
Semua pelayan kediaman Selir Xia, merasa heran dengan perubahan junjungannya. Sejak ia kembali dari luar, Selir Xia menjadi begitu ramah.
Bahkan, saat ada seorang pelayan yang tanpa sengaja menjatuhkan vas, ia tidak menghukumnya dan hanya menyuruhnya membersihkan saja
" Ada apa dengan Selir Xia. Bukannya sebelum dia keluar, wajahnya seperti ingin memakan orang?" bisik seorang pelayan sambil berjalan membawa nampan berisi makanan
" Iya, ada apa, ya?" tanya seorang lagi
Pembicaraan keduanya tak luput dari pengamatan Bai Yan, yang sengaja Yuan tinggalkan untuk menjaga ibunya, Permaisuri Fan
" Xia Ling berubah?" gumamnya, " Baiklah, aku akan lihat nanti malam,"
Bai Yan segera kembali ke kediaman Permaisuri Fan. Dimana, saat ini sang Permaisuri sedang berbincang dengan putrinya, Putri Tan Yuan Fei
" Fei er, apa giokmu sudah kau temukan?" tanya Permaisuri
Dengan bibir mengerucut, Fei er menggeleng. Wajahnya muram. Giok itu adalah pemberian sahabatnya, yang meninggal beberapa tahun lalu
" Sudahlah, jangan bersedih. Mungkin jodoh kalian sampai disitu saja," hibur Permaisuri
" Ibunda! Aku hanya mau Giok itu!" protes Fei er
Permaisuri menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang putri yang kekanak-kanakkan
" Sudahlah, Nak. Ayahmu sudah menjodohkan Yuan Ning dengan putra tertua keluarga Yin. Bagaimana denganmu? Apa ada yang menarik hatimu?" tanya lembut permaisuri
Fei er mendesah dan menggeleng. Benar, tak ada yang menarik hatinya untuk saat ini. Permaisuri menatap cemas putrinya. Ia bertanya-tanya, apakah semua karena permintaannya untuk tak menikah dengan keluarga Kerajaan atau bangsawan
Pemaisuri meraih tangan putrinya. Dengan lembut ia mengusap tangan halus sang putri,
" Fei er, apa semua karena permintaan Ibunda?" tanya Permaisuri
Fei er menaikkan alisnya dan tersenyum. Tangannya membalas usapan lembut Ibunya
" Ibunda, bukan karena itu. Hanya saja, Fei er masih belum memikirkan hal itu. Fei er masih 14 tahun. Fei er belum ingi menikah," jawab Fei er dengan mata yang menatap lekat pada Ibundanya
Senyum tipis ditunjukkan Permaisuri. Ia mendesah. Tangannya meraih kue di atas meja dan menyuapkannya pada putrinya. Ia pun mengambil kue itu dan memakannya
Setelah beberapa saat, pandangan keduanya menjadi kabur. Dada terasa sesak. Keduanya saling menatap dan berpegangan tangan
" Fei ... er,"
" I ... bun .."
Brukk ...
" Yang Muliaaa!!" seru para pelayan dan kasim
Bai Yan yang mendengar ribut-ribut di dalam kediaman Permaisuri, segera berlari masuk.
Matanya membulat. 2 orang yang harusnya ia jaga, terbaring di lantai dengan bibir membiru. Segera dihampirinya tubuh Permaisuri dan Putri Fei, dan mengecek nafas mereka juga tangan keduanya
__ADS_1
" Racun Bunga Matahari?" gumamnya
Tak ... tak ... tak ...
Suara orang berlari kian mendekat. Bai Yan segera berbalik dan menunduk hormat
" Yang Mulia Kaisar!"
Kaisar menatap tak percaya apa yang di depannya. Badannya terasa lemas dan hampir terjatuh. Untunglah ada Kasim Gu di belakangnya yang sigap menahan berat tubuhnya
" Si-siapa yang melakukan ini ... siapa ... SIAPAAAA!!!" teriaknya frustasi. Air mata mengalir deras di pipinya.
Seorang tabib segera masuk dan segera memberi hormat pada Kaisar. Karena tak mampu menjawab, Kasim Gu yang memberinya isyarat dengan kepalanya
" Baik, Kasim," jawabnya
Tabib itu segera mendekat dan memeriksa tubuh keduanya. Tabib tampak terkejut.
" Cepat pindahkan tubuh Tuan Putri ke atas ranjang," pinta tabib pada para pelayan. Para pelayan segera memindahkannya.
