Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Medan Perang (2)


__ADS_3

Mou Han melihat pasukan Xue kembali menyerang. Ia segera mengeluarkan pedangnya. Ia terbang mendekati mereka. Dengan cepat ia menggabung element air yang ia miliki dengan pedang. Sebuah cahaya biru kehijauan keluar dari pedang itu



Hyaaa ...


Crass ... crass ..


Aaa ...


Brakk ...


Sekumpulan besar tentara terjatuh. Mou han tak berhenti dan terus menyerang pertahanan mereka. Seorang laki – laki dengan hanfu hitam muncul dan membawa kristal hitam. Ia mengarahkannya pada Mou Han


 


 


 


 


 



Shrashh ... shrashh ...


Cahaya itu berkilatan dan melesat cepat ke arah Mou Han


Bam ...


Sebuah cahaya berwarna ungu memblok serangan itu


Duaarr ...


Laki – laki berbaju hitam yang juga saudara Xue Yang itu, menatap tajam ke arah Mei Lan, yang tiba - tiba saja datang dan menghalangi serangannya


“Dia ... aku tak bisa membaca kekuatannya,” gumamnya.


 


 


“Adik, kenapa kau kesini? Bantu gege. Aku akan atasi dia!” seru Mou Han


Mei Lan mengangguk dan kembali melesat pergi melewati para prajurit yang bertempur. Dengan Qigongnya dan pedang pemberian Tian Long ia menebas para prajurit Xue


Hyaaa ...


Crasss ...


Aaa ... aaa ...


Satu kali tebas Mei Lan mampu merobohkan puluhan prajurit. Jing Shi yang memacu kudanya bersama sisa tentaranya untuk membantu, terkejut melihat seorang wanita dengan hanfu putih dan sangat cantik menebaskan pedangnya dengan kekuatan yang  luar biasa


“Yin Mei Lan?” gumamnya terkejut


Mei Lan mendarat di depan lautan mayat dan melihat Yin yang sudah sangat lemah. Mei Lan segera membuka telapak tangannya dan memberi Yin dan ayahnya pil penyembuh surgawi


“Ge, kalian harus menyingkir dulu. Aku akan memberimu tenaga dalamku,” kata Mei Lan dan segera menarik punggung Yin agar tegak dan tak membungkuk melindungi ayahnya.


Digerakkannya tangannya dan membuat tameng perlindungan.


tak ... tak ... tak ..


Ribuan panah yang menyerbu mereka berjatuhan diluar tameng


 


Beberapa prajurit Ming yang melihat itu dari jauh dan bersembunyi di balik benteng terperangah


"Dia bahkan tak melihat ke belakang. Dan, dia ... dia tahu ada panah datang?" ucap seorang prajurit


 


 


 


Di sisi lain


“Siapa dia? Kekuatannya sangat besar. Aku bahkan tak bisa membacanya,” kata laki – laki setengah baya yang adalah Jenderal Besar Kerajaan Xue dan juga adik Kaisar, Xue Ba


Seorang prajurit memapah laki – laki berbaju hitam, yang tak lain adalah Xue Yang. Xue Ba yang melihat kondisi putra bungsunya terkejut


“Sialan, ini pasti perbuatan wanita itu,” geramnya.


“TABIB!” serunya. Laki – laki tua tergopoh – gopoh masuk diantara barisan dan mendekati Xue Ba


“Yang Mulia,” sapanya


“Bawa, Xue Yang ke perkemahan dan obati dia!” titahnya


Ia juga melihat ke arah putra sulungnya, Xue Jiang yang sedang bertempur dengan Jenderal Muda dari Kerajaan Ming, Yin Mou Han


“Wu Li! Berapa sisa kekuatan tentara kita?” tanyanya pada penasehat perang


“Kalau saya perkirakan kita masih menang jumlah, Yang Mulia. Sisa tentara kita saat ini sekitar 600 hingga 700 orang berjalan kaki, 100 pasukan meriam dan 50 pasukan berkuda,” jawab Wu Li


“Apa?!”


Buk ...

__ADS_1


dihentakkannya pedangnya ke tanah. Ia datang kemari dengan lebih dari 1000 pasukan dan saat ini hanya tinggal ratusan.


