
Perguruan Bai Yun
Mei Lan menatap bingung semua guru yang ada di depannya. Mereka semua berdebat untuk menjadi gurunya.
Nafas Xing Yue memburu. Matanya tak lepas menatap benci Mei Lan. Jian Ying menggunakan kesempatan perdebatan para Guru, untuk mendekati Mei Lan
" Hai ... Mei Lan. Boleh aku jadi temanmu?" tanya Jian Ying
" Ah, oh ... iya. Kau ..."
" Aku Putera Mahkota Kerajaan Wen, Wen Jian Ying," kata lelaki itu dengan senyum miringnya
" Oh ... wah, kau Putera Mahkota? Hebat, hebat!" ucap Emy dengan senyum lebarnya.
Lelaki berhanfu putih mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Jian Ying. Dengan tenaga dalamnya ia menguping pembicaraan mereka
" Jadi ... kau mau berteman denganku? Aku ... sangat mengagumimu. Dan ... aku sangat tertarik padamu," kata Jian Ying dengan tatapan menggodanya. Mei Lan mengerutkan alisnya dan tertawa canggung
Krakk ...
Cangkir giok di tangan lelaki berhanfu putih pecah. Lelaki itu membiarkan tangannya terluka, namun tak lama sedikit cahaya kecil menyembuhkan lukanya.
" Ah ... hahaha ... terima kasih, terima kasih. hehe," kata Mei Lan lalu mengalihkan wajahnya
' Apa orang jaman kuno semuanya langsung to the point ya, kalau suka ... hii ... mengerikan,' batin Mei Lan
" Apa kau ... tidak tertarik padaku?" tanya Jian Ying lagi dan mempersempit jarak di antara mereka. Mei Lan menelan salivanya dan melangkah mundur. Senyumnya terasa kaku
Pletak
Pyarrr ...
Jian Ying dengan cepat menoleh. Ia memegang kepalanya dan melihat pecahan giok di lantai. Dengan mata yang membelalak marah, ia mencari siapa pelakunya. Tapi, tak ada satupun yang ia dapati mencurigakan.
Matanya memicing melihat ke semua yang hadir dan para Guru. Tangannya mengepal
' Kurang ajar! siapa yang berani menimpukku?!' batinnya
Saat ia berbalik dan hendak berbicara dengan Mei Lan lagi, ternyata wanita itu sudah asyik bercanda dan tertawa dengan murid-murid seniornya.
" Hmmphh!" dengan kesal ia mengebas hanfunya dan kembali berdiri di depan para Guru yang masih belum selesai berdebat
" Kita akan diskusikan ini lagi! sekarang, kita harus membubarkan para murid," kata Maha Guru Li dan diangguki Guru-guru yang lain.
" Semuanya boleh kembali ke tempat kalian masing-masing. Untuk Xing Yue, kau akan bergabung dengan Paviliun Dìqiú(Bumi) dan Jian Ying ke Paviliun Huǒ (Api). Untuk Mei Lan, kau ..."
" Biarkan dia bersama saya, Maha Guru Li,"
Dewi Hua tiba-tiba muncul di hadapan Maha Guru Li.
__ADS_1
" Hormat hamba, Dewi Hua," ucap Maha Guru Li dengan sedikit membungkuk.
" Hmm ... Mei Lan, dia akan bersamaku. Untuk guru, dia akan berguru dengan Dewa Obat dan Imortal Bai dan Imortal Liu," ujar Dewi Hua dengan senyumnya
" Tapi ... Mei Lan dia ..."
" Maha Guru Li ... semuanya sudah ditentukan," ujar Dewi Hua dengan senyumnya
" Baiklah, Dewi ..."
Dewi Hua berjalan mendekati Mei Lan yang masih menatap takjub melihat Dewi Bunga yang begitu cantik. Matanya mengerjap lucu. Lelaki berhanfu putih mendesah dan menggeleng. Senyumnya terus mengembang sejak adanya Mei Lan
" Mei Lan ... pejamkan matamu," kata Dewi Hua
Mei Lan mengangguk dengan tetap tersenyum lalu menutup matanya.
Dalam sekejap, mereka sudah berada di suatu tempat yang sangat indah. Semuanya serba putih dan coklat muda serta dikellingi awan
" Woww ... indahnya. Eh .. Dewi, kenapa disini lama sekali malamnya?" tanya Mei Lan dengan terus berlarian melihat kesana kemari
Seingat Mei Lan, saat ia berada di hutan, hari baru saja malam. Lalu, ia tiba di perguruan Bai Yun, suasana seperti tengah hari dan itu sudah lama. Tapi, hingga saat ini, sekelilingnya masih saja terang dan tidak gelap.
