
“ Pak Tua ... ini, makanlah. Setelah itu, saya akan merebuskan obat Anda,” kata Liang Hua dengan senyumnya. Lelaki tua itu mengangguk dan memakan makanannya.
Selama melahap makanannya, lelaki tua itu terus menatap perut Liang hua dan membuat Liang Hua tak nyaman, bahkan Yin Mou Chou hampir kehilangan kesabarannya
“ Nak, ingatlah, bahwa nanti kau akan mengandung seorang bayi perempuan. Dia ditakdirkan untuk menjadi penolong Kerajaan ini. Saat ia berusia 16 tahun, ia akan digantikan dengan tubuh lain dan menjadi murid Perguruan Bai Yun. Saat itu terjadi, ingatlah. Kau jangan mencegahnya. Jika tidak, maka malapetaka tidak akan bisa dihindarkan dari Kerajaan ini terutama atas keluarga kalian,” ucap lelaki tua.
Liang Hua dan Yin Mou Chou saling bertatapan tak mengerti. Karena, saat ini Liang Hua tidak hamil.
“ Tapi, saya tidak mengandung, Pak Tua,” kata Liang Hua. Lelaki tua itu tersenyum
“ 4 tahun lagi, kau akan mengandung anak perempuan. Dan dialah yang ditakdirkan itu,” kata lelaki tua itu. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki tua itu menghilang.
Flashback Off
“ Seorang lelaki tua berkata bahwa itu sudah takdir Mei Lan untuk menjadi murid Perguruan Bai Yun,” kata Tuan Besar Yin lalu segera berdiri dan berlalu dari sana. Ia sangat sedih karena harus berpisah kembali dengan putrinya. Putrinya dengan wanita yang sangat ia cintai.
Dewi Yue Liang yang secara diam-diam selalu berada di sisi Tuan Besar Yin, mendekati lelaki itu dan memeluknya.
“ Suamiku, tenanglah, aku akan menjaga putri kita dengan baik. Dia memang adalah reinkarnasi putri kita, Mei Lan. Tapi, ia tetap putriku, karena darah yang mengalir di tubuhnya, juga adalah darahku,” ucap Dewi Yue Liang. Namu, tentu saja semuanya tak disadari Tuan Besar Yin
“ Liang er ... apa aku sanggup berpisah dengan putri kita? Aku sudah kehilangan Yun er, aku tak mau kehilangan seorang anak lagi. Anak kita ... huhuhu ...” tangis Tuan Besar Yin diatas bantal kotaknya.
Dewi Yue Liang pun menitikkan air matanya. Ingin rasanya ia membuat dirinya nampak di depan suaminya, tapi jika ia melakukannya, Kaisar Langit akan menghukumnya dan tubuh abadinya akan hancur.
“ Mou Chou, betapa besar cintamu padaku. Akupun sangat mencintaimu. Tapi, kita berbeda alam. Percayalah, walaupun kau tak bisa melihatku, aku akan selalu bersamamu dan Anak-anak kita. Yun er pergi, karena dia adalah titisan Dewa Awan yang dihukum dan ditakdirkan menjadi anak kita di dunia. Aku tak bisa mengatakan semua kepadamu, maafkan aku ... maafkan aku,” ucap Dewi Yue Liang lalu menghilang
Istana Langit
Dewi Yue Liang segera menuju ke kediaman Dewa Awan, Shen Yun. Ia harus bertemu dengan lelaki itu. Sampai di depan Kediaman Dewa Awan, Dewi Yue Liang bertemu pelayan setianya, Bao Qu.
“ Dewi Yue Liang,” hormat Bao Qu dengan membungkuk dan menyatukan kedua tangannya di depan
__ADS_1
“ Hmm ... apa Shen Yun ada?” tanya Dewi Yue ramah
“ Dewa Awan sedang menjalankan tugasnya di sebelah timur, Dewi,” ucap Bao Qu dengan menunduk hormat
“ Baiklah, terima kasih,” kata Dewi Yue Ling lalu menghilang
Dewa Awan sedang merapal mantera ketika ia merasakan kehadiran seseorang di belakanganya.
“ Dewi Yue Liang,” sapanya dan memberi hormat
“ Hmm ... apa aku mengganggumu?” tanya Dewi Yue
“ Tidak, Dewi. Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?’ tanya Dewa Yun
“ Shen Yun ... Yin Mou Chou masih bersedih karena kepergianmu. Aku tak bisa bertemu dan muncul dihadapannya, karena tugasku didunia sudah selesai. Tapi, berbeda denganmu. Bisakah kau menemuinya dan menghiburnya?” pinta Dewi Yue dengan wajah sendu
Dewa Yun menghela nafas. Ia memang sangat bersyukur dilahirkan sebagai Putra keluarga Yin yang sangat baik dan menyayanginya, sehingga ia bisa merasakan bagaimana menjadi seorang Anak. Tapi, ia tak bisa bertemu manusia biasa begitu saja. Aturan Kerajaan Langit sangatlah ketat.
