
“ Hah?! Benarkah? Ah .... hahahaha ... dia meminta pembatalan pertunangan? Hahahaha ....” Bai Yan menatap kepergian Putra Mahkota dan menggaruk kepalanya. Ekspresi tak percaya dan tingkah Yuan seperti tidak menerima kabar itu.
Yuan melangkah cepat menuju tempat latihan. Sampai disana, ia segera berlari lalu merentangkan kedua tangannya dan melambung, ia mendarat untuk mengambil pedang yang tersedia disana dan kembali melayang dan bersalto. Pendaratannya sangat sempurna. Dengan cepat ia mengubah pandangannya dan mulai mengeluarkan jurus-jurusnya. Aura yang diciptakannya bisa membuat orang di sekitarnya merasa dingin.
“ Dia membatalkan pertunangan? Hahh ... hahahaha ...” lelaki itu kembali memainkan pedangnya dan membelah banyak lagi manusia jerami.
“ kau membatalkan pertunangan? Baiklah, aku mau lihat bagaimana nantinya kau tanpaku!” gumamnya dalam geram
Mei Lan dan Yin sudah sampai di sebuah hutan. Yin membantu Mei Lan turun dengan hati-hati. Perhatian Yin menghangatkan hati Mei Lan
“ Ge, hutan apa ini?” tanya Mei Lan. Ia membuka cadar pada topinya dan melihat sekeliling
“ Hutan Heize, banyak yang tak mau ke hutan ini karena banyak binatang buas dan konon banyak hantu. Tapi, aku sungguh tak mempercayainya,” kata Yin dengan senyum
“ Benarkah? Baiklah, mari kita masuk,” ajak Mei Lan. Yin mengangguk dan melangkah masuk bersama dengan Mei Lan
Hutan itu memang sangat rimbun. Mei Lan dapat melihat bahwa hutan ini belum atau sangat jarang tersentuh manusia. Mei Lan mengedarkan matanya berkeliling mencari bunga yang ia cari. Bunga langka yang hanya tumbuh di antara celah batu dan berwarna biru keunguan.
Sudah 1 jam mereka mencari, namun tak juga mendapat.
“ Ge, kita sebaiknya berpencar supaya cepat,” usul Mei Lan. Yin mengangguk
“ Baiklah, tapi jaga dirimu. Ini bawalah. Kalau kau dalam masalah dan bahaya, cukup kau tiup, maka kau akan datang,” kata Yin dan menyerahkan sebuah benda kecil mirip keong kepad Mei Lan dan mencobanya. Tapi tak ada suara apapun
“ Ge, ini tak ada suaranya,” rajuk Mei Lan. Yin terkekeh
“ namanya Anshao, hanya aku yang bisa mendengar suaranya,” jelas Yin
“ Wow! Benarkah?”
Yin mengangguk dan mengacak rambut Mei Lan, “ Iya, percayalah. Sekarang, ayo berpencar,”
“ Siap! Hehe ...”
Keduanya pun berpencar. Mei Lan menelusuri hutan itu tanpa takut. Menyibak setiap rerumputan dan membuka setiap tumpukan ranting dan daun kering, melongok melihat ke antara batu. Hingga, tanpa ia sadari ia sudah jauh masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
Mei Lan tersenyum cerah ketika ia melihat bunga yang ia cari sedikit menjembul keluar. Dengan langkah pasti dan senyum yang tak pudar, Mei Lan berlari untuk mengambil bunga itu, tapi saat ia melangkah tiba-tiba ia terperosok dan Anshao yang Yin beri, terjatuh.
“ Aahhhh ....” jeritnya. Tubuh kecilnya terus menggelinding jauh ke dalam tanah
Bukk ...
Tubuh Mei Lan terhempas dengan keras ke dasar lubang yang menyerupai spiral itu, dan tak sadarkan diri. Saat matanya terbuka, kegelapan mengelilinginya. Mei Lan menelan salivanya. Tubuh kecilnya meringkuk mendekap kedua lututnya. Ia teringat dengan Anshao pemberian Yin dan meraba seluruh tubuhnya mencari.
“ Jangan bilang aku menjatuhkannya ...” Mei Lan mengigit bibir bawahnya dan melihat sekeliling. Harapannya musnah. Ia tak tahu berada dimana. Rasa perih di kaki dan tangannya membuat air mata yang sedianya tadi keluar karena takut, kian bertambah deras.
“ Hiks ... hiks ... Mama ... a-aku takut .... huhuhu ...” isaknya
Sebuah cahaya terang menyilaukan muncul dengan tiba-tiba di hadapan Mei Lan. Perlahan, Mei Lan mengangkat kepalanya dan memicingkan matanya karena cahaya itu yang menyakiti matanya. Tak lama, cahaya itu perlahan meredup dan tampaklah seorang wanita dengan rambut emas dengan hanfu putih dan sangat cantik berdiri melihat Mei Lan dengan senyum yang menawan.
