
Di tempat lain,
Tian er sudah bersiap – siap untuk datang ke Festival Bunga. Bibi pengasuhnya mendandaninya dengan baju terbaiknya. Ia merasa sedih melihat pangeran kecil Tian er.
Walau ia adalah seorang Pangeran tapi ia tidak lebih seperti anak orang biasa yang jauh dari kemewahan. Kaisar tak pernah mengunjunginya.
Dan Ibunya, Selir Wei, tak mempedulikannya. Karena Kaisar tak pernah lagi mengunjunginya walau ia sudah memberikan seorang putra baginya
Ini hasilnya, Tian er hidup dibawah asuhan sang inang pengasuh. Karena bantuan Kasim Gu, maka Tian er bisa mengeyam pendidikan
“Pangeran kecil, apa nanti ... Yang Mulia Kaisar tidak akan marah?” kata Bibi pengasuh cemas
“Tenanglah, Bibi. Aku hanya akan melihat dari jauh,” jawab Tuan er menenangkan Bibi pengasuhnya
“Baiklah,”
“Bi, nanti setelah dari pertunjukan, baru kita ke danau,” kata Tian er
Bibi pengasuh melihat Tian er dan memeluknya erat. Air matanya mengalir
‘Maafkan aku, Pangeran kecil. Maafkan, aku.’
“Bibi ... ayo kita pergi. Genderangnya sudah berbunyi,” ajak Tian er. Bibi pengasuh mengangguk dan menghapus air matanya dengan cepat. Ia menggandeng Tian er dan membawanya ke tempat pertunjukan
Mei Lan duduk dengan tenang dan menikmati penampilan dari putri Menteri Pajak. Sebuah tarian angsa yang cukup sulit.
Ia menampilkannya dengan baik, hanya saja ada beberapa kesalahan yang ia lakukan. Beberapa orang tersenyum sinis, namun mereka tetap bertepuk tangan saat ia telah selesai
Berikutnya adalah penampilan dari Putri Perdana Menteri. Ru sudah berganti pakaian, dan bersiap untuk menari Tari Perut dengan hanfu ungu yang tipis dan menampakkan bagian tubuhnya.
Semua melihat dengan nafsu ke arahnya. Ia tersenyum bangga dan mulai menari. Matanya selalu melihat ke arah Mou Han. Tak bisa dipungkiri, Mou Han memang tampan. Dan ia terkenal tak pernah kasar atau bermain wanita
“Jadi, jaman ini sudah ada pakaian vulgar seperti itu, ya?” gumamnya. Namun Yin dapat mendengarnya dengan jelas, karena ia duduk tepat disebelahnya
‘Gadis ini, dia masih ingat dunianya. Bagaimana kalau suatu hari ia mengetahui semuanya?’ batin Yin cemas,’ Tapi, yang bisa masuk ke ruang itu hanya aku, asal aku dan Han Feng tutup mulut. Ia tak akan pernah tahu,’
Plok ... plok ...
“Wah, putri Perdana Menteri memang sangat luar biasa. Dulu Nona Ru menari Kipas dan sangat berhasil, sekarang Tari Perut. Sungguh luar biasa,” puji Menteri Pajak
“Ya, Nona Ru sangat luar biasa. Karena itu, kau boleh meminta sesuatu,” kata Kaisar
Dengan malu – malu, Ru maju ke depan dan berlutut
“Terima kasih banyak, Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Hamba sangat tersanjung. Dengan pujian dari Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, itu sudah merupakan hadiah yang luar biasa buat hamba,” jawab Ru dengan senyumnya sambil menunduk
__ADS_1
“Hahaha ... anak yang baik. Kalau begitu ... Yuan ... bagaimana denganmu?” tanya Permaisuri mengalihkan perhatiannya pada Yuan
“Hmm ... saya juga setuju. Nona Ru sangat luar biasa, Permaisuri,” jawab Yuan dengan senyum tipisnya
“Ya, dia sangat luar biasa. Permaisuri, aku rasa akan sangat luar biasa, jika berjodoh dengan Yuan,” timpal Ibu Suri, yang tiba – tiba datang
Kaisar dan Permaisuri juga yang lainnya berdiri dan memberi salam hormat pada Ibu Suri
“Salam, Yang Mulia Ibu Suri. Semoga selalu diberi umur panjang,” ucap mereka serentak
“Hahaha ... ya ya ya, terima kasih. Kalian boleh berdiri,” jawab Ibu Suri dan dengan bantuan pelayannya, ia berjalan menuju tempat duduknya, di sisi kanan Kaisar
“Bagaimana dengan pendapatku tadi, Tan Yuan?” tanya Ibu Suri
Yuan mendesah. Ia masa bodoh dengan perjodohan. Karena ia memang tak peduli dengan itu. Yang ia tahu, wanita adalah untuk bersenang – senang
“Hahaha ... kita akan bicarakan ini nanti,” kata Kaisar
Perdana Menteri tersenyum bangga. Ia berdiri dan membungkuk hormat dari tempatnya
“Terima kasih Yang Mulia, untuk pujiannya pada putri hamba yang nakal ini,” ucapnya
Mei Lan memutar bola matanya malas,” orang jaman kuno, terlalu banyak basa - basi dan menjilat. Menyebalkan,”
Yin terkekeh. Mei Lan berpaling melihat kakaknya dan menaikkan allis
“Kau lucu. Jika mereka tidak seperti itu, semua akan langsung merendahkan mereka. Merendahkan diri untuk disanjung,” jawab Yin
“Cih, tapi itu sangat lucu,”
“Hahaha ... ya baiklah, baiklah.”
