Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Terhipnotis


__ADS_3

Kediaman Tuan Muda Long


 


Tuan Muda Long baru saja sampai. 2 orang pelayan menyambutnya dan memberinya handuk basah untuk mencuci tangannya.


“Tuan Muda, ada tamu yang mencari Tuan Muda,” lapor seorang dari pelayan itu


Masih mengelap tangannya, Tuan Muda Long melihat ke arah pelayannya


“Beliau hanya bilang dia biasa dipanggil PakTua, Tuan Muda,” jawab si pelayan


Mata Yuan melebar. Ia segera melempar handuk basahnya kembali pada pelayan dan melangkah lebar menuju ruang tamu.


Disana, telah duduk seorang laki – laki tua dengan tongkat di tangannya. Ia melihat ke arah Tuan Muda Long dan tersenyum kecil


“Akhirnya kau kembali,” sambut Pak Tua


“Pak Tua. Kebetulan sekali,” kata Tuan Muda Long


Pak Tua itu terkekeh,“Hehehem ... apa karena wanita yang kau tabrak tadi?”


Long yang hendak duduk, terpaku beberapa saat . Matanya mengerjap menatap Pak Tua yang masih tersenyum dan menampakkan jelas kerutan di matanya


“A-anda tahu?” tanya Long heran dan mendaratkan bokongnya di sofa


“Hehehem ... semua tak ada yang tersembunyi di kolong langit ini,” jawab enteng Pak Tua itu masih dengan kekehannya


“Jadi, apakah Pak Tua juga tahu dia kenapa?” tanya Long


“Sebaiknya kau menemani nona dokter itu. Jangan biarkan orang baru mendekatinya,” kata Pak Tua itu ambigu


Long menegakkan tubuhnya, “Apa sesuatu akan terjadi padanya?” selidik Long


Pak Tua itu berdiri dan tersenyum penuh misteri tanpa berkata apapun. Laki – laki tua itu berjalan pergi dan menghilang di balik vas besar di ruang tamu itu.


Long berlari mengejarnya, tapi tak menemukannya


“Apa kau lihat Pak Tua, tamuku tadi keluar?” tanya Long pada pengawalnya yang berdiri di depan pintu


“Tidak, Tuan Muda. Sejak tadi tidak ada yang keluar atau masuk,” jawab lelaki berjas hitam itu


 


 


Melia selesai dengan shiftnya. Ia berjalan menuju lobby dan akan memanggil taksi. Tapi, sebuah mobil mewah


datang dan berhenti di depannya


Melia memundurkan badannya dan mengerutkan alis,' Siapa lagi ini? Apa Tuan Muda Long lagi? Tapi kenapa mobilnya bebeda?' batin Melia


“Selamat malam, dokter Melia,” sapa seorang laki - laki berbalut setelan jas buatan designer mahal, yang baru saja turun dari mobil mewah itu


'Ah, siapa ini? Dia bukan Tuan Muda Long,' batin Melia

__ADS_1


Melia tersenyum canggung dan mengangguk,” Ehm, ya ... Selamat malam,”


“Ijinkan saya mengantar Anda, dokter Melia,” kata laki – laki itu dengan matanya yang tajam dan senyuman licik


Seperti terhipnotis, Melia masuk ke dalam mobil itu tanpa perlawanan dan tanpa tanya. Senyuman laki – laki itu menghilang saat ia masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Mobil mewah itu melaju dan keluar dari area rumah sakit


Beberapa rekan kerja Melia yang melihat itu mulai berbisik dan bergosip. Seorang wanita paruh baya yang baru saja tiba dan membawa makanan di dalam thermos, bersama seorang laki – laki setengah baya yang menemaninya, saling berpandangan


“Ayah, apa yang mereka maksud Melia, anak kita?” tanya si ibu cemas


“Entahlah, bu. Sebaiknya kita bertanya pada resepsionis,” ucap lelaki itu dan segera menghampiri resepsionis


“Nona, maaf. Apa dr. Melia masih praktek?” tanya si ayah dengan ramah


Wanita resepsionis itu melihat kedua pasangan itu dan tersenyum


“Dokter Melia baru saja pergi dengan mobil mewah tadi,” jawab wanita itu. Kedua orangtua Melia terkejut mendengarnya


“Maksud nona, gosip tadi yang saya sempat dengar adalah dr. Melia Su?” tanya si ayah memastikan. Resepsionis itu mengangguk


Keduanya terkejut. Si ayah membantu istrinya untuk duduk di ruang duduk.


“Ayah, kenapa Melia, anak kita bukan pergi dengan tunangannya?” tanya si ibu, air matanya mulai menetes


“Bu, tapi ayah tidak percaya, anak kita seperti itu. Sebaiknya kit amencarinya,” kata si ayah.