Mei Lan memundurkan badannya, ketika wanita cantik itu perlahan berjalan ke arahnya dan terus tersenyum.
“ Melia ... jangan takut,” kata wanita itu dengan tatapan hangat
“ Ka-kau mengenalku? A-apa kau seorang dewi?” tanya Mei Lan dengan gagap karena takut
“ Kalau begitu ... bi-bisakah Dewi menolongku keluar dari sini?” kata Mei Lan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan takut
Dewi mengangguk, “ Aku akan membantu keluar, tapi aku ingin kau berjanji padaku,”
“ Janji? Janji apa? Asal hamba bisa, hamba pasti akan lakukan,” kata Mei Lan
Dewi itu tersenyum dan mengangguk, “ Melia, jangan menyebut dirimu hamba. Kau juga putriku. Mei Lan adalah dirimu di masa lalu dan Mei Lan adalah putriku,”
Mata Mei Lan membulat sempurna
“ Mei Lan meninggal karena kau telah datang.” Ucap sang Dewi dengan lembut
“ A-apa? Mei- Mei Lan meninggal karena aku?!” teriak Mei Lan kaget dan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap sang Dewi tak percaya.
“ Melia, Mei Lan memang ditakdirkan hidup dengan singkat dan akan bereinkarnasi menjadi dirimu ratusan tahun kemudian. Dan kau memang ditakdirkan untuk datang dan mengubah Dinasti ini,”
__ADS_1
“ Me-mengubah Dinasti?”
Dewi mengangguk dan tersenyum, dengan mengibaskan lengan hanfunya, Dewi itu memperlihatkan sebuah tayangan layaknnya televisi, hanya saja dalam bentuk bulat. Sebuah tayangan bagaimana kehidupan masyarakat zaman itu di Kerajaan Ming
“ Lihatlah, ini yang terjadi di Dinasti ini. Dan menjadi takdirmu, untuk membantu mereka. Aku hanya menjadi perantara untuk melahirkan Mei Lan agar bisa menarikmu datang ke Dinasti ini,” jelas sang Dewi, “ Aku adalah Dewi Bulan, Yue Liang. Mulai saat ini, apakah kau berjanji untuk membantu mereka?”
“ Aku ... apa aku bisa?” tanya Mei Lan. Ia merasa ragu dapat membantu orang-orang itu
“ Jangan kuatir. Aku akan membantumu ke Gunung Bisha Ji ( Nirwana). Tapi, kau harus melalui banyak ujian lebih dahulu, dan aku tidak akan membantumu untuk itu. Disana, kau harus berlatih pengobatan dan kultivasi,” tutur Dewi Yue Liang
“ Baiklah, Dewi Yue Liang,” kata Mei Lan.
“ Tutuplah matamu, aku akan membantumu keluar dari sini. Hanya, jangan katakan pertemuan kita ini, apa kau mengerti?”
“ Mengerti Dewi. Tapi, Dewi ... bisakah Anda membantuku lagi?”
“ Apa itu?”
“ Selir Hong terkena racun Bisa Ular Salju, bisakah Anda menolongnya?”
Dewi Yue menghela nafas dan tersenyum, “ Mei Lan, penawar untuk racun itu ada pada darahmu,”
" Da-darahku?" ulang Mei Lan dan melihat kedua tangannya
Yin sangat panik karena sejak tadi ia mencari keberadaan Mei Lan tapi tak ia temukan. Kini, matahari telah siap kembali ke peraduan, tapi jejak Mei Lan juga tak ia temui
" Mei Lan ... dimana kamu?" lirihnya. Matanya terus mengedar mencari dari atas pohon. Ia menggunakan Qinggongnya untuk melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan maksud agar cepat menemukan Mei Lan.
Roaarrr ....
Suara hewan buas mulai terdengar. Kekhawatiran kian memuncak.
" Mei Lan ... apa yang harus aku katakan pada Ayah, kalau kau menghilang?" gumam Yin sedih
" Aku mohon, Mei Lan ... kembalilah. Dimana kau? jangan tinggalkan aku lagi, Adikku,"
Air mata mulai turun membasahi pipi Yin. Ia sudah menganggap Melia sebagai Mei Lan adiknya. Ia tak mau kehilangan lagi
__ADS_1
" MEI LAAAANNNN .... MEIII LAAANNN KEEMBAAALIIIILAAAHHH," teriaknya frustasi dan mengacak rambutnya yang tertata rapi
" GEGEEEE!!"