Mei Lan menggeleng dan tersenyum. Yuan mengerutkan alisnya dan mengeraskan rahang, ketika ia melihat kalau Mei Lan sepertinya tak begitu memperhatikan ucapannya dan yang lain. Tapi, malah asyik berbincang dengan kakaknya
‘Kenapa aku kesal, saat wanita ****** itu tak memperhatikanku?’ batin Yuan
Selanjutnya, adalah beberapa penampilan dari putri – putri pejabat dan bangsawan lain. Ada yang menampilkan bakat musik, menyulam, membordir cepat dan melukis. Ada juga yang berpuisi dan membuat Mei Lan mengantuk.
“Kenapa mereka membordir dengan tangan? Kenapa tidak mesin saja supaya cepat? Bukannya itu membuang – buang waktu,” ucap Mei Lan tanpa sadar
Yin kembali melihat Mei Lan dan menggelengkan kepalanya. Tiba – tiba suatu pemikiran muncul di pikirannya
‘Jika memang di dunia Mei Lan dulu ada mesin untuk membordir, pasti tokoku bisa ramai,’ pikirnya, ‘ Ah, tapi aku harus membawa Mei Lan kalau harus membelinya. Sudahlah,’
Mei Lan menyikut kakaknya dan berbisik,” Ge, apa tidak ada dari mereka yang Gege suka? Coba Gege lihat, mereka lumayan cantik,” goda Mei Lan
“Mereka cantik, tapi bagaimana hatinya? Untuk apa cantik, kalau hatinya sangat buruk hingga berbau busuk,” jawab Yin dan membuat Mei Lan tertawa sedikit keras
__ADS_1
Tuan Besar Yin melihat ke arah Mei Lan, bukan hanya Tuan Besar Yin, tetapi beberapa orang melihat ke arahnya. Bahkan, Permaisuri dan Yuan. Karena tawa Mei Lan lumayan keras, hingga tubuhnya berguncang
Yin berusaha menghentikan mulut Mei Lan dengan membekapnya. Tapi, Mei Lan sungguh sulit untuk berhenti tertawa
Selesai dengan penampilan terakhir, semua orang tak bertepuk tangan. Tapi melihat ke arah Mei Lan. Putri Menteri Administrasi, segera berlari kembali kesisi Ayahnya dan menangis
Putri Yuan Ning muncul dengan pakaian tradisional untuk tarian Perut. Semua melihat ke arahnya. Bahkan putri Perdana Menteri yang juga adalah sahabat Yuan Ning.
“Ayah, kenapa Yuan Ning juga akan menari Tari Perut? Bukankah dia yang menyuruhku menari tarian itu. lalu kenapa, dia ... dia ...”
Perdana Menteri menahan amarahnya dan mengenggam erat tangan putrinya. Ia merasa kalau Yuan Ning sedang mempermainkan putrinya
“Lan er, kenapa kau tertawa seperti itu? Apa ... penampilan Putri Menteri Administrasi itu tak bagus menurutmu, hmm?” kata Yuan Ning dengan suara lembut, ketika ia sudah sampai di depan meja Mei Lan.
Semua yang ada disana mulai mengatai Mei Lan. Yuan Ning melihat ke kanan kiri Mei Lan dengan wajah yang ia buat sesendu mungkin
“Iya, dia sungguh gadis jahat. Bisa-bisanya dia menertawakan orang seperti itu,” kata seseorang
“Benar ... sungguh keterlaluan,” sahut yang lain
Yin menatap tajam Yuan Ning. Sedang Mou Han dan Tuan Besar Yin berusaha keras mengontrol emosi mereka dengan mengepalkan tangan dan mengatur nafas
Mei Lan menaikkan alisnya, mencoba mengerti perkataan Yuan Ning. Belum lagi ia menjawab, Yuan Ning sudah kembali berucap dengan suara yang sengaja ia keraskan sedikit, dan berdiri sekitar 1 meter dari meja Mei Lan
“Lan er, tolong jaga sikapmu. Kalaupun kau tak suka, jangan perlihatkan disini. Tolong, demi aku. Aku akan menjadi kakak iparmu, bagaimana kalau ...”
“Hahaha ... maaf, Putri Yuan Ning. Bukankah kakakku belum menerima lamaran Anda. Kenapa Putri selalu terburu – buru. Bersabarlah, hmm?” potong Mei Lan
Semua melihat ke arah mereka dan mulai berbisik – bisik. Wajah Yuan Ning berubah merah. Ia melihat kesana kemari dengan mata yang tajam, dan dengan susah payah ia tersenyum dibalik cadar tipisnya.
“Baiklah, aku akan tampil dulu,” pamit Yuan Ning dan berjalan ke tengah panggung
Yuan Ning menari tari perut dengan begitu lihai. Walau sebenarnya, tariannya masih kurang luwes dibandingkan dengan Ru, tapi karena ia adalah Putri kesayangan Kaisar, semua orang memujinya
“Wah ... Putri Kaisar memang hebat,”
“Iya ... lihatlah sangat cantik,”
“Benar, dia adalah putri tercantik di seluruh Kerajaan Ming,”
Permaisuri yang mendengar pujian kepada Anaknya tersenyum bangga. Yuan memandangnya jengah. Kaisar hanya diam dan menikmati pertunjukan
Plok ... plok ... plok
Rakyat dan semua yang hadir bertepuk tangan
__ADS_1