknya, Mou Han
“Ayah, jangan memperlihatkan wajah seperti itu. Ingatlah, dalam keadaan apapun, jangan tunjukkan pada lawan, bagaimana keadaanmu,” ujar Mei Lan dengan memelankan suaranya, menenangkan Ayahnya yang terlihat sangat cemas
Seorang Kasim memberi kode pada Mei Lan agar naik ke atas panggung. Mei Lan mengangguk dan mengedipkan satu matanya lagi dan tersenyum. Ketiga laki – laki yang keluarga Yin menggelengkan kepalanya
Mei Lan dengan penuh percaya diri naik ke atas panggung. Ia melirik ke arah pemusik dan menganggukkan kepalanya
Sebuah musik mengalun indah, Mei Lan mulai menggerakkan tangannya dan mulai melangkah perlahan dan memutar tubuhnya dengan satu kaki terangkat seperti gerakan balet, tak lama ... suara indah Mei Lan mulai terdengar
Ru ye jian wei liang fan
hua luo di cheng shuang
Ni zai yuan fang tiao wang
hao jin suo you mu guang
Bu si liang
zi nan xiang wang
Semua melihat ke arah Mei Lan dengan ekspresi terkejut.Yuan pun membuka matanya dengan lebar, dan menegakkan badannya.
Yuan Ning mengeraskan rahang dan tangannya mengepal di balik hanfunya
Yao yao tao hua liang
qian shi ni zen she xia
Zhe yi hai xin mang mang hai gu
zuo bu tong bu yang bu qian qiang
Dou shi jiaxiang
Liang liang ye se
Wei ni si nian cheng he
Hua zuo chun ni he hu zhe wo
Qian qian sui yue
Fu man ai ren xiu
Pian pian fang fei ru shui liu
Liang liang tian yi
Lian yan yi shen hua se
Luo ru fan chen
Shang qing zhe wo
Sheng jie yi du qing jie nan liao
Zhe jiu de xin hai you ji fen
Qian sheng de hen
Hai you ji fen
Qian sheng de hen
Mei Lan terbang dan menari gemulai menggerakkan kedua tangannya dan menekuk satu kakinya
__ADS_1
(anggap ini malam ya ... hehehe)
Ye ceng bin wei shuang
ye ceng yin ni hui guang
You you sui yue man chang
zen neng lang fei shi guang
Qu liu lang
Qu huan cheng zhang
Zhuo zhuo tao hua liang
jin sheng yu jian gun tang
Yi duo yi fang xin shang zu gou san
sheng san shi bei ying chengshuang
bei ying cheng shuang
Zai shui yi fang
Liang liang ye se wei
ni si nian cheng he
Hua zuo chun ni he hu zhe wo
Qian qian sui yue fu man ai ren xiu
Pian pian fang fei ru shui liu
Liang liang tian yi
lian yan yi se hua se
Luo ru fan chen shang qing zhe wo
Sheng jie yi du qing jie nan liao
Zhe jiu de xin hai you
Liang liang san sheng
san shi huang ran ru men
Xu yu de nian feng gan lei hen
Ruo shi hui yi bu neng zai xiang ren
Jiu rang qing fen lui jiu chen
Liang liang shi li he
shi hai hui chun sheng
You jian shu xia yi zhan feng cun
Luo hua you yi liu shui wu qing
Bie rang en yuan ai hen
liang tou na hua de chun
Mei Lan naik melayang ke atas dan memutar tubuhnya. Saat ia memutar tubuhnya, angin bertiup dan melepas cadarnya.
Semua orang kembali terkejut melihat wajah Mei Lan yang sangat amat cantik bagai dewi turun dari khayangan.
Mei Lan mengakhiri nyanyiannya saat akan mendarat
Wu sheng yuan qian chen
(OST Eternal Love: Liang liang)
__ADS_1
Dan dengan mulus ia menginjakkan kakinya kembali ke atas panggung
Semua orang menahan nafas melihat Mei Lan.
Semua terdiam ... tak ada satupun yang dapat berbicara. Seseorang dari bawah panggung mulai bertepuk tangan dengan keras, lebih keras dan sangat keras hingga akhirnya diikuti dengan tepuk tangan dari seluruh rakyat dengan keras
Rakyat yang hadir bersorak dan memuji Mei Lan tiada henti
“Luar biasa! Dewiii ... dia seperti Dewiii!
