Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Otopsi


__ADS_3

Kediaman Keluarga Yin


Kurir itu melihat Mei Lan terpesona.


“Lan er! Apa yang kau katakan! Tidak! Kau tidak akan pergi kemanapun!” tegas Tuan Besar Yin dan membalikkan badan membelakangi putrinya dan si kurir


“Kau boleh pergi. Yin akan kesana membantu,” ucap Tuan Besar Yin dengan melirik ke arah kurir itu


“Baik, Tuan. Hamba permisi,” pamit kurir itu dan berbalik. Sejenak kurir itu berhenti dan kembali tertegun melihat Mei Lan


“Ekhem ... hem ...”


Deheman keras Tuan Besar Yin membuatnya tersadar dan menunduk memberi hormat pada putri sang atasan. Ia melangkah lebar dengan wajah memerah


“Ayah ... eh ... Mou Han gege dimana?” tanya Mei Lan ketika ia tak mendapati kakaknya itu


“Lan er, telah terjadi sesuatu dengan gegemu. Dia ...”


“Ayaah! Ayah ... katakan padaku. Apa benar Mou Han membunuh Yi Xuan?” serobot Yin yang baru saja masuk. Mei Lan terkejut mendengarnya


“Apa?! Apa yang terjadi ayah?” tanya Mei Lan


Tuan Besar Yin mendesah dan menyembunyikan tangannya di belakang badannya. Wajahnya mendongak dan memejamkan mata


“Ayah, cepat katakan!” seru Yin tak sabar


“Saat itu, setelah aku dan Mou Han keluar dari ruang kerja Kaisar, ada seorang kasim kecil datang mencegat kami. Ia memberikan kertas pada Mou Han, dan berkata kalau ada yang menitipkan surat itu untuk disampaikan padanya.


Mou Han terlihat gusar dan berpamitan padaku. Ia hanya bilang ia bisa mengatasinya sendiri. Saat ayah sampai di


gerbang, ada suara ribut soal penyusup di Istana Dingin. Ayah kesana dan beberapa prajurit sudah membekuk Mou Han.”


‘Apa ini firasat yang aku dapat tadi? Tapi ... kenapa aku merasa sesuatu yang besar akan terjadi yang lebih dari ini?’ batin Mei Lan


“Ayah, Mou Han tidak mungkin melakukannya,”


“Ayah, apa tabib sudah memeriksanya?” tanya Mei Lan. Tuan Besar Yin mengangguk


“Saat aku sampai disana, tabib sedang memeriksanya dan berkata Yi Xuan terkena racun dan menarik 4 buah jarum. Tak lama setelah Kaisar tiba, Yi Xuan sudah tiada,”


“Ayah, berapa jarak antara tempat terakhir ayah dan Mou Han berdiri hingga ayah sampai di pintu gerbang?” tanya Mei Lan


“Kira – kira hanya 10 fen (menit),”


“Lalu jarak antara tempat ayah dan Mou Han terakhir berdiri ke Istana Dingin?”

__ADS_1


“Ehm ... kira – kira hanya 5 hingga 7 fen,”


“Hmm ... Ayah, aku akan membantu menyelidikinya. Tapi ... ayah, bagaimana dengan Xue?”


Yin melihat ayahnya dan Mei Lan, “Kenapa dengan mereka?”


“Xue ... sudah bersiap menyerang perbatasan. Mereka sudah berkemah di seberang sungai Hexue,” jelas Tuan Besar Yin dan memijat pangkal hidungnya


“Ayah, aku akan kesana dan membantu pasukan,” jawab Yin


“Tidak, tunggu,” cegah Mei Lan


“Ayah, ijinkan aku ke perbatasan dengan Yin gege,”


“Tidak! Kau tidak boleh ke medan perang. Aku yang akan pergi sendiri,” tolak Yin


“Ge, apa kau lupa aku bukanlah Mei Lan yang dulu. Aku akan pergi. Tapi, tunggu aku. Aku akan membebaskan Mou Han gege,” ucap Mei Lan dengan wajah dan nada yang sangat serius


Tuan Besar Yin dan Yin saling memandang.


“Tapi ...”


“Ayah, percayalah padaku. Aku pergi sekarang,” pamit Mei Lan


Wuss ...


“Yin, katakan pada ayah ... Lan er ... dia ...”


