
Dunia Fana
Kerajaan Ming
Putri Wen di semayamkan di sisi Permaisuri. Kaisar masih tak beranjak dari tempatnya bersujud. Ibu Suri hanya datang sesekali dengan alasan ia tak sehat.
Xia Ling dengan pakaian berkabung pun datang. Dengan wajah berpoles sedikit make up, ia duduk bersujud di bagian belakang barisan para pangeran dan istri-istrinya.
Semua memandang aneh padanya. Kasim Gu mengeraskan rahangnya dan segera melaporkannya kepada Kaisar. Begitu Kaisar mendengar nama Xia Ling, wajah Kaisar yang tadinya hanya diselimuti duka berubah merah.
“ YANG BUKAN ANGGOTA KELUARGA KERAJAAN DAN PEJABAT KERAJAAN, DILARANG BERADA DI TEMPAT SUCI INI!” seru Kaisar dengan suara beratnya yang menggelegar di seluruh Aula Keluarga Kerajaan
Semua melihat ke arah Xia Ling. Ada yang melihatnya dengan simpati karena melihat air mata Xia Ling yang menitik. Namun, ada pula yang tersenyum senang
‘ Dasar bedebah kau Kaisar! Awas, akan kubalas nanti!’ geram Xia Ling dalam hatinya, namun tetap menampakkan wajah sedih.
Perlahan Xia Ling berdiri, membungkuk hormat dan berbalik, hendak berjalan kembali ke kediamannya
“ Siapa yang menyuruhmu kembali ke kediamanmu?!” sergah Kasim gu
Langkah Xia Ling terhenti. Ia segera berbalik dengan ekspresi tak mengerti. Ia melihat ke arah semua orang, berusaha mencari petunjuk
“ Kau bukan anggota keluarga Kerajaan, tapi kau juga hamba Kerajaan. Jadi, kau harus tetap disini,” titah Kasim Gu atas perintah Kaisar dengan mata mengarah pada kumpulan pelayan atau dayang-dayang Istana.
Xia Ling menatap tajam Kasim Gu, yang dibalas pula dengan tatapan tak kalah tajam dari Kasim 60 tahun itu. Xia Ling menoleh ke sampingnya, dimana Ibu suri duduk, untuk meminta bantuan. Tapi, Ibu Suri hanya menunduk sambil memegang Badi ( baca: bədí, yaituTasbih Budha)
Xia Ling menipiskan bibirnya dan melangkah menuju barisan dayang Istana, dan berlutut. Kasim Gu tersenyum puas dan kembali bersujud di sisi Kaisar
“ Yang Mulia, waktu yang tepat untuk mengubur kedua jenazah adalah saat Chu Zu ( jam 7-8 malam)” ucap seorang Biksu Agung yang memimpin jalannya upacara doa
“ Putra dan Putriku belum datang. Bisakah menundanya?” pinta Kaisar dengan wajah memelas
“ Maaf, Yang Mulia. Itu adalah waktu terbaik baik Permaisuri dan Puteri Wen untuk menyeberang,” jawab Biksu Agung
Kaisar mendesah dan menunduk lemah. Dengan mengangkat tangan dan mengibas tangannya ke belakang, Kaisar mengisyaratkan untuk melakukan seperti yang dikatakan Biksu Agung
Di Tempat Lain
Yuan yang mendapat pertolongan seorang Biksu, terbaring lemah di atas tempat tidur dari bambu.
Seorang laki-laki dengan hanfu putih polos dan sangat sederhana serta berkepala botak alias tanpa rambut, berdiri membelakangi Yuan dan melihat ke langit yang tampak cerah. Satu tangannya ia letakkan di depan perutnya dan satu lagi di belakang tubuhnya
Yuan menatap lemah lelaki itu. Penglihatannya masih buram. Beberapa kali Yuan memejamkan matanya dengan erat, agar dapat melihat dengan jelas.
“ Jangan memaksakan diri. Kau masih lemah,” kata lelaki didepannya itu tiba-tiba
__ADS_1
“ Tu-tuan ... ak-aku ...” dengan lemah yuan berusaha keras untuk berkata-kata
“ Aku tahu, “
kata orang itu sambil membalikkan badannya,” Amitabha, tapi ... kau sudah terlambat. Sekarang, makanlah dulu dan beristirahat,” lanjut Biksu itu
“ Ter ... lam ... bat?” ulang Yuan
“ Iya. Istrimu ... sudah meninggal ... namo amitabha,”
Yuan memejamkan matanya dan mendesah, “ Sepertinya ... aku tidak ... dapat mencegah ... perang ini, ya?” ucapnya lirih
Biksu itu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan
“ Amitabha, perang ini memang akan terjadi. Tapi, bukan karena kematian istrimu, Putera Mahkota,”
Yuan menatap terkejut biksu muda di depannya. Biksu itu menatapnya tanpa ekspresi, lalu berbalik
“ Tunggu! A ... pa ... maksud ... mu?” tanya Yuan
Tanpa melihat ke arah Yuan, Biksu itu menjawab,
“ Semua sudah ditakdirkan terjadi. Tak ada yang dapat menghindarinya. Jika kau melawan takdir maka, engkau akan menemui kesusahanmu sendiri dan masuk ke jalan setan. Amitabha,”
Setelah mengatakan itu, Biksu itu segera keluar dari kamar Yuan dan akan menuju hutan bambu. Sampai di halaman rumah, langkahnya berhenti dan kembali berbalik melihat ke arah rumah bambu
Yuan terus berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dan mengambil posisi lotus. Ia memperbaiki sirkulasi darahnya dan berusaha menyerap Qi dari alam. Dalam waktu setengah hari, keadaan Yuan sudah kembali pulih.
