
Melia turun dari bed rawatnya dan berjalan mendekati Yin. Ia mengerutkan alisnya.
"Dia ... siapa? Kenapa ada disini?"
Yin merasa ada orang didekatnya dan terbangun. Ia melihat seseorang dengan piyama pasien dan sebuah tiang dengan selang. Mata Yin terbuka sempurna
“Lan er! Kau sudah bangun?” seru Yin gembira
Melia mengerutkan alisnya dan melihat lelaki di depannya
“Kau ... siapa? Aku ... aku Melia, bukan Lan er,” kata Melia lembut
Yin membulatkan matanya. Matanya mengerjap
“Lan er ... kau tak mengenalku?” tanya Yin dengan matanya yang tetap membulat
“Ehm... maaf. Tapi aku adalah Melia. Bukan Lan er. Maaf ... aku tak mengenalmu,” kata Melia dengan senyum kakunya dan melihat aneh pada Yin
Yin menelan salivanya,”Kau, kau sungguh tak mengenalku?” Yin berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah
ilusi atau candaan adiknya saja
“Maaf,” ucap Melia
Yin terasa lemas dan terduduk di sofa. Air matanya menetes
“Kenapa, kenapa seperti ini? Feng Huang bilang kau ... kau tidak akan melupakan kami. Tapi kenapa ... kenapa ...” isak Yin
Melia merasa iba dan berjongkok. Perlahan diulurkannya tangannya dan menyentuh tangan Yin yang ia gunakan untuk menyangga wajahnya yang tertunduk dan menangis
“Ehm, Tuan ... ada apa? Kenapa kau menangis? Siapa Lan er? Mungkin aku bisa membantumu,” hibur Melia
Yin mengangkat wajahnya. Wajah sembab dan sendu. Ia memegang tangan Melia dan membuat Melia terkejut. Yin menelan salivanya membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
“Melia ... benarkah kau sungguh tak mengenaliku,” ucap Yin sekali lagi. Melia tak bisa berkata apapun. Ia sungguh merasa iba dengan lelaki di depannya yang terlihat sangat frustasi
“Maafkan aku,” ucap Melia,”Bisa kau ceritakan siapa dia? Apa dia kekasihmu, Tuan?
Yin menatap Melia dan mememegang wajah Melia. Gadis itu menaikkan alisnya canggung
“Dia ... dia adalah adik kesayanganku. Kau ... adalah adikku. Dan sekarang kau tak mengenalku. Bagaimana, bagaimana dengan ayah sekarang?”
'Ya, Tuhan ... senang sekali kalau punya kakak seperti dia, ia sangat menyayangi adiknya' batin Melia
“Melia ... sudah tak ada waktu lagi. Cepat, cepat selamatkan ayah. Ayah harus segera ditolong, dan membawanya kembali. Jika tidak, ia akan menghilang,” kata Yin dengan cepat dan berdiri menarik tangan Melia
Melia terkejut dan hampir terjungkal
“Tung, tunggu! Tunggu sebentar!” seru Melia
Yin menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Melia
“Ada apa?”
“Katakan, kenapa dengan ayah anda?” tanya Melia
Yin mendesah. Ia lupa kalau Melia sudah kehilangan ingatannya.
“Ayah terkena panah 5 tahun yang lalu. Ia tak sadarkan diri hingga saat ini. Ia hidup karena ramuan Dewa Obat.” jelas Yin
Melia menaikkan alisnya terkejut
“Terkena panah 5 tahun lalu dan tak sadarkan diri? Kenapa kau membawanya ke Tabib? Apa kau tahu seberapa bahayanya itu? Kenapa kalian ceroboh sekali? Aku lihat kau sangat rapi dan terlihat terhormat, kenapa kau tak membawanya ke rumah sakit malah ke tabib, hah?!” omel Melia
__ADS_1
Di tempat lain
Hatchuu ... hatchu!
Dewa Obat melihat kesana kemari dan memicingkan matanya
“Siapa yang mengutukku!” gerutunya
Yin terdiam mendengar omelan tiada henti Melia. Dengan cepat Melia menarik jarum infus di tangannya dan berjalan keluar
“Apa yang kau tunggu? Tunjukkan jalannya ke tempat ayahmu!”
Yin kembali terkejut dan mengangguk patuh. Ia berjalan menuju ruang rawat ayahnya.
Disebuah ruangan kaca dengan monitor jantung dan banyak selang yang menempel, seorang pria terbaring.
Seorang dokter sedang memeriksa keadaannya.
Yin menunjuk ke arah ayahnya yang masih menutup mata didalam ruangan kaca itu. Melia berdiri disana dan menunggu dokter itu keluar
Beberapa saat kemudian, dokter yang memeriksa Yin Mou Chou keluar. Melia mendekatinya dan menyapa dokter
muda itu.
Yin terkejut melihat wajah lelaki itu. Tubuhnya terpaku tak bisa bergerak.