“Nona Mei Lan!”
Seru semua orang mengagung – agungkan Mei Lan. Yuan Ning meremas hanfunya dan menatap marah ke arah Mei Lan. Yi Xuan, Jing Shi dan Yuan tak dapat melepas mata mereka dari Mei Lan
Dengan sedikit terengah, Mei Lan menunduk dan memberi hormat kepada Kaisar.
“Terima kasih atas kesempatannya, Yang Mulia Kaisar, Permaisuri,” Ucap Mei Lan dengan membungkuk dan mulai memasang cadarnya kembali
Permaisuri yang sedari tadi menahan geram, mengukir senyum paksanya.
“Mei Lan, ternyata kau sangat cantik. Kenapa kau selalu memakai cadar?” tanya Kaisar
Mei Lan kembali menekuk lututnya memberi hormat
“Sebenarnya, hamba hanya ingin memperlihatkan wajah hamba pada suami hamba. Tapi, berhubung calon suami hamba sudah melihat wajah hamba dan ia ingin saya tetap menggunakannya hingga pernikahan kami, maka saya terus menggunakannya,” jawab Mei Lan
Semua menjadi riuh mendengar jawaban Mei Lan. Calon suami?
“Oh, kau sudah punya calon suami?” tanya Permaisuri
“Benar, Yang Mulia Permaisuri,”
“Apa dia ada disini?”
“Tidak, Yang Mulia. Calon suami hamba sedang bertugas di tempat yang jauh. Dan akan kembali, saat kami menikah nanti,” jawab Mei Lan
Yin mendekati Ayahnya dan berbisik,” Ayah, siapa calon suami Mei Lan? Kenapa aku tidak tahu akan hal ini?”
Tuan Besar Yin menarik nafasnya dan membuangnya kasar. Ia menjauhkan kepala Yin dan berkata
“Bukan urusanmu,”
Yin berdecak kesal dan membuka kipasnya. Matanya tak lepas dari Yuan yang menatap sengit ke arah Mei Lan saat Mei Lan berkata ia sudah memiliki calon suami.
“Jadi, apakah kau bisa memberitahu kami siapa calon suamimu itu?”
Mei lan tersenyum,” Calon suami hamba hanya orang biasa, Yang Mulia,”
“Baiklah, lain kali kau harus membawanya untuk diperkenalkan pada kami. Karena aku yakin, banyak dari para pemuda disini ingin mempersuntingmu,setelah penampilanmu tadi,” ujar Permaisuri dengan mata liciknya
‘Permaisuri ini, pintar sekali dia membuatku menjadi sasaran banyak orang,’
“Baik, Yang Mulia. Hamba akan membicarakannya dengan calon suami hamba. Karena dia orangnya sangat tertutup,” jawab Mei Lan
“Hmm ... begitukah? Kalau begitu bicarakan dengannya. Aku akan membantu dalam pernikahan kalian,” ujar Permaisuri
‘Maksudmu membantu mengacaukannya?’ cela Mei Lan dalam hati
Mei Lan menekuk lututnya dan memberi hormat. Ia kembali ke meja keluarga Yin
“Dik, kau sangat luar biasa. Tapi, kau berhutang penjelasan kepadaku,” kata Mou Han ketika Mei Lan sudah kembali duduk bersama mereka
Mei Lan tersenyum dan mengangguk
“Siapa calon suamimu yang membuatmu harus memakai cadar? Xia Ling?” ledek Yin. Mei Lan memukul lengan Yin dan membuat kakaknya itu meringis
“Kalau kubawa dia padamu, jangan sampai kau dibuat naksir olehnya, mengerti?” ucap Mei Lan dengan mata mendelik
“Hahaha ... apa dia wanita sampai aku akan naksir padanya, hmm?” lagi Yin mengejek Mei Lan. Mei Lan memicingkan matanya melihat Yin
“Karena dia sangat amat tampan. Bahkan Dewa akan dibuat malu olehnya,” jawab Mei Lan
Bayangan yang tadi ikut melihat penampilan Mei Lan tertunduk sedih dan menghilang. Sementara bayangan satu lagi, tersenyum penuh arti di atas atap
“Hmm ... kalau Tian Long mendengar ini sendiri, kakinya tak akan pernah menginjak ke tanah. Dan mahkotanya
tak kan bisa lagi ia pakai,” gumamnya dan menggelengkan kepala lalu menghilang
__ADS_1