Ia segera bersiap untuk kembali ke Istana dan menunggu si Biksu. Tapi, setelah hampir setengah jam ia menunggu, orang yang ia tunggu tak kunjung kembali. Akhirnya, ia memutuskan untuk berangkat
Sosok dari balik bambu melihatnya pergi, “ Semoga kau mengambil keputusan yang benar,” ucap sosok itu dan menghilang
Kembali ke Istana Ming
Rombongan Kerajaan Wen sudah datang. Kaisar Wen Siang dan Permaisuri Zhu Zhiang disambut oleh para Pangeran dan Kasim Gu
Kasim Gu dan para pangeran segera membungkuk dan membuat gestur Gongshou
(Gongshou)
“ Yang Mulia, mohon maafkan hamba. Yang Mulia Kaisar Tan Yuan, tidak dapat menyambut Yang Mulia berdua karena ... beliau ...” Kasim Gu ragu untuk berbicara
Kaisar Wen memicingkan matanya melihat Kasim Gu, lalu menoleh dan saling memandang dengan Permaisurinya beberapa saat
“ Antar kami ke sana,” titah Kaisar Wen kemudian
__ADS_1
“ Baik, Yang Mulia,” ucap Kasim Wen. Dengan posisi masih membungkuk, Kasim Wen memberi jalan kepada Kaisar dan Permaisuri Kerajaan Wen.
Setelah keduanya berjalan, Kasim pun berlari dan berjalan disisinya dan menunjuk jalan menyusuri koridor Istana yang terdapat banyak daun berguguran.
Tak berapa lama mereka pun sampai di Aula Keluarga Kerajaan. Terlihat disana, 2 peti terpajang. Dengan banyak orang berlutut di depan dan sisi-sisi peti.
Yang menarik perhatian Permaisuri Zhu adalah seseorang yang berlutut di depan peti Permaisuri. Keduanya berjalan mendekat dengan perlahan, diikuti 3 selir Kerajaan Wen, terutama Selir Rong, yang adalah ibu Putri Wen beserta 7 pangeran dan 3 putri Kerajaan Wen.
Beberapa putri Kaisar Tan Yuan berbinar saat melihat 7 pangeran Kerajaan Wen. Namun, tak satupun dari mereka yang memberi perhatian ke arah para putri Kaisar Tan Yuan. Mata mereka hanya tertuju pada peti mati di depan mereka
Kaisar Wen mendesah saat ia melihat kondisi Kaisar Tan Yuan dari dekat. Ia melihat ke arah Permaisurinya, lalu berjalan perlahan menuju peti mati Putri Wen, dengan cara memutari mereka yang sedang berlutut untuk berkabung
Sekilas info tentang Kaisar Wen dan Permaisurinya
Kaisar Wen adalah seorang Kaisar yang sangat bijaksana dan adil. Ia seorang Kaisar yang tak pernah memandang bulu.
Berbeda dengan Kaisar terdahulu, yaitu kakak kandungnya, Wen Xi Lang, ayah kandung dari Pangeran Mahkota Jian Ying, yang adalah seorang Kaisar yang memerintah dengan tangan besi, hingga membuat rakyatnya menderita
Kaisar Wen di dapuk sebagai Kaisar di negeri yang terkenal dengan keindahan alam dan kesuburan tanahnya itu, setelah Kaisar terdahulu meninggal karena penyakit hati yang dideritanya sejak kecil dan meninggalkan Putra Mahkota Wen Jian Ying yang masih berumur 5 tahun
Agar tidak terjadi kesalahpahaman, Kaisar Wen tak mengganti posisi Putera Mahkota dan tetap di pegang Wen Jian Ying
*Back to story
Kaisar menoleh dan melihat ke arah selirnya, Selir Rong, dan menganggukkan kepalanya. Selir Rong melihat ke arah Permaisuri, dan Permaisuri pun mengangguk.
Mendapat persetujuan dari keduanya, Selir Rong segera maju dan perlahan mendekati peti mati putrinya.
“ Jia eeerrr!” pekiknya, ketika ia melihat kondisi putrinya di dalam peti mati
***
Crazy Up 3
Yuhuuuu ... mana nih Like & Vote nya?
🧐🧐🤔🤔🤔
__ADS_1