Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Cerewet


__ADS_3

“ GEGEEEE ...” 


Yin segera memutar kepalanya, tapi naas


 Dukk


Ia lupa kalau dia masih menempel pada pohon. Akhirnya, kepalanya pun beradu dengan kerasnya pohon.


“ Aarrkkhh ... “ keluhnya, dan perlahan melayang turun dengan tangan memegang dahinya.


“ GEGEEE ... “ 


Yin tersenyum sumringah dan segera berlari dan memeluk Mei Lan dengan erat


“ Adik ... kamu dari mana? Kau tahu kau sangat membuatku kuatir,” kata Yin seraya memeriksa tubuh Mei Lan dari atas kebawah


“ Hehehe ... aku tidak apa-apa, Ge ...” ujar Mei Lan ketika ia melihat Yin memeriksanya


“ Tidak apa-apa? Lihat hanfumu sangat kotor dan ini, tanganmu terluka, kakimu juga ada darah disitu. Darimana saja kamu?” omel Yin. Mei Lan menghela nafas. Baru sadar kalau ternyata kakaknya sangat cerewet


“ Ge, aku tidak apa-apa. Hanya tadi sedikit terpeleset. Tapi, aku tak apa-apa. Lihatlah, aku mendapatkannya. Ayo, kita pulang,” ucap Mei Lan dengan cengirannya. Yin mengatur nafasnya dan menautkan alis menatap Mei Lan yang acuh tak acuh. 


“ Ge, ayo pulang. Kau tahu, aku punya darah yang sangat unik. Aku akan sembuh dan pulih esok. Percayalah, hmm?” rayu Mei Lan dan bergelayut manja pada lengan Yin. 


“ Ya, baiklah. Aku percaya padamu. Ayo, pulang,”


“ Ini jam berapa, Ge? Kenapa sudah mau gelap saja?” 


“ Kita menghabiskan 3 Sichen (1 Sichen: 2 jam waktu modern), jadi kira-kira ini waktu Chu Yao (jam 6-7 malam),” kata Yin.


“ Baiklah, ayo pulang,” kata Mei Lan


‘ Aku pasti lama berada di lubang itu,’ batin Mei Lan


Keduanya pun berjalan kembali menuju kereta mereka yang terparkir di dekat sebuah gubuk. Saat Mei Lan hendak naik, matanya tertuju pada gubuk yang terletak tak jauh dari kereta mereka. Sosok putih tersenyum kearah Mei Lan. 

__ADS_1


“ Ge, bolehkah aku datang ke gubuk itu sewaktu-waktu?” tanya Mei Lan tanpa melepas pandangannya pada gubuk yang mulai reot. Yin ikut melihat ke arah gubuk dan tersenyum


“ Baiklah, sekarang kita kembali dulu. Ini sudah hampir gelap,” ajak Yin. Mei Lan segera naik dan merenungkan setiap perkataan Dewi Yue Liang. 


‘ Darahku adalah penawarnya? Benarkah darahku semanjur itu? Bisa menawarkan racun mematikan sekalipun?’ batinnya. Mei Lan membuka tirai jendela kecil yang ada di keretanya dan memandang Hutan yang semakin menjauh.


Perjalanan dari Hutan Haize ke Ibukota memakan waktu lebih dari 3 jam. Pagi tadi, ia tak sempat berpamitan pada Ayahnya. Pasti, kali ini ia akan mendapat omelan sang Ayah.


Keduanya tiba di Kediaman Keluarga Yin saat penjaga malam sudah mulai berpatroli. Itu artinya, waktu sudah menunjuk sekitar jam 10 malam.


“ Geee ...” 


Yin dan Mei Lan mendongak dan melihat Mou Han berlari kearah mereka dengan wajah cemas


“ Apa kalian tidak apa-apa? Kenapa baru kembali? Ayah sudah mencari kalian. Ayah marah karena Gege dan Meimei tidak berpamitan,” oceh Mou Han


‘ Fiuhh ... ternyata mereka berdua sama cerewetnya,’ batin Mei Lan


“ Kami baik-baik saja. Aku akan menemui Ayah, Mei Lan sudah berhasil mendapat bunganya,” ucap Yin dan langsung melangkah pergi menuju ruang belajar Ayahnya. Wajah Mou Han menjadi cerah dan menatap Mei Lan dengan senyumannya


“ Iya, aku berhasil Ge,” kata Mei Lan dan membalas senyuman Mou Han serta mengangkat kantong dari tali jerami yang ia taruh di pinggangnya


“ Aku ke dapur dulu, agar Ibu Selir bisa segera meminumnya,” kata Mei Lan bersemangat dan mulai melangkah pergi


“ Tunggu! Biar aku saja. Kau sudah lelah, aku akan merebusnya,” cegah Mou Han


“ Tidak, Ge. Aku tidak lelah. Aku sudah biasa berjaga sampai malam untuk pasien-pasienku ... upppss ...” lagi-lagi Mei Lan keceplosan berbicara


