
Mei Lan mengantar kepergian Ayahnya ke Istana untuk membatalkan pernikahannya. Senyum cerah Mei Lan, putrinya, menjadi bekal penghangat Tuan Besar Yin
" Nak, ayo masuk," ajak Selir Hong
" Iya, Bu," Mei Lan berjalan sambil bergelayut manja pada lengan Selir Hong.
Yin dan Mou Han tersenyum melihatnya. Sampai di taman, mereka duduk dan mulai menikmati sajian camilan dan teh yang disediakan pelayan
" Ehm ... Ge. Aku mau tanya. Apa ... disini ada yang namanya Hutan Kegelapan?" tanya Mei Lan ragu
Ketiga orang itu mengeryit tak mengerti
" Hutan kegelapan? Hutan apa itu?" tanya Yin dan diangguki Mou Han
" Itu tempat hewan mistik yang akan menjalin kontrak darah dengan manusia," kata Mei Lan
Yin dan Mou Han menggeleng tak mengerti. Mei Lan memiringkan kepalanya kebingungan
' Kenapa tidak seperti di novel-novel yang aku baca, ya?' batin Mei Lan
" Adik, Adik!" panggil Yin, " Kau kenapa?"
" Ehm, kak. Aku ingin belajar kultivasi. Dimana belajarnya?"
Yin dan Mou Han membelalak. Ekspresi Selir Hong pun berubah sedih
" Nak, untuk belajar kultivasi itu sangat lama. Lagipula, dasar kungfumu juga tak sekuat kedua Gegemu," ucap Selir Hong lembut
" Tapi, aku bisa, Ibu. Sungguh," keukeuh Mei Lan
" Adik, kalau kau ingin belajar, bisa. Hanya kau harus melalui banyak ujian. Aku tak yakin kau bisa melaluinya," ucap Yin khawatir
" Kak, aku mau jadi kuat. Jadi, ijinkan aku, ya?" ucap Mei Lan
Mou Han dan Yin juga Selir Hong saling berpandangan
" Kalaupun kuijinkan, kau harus tetap bertanya pada Ayah," kata Mou Han
" Aku tahu, nanti aku akan berbicara dengannya," ucap Mei Lan
Mei Lan dengan gembira menikmati kue-kue yang ada. Selir Hong dan lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Biasanya Mei Lan tak suka makan kue manis, karena takut gemuk. Tapi, karena memang Melia bukanlah Mei Lan, karenanya sifat mereka berdua sangat berbeda
" Ah, Ge ... kenapa tadi Ayah bilang kalau Gege ada adik bernama Yin Mou Yun? siapa dia?" tanya Mei Lan
Yin menghembuskan nafasnya kasar. Ia memang harus bercerita.
" Dia ... adik keduaku. Kakak dari Mou Han. Yun er juga satu Ibu dengan kita. Dia adalah sahabat Putra Mahkota. Karena mereka sangat dekat, saat Putra Mahkota diutus untuk bertempur melawan Kerajaan Xun di barat, Yun er juga memaksa ikut.
__ADS_1
Saat itu, pertempuran sangat sengit. Dua kubu sudah mulai lelah. Putra Mahkota melepaskan tameng karena ia kelelahan. Tapi di saat itu, tombak musuh melesat ke arahnya. Yun er melihatnya dan ... karena ia pun lelah dan tak bisa berteriak juga tenaga dalampun sudah lemah, akhirnya ... Yun er menggunakan tubuhnya untuk melindungi Putra Mahkota." jelas Yin lalu meminum tehnya. Mou Han mengusap bahunya dan Selir Hong mengusap tangannya. Yin mengangguk dan tersenyum tipis
" Kenapa kakak bodoh sekali? menyerahkan hidupnya pada orang brengsek itu?" oceh Mei Lan
" Dulu ... Putra Mahkota sangat jauh berbeda dengan sekarang. Dulu dia sangat tenang dan baik. Ia juga ramah pada siapa saja. Tapi sejak kematian Yun er dan Kematian Permaisuri Zhao, ia berubah drastis," kenang Yin
Mei Lan menatap kedua kakaknya dengan senyum kecil dan kembali merapatkan tubuhnya pada Selir Hong. Tangannya pun memegang manja tangan Selir Hong. Tapi tiba-tiba Mei Lan terduduk tegak dan menarik pergelangan tangan Selir Hong. Matanya membulat dan menahan nafas
Selir Hong dan kedua lelaki itu saling menatap dan mengeryitkan alis
" Ada apa?" tanya Mou Han
" Ibu Selir, katakan padaku apa kau sering merasa pusing tiba-tiba, mual dan kadang berhalusinasi?" tanya Mei Lan
Selir Hong menoleh melihat Yin dan Mou Han. Mulutnya terbuka namun tak mengatakan apapun
" Katakan, Ibu. Apa benar?" tanya Mei Lan lagi
" I-iya. Tapi kenapa? itu hanya karena ibu capek sa ..."
