
Kediaman Menteri Pertahanan Yin
Seluruh keluarga Yin berkumpul di meja makan. Tak ada satupun yang berbicara. Semua dengan pikiran masing-masing.
“ Yin er,” panggil Tuan Besar Yin pada anaknya
Yin mendongak dan melihat Ayahnya yang tampak serius. Tuan Besar Yin melihat ke arah Selir Hong. Wanita itu melihat ke arah suaminya dengan senyuman tipis dan sumpit yang masih berada di dalam mulutnya.
Yin menyatukan alisnya dan menatap curiga kepada keduanya. Tuan Besar Yin mendesah dan kembali melihat putera sulungnya
“ Yin er, kau sudah berumur 27 tahun. Semua laki-laki seusiamu sudah memiliki anak. Apa ... tak ada wanita yang menarik hatimu?” tanya Tuan Besar Yin
Yin meletakkan sumpit dan mangkoknya ke atas meja dengan ekspresi datar dan mata yang tertuju pada alat makannya itu
“ Ayah, aku rasa aku pernah berbicara mengenai hal ini dengan Ayah,” ucap Yin dan perlahan matanya melihat sang Ayah
Tuan Besar Yin menarik nafasnya kasar dan meletakkan alat makannya
“ Aku tahu, tapi ... kau tidak bisa terus melakukan itu. Kau adalah penerus keluarga kita. Kau tak bisa terus seperti ini. Kau harus ...”
“ Ayah ... ingatlah kau masih punya Mou Han, jangan bebankan semua padaku,”
Mou Han mendelik kaget ketika namanya disebut oleh sang kakak. Mou Han menipiskan bibirnya lalu melihat ke arah kakaknya itu
“ Kak! Kenapa kau membawa-bawa aku? Aku tidak mau! Aku juga masih ingin bebas, enak saja ...”
Mou Han melipat bibirnya ketika matanya menangkap wajah Ayahnya yang menggelap. Mou Han menelan salivanya dan duduk tak tenang
“ Aku bicara soal dirimu, Yin! Untuk Mou Han, aku juga sudah mengatur semunya,” kata Tuan Besar Yin dan membuat Mou Han kembali mendelik dan tersedak
Uhuk ... uhuk
“ A-ayah? A-apa yang Ayah atur? Aku tak mau menikah dengan wanita yang tak kucintai. Yin Gege yang lebih tua, jadi dia yang harus menikah lebih dulu!” protes Mou han
“ Aku sudah katakan aku tak akan menikah,” jawab Yin datar
“ Tapi aku juga tak mau!”
“ CUKUP!”
Tuan Besar Yin menatap geram pada dua lelaki muda di depannya.
“ Kalian sudah waktunya menikah. Mau atau tidak, aku akan menikahkan kalian,” ucap Tuan Besar Yin
“ Ayah!” seru keduanya dengan ekspresi tak suka
__ADS_1
“ Tidak usah membantah. Yin, Kaisar sudah mengajukan lamaran padaku untuk menikahkanmu dengan Puteri Yuan Ning,” kata Tuan Besar Yin
Yin memejamkan matanya dengan erat, berusaha mengatur emosinya. Ia tak ingin menikah, dan kini ... Kaisar mengajukan lamaran padanya? Ia sangat tak menyukai keluarga Kerajaan, dan kini ia sendiri mendapat lamaran?
“ Maaf, Ayah. Aku tak bisa menerimanya,” ucap Yin dan segera berdiri meninggalkan ruang makan
“ YIN! KEMBALI!” seru Tuan Besar Yin, namun tak mendapat tanggapan dari putera sulungnya itu
Paviliun Yin Mou San
Dengan kesal, Yin masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat. Dihempaskannya tubuhnya ke atas ranjang milikinya. Matanya menerawang jauh.
Sebenarnya, bukannya ia tak mau menikah, tapi hingga saat ini ia masih belum bisa melupakan kekasihnya itu. kekasih yang harus meregang nyawa karena keserakahan seseorang.