“ Pasien? Sejak kapan kau memiliki pasien?” tanya Mou Han dengan curiga


“ Hehehe ... Ge, aku dulu sempat belajar pengobatan sebentar, dan saat aku di Istana, karena tidak ada kegiatan, aku  mulai belajar mengobati orang sakit di luar Istana sambil menyamar,” jawab Mei Lan, namun jari telunjuk dan tengahnya ia silangkan dibalik bajunya ( kode seperti jimat penangkal agar tak dihukum karena berbohong)


“ Benarkah? Kau luar biasa, Adik,” kata Mou Han


“ Hehe ... tidak, itu hanya biasa saja. Aku masih harus belajar lagi. Ge, bagaimana kalau kau sekarang menemani Yin Gege, karena aku yakin ia saat ini sedang dimarahi Ayah,” saran Mei Lan

__ADS_1


“ Baiklah, panggil aku jika kau membutuhkanku,” kata Mou Han dan berlalu dari sana


Mei Lan segera pergi ke dapur, membersihkan bunga itu lalu menumbuknya dan membaginya menjadi beberapa bagian. Selesai dengan itu, Mei Lan merebusnya lalu meletakkan di dalam mangkuk.


‘ Penawarnya ada di dalam darahmu,’ kembali suara sang Dewi terngiang di kepalanya. Mei Lan melukai sedikit ujung jarinya dan meneteskannya ke dalam mangkok obat itu dan mengaduknya. Dengan berhati-hati, Mei Lan berjalan membawanya menuju ke kamar Selir Hong


“ Lan er!” seru seseorang. Mei Lan terkejut dan hampir saja menumpahkan obatnya. Berkat kesigapan Yin dengan Qinggongnya, ia dapat menangkap nampan yang dibawa Mei Lan. 


Wanita itu menepuk dadanya dan bernafas lega lalu menoleh dan memberengut kesal ke arah Ayahnya


“ Ayah!!” serunya. Alis Tuan Besar Yin terangkat melihat anaknya berteriak padanya dengan kesal. Ia menipiskan bibirnya, menelan saliva dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Mei Lan mendekati sang Ayah dan berkacak pinggang, “ Ayah! Kenapa Ayah mengagetkanku?! Kalau obat Ibu Selir tumpah, bagaimana? Ayah tahu, aku sangat sulit mendapatkannya! Lihat sampai tangan dan kakiku terluka! Kalau Ayah mau memanggilku, bisa kan jangan tiba-tiba seperti itu. Suara Ayah itu sangat keras dan bisa membuatku tuli!” omel Mei Lan. Mata Tuan Besar Yin membulat melihat sang Anak mengomelinya seperti seorang Ibu mengomeli Anaknya, Yin dan Mou Han menahan tawanya.


“ Wah ... kau benar-benar Anaknya Liang er. Kalian berdua sama-sama cerewet,” ucap Tuan Besar Yin dan kembali menelan salivanya tapi dengan mata menatap kosong ke arah Mei Lan


“ Apa hanya karena cerewet, Ayah mengakuiku sebagai anak Ibu? Jadi, selama ini Ayah meragukanku? Iya?” ketus Mei Lan dan menatap tajam Ayahnya


“ Eh ... hahaha ... kau tetap Anak ibumu walau kau tak cerewet sepertinya, Nak. Iya ... hahaha ...” kata Tuan Besar Yin salah tingkah


“ Hahahaha ....” tawa Yin dan Mou Han akhirnya pecah


“ Rasakan itu, Ayah. Tadi Ayah memarahiku, sekarang gantian Ayah kena marah .... hahaha,” oceh Yin dan segera lari masuk ke dalam kamar Selir Hong diikuti Mou Han


Tuan Besar Yin menipiskan bibirnya, namun kembali tersenyum ketika melihat wajah Mei Lan yang masih cemberut. Tangan Tuan Besar Yin sudah terulur hendak menyentuh putrinya, tapi Mei Lan segera berbalik dan masuk ke dalam kamar Selir Hong dengan senyum tertahan karena berhasil mengerjai Ayahnya.


Malam itu, Mei Lan tertidur sangat pulas, hingga tak menyadari 2 sosok putih berdiri di ujung bawah tempat tidurnya. 


“ Yang Mulia, sepertinya dia hanya gadis biasa. Tak ada kelebihan apapun,” kata seorang yang lebih pendek. Seseorang yang dipanggil Yang Mulia hanya tersenyum tanpa menjawab


“ Yang Mulia, kenapa Anda hanya melihatnya dari jauh? Kenapa tidak langsung menemuinya?” tanya sosok yang lebih pendek itu lagi


“ Belum saatnya,” jawab sosok bertubuh tinggi besar dan sangat tampan itu dan mulai mengangkat lengan hanfunya tapi terhenti ketika ia mendengar tangisan Mei Lan


“ Hiks ... hiks ... Mama ... hiks ... hiks ... “ 

__ADS_1


__ADS_2