“Ayah, Lan er saat ini sudah mencapai Tingkat Formasi Inti ( 2 langkah menuju Imortalitas),” jelas Yin dengan senyumnya


“A-apa kau bilang? Lalu ... lalu kenapa aku ...”


“Lan er sengaja melakukannya agar tak ada yang tahu tingkat kekuatannya. Karena itu, jangan kuatir, ayah. Lan er, dia ... bukan Lan er yang dulu,”


Tuan Besar Yin kembali duduk di kursinya dan memijat kepalanya. Yin saat pertama mengetahui level kultivasi adiknya pun sangat terkejut, sama halnya seperti ayahnya itu


“Tapi, Yin. Aku tetap tak bisa mengijinkan adikmu pergi,” ucap Tuan Besar Yin kemudian sambil menatap anak sulungnya


Yin mengangguk. Ia pun tak mau adiknya ikut berperang


“Ayah, ijinkan aku berangkat. Aku ...”


“Aku juga akan pergi denganmu. Kita berangkat sekarang, sebelum adikmu tiba. Adikmu pernah bilang padaku, ia tak tahu arah, jadi ... dia tak kan bisa menemukan kita,” kata Tuan Besar Yin. Yin mengangguk


Bayangan putih yang mengikuti Tuan Besar Yin menitikkan air mata. Ia ingin mengatakan untuk tak pergi, tapi ia tak bisa. Dimensi mereka sudah dibatasi.

__ADS_1


Sekuat apapun ia berteriak, Tuan Besar Yin tak kan bisa mendengarnya. Ia juga tak mungkin muncul di hadapannya dengan wujud Dewi. Jika ia melanggar, tubuhnya akan hancur menjadi abu dan tak bisa kembali


Istana Ming


Mei Lan sudah tiba di depan Istana. Ia menggunakan Qigongnya dan melompati benteng dan menyusup. Ia mencari arah klinik kerajaan, tempat Pangeran Yi Xuan disemayamkan untuk di otopsi.


Mei Lan menotok seorang pelayan dan menggunakan sihirnya, ia meminta sang pelayan mengantarnya ke klinik kerajaan.


Selesai mengganti bajunya dengan baju pelayan dan memakai make up untuk menyamarkan wajah aslinya, ia dan pelayan itu berjalan menuju klinik kerajaan


“Ada penjaga. Aku harus membuat mereka semua tertidur,”


Mei Lan mengebaskan tangannya ke arah luar, dan seketika semua yang ada di klinik kerajaan tertidur


“Aman,”


Mei Lan melihat kesana kemari mencari mayat Yi Xuan. Karena seorang Pangeran, maka tempatnya disemayamkan pun sangat berbeda dengan yang lain dan membuat Mei Lan dengan mudah mengenalinya


“Itu dia!”


Mei Lan menghampiri tubuh Yi Xuan yang membiru. Ia meneliti setiap jengkal kulit pangeran ke empat


itu.


“Hmm ... tubuhmu sebenarnya luar biasa. Sayang ... kau hanya mayat sekarang. Huft ...”


Tuk ... tuk ...


Mei Lan dengan telunjuknya menyentuh roti sobek yang terpampang di depannya.


“Haish ... dasar bodoh. Ini mayat ... haih ...” gumamnya dan memukul kepalanya sendiri. Netranya menangkap 2 tusukan


“Hmm ... ini memang tusukan jarum.” Mei Lan mengeluarkan sebuah pisau tajam dari tangannya dan mulai membedah.


"Dari lambungnya dia ... bukan seperti mati kurang dari 30 menit yang lalu,"


Mei Lan kembali melanjutkan otopsinya


“Ah, aku tak bisa mengukur suhu hati. Suhu tubuh juga tidak bisa, karena mereka sudah memindahkannya kesini. Haih ... aku harus melihat matanya,”


Mei Lan mulai memeriksa mata Yi Xuan. Ia melihat ke sekeliling. Cahaya tak begitu terang.


“Auff ... zaman kuno sangat menyulitkanku. Tak ada senter tak ada alat patologi ... huft ...”


Mei Lan mengeluarkan api dengan jarinya dan menyalakan lilin yang tergantung disana dan menariknya mendekat ke arahnya

__ADS_1


“Hmm ... korneanya sudah kabur. Berarti dia sudah mati 2 jam yang lalu. Gege tidak membunuhnya,” ucap Mei lan


__ADS_2