
Tuan Besar Yin, Selir Hong dan kedua kakak Mei Lan berlari terburu – buru ke arah Paviliun Mei Lan. Tadi mereka mencari ke seluruh area Festival dan tidak mendapati Mei Lan.
Mereka juga tak mendengar kalau ada penyusup yang tertangkap, jadi mereka terpikir untuk segera kembali ke kediaman mereka
Sampai di depan Paviliun Mei Lan, 2 orang pelayan yang menyambut, tak dihiraukan mereka. Langkah cepat mereka ambil, menuju kamar Mei Lan. Seakan waktu akan berhenti jika mereka tak segera bertemu gadis itu
Bruakk ...
Tuan Besar Yin mendobrak kamar Mei Lan dan langsung masuk. Ia melihat sang putri tertidur pulas tanpa merasa terganggu. Tuan Besar Yin dan ketiga orang yang mengikutinya saling pandang
Tuan Besar Yin mendekat dan memeriksa nadi Mei Lan. Masih berdenyut. Ia juga memeriksa nafas. Masih ada.
Dup ... dup
Tuan Besar Yin membuka totok Mei Lan dan berhasil. Perlahan Mei Lan mulai membuka matanya. Matanya mengerjap
“Lan er!” seru Tuan Besar Yin
Selir Hong dan kedua kakak Mei Lan tersenyum senang. Mei Lan mengambil posisi duduk dan menatap ayah juga ibu dan kedua kakaknya.
“Ayah, Ibu, Gege ... kenapa ... aku bisa ada disini?” tanyanya dengan alis bertaut
“Kami juga ingin tanya hal itu padamu, nak. Kenapa kamu sudah ada disini? Kami sangat cemas mencarimu di Istana,” kata Tuan Besar Yin seraya menggenggam tangan putrinya
Mei Lan mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum ia pingsan. Ia ingat, ia sedang menyalurkan tenaga dalamnya pada kaisar, lalu secara tiba – tiba ada kekuatan yang menghentikannya
“Ayah, lupakan soal aku. Bagaimana dengan kaisar?” tanya Mei Lan
Semua kembali seling berpandangan. Mata mereka beralih dan menatap Mei Lan dengan mata melebar
“Lan er, katakan. Apa kau melakukan sesuatu pada kaisar?” tanya Tuan Besar Yin
“Aku ... mencoba mengembalikan energi murninya dengan menyalurkan tenaga dalamku. Aku juga memberinya beberapa tetes darahku. Tapi entah kenapa aku ...”
“Apa kau bilang?! Darahmu?!” seru mereka semua
Mei Lan menatap horor ke arah Ayah, ibu dan kedua kakaknya. Ia menakupkan kedua tangannya pada mulutnya. Saat ia membuka mulutnya, ia tertawa kaku
“Ehehehe ... itu ... itu ...”
“Lan er ...” ucap Tuan Besar Yin dengan nada penuh penekanan
Mei Lan menelan salivanya. Ia menggaruk kepalanya. Ia menyatukan 2 telunjuknya dan memainkannya
“Itu ... energi kaisar hanya tersisa sedikit dan dia juga diracuni. Jadi aku ... aku menawarkan racunnya dengan darahku,”
“Darahmu? Kenapa kau menawarkan racun dengan darahmu?!”
“Iya ... itu ... karena darahku ... bisa menawarkan segala ... racun,” jawab Mei Lan tertunduk dan memperkecill suaranya sehingga terdengar seperti gumaman
“Lebih keras, ayah tak dengar,” kata Tuan Besar Yin
Mei Lan mendongak dan melipat bibirnya. Ia menatap semuanya dan mengerjap. Ia melihat ke arah pintu dan sedikit menjentikkan jarinya. Tameng pelindung menyelimuti kamar Mei Lan.
Ayah Mei Lan, Selir Hong dan kedua kakaknya dapat merasakan itu. Mereka saling memandang satu sama lain dan kembali melihat Mei Lan
“Sebenarnya, darahku ... bisa menawarkan racun apapun,” jawab Mei Lan
__ADS_1
Semua terkejut. Mereka memandang tak percaya Mei Lan selama beberapa saat. Mei Lan melipat bibirnya dan tersenyum kaku
“Jangan bilang kalau ... kalau penawar racunku adalah ... darahmu, nak?” tanya Selir Hong dengan mata melebar. Mei Lan mengangguk pelan. Tuan Besar Yin dan Yin menutup mata mereka dengan erat. Selir Hong dan Mou Han membulatkan mata mereka
“Itu ... itu darahmu?!” tanya Mou Han lebih memastikan
Mei Lan kembali mengangguk. Tuan Besar Yin merasa pusing dan sedikit sempoyongan. Yin segera berlari mendekati ayahnya dan memapahnya untuk kembali ke kamar Tuan Besar Yin diikuti Selir Hong.
Mei Lan menjetikkan jari dan tamen perlindungan terbuka. Sehingga ayahnya bisa keluar dari kamarnya
“Lan er istirahatlah. Ini sudah larut. Kita bicara lagi besok,” kata Mou Han
Mei Lan mengangguk. Mou Han tersenyum dan mengusap kepala adiknya
“Huft ... sepertinya besok akan ada interogasi panjang ... haaa ... fiuuh ...”
Mei Lan mengehmpaskan tubuhnya ke atas kasur dan menghembuskan nafas. Tak lama, ia kembali tertidur
Kamar Tuan Besar Yin
“Ayah, sebaiknya ayah istirahat sekarang dan tenangkan pikiran ayah. Besok, kita akan bicara lagi,” ucap Yin seraya membantu ayahnya merapikan selimutnya. Saat hendak berdiri, tangan Tuan Besar Yin menahannya
“Yin, apa benar yang dikatakan adikmu itu?” tanya Tuan Besar Yin tanpa melepas tangan anak sulungnya itu, namun tak menatapnya
Yin menghela nafas dan menggeleng,” Aku tak tahu, ayah. Jika itu benar, maka ... Lan er tak akan aman,”
Tuan Besar Yin memejamkan matanya dan memijat pangkal hidungnya. Yin meninggalkan ayahnya dan keluar.