“Dokter Wang, bagaimana keadaan tuan yang didalam?” tanya Melia
“Melia? Kau kenal dengannya?” tanya dokter dengan marga Wang itu
“Ehm, dia ... dia ayah temanku yang berdiri disana,” jawab Melia dan menunjuk pada Yin. Dokter itu mengangguk
secepatnya,” jelas dr. Wang
Melia mengangguk dan melihat ke arah Yin yang menunduk dan terlihat bingung. Ia mendekati lelaki itu dan memegang bahunya. Menatapnya dan mengangkat kedua alisnya
“Tuan, kau tak apa – apa?” tanya Melia. Yin melihat ke arah Melia dan kembali ke arah dr. Wang
“Kau ... kau siapa kau?” tanya Yin. Dokter Wang mengeryit lalu tersenyum
“Saya? Nama saya Wayne Wang. Saya yang merawat ayah Anda,” jawab dokter itu dan berbalik melihat ke arah
Yin
“Wayne? Kau ... sudah berapa lama kau disini?” tanya Yin
Melia dan Wayne saling menatap tak mengerti. Keduanya melihat ke arah Yin
“Saya? Maksudmu lama saya bekerja disini?” tanya Wayne. Yin mengangguk
“Saya sudah bekerja selama 7 tahun disini. Ada apa, Tuan?” tanya Wayne
Yin menggelengkan kepalanya. Kepalanya terasa berputar. Semuanya sungguh membuatnya bingung
“Ada apa ini? Kenapa, kenapa Bai Yun ada disini?” gumam Yin pada dirinya sendiri
“Hallo ... Tuan ... Anda tak apa – apa?” panggil Melia.
Wayne menarik Melia kedekatnya,”Melia, apa kau yakin dia temanmu? Kenapa dia terlihat aneh?”
Melia melihat ke arah Yin dan melipat bibirnya.
“Entahlah. Biarkan saja, Ah, soal ayah temanku ini. Kapan kau mengoperasinya?” tanya Melia
“Secepatnya. Aku akan minta bagian OPE (ruang operasi) menyiapkan segalanya. Kau suruh temanmu itu mengurus persyaratannya, ya?” jawab Wayne
“Hmm.. oke,” kata Melia, “Ah, apa aku boleh membantu?”
Wayne tampak berpikir. Tapi, ia kemudian mengangguk dan berjalan pergi
__ADS_1
“Terima kasih,” seru Melia
Melia mendekati Yin dan tersenyum,” Saya akan membantu dokter Wayne mengoperasi ayah Anda. Tapi, tolong Anda selesaikan dulu administrasi dan pembayarannya di depan, ya?”
Yin melihat ke arah Melia tak mengerti. Melia memiringkan kepalanya
“Ehm, apa Anda tak mengerti?” tanya Melia ragu. Yin mengangguk. Melia menghembuskan nafasnya kasar
“Anda silahkan ke petugas yang ada di meja depan, lalu membayar biayanya,” jelas Melia,”Mari, saya
antar,”
Yin yang masih bingung hanya mengangguk dan mengikuti Melia. Sampai, di meja depan Melia mempersilahkan Yin duduk
“Ehm, tolong berikan aku persetujuan operasi dari Tuan ...” Melia menoleh dan melihat ke arah Yin
“Tuan, siapa nama ayahmu?”
Yin melihat ke arah Melia dan mendesah,' dia benar- benar telah kehilangan ingatannya,' batinnya
“Namanya Yin Mou Chou,” jawab Yin. Melia dan si petugas menaikkan alis. Nama yang disebut Yin adalah nama yang sangat kuno dan sudah jarang dipakai
“Tuan Yin Mou Chou,” ulang Melia pada petugas. Petugas itu mengangguk dan mencetaknya. Melia meletakkan surat itu di depan Yin
“Tuan, bacalah dahulu lalu tanda tangan,” kata Melia. Yin kembali tak mengerti. Ia meraih kertas itu dan membacanya. Ada beberapa kata yang sangat asing untuknya.
Ia meletakkan itu di atas meja,” Berikan kuasnya padaku,” Melia dan petugas itu saling memandang
“Eh ... apa maksud Anda, Ballpoint? Ini. “ Melia menunjukkan ballpoint yang menempel di meja dan diberi tali spiral kecil.
Yin membolak - balik ballpoint itu dan mengeryit. Ia memegangnya layaknya ia memegang kuas. Ia mencoba menulis dengan itu dan merasa kesulitan.
Melia melipat bibirnya dan mengambil ballpoint itu. Ia meraih tinta merah untuk stempel
“Anda bisa memberi stempel, jika tak bisa tanda tangan,” kata Melia dengan senyumnya
“Apa? Kau pikir aku buta huruf?!” sergah Yin kesal
Melia menggaruk kepalanya,” Eh, bukan, bukan begitu ...”
Yin menutup matanya,” Barang modern sungguh membingungkan,” Melia menaikkan alisnya dan tersenyum kaku
Yin mencoba beberapa kali menggunakan ballpoint itu, tapi tulisannya menjadi aneh. Melia melihat ke arah lain. Tak ingin membuat Yin malu karena ia berusaha keras menahan tawanya
Karena tak kunjung bisa, Yin menempelkan ibu jarinya pada stempel dan memberi cap pada surat itu.
"Melia!"
Melia dan Yin reflek berbalik. Yin membulatkan matanya melihat orang itu. Sedangkan Melia tersenyum senang
__ADS_1