“KEKUATAN PENUH!!!”


Tett ... tetetet ...


Mei Lan mendongak dan mendengar suara terompet perang. Pertanda lawan akan menyerang dengan kekuatan penuh


“Ge, sekarang menyingkirlah. Tamengku akan tetap bersama kalian,” kata Mei Lan dan segera berdiri.


“Ti ... dak! Adik ... kau ... uhuk ... uhuk ...” Yin mengulurkan tangannya mencoba mencegah adiknya tapi


Hup ... Paaa ...


Mei Lan mendorong Yin dengan kekuatan tenaga dalamnya. Yin begitu terkejut dan reflek memegang erat ayahnya yang sudah tak sadarkan diri.


Keduanya melayang jauh didalam bulatan tameng Mei Lan. Merasa sudah aman, Mei Lan membalikkan badannya, matanya menatap tajam kumpulan prajurit Xue yang menyerang dengan seluruh tentara mereka


“Kalian keterlaluan! Kalian sudah menyakiti ayah dan kakakku! ... eeerrrghhh ...”


Mei Lan berlari dan menumpukan kakinya ke tanah. Tubuhnya melayang tinggi. Matanya yang tajam tak beralih dari prajurit – prajurit Xue. Dengan cepat, ia memutar pedang di tangannya. Kilatan cahaya biru muda keluar



Hiyaaa ...


Baaamm ...


Aaaa ....


Barisan depan tentara Xue roboh teratur.


Lagi, Mei Lan memutar pedangnya dan kilatan cahaya terlihat lagi


Hiyaaa ...


Baaamm ...


Aaaa ...


Prajurit – prajurit itu bergelimpangan. Xue Ba terkejut dan melihat geram ke arah Mei Lan.


 


 


Disisi kanan Mei Lan


Mou Han dengan bantuan Jing Shi mengatasi para prajurit dengan element masing – masing mereka menyerang prajurit yang terus berdatangan dan menghalau panah


Trang ... trangg ..


Hiyaaa ....


Kipas Tan Jing Shi menebas leher para prajurit. Matanya melihat banyak prajurit mulai turun menyebarangi sungai dengan rakit bambu mereka.


“Mou Han! mana pasukan bantuannya?" tanya Jing Shi di sela - sela ia menebas musuh


"Aku datang dulu dengan Mei Lan! Mereka akan menyusul!" jawab Mou Han dengan berteriak


"Aku harap mereka bisa cepat, kalau tidak, kita bisa jadi dendeng disini,"gumamnya


"Mou Han aku ke seberang!” seru Jing Shi


Jing Shi terbang dan menggunakan air sebagai tumpuannya. Ia menyilangkan tangannya dengan satu kipas di tangan kanannya.



Shrashh ...


Kelopak – kelopak bunga berwarna pink berserakan


Mata Xue Jiang membulat,” Kelopak mawar perenggut nyawa!” serunya


“TAMEENGG!!! LINDUNGI DIRI!!!” teriak Xue Jiang pada prajuritnya


Crass ... crasss ...


Aaa ... aaa ... aaa ....


Kelopak – kelopak mawar itu menyerang dan mengiris daging mereka dan membuatnya tak berhenti mengeluarkan darah. Sobekan akibat kelopak itu walau hanya kecil, tapi menimbulkan rasa sakit yang luar biasa


Xue Jiang mengeluarkan tamengnya dan menahan serangan Jing Shi.


“Hmmpgh ... kalian berani menyerang Ming, tak akan pernah aku ampuni!”


Jing Shi terus menyerang dan menyerang. Para prajurit Xue semakin kewalahan.


Xue Jiang segera maju dengan golok bergambar naga emas


Hiyaaa ...


Baaam ...


Splash ...


Jing Shi terbang lebih ke atas dan menghindari serangan Xue Jiang. Anak pertama Jenderal Xue Ba itu menggeram.


 


Heemmrgghh ... yaaaa ...


Baam ...

__ADS_1


Berulang kali Xue Jiang menyerang ke arah Jing Shi dan berhasil menghindar. Namun kali ini tenaga dalamnya mulai banyak terkuras. Xue Jiang menyeringai


“Hmmph! Kupikir sehebat apa kemampuanmu. Ternyata Cuma segini, hahahah ...”