" Ibu! ibu ini kena racun!" seru Mei Lan
Semua terkejut dan menatap Mei Lan
" Adik, kau jangan bercanda!" seru Mou Han
" Ge, untuk apa aku bercanda?" ucap Mei Lan," Ibu, katakan padaku. Apa Ibu kalau malam selalu berkeringat walaupun udara dingin? dan tangan Ibu bergetar?"
" Dari-dari mana kau tahu, Nak?"
" Ibu, denyut jantung ibu tak beraturan, mata Ibu juga sedikit menguning bahkan kuku Ibu juga mulai sedikit kebiru-biruan. Ini semua adalah tanda keracunan Bisa Ular Salju," ucap Mei Lan
" Apa?!"
" Racun ini tidak berbau dan berasa, ibu tidak akan menyadarinya, tapi racun ini secara perlahan menggerogoti organ dalam Ibu," jelas Mei Lan
” Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yin
" Ge, apa kau bisa mengantarku mencari bunga Adulam? itu adalah cara untuk menahan racunnya. Tapi ...."
" Tapi apa?" tanya Mou Han dengan mata mulai memerah menahan tangis.
" Racun ini ... tak ada penawarnya," ucap Mei Lan.
Air mata Selir Hong lolos begitu saja. Mou Han pun lemas tak berdaya
" Mou Han, tak apa yang penting kita bisa menahan bisanya agar tak menyebar lagi," kata Yin
__ADS_1
Lelaki itu segera memposisikan diri di belakang Selir Hong
" Yin er, apa yang kau lakukan, Nak?" seru Selir Hong dan berbalik melihat Yin
" Aku tak akan mengijinkan siapapun menyakiti keluargaku dan membuatnya senang karena berhasil," kata Yin dengan gigi terkatup lalu membalikkan tubuh Selir Hong agar membelakanginya
Mou Han mengajak Mei Lan sedikit menjauh.
Yin mengumpulkan kekuatan tenaga dalamnya. Ia merentangkan kedua tangannya, melipat 2 jari dibagian tengah dan membentuk seperti kode metal. Sinar berwarna putih mulai keluar dan Yin mengarahkannya pada tubuh Selir Hong
Keringat bermunculan di dahi Yin, tapi ia terus menyalurkan tenaga dalamnya pada tubuh Selir Hong.
" Siapa yang berani sekali meracuni ibuku?" geram Mou Han
" Aku yakin pelakunya orang dekat. Karena, untuk mendapat efek seperti saat ini, ia harus melakukannya setiap hari," jelas Mei Lan
" Aku harus mencari orang itu,"
" Lebih baik, kita segera mencari bunga Adulam. Untuk pelakunya kita urus nanti," kata Mei Lan.
Mei Lan sesekali menoleh pada Mou Han. Ia ingin berterus terang soal racun itu
" Ada apa?" tanya Mou Han melihat kegelisahan di wajah Mei Lan
" Ge ... Bunga Adulam hanya akan menahan racunnya agar tak merusak organ tubuh. Melihat dari kondisi Ibu ... Ginjal dan usus ibu tak akan berfungsi lagi dalam ... 2 bulan lagi," jelas Mei Lan
Mou Han sangat syok mendengar penjelasan Mei Lan. Tubuhnya limbung. Mei Lan dengan susah payah membantunya berdiri.
" Tidak ... tidak ... katakan, apa tidak ada cara lain?" rengek Mou Han dan menatap sendu Mei Lan
" A-ada, Tapi ..."
' Alat Hemodialisis. Tapi itu di duniaku. Tidak bisa diambil,' batin Mei Lan
" Apa itu?" tanya Yin yang tiba-tiba sudah berdiri di sisi mereka
" Itu ... tapi ... tidak ada di sini," kata Mei Lan sambil menunduk
' Pasti alat dari masa depan,' batin Yin
" Seperti apa rupanya?" tanya Yin
" Ahh ... walau aku menggambarnya, Gege tidak akan menemukannya disini," jawab Mei Lan sambil mengigit jarinya
" Aku tak peduli seberapa jauh, asal aku bisa membawanya kesini, akan kulakukan," kata Mou Han dengan mata penuh harap
" Akhh ... masalah alat itu harus pakai listrik, sedang disini tidak listrik," cerocos Mei Lan tanpa sadar
__ADS_1
" Listrik? apa itu?"
" Oopps ... eh ... itu ..."