“ Tapi, Dewi ...”
“ Baiklah, Dewi. Hamba akan menemui beliau. Tapi, hamba hanya akan memakai wujud arwah, karena biar bagaimanapun, sangat tidak mungkin hamba muncul sebagai Dewa atau sebagai Yin Mou Yun,” ucap Dewa Yun
“ Aku tahu. Terima kasih,” ucap Dewi Yue Liang dengan tersenyum dan menghilang dari sana. Dewa Awan menghela nafasnya,
" Dewi ... kau masih belum bisa melepas kehidupanmu di dunia. Kau tahu kalau itu hanyalah ujian kesengsaraan untukmu agar bisa naik menjadi Dewi, kenapa kau masih saja tak melupakan semuanya," lirih Dewa Awan dan menggelengkan kepalanya.
Dewa Awan memejamkan mata dan mulai merapal manteranya untuk menebarkan awan di pesisir pantai sebelah timur.
Kediaman Keluarga Yin
Mei Lan sudah mempersiapkan semua kebutuhannya, pelayannya Lian er dan Quan er bersedih karena Nona mereka akan pergi lama.
__ADS_1
“ Nona, ijinkan kami ikut, ya?” rengek Lian er.
“ Iya, Nona. Kami mohon,” ucap Quan er dengan isakannya
Mei Lan berhenti membungkus pakaiannya dan berbalik melihat kedua pelayannya yang sedang menangis. Mei Lan mendekati mereka dan memeluk keduanya. Tangis keduanya semakin pecah.
Selama 7 tahun mereka menjadi pelayan, baru di Kediaman Keluarga Yin, terutama menjadi pelayan Mei Lan, keduanya diperlakukan seperti keluarga sendiri.
“ Nonaaa .... aaaa...” tangis Lian er yang msih berusia 14 tahun. Mei Lan menepuk punggung kedua pelayannya dan menenangkan mereka. Setelah beberapa lama berpelukan, Mei Lan melepas pelukannya dan menghapus air mata mereka sambil tersenyum
“ Lian er, Quan er. Aku tidak bisa membawa kalian. Sedang Yin Gege atau siapapun tak bisa. Karena hanya orang yang dipilih saja yang bisa kesana. Apa kalian mengerti?”
“ Lalu ... lalu bagaimana dengan kami? Apa kami ... kami akan dikembalikan ke tempat penjualan budak,” tanya Quan er dengan polosnya
“ Tidak. Kalian tetap disini dan menjaga Paviliunku. Kalau kalian bosan, kalian bisa membantu di kediaman Gege atau di tempat Ibu Selir. Kalian juga bisa memakai buku dan alat tulisku, jika ingin belajar. Aku juga akan memanggilkan kalian guru, jika memang kalian mau belajar menulis dan membaca. Karena biar bagaimanapun, kalian adalah seorang wanita yang kelak harus menikah dan punya anak,” ujar Mei Lan
“ Tapi ...”
“ Kalau kalian ingin belajar, aku akan minta tolong Gege mencarikan kalian guru,” kata Mei Lan
“ Tenanglah, Adik. Aku sudah menyiapkan guru untuk mereka. Mereka akan mulai belajar besok,” kata Yin yang tiba-tiba saja masuk ke ruang tamu Paviliun Mei Lan.
“ Ge!” seru Mei Lan dan langsung memeluk kakaknya. Yin terkekeh melihat manjanya adiknya dan membelai rambutnya
“ Kau itu, sudah besar masih saja manja,” kata Yin berpura-pura marah
“ Tapi, buat Gege, aku masih adik kecil Gege, kan?” ucap Mei Lan dengan manjanya. Yin tertawa demikian pula kedua pelayannya
“ Ya, sampai kapanpun, kau adalah adik kecil Gege satu-satunya,” ucap Yin dengan senyum lebarnya
“ Kalian berdua, mulai besok, kalian bantu di kediaman Ibu Selir. Tapi, ingatlah, kalian harus sekolah dari pagi hingga siang. Setelah itu, baru kalian pergi membantu Ibu Selir. Apa kalian mengerti?” ujar Yin
__ADS_1
“ Baik, Tuan Muda. Terima kasih, Tuan Muda,” ucap keduanya. Yin hanya mengangguk, lalu membantu membawa bungkusan pakaian Mei Lan.
Tanpa malu, Mei Lan terus bergelayut manja pada lengan kekar kakaknya hingga sampai di ruang tengah. Disana, Tuan Besar Yin sudah menunggunya bersama dengan Selir Hong dan Mou Han.