Xue Jiang meluruskan tanganya dan 2 jarinya merapat. kelebatan cahaya seperti tali berwarna putih dan seperti pecahan asap berwarna biru dan hijau muncul



Hiyaaa ...


Wuss ...


Bugh ...


Jing Shi terlambat menghindar. Pecutan itu tepat mengenai dadanya


“Emrgh ...”


Bruttt ..


Mou Han yang melihat itu segera menyusul Jing Shi dan menebaskan pedangnya ke arah para prajurit


Hiyaaa ...


Baam ...


“Oh, Tidak. Kekuatanku semakin berkurang,” gumamnya sambil melihat ke arah Jing Shi yang terluka namun masih terus melawan Xue Jiang, lalu ke arah Mei Lan dan pasukan besar prajurit Xue


“Lan er sepertinya bisa mengatasinya, aku harus menolong Pangeran itu,”


Mou Han segera berdiri dan kembali melayang menebas para prajurit yang berusaha menembaknya dengan panah.


Tubuh Mou Han terasa lelah karena mereka sudah berperang tanpa henti hingga lebih dari 6 jam. Dan saat ini sudah gelap. Mou Han kelelahan tak bisa mencapai Jing Shi dengan cepat


Karena hari telah gelap, sebuah panah yang melesat ke arahnya tak dapat ia lihat dan


Jleb ..


“Emrghh ..”


Brukk ...


“Aarghh ... aku ... tidak boleh ... kalah ...” ucapnya seraya memegang bahunya yang terkena panah


Mata Mou Han melihat Jing Shi terkena lagi serangan Cambuk Iblis Xue Jiang dan menyemburkan darah di kejauhan. Karena Jing Shi terjatuh tepat di sebelah kobaran api


“MOU HAN GEGEEE ... AWASSSS!!!”


Belum sempat Mou Han menoleh dan melihat ke arah Mei Lan, sebuah hantaman keras mengenai dadanya ...


Bruttt ...


UHuk ... uhuk ..


Tangan Mou Han terulur ke arah Mei Lan yang melayang mendekatinya. Air mata Mei Lan mengalir.


Buk ...


Mei Lan mendarat tepat disisi Mou Han dan segera mengangkat tubuh atasnya.


“Ge, aku mohon bertahanlah,” ucap Mei Lan dan memasukkan pil penyembuh surgawi.


“A ... dik ...”


“Dengar, jangan katakan apapun. Aku akan menghabisi mereka semua. Yin gege dan ayah sudah aku amankan. Gege tunggu disini. Aku akan kembali,”


Tangan Mou Han terulur untuk menarik Mei Lan. Namun, tak ada lagi tenaga. Mei Lan membuat gerakan setengah lingkaran dan melindungi Mou Han dengan tamengnya


Hiyaaa ...


Mei Lan terbang dan menggempur prajurit Xue dengan element api murninya.


Baam ...


Duaar ...


Aaaa ...


Mata Mei Lan memerah karena marah. Ia terus menggempur para prajurit itu tanpa ampun. Ia mendarat disebuah batu besar di depan para prajurit Xue yang sudah berkumpul di wilayah Ming dan melihat tajam ke arah Xue Jiang


Ia membuat gerakan seperti melakukan kayang dan memutar 2 tangannya saling berlawanan arah.


“KALIAN YANG MEMAKSAKUUU!!!” teriak Mei Lan.


Hiyaaa ...


Splash ... splash ...


Kwaaak ... kwaakakk


Seekor burung phoenix mistik berwarna biru keputihan seperti burung transparan yang terbuat dari air muncul dan berteriak dan memekakkan telinga.



Semua terkejut melihatnya. Para prajurit Xue, Xue Ba dan Xue Jiang ketakutan


“Kalian terima akibat dari keserakahan kali ini!” serunya


Mei Lan mengarahkan kedua tangannya keatas dengan 2 jari telunjuk dan jari tengah menyatu, ke arah depan


Hyaaaaaa ....


Kwaak ... kwaakk ...

__ADS_1


__ADS_2