Tabib itu segera ia berbalik dan membungkuk
" Yang Mulia, ini adalah Racun Bunga Matahari,"
" Bagaimana keadaan Permaisuri dan Tuan Putri?" tanya Kasim Gu
" Tuan Putri kritis. Sedang, Permaisuri ... sudah meninggal, Yang Mulia," jawab tabib itu dan kembali membungkuk
Tubuh Kaisar jatuh begitu saja. Kasim Gu tak sanggup menahannya, karena tubuh Kaisar yang jauh lebih besar darinya.
Beberapa prajurit segera membantu mengangkat tubuh Kaisar, dan membawanya kembali ke kamarnya
Kasim Gu segera memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan persemayaman Permaisuri di Aula Keluarga Kerajaan
Para tabib di klinik Kerajaan membuat berbagai ramuan, untuk menyelamatkan Putri Fei er
Di Jalanan
Yuan merasa perjalanannya sangat lambat. Akhirnya, ia menggunakan Qigong dan meninggalkan kudanya di sebuah hutan, dan melepaskannya
" Aku harus segera sampai. Aku tak mau mereka menggunakan ini untuk memulai perang. Aku belum cukup kuat. Aku harus bisa menahan perang ini dulu," gumamnya
Dengan seluruh kekuatannya, ia berlari dengan sangat cepat. Melompat dari satu pohon ke pohon lain
Malam pun tak menyurutkan niatnya untuk segera sampai di Istana.
Brukk
Aaaa ...
Tubuh Yuan terjatuh. Ia sudah sangat lelah. Tenaga dalamnya terlalu banyak terkuras
__ADS_1
" Tidak, tidak ... aku harus segera sampai," gumamnya, sebelum matanya tertutup, tak sadarkan diri
" Amitabha,"
Seorang biksu tiba-tiba muncul di dekat Yuan. Kepalanya menggeleng lalu segera membungkuk dan menggendong tubuh lemah Yuan
Kediaman Menteri Pertahanan Yin
Tuan Besar Yin meremas surat dari Kaisar dan melemparkannya. Ia begitu geram dengan paksaan sang Kaisar, untuk segera membawa putrinya ke Istana
Belum selesai dengan kegeramannya atas sikap Kaisar, sebuah ketukan kembali didengarnya
Tok ... Tok ...
" SIAPA?!!" serunya dengan bentakan
" Tuan Besar! Ini hamba Li San (pelayan keluarga Yin)"
Tuan Besar Yin melangkah lebar dan membuka pintunya dengan kasar. Wajahnya sangat menyeramkan, bila sedang marah
" Ada apa?!" bentaknya lagi
" Tu-tuan Besar sebaiknya segera ke Istana. Per-permaisuri meninggal," jawab pelayan itu dengan takut
Alis Tuan Besar Yin bertaut,
" Permaisuri meninggal?"
" Be-benar, Tuan Besar. Bendera putih sudah dikibarkan di Istana,"
" Hmm ... pergilah,"
Pelayan itu menunduk dan segera pergi. Tuan Besar Yin menautkan alisnya dan tampak berpikir
" Permaisuri meninggal? Sungguh aneh. Ada apa ini sebenarnya. Jadi, bukan Putri Wen yang terkena racun? Tapi ... Permaisuri?" gumam Tuan Besar Yin
" Sebaiknya aku segera ke Istana,"
Tuan Besar Yin segera menuju kamarnya dan mengganti hanfunya dengan pakaian putih, tanda berkabung. Ia juga mengenakan Futou (topi) yang berkilau dari bahan putih.
Istana Kerajaan Ming
Ibu Suri dan para selir Kaisar serta para istri pangeran sudah memakai pakaian berkabung warna putih yang biasa disebut Hoo Lam. Beberapa dari mereka tampak menangis. Entah air mata yang keluar itu adalah air mata buaya atau bukan, hanya mereka dan author sendiri yang tahu.
Kaisar pun sudah terbangun dari pingsannya, dan berlari kencang tanpa alas kaki dan baju kebesarannya menuju Aula Keluarga Kerajaan.
Ia berlutut di depan peti mati Permaisuri dengan tatapan kosong. Tak ada satupun yang dapat menghiburnya. Bahkan, putri kesayangannya, Yuan Ning, tak mampu membuatnya berdiri dan menyuruhnya untuk mengisi perut
Tuan Puteri Yuan Fei juga masih koma. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Tapi nadi dan nafasnya masih ada.
Beberapa saudara tirinya, datang mengunjunginya dan melihat bagaimana kedaan Fei er saat ini
__ADS_1
" Ck ... kenapa dia tak mati saja?" kata Putri Yuan Li (adik pangeran keempat selir kehormatan Ning)
" Iya, dia sangat beruntung," timpal seorang wanita dengan riasan tebal, yang tak lain adalah Putri Yuan Shi (adik pangeran ketiga, putri selir umum Xi)