
Yuan memacu kudanya tanpa henti menuju Gunung Bisha Ji. Tak peduli lelahnya tubuh, ia terus memacu kudanya. Lelah tak dapat ditampik, seekor kuda bukanlah robot yang bisa terus bekerja tanpa berhenti
Perjalanan ke Gunung Bisha Ji masih 1 hari lagi. Tapi, kuda kesayangannya itu sudah tak mampu lagi berlari. Sudah 2 hari keduanya menempuh perjalanan dengan medan yang kadang tak mudah.
Yuan terpaksa menitipkan kudanya di satu pejabat kota. Awalnya, mereka tak bersedia menerima. Tapi, ketika Yuan menunjukkan lencananya, semuanya berlutut memohon ampun, dan bersedia menampung kuda kesayangan Putera Mahkota itu.
Dengan kuda yang baru, Yuan kembali bersiap pergi. Cuaca yang sangat panas, tak membuatnya patah semangat.
" Yang Mulia, perjalanan ke Gunung Bisha Ji, sangat tidak mudah. Tapi, disini ada tinggal seorang Imortal yang membantu rakyat dalam pengobatan gratis. Mungkin, Yang Mulia bisa bertanya padanya," ujar seorang pejabat kota.
" Imortal?"
" Sebenarnya, mereka belum menjadi imortal. Tapi, mereka adalah murid Perguruan Bai Yun yang diharuskan untuk turun gunung, sebagai bagian tugas mereka. Mereka sudah berada disini selama 1 bulan, ditemani seorang Imortal. dan, saya dengar mereka akan kembali besok," jelas pejabat itu lagi
' Ada benarnya. Kalau mereka murid Perguruan Bai Yun, maka aku bisa meminta mereka membawaku ke Bisha Ji,' batin Yuan
" Baiklah, bawa aku ke sana," titah Yuan
" Baik, Yang Mulia," jawab pejabat itu sambil menunduk hormat
Yuan mengikuti pejabat itu berjalan menuju keramaian kota. Setelah berjalan beberapa saat lamanya, mereka sampai disebuah rumah sederhana yang sangat ramai
" Yang Mulia, itu tempatnya. Tapi ..."
" Tapi apa?"
" Mereka tidak memandang jabatan dan kedudukan seseorang, jadi ... mereka tidak akan memberi keistimewaan pada siapapun untuk mendapat pelayanan mereka," kata pejabat itu
Yuan mengeryitkan alisnya. Dia adalah Putera Mahkota. Bahkan kedudukannya pun tak berpengaruh pada orang-orang itu? Begitulah yang ada dalam pikiran seorang Yuan yang angkuh
" Kita lihat saja dulu," ucap arogan Puter Mahkota
Pejabat itu terkejut dan seketika mengangkat kepalanya dan melihat Pangeran Yuan. Matanya membulat dan mulutnya ingin berkata sesuatu, tapi Putera Mahkota sudah berlalu. Ia melambaikan tangannya, agar calon pewaris tahta Kerajaan Ming itu kembali, namun lelaki itu tak melihatnya.
Yuan melangkah dengan elegan, layaknya seorang bangsawan pada umumnya. Tanpa menghiraukan banyak orang yang telah mengantri, ia berjalan dan menerobos masuk
" Siapa yang bertugas disini?" serunya dengan berdiri tegak di tengah-tengah ruangan yang dijadikan tempat untuk melayani rakyat yang datang meminta bantuan
" Aku!" jawab tegas dan tenang seorang laki-laki tampan berambut putih
__ADS_1
Yuan memiringkan badannya dan melihat seorang laki-laki dengan pembawaan begitu bersahaja
Tangan Yuan menyatu memberi hormat dan sedikit menundukkan kepalanya
" Tuan, saya adalah Putera Mahkota Yuan dari Kerajaan ini. Saya kesini ingin meminta bantuan Tuan, membawa saya ke Gunung Bisha Ji,"
Lelaki itu tak menjawab dan tetap diam. Matanya menatap lekat Yuan tanpa ekspresi
" Aku dengar kalian dari Perguruan Bai Yun. Saya hanya meminta penawar racun Peremuk Tulang, karena ada seseorang yang sedang bertaruh nyawa di Istana Ming," lanjut Yuan
" Maaf, tapi Perguruan Bisha Ji tidak bisa menerima sembarang orang. Kami tidak memiliki urusan dengan orang Kerajaan," jawab lelaki itu lalu berbalik
" Tunggu! Berapa yang kau mau agar kau membawa kesana?"
Lelaki itu berhenti sejenak dan melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Yuan.