Di saat yang sama, seorang laki – laki yang sedang tergesa – gesa, menghentikan langkahnya ketika ia mendengar nama Melia disebut kedua orang itu


“Permisi, apa kalian orangtua dr. Melia?” tanya lelaki itu. Keduanya mengangguk dan melihat ke arah laki - laki yang terlihat seperti orang terhormat


“Mari ikut saya,” ajak lelaki itu. Keduanya saling memandang


“Ah, benarkah? Tapi kenapa?" tanya si ayah curiga


Laki - laki itu tersenyum, "Karena saya adalah temannya. Dan saya tahu Melia bukan wanita sembarangan. Dan mobil yang membawanya bukanlah milik orang baik.


"Hah?! Kalau begitu, baiklah,” jawab si ayah


Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. Ia melihat ke arah pengawalnya


“Bawakan barang – barang bapak dan ibu ini. Kita pergi sekarang,” titahnya kepada pengawalnya


Ayah melia memeluk istrinya dan berjalan mengikuti lelaki itu ke mobilnya. Mobil itu pun melaju dengan cepat.


“Tu-tuan ... sebenarnya, anak kami berada dimana?” tanya si ibu


Lelaki itu mendesah dan melihat si ibu,” Dia ... saat ini berada di tangan berbahaya yang menginginkan sesuatu yang berharga dan hanya dimiliki Melia. Karena itu, hanya kalian orangtua nya yang bisa membantu putri kalian,”


Kedua orangtua Melia terkejut mendengarnya. Si ibu mulai menangis


“Ayah ... ayah ... anak kita,” isaknya


Si ayah melihat ke arah lelaki yang duduk di depannya.


“Tu-tuan, kalau begitu tolong segera selamatkan anak kami,” pinta ayah Melia memelas

__ADS_1


“Tenanglah, saya disini ... karena saya memang mau menolongnya. Tapi, saya tidak bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang terdekatnya. Tadi, saya ke rumah sakit untuk mencari alamat kalian. Ternyata, langit sangat baik dan mempertemukanku dengan kalian,” jelas lelaki itu


 


Kendaraan jenis mini van itu, berhenti di sebuah rumah tradisional china yang tampak kokoh. Lelaki itu


mempersilahkan kedua orangtua Melia untuk turun


“Tuan, apa Melia berada disini?” tanya tak sabar si ibu


“Tenanglah. Silahkan masuk dulu,” sahut lelaki itu.


Mereka memasuki gerbang dan sebuah halaman luas menyambut mereka. Di tengah – tengah halaman, lelaki


itu tiba - tiba saja berhenti dan sedikit melirik ke sampingnya


“Lai (nama pelayan)! Tolong bawa dulu bapak dan ibu Melia ke ruanganku,” titahnya.


Seorang pelayan segera datang dan membungkuk. Setelah kedua orangtua Melia pergi, laki – laki itu berdiri dengan tenang dan menekuk tangannya di depan perut


“Keluarlah!” serunya


Seorang lelaki tua muncul dan terkekeh. Dibantu dengan tongkatnya ia berjalan perlahan dan keluar dari persembunyiannya


Lelaki itu berbalik dan membelalak ketika ia melihat siapa yang datang. Ia membungkuk dan memberi hormat


“De-dewa ...”


Laki – laki tua itu mengangkat tangannya, menghentikan pria muda dihadapannya berbicara


“Liu ... aku tahu perasaan dan hatimu. Jangan sampai karenanya kau bertindak gegabah. Ingatlah, semua sudah ditentukan,” kata lelaki tua itu


“Tapi ...”


“Liu, keduniawian hanya membawa celaka. Serahkan semua pada takdir,” ujar lelaki tua itu


“Terlepas dari perasaanku, 3 alam sangat membutuhkannya,” kilah Liu. Ya, lelaki itu adalah Dewa Tinggi Liu


Lelaki tua itu mendesah,”Kita tidak memaksakan sesuatu yang sudah digariskan,” lelaki tua itu kembali mendesah dan menghilang


Liu menutup mata dan melihat ke langit


“Apakah aku harus menyerah? Tapi, apa aku bisa melepasnya begitu saja?” lirihnya, diiringi aliran air mata yang keluar dari ujung matanya


“Tuan,”


Liu menurunkan kepalanya dan mendesah. Ia membasuh diam – diam air matanya dan berbalik.


“Ada apa,” jawabnya datar


“Tuan, bapak dan ibu itu gelisah dan terus menanyakan Anda,” lapor pengawal itu


Liu mengangguk dan berbalik. Ia berjalan dan memasuki rumah itu. Didalam ruangannya, tampak kedua orangtua


Melia sudah menunggunya dengan gelisah

__ADS_1


 


 


__ADS_2