" Hihihi ... Mei Lan. Disini tidak ada malam," kata Dewi Hua terkekeh
" Ha! lalu ... lalu kapan tidurnya? Terus terang aku sudah sangat mengantuk, Dewi," rajuk Mei Lan
" Hahaha ... Tidak usah kaget, kau akan tahu kapan waktunya istirahat saat kau sudah terbiasa. Sekarang, sudah lewat Chu Zi (jam 23-24) Kau bisa istirahat di kamar itu," ujar Dewi Hua
Dewi Hua mengangguk dan tersenyum.
" Mei Lan, aku harus pergi. Nanti akan ada pelayan yang membangunkanmu. Besok kau akan mulai berlatih," kata Dewi Hua
" Baik, Dewi,"
Mei Lan segera menuju kamar yang ditunjuk Dewi Hua setelah sang dewi pergi menghilang entah kemana
Kamar yang besar dengan warna krem lembut. Pintu dengan ukiran rumit dan sebuah ranjang. Mei Lan mendekati ranjang berwarna krem itu, dan mencoba mendudukinya
" Ahh ... tipis sekali. Pasti keras untuk tidur. Ah ... aku jadi rindu kasurku di rumah,"
Mei Lan kembali melihat sekeliling kamarnya.
" Oh, ini kamar mandinya. Aku sebaiknya mandi dulu lalu tidur. Tapi, sikat gigi? aku sangat ingin sikat gigiku. Aku selalu menyikat dengan saputangan selama disini. Huh ... menyebalkan!"
Mei Lan membuka seluruh hanfunya dan masuk ke dalam air hangat yang ada di dalam kamarnya.
" Hmm ... hangat sekali ... hehehe ..."
Mei Lan menggosok tubuhnya dan mengaguminya
__ADS_1
" Wah ... ini benar-benar luar biasa. Aku tak punya sedikitpun bekas luka. Eh ... ngomong-ngomong soal bekas luka. Kalau aku di tubuh Mei Lan yang asli, lalu kenapa waktu itu ada luka yang sama seperti operasiku, ya? Aku baru sadar ..." ucap Mei Lan
" Waktu di Paviliunku di kediaman keluarga Yin, aku lihat aku punya tanda itu dan kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" omel Mei Lan pada dirinya dan memukul sendiri kepalanya.
" Apa jangan-jangan aku ... tidak-tidak ... kalau aku masuk lorong waktu, lalu ... mana tasku? mana baju modernku? ..." gumam Mei Lan
" Aarrghhh ... ini sangat membingungkan!" serunya.
Mei Lan bergegas menyudahi mandinya lalu memakai hanfu tidurnya kembali dan membaringkan diri di ranjangnya yang baru
Istana Kerajaan Ming
Pesta Pernikahan Putera Mahkota akan dilaksanakan 2 hari lagi. Semua persiapan telah usai dan Puteri Kerajaan Wen sudah datang dan menempati rumah pribadi Permaisuri di Ibu kota.
" Yang Mulia, Nona Xia Ling memohon untuk menghadap," lapor Kasim Chu, kasim kepercayaan Putera Mahkota.
Yuan memijat pangkal hidungnya. Sejak kesibukannya membantu Ayahnya, Sang Kaisar, dan persiapan untuk pernikahannya, ia belum mengunjungi wanitanya itu
" Suruh dia masuk," titah Yuan
" Baik, Yang Mulia,"
Kasim Chu segera membukakan pintu untuk Xia Ling
" Yang Mulia, Putera Mahkota siap menerima Anda,"
Xia Ling mengangguk lalu berjalan dengan anggun menuju kamar Putera Mahkota
" Salam, Yang Mulia," sapa Xia Ling dengan suara yang lembut menggoda. Yuan yang sedang dibantu pelayan memakai baju, hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan
" Hemm ... ada apa?" tanya Yuan datar
Xia Ling menatap lelaki didepannya dan mengeraskan rahangnya. Ia memejamkan matanya berusaha menetralkan emosinya
" Yang Mulia, apakah hamba sudah bersalah pada Yang Mulia, sehingga Yang Mulia tidak lagi mengunjungi hamba?" tanya Xia Ling dengan memaksakan senyumnya
" Hahaha ... jadi kau kesini, karena kau rindu sentuhanku? hmm?" tanya Putera Mahkota sinis
Xia Ling mendekat dan menyentuh pundak lelaki itu
" Yang Mulia, apa kau ... sudah bosan padaku?" rajuk Xia Ling
" Xia Ling ... kau tahu aku sangat sibuk. Aku akan menemui saat aku sudah selesai," kata Yuan
" Janji ya, Yang Mulia," rengek Xia Ling. Jarinya mulai bermain di tangan dan dada Yuan
" Hmm ..."
" Yang Mulia, Yang Mulia Kaisar ingin agar Yang Mulia segera menghadap," lapor Kasim Chu.
__ADS_1
Xia Ling melihat tajam ke arah Kasim karena merasa terganggu
" Hmm ... aku sudah siap. Ayo kesana," kata Yuan dan beranjak pergi