Ia melihat ke langit dan mendesah
Sosok putih tersenyum dan memeluk Yin. Laki – laki itu bisa merasakan ada sesuatu yang melingkupinya. Ada rasa nyaman. Seperti ... pelukan ibunya.
Sosok itu tersenyum dan membelai rambut Yin
“Nak, jangan takut. Dia adalah adikmu. Dia juga masih sedarah denganmu. Dia reinkarnasi adikmu. Tapi ... dia berbeda darimu,” ucap sosok putih itu yang tak lain adalah Dewi Yue
Istana Ming, Kediaman Selir Xia
Pecahan vas dan bunga – bunga juga berbagai perabot yang ada di kamar Xia Ling berserakan di mana – mana. Semua pelayan tak ada yang berani masuk dan menganggu junjungan mereka
Pakaian serta make up Xia Ling tampak berantakan dan seperti orang gila. Xia Ling melihat wajahnya di kaca tembaga. Ia melempar hiasan rambutnya ke arah kaca itu
Praangg ...
“Mei Lan!!! kau akan terima pembalasankuuu ... eemmrrghhh!!”
Brakk
Xia Ling membanting kursi meja riasnya dan mengacak rambutnya frustasi. Ia tak habis pikir kenapa Mei Lan selalu saja beruntung.
Dulu ia sudah meracuninya dan ternyata gagal. Ia juga sudah berusaha mencuri benda pusaka dari kediaman Yin dan bermaksud membuat Mei Lan sebagai tersangkanya, tapi gagal. Dan malam ini, ia mengambil perhatian semua orang termasuk Yuan
“PELAYAANN!!” teriaknya
2 orang pelayan segera masuk dan memberi hormat. Rasa takut membuat mereka bergetar saat menjawab Xia Ling
"I-Iya, Yang Mulia ..."
__ADS_1
Xia Ling menatap tajam kedua pelayannya dan melemparkan sebuah botol pada mereka
“Malam ini juga, kalian harus pergi ke kediaman Pangeran Yi Xuan dan masukkan ke dalam makanan atau minumannya. Jangan sampai gagal. Kalau gagal, kepala kalian taruhannya,” titah Xia Ling dengan mata menatap tajam kedua pelayannya.
Kedua pelayan itu saling memandang dan menelan ludah. Keringat mereka bercucuran. Jika tak menuruti Xia Ling mereka mati, jika menuruti Xia Ling dan mereka gagal, maka Pangeran
Yi Xuan yang akan membunuh mereka.
“KALIAN DENGAR AKU?!” sentak Xia Ling
Kedua pelayan itu berlutut dengan wajah sampai ke tanah dan tubuh yang gemetar. Xia Ling menatap geram dan melempar mereka dengan botol tempat make up nya.
“Kurang ajar! Apa kalian mau melawanku sekarang, hah?!” seru Xia Ling
Kedua pelayan itu menggeleng dengan cepat dan menangis
“Ampuni kami, Yang Mulia. Tolong ... ampuni kami ...” dengan suara memohon dan memelas mereka menangis, agar Xia Ling tak menyuruh mereka
“Kurang ajar! Kalian melawanku rupanya. Pengawal!!”
Kedua pelayan berjalan dengan lutut mereka sambil menangis dan memegang punca hanfu Xia Ling. Wanita itu kembali menatap mereka dan menghempaskan keduanya kasar. Seorang pengawal masuk dan melihat kejadian itu
“Dasar pelayan bodoh tak tahu aturan! Berani sekali kalian menyentuhku!!!” teriak Xia Ling
Xia Ling mendongak dan melihat sang pengawal
“Seret kedua orang ini dan cambuk masing – masing 100 kali dan lemparkan mereka ke penjara bawah tanah. Jangan ada yang berani memberi mereka makan!” titahnya dengan nafas yang memburu
“Yang Mulia! Yang Mulia! Ampuni kami, Yang Mulia!” teriak kedua pelayan malang itu
Xia Ling mengebaskan hanfunya dan mengambil air minum. Kosong. Dibantingnya teko ditangannya dan menatap tajam kearah pintu
“PELAYAAN!!!” teriaknya. Tak ada yang datang. Ia semakin geram.
Prangg ...
“PELAYAAAANNN!!!” teriaknya lagi, tapi tetap tak ada yang datang.
“Kurang ajar, kemana mereka?” Xia Ling keluar dari kamarnya dan melihat ke kanan kiri, kosong. Ia berjalan menuju area istirahat para pelayannya. Kosong. Ia berjalan lagi menuju dapur dan kamar pelayan. Kosong
“Kemana mereka semua ...” geramnya. Tangannya mengepal. Ia melangkah pergi dan kembali ke
kamarnya
Saat akan masuk ke kamar, ia melihat seorang prajurit yang datang menggantikan prajurit yang disuruhnya tadi
“Pengawal! Dimana semua pelayan?” tanyanya ketus
“Maaf, Yang Mulia Selir. Semua pelayan di kediaman Yang Mulia sudah habis, tidak ada lagi,”
jawabnya
Xia Ling terkejut dan mengerutkan alisnya menatap prajurit itu
“Apa maksudmu?”
“Bukankah kau sudah membunuh semua pelayanmu dan menjadikan mereka sebagai sasaran amukanmu? Jadi, sekarang lihatlah ... tak ada lagi yang tersisa,” ucap seseorang
__ADS_1