“ Hmmph! Kau ingin membuatku menikah dengan puterimu? Jangan mimpi!” geramnya dan kembali duduk di atas ranjangnya
Yin berjalan dan membuka pintu kamarnya yang mengarah ke kolam teratai. Kolam yang ia bangun karena adiknya sangat menyukai teratai. Kolam itu terhubung dengan Paviliun Mei Lan, tepatnya di depan kamar Mei Lan
Bibirnya tersenyum bila memikirkan keceriaan adiknya saat menaiki perahu kecil dari kamarnya menuju kamar Mei Lan. Namun, tiba-tiba saja wajahnya berubah muram ketika ingatannya kembali di malam terbunuhnya Mei Lan. Tangannya mengepal erat dan rahangnya mengeras
“ Aku tak akan pernah memaafkan keluarga Kerajaan,” geramnya dengan mata yang memerah
Dengan Qigongnya, Yin keluar dari kediaman Yin malam itu. Tanpa tujuan ia melompat dari satu atap ke atap lain. Duduk diatas rumah yang membawa kenangannya bersama seorang wanita yang ia cintai.
“ Aaaa ...”
Sebuah teriakan mengejutkan Yin dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat asal suara. Dengan cepat ia berdiri dan menarik tangan seseorang yang hampir saja terjatuh dari atap, tempat dimana ia juga berada
“ Ah, terima kasih,” ucap orang itu
Yin tak menanggapai dan kembali duduk dengan mata terus menatap ke depan. Orang itu hanya mengedikkan bahu dan segera meloncat ke atap lain
Setelah merasa cukup, Yin berdiri dan hendak kembali meloncat dengan Qigongnya. Tapi, sebuah pantulan cahaya dari benda yang ada didepannya, menghentikannya.
Yin berjongkok dan mengambilnya. Sebuah Giok putih dengan tulisan “ Hui Hang” dengan tali merah
“ Sepertinya milik orang tadi,” gumamnya
Yin menaruhnya kembali di tempat benda itu terjatuh, namun saat ia melangkah, matanya kembali melihat benda itu. ada keraguan untuk menyimpan atau membiarkannya
“ Ah, sudahlah. Aku bawa saja. Besok aku akan kesini lagi, siapa tahu orang itu kembali lagi untuk mengambilnya,” gumamnya dan kembali mengambil benda itu
__ADS_1
Perguruan Bai Yun
Mei Lan baru saja selesai berlatih pedang dengan Guru Duan, sebagai kewajiban seluruh murid Bai Yun. Sebuah tangan mencekal dan menyeretnya ke tempat yang sepi
“ Xing Yue!” seru Mei Lan. Dengan kasar Xing Yue menyeret Mei Lan lalu menghempaskannya dengan kuat ke depan
“ Ughh!”
“ Aaa ...” pekik Mei Lan. Tubuhnya terhempas dengan keras ke atas sebuah batu yang kasar dan sedikit lancip
“ Hmmph! Kenapa? Sakit? Hah?!” ejek Xing Yue
“ Sebenarnya apa masalahmu? Kenapa kau selalu mengangguku?” seru Mei Lan dan mulai berdiri dan membersihkan luka pada kedua telapak tangannya dengan pelan dan hati-hati
“ Mencari masalah? Kau yang mencari masalah denganku!” seru Xing Yue dengan geram
“ Apa maksudmu? Aku sama sekali tak pernah menganggumu, kenapa kau bilang aku mencari masalah denganmu?!” bantah Mei Lan tak kalah sengit
“ Berani sekali kau meninggikan suaramu di hadapanku?! Kau hanya putri seorang Menteri Pertahanan, sedangkan aku adalah Puteri Kerajaaan. Apa hakmu meninggikan suaramu padaku? Hah?!” sentak Xing Yue
“ Kau yang lebih dahulu mencari masalah denganku. Aku tak pernah berkata kasar atau mengejek dan melakukan hal- yang menggangumu, kenapa kau selalu mencari gara-gara denganku?!”
“ DASAR KURANG AJAR KAU MEI LAN!”
Tangan Xing Yue mulai terangkat dan hendak menampar Mei Lan. Namun, tangannya tiba-tiba dililit oleh tali seperti bulu berwarna putih, lalu menarik dan menghempaskannya ke tanah
“ Aaa ...” pekiknya
Mei Lan membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan
“ Puteri Xing Yue, ini adalah peringatan dariku. Jika kau kembali membuat ulah di Bai Yun, bersiaplah untuk angkat kaki dari sini,”
Mei Lan dan Xing Yue manatap tak percaya kepada orang didepannya. Mei Lan lebih dahulu tersadar dan segera memberi hormat
“ Salam hormat Imortal Bai,” ucap Mei Lan dengan hormat
Imortal Bai melihat ke arah Mei Lan dan mengangguk. Ia mengebas Fu Chen di tangannya dan berlalu dari sana lalu menghilang. Meninggalkan asap putih dibelakangnya.
( Fuchen)
( Imortal Bai)
__ADS_1