Yuan menipiskan bibir dan mengepalkan tangannya.
" Anda salah tempat, jika ingin mencari penawar racun itu,"
Yuan membalikkan badannya dan mencari asal suara. Seorang gadis muda dengan wajah yang cantik dengan mata indah dan suara ... yang familiar untuknya. Tapi, ia tak mengingatnya
" Apa maksudmu, Nona?" tanya Yuan
" Hei! Aku tanya apa maksudmu!" seru Yuan
Wanita itu menghentikan kegiatannya dan menatap Yuan
" Kami memang memiliki banyak penawar racun, tapi ... itu hanya untuk kami," jawab gadis itu
" Nona, aku sanggup membayar berapapun," kata Yuan
" Mengapa anda mencari jauh-jauh ke Gunung Bisha Ji, jika sebenarnya penawarnya ada bersama orang yang memiliki racun itu?" sarkas gadis itu
" Aku belum menemukan pelakunya, bagaimana mungkin aku bisa mendapat penawarnya?" jawab Yuan frustasi dan sedikit meninggikan suaranya
Gadis itu sedikit tersenyum, lalu berjalan menuju dapur yang ada di luar rumah, dengan kuali besar diatasnya. Yuan terus mengikutinya
" Wanitamu sudah 2 hari terkena racun ini, walaupun kau menotok meridiannya ... racun itu tetap akan bereaksi. Dan, tempat dimana kau menotoknya ... disitulah area dimana tulang wanita hancur dengan parah.
__ADS_1
Lebih baik kau kembali, karena ... nyawanya tidak akan bisa melewati malam ini atau paling lambat besok pagi,"
Yuan sangat tekejut. Kepalanya menggeleng dan menelan salivanya dengan berat.
Yuan segera berlari dan memegang tangan gadis itu dengan tatapan memelas
" Nona, tolonglah Nona ... (Menelan saliva) aku pasti akan membayar bantuanmu ini. Jika ... jika dia mati, maka Kerajaan ini akan berperang. Dan yang akan terkena imbasnya adalah rakyat kecil, ... Nona ..." ucap Yuan memohon
Gadis muda itu melipat bibirnya, dan mendesah. Ia memutar telapak tangannya dan muncullah sebuah botol porselen kecil
" Bawalah dan minumkan pada wanitamu. Tapi, waktunya hanya tinggal malam ini dan paling lambat besok hari," kata gadis itu.
Yuan meraihnya dan gadis itu berlalu pergi
Yuan mengeryitkan dahinya dan melihat botol kecil ditangannya.
" Apa ini penawarnya?" gumamnya
Mengingat apa yang dikatakan gadis itu, Yuan segera berlari keluar. Pejabat yang menunggunya diluar dilupakannya. Ia segera berlari dengan kencang menuju tempat kuda barunya, menaikinya dan segera pergi.
Pejabat yang berlari menyusulnya dibuat tekejut, karena melihat Yuan keluar dari kediamannya dengan kuda dan melaju berlawanan arah dengannya
Di lain tempat
" Kenapa kau membantunya?" tanya seorang lelaki berambut putih pada gadis yang memberi obat pada Yuan
Gadis itu tersenyum dan melihat ke langit yang begitu cerah,
" Untuk membayar hutangku pada ibunya. Sekarang ... sudah impas," kata gadis itu
Lelaki itu tersenyum dan berbalik. Gadis itu melihat sebentar ke arah lelaki itu dan kembali melayani banyak pasien
" Kau adalah Dewi Agung Teratai, karena itu, hatimu penuh belas kasihan. Hanya saja, apakah kau bisa kembali pada masa-masa jayamu? Semua tampak kacau. Kali ini, ujianmu menjadi Dewi Agung ... akan sangat berat. Aku harap kau dapat menanggungnya," lirih lelaki berambut putih
Gadis itu melayani beberapa pasiennya dengan senyum dan kesabaran. Ia mengobati luka dan membalutnya tanpa rasa jijik. Terkadang, ia akan mencampurkan darahnya pada obat yang ia beri
Istana Kerajaan Ming
Seluruh putri para bangsawan yang datang sudah di periksa. Tapi, tak satupun dari mereka memiliki tanda merah di bahu kirinya. Kaisar dengan murka menyuruh semuanya kembali
__ADS_1
Kasim Gu datang dan mendekati sang kaisar. Ia mendekatkan mulutnya di telinga kaisar
" Yang Mulia, ada seorang lagi yang belum datang, dia adalah putri Menteri Pertahanan Yin," bisik Kasim Gu