Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Memulai Perjalanan


__ADS_3

“ Baik, Tuan Muda. Terima kasih, Tuan Muda,” ucap keduanya. Yin hanya mengangguk, lalu membantu membawa bungkusan pakaian Mei Lan.


Tanpa malu, Mei Lan terus bergelayut manja pada lengan kekar kakaknya hingga sampai di ruang tengah. Disana, Tuan Besar Yin sudah menunggunya bersama dengan Selir Hong dan Mou Han.


“ Ayah!” seru Mei Lan lalu berlari dan memeluk Ayahnya, hingga lelaki itu hampir saja terjungkal dari kursi kebesarannya. Selir Hong tersenyum dan Mou Han menggelengkan kepalanya.


“ Ayah, aku pergi. Ingat, jagalah kesehatan Ayah, hmm?” ucap Mei Lan dengan air mata mulai membasahi pipinya


“ Kau juga, Nak. Jaga dirimu baik-baik. Ingatlah, kau harus segera kembali pada Ayah. Ayah sudah tua, Ayah ...” tutur Tuan Besar Yin sambil memeluk erat putrinya.


“ Hush ... Ayah, kau masih muda. Dan aku berjanji akan segera kembali, begitu aku selesai dengan pelatihanku,” ucap Mei Lan dan melepas pelukannya. Tuan Besar Yin mengangguk.


Mei Lan mengambil 4 buah botol dari dalam buntalannya.


“ Ayah, ini untuk Ayah. Minumlah, saat Ayah merasa sakit. 1 butir saja,” kata Mei Lan sambil menyodorkan sebuah porselen ke dalam tangan Ayahnya


“ Apa ini?” tanya Tuan Besar Yin


“ Ini adalah Pil Penyembuh Surgawi, Imortal yang akan membawaku ke Gunung Bisha Ji, yang menyuruhku untuk diberikan padamu,” kata Mei Lan. Lagi ia menyilangkan kedua jarinya. Karena sebenarnya itu adalah darahnya, yang subuh tadi dengan bantuan Dewi Yue, mengubahnya menjadi pil-pil itu.


Tuan Besar Yin dan yang lainnya menganga mendengarnya. Pil Penyembuh Surgawi adalah pil yang sangat langka dan hanya dikonsumsi oleh Imortal (manusia abadi) saja, manusia biasa akan sangat sulit memperolehnya.


“ Ibu Selir, ini untuk Ibu Selir. ini untuk Mou Han Gege dan ini ... untuk Yin Gege,” kata Mei Lan sambil menyodorkan botol-botol porselen itu pada ketiga orang itu


“ Mei Lan ...” lirih Tuan Besar Yin tak percaya


“ Mei Lan tak tega meninggalkan kalian tanpa apapun untuk menjaga kesehatan kalian semua. Karena itu, Mei Lan meminta 1 botol untuk semuanya.” Jelas Mei Lan


Tuan Besar Yin segera berdiri dan memeluk putrinya. Air matanya kembali menetes. Mei Lan tersenyum dan mengusap punggung Ayahnya. Ia teringat dengan Ayahnya di dunia lain dan ikut meneteskan air mata. Setelah beberapa lama berpelukan, Mei Lan melepas pelukannya dan menghapus air mata dari pipi sang Ayah.

__ADS_1


“ Baiklah, Ayah. Ini sudah waktunya aku pergi,” pamit Mei Lan dengan senyumnya, walau air mata masih ada di pelupuk matanya. Tuan Besar Yin mengangguk dan mengecup kening putrinya


“ Lan er, berhati-hatilah dan selalu jaga kesehatan, ya?” ujar Tuan Besar Yin. 


“ Baik, Ayah. Aku akan menjaga kesehatan supaya saat aku kembali, aku bisa melihat Ayah akan memberiku soerang adik ...” goda Mei Lan dan berhasil membuat Mou Han dan Yin tertawa. Tuan Besar Yin menyentil dahi putrinya karena sudah berani menggodanya. Wajah Selir Hong juga memerah karena malu.


Mei Lan memeluk satu per satu Ibu Selir dan kedua kakaknya, ia tersenyum cerah lalu tiba-tiba sebuah cahaya menutup tubuh Mei Lan dengan cepat dan menghilang


“ Lan er!” seru Tuan Besar Yin, Selir Hong dan kedua kakak Mei Lan


Tubuh Tuan Besar Yin luruh begitu saja di lantai. Menangis tersedu karena putrinya telah pergi. Yin dan Mou Han perlahan membantu Ayah mereka kembali ke kamar


“ Ayah, ingatlah pesan Mei Lan. Ia meminta Ayah menjaga kesehatan. Mei Lan juga berjanji akan kembali. Jadi, Ayah ... kau harus sehat dan kuat,” tutur Yin


“ Benar, Ayah. Jika Adik tahu kalau Ayah sakit, maka ia akan sedih,” timpal Mou Han


Tuan Besar Yin mengangguk dan menghapus air matanya. 


Pinggiran Hutan dekat Gunung Bisha Ji


Mei Lan dibawa cahaya itu ke sebuah hutan yang tak jauh dari jalan masuk menuju Gunung Bisha Ji.


“ Melia,” panggil seseorang


Mei Lan terkejut begitu ia melihat Dewi Yue sudah berdiri di hadapannya


“ Dewi Bulan,”


Dewi Yue Liang tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


“ Di belakangku adalah Gunung Bisha Ji. Dari sini, aku tak bisa membantumu melewati rintangan. Tapi, aku akan selalu menjagamu dari jauh. Apa kau siap?” ujar Dewi Yue Liang


“ Iya, Dewi. Aku siap,” kata Mei Lan bersemangat. Dewi Yue tersenyum dan memiringkan badannya lalu mengangkat lengan hanfunya. Terbukalah sebuah pelindung transparant dan menampakkan jalan setapak.


“ Masuklah dan ikuti jalan itu. Ingat, jangan ikuti suara-suara yang kau dengar dan bila hatimu tulus, maka kau akan berhasil dalam ujian ini,” kata Dewi Yue


“ Baik, Dewi,” kata Mei Lan. Ia melihat Dewi Yue mengangguk, dan Mei Lan mulai melangkah mengikuti jalan setapak itu. Tubuhnya terasa dingin. Mei Lan membuka buntalannya dan mengambil jubah tebalnya.


Ia kembali berjalan menyusuri jalan setapak itu. Di kanan kiri hanya tampak pepohonan dan semak belukar. Setelah berjalan kurang lebih 1 jam, kaki Mei Lan terasa lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak dan memakan Mantou ( Bakpao tanpa isi) yang tadi dibungkuskan Lian er untuknya. 


Saat menikmati Mantou dan melihat sekeliling, ia melihat seekor rubah berbuluh merah dan berekor putih, sangat lucu dan cantik. Rubah itu terus menatap Mei Lan. Merasa diperhatikan, Mei Lan melihat Mantou di tangannya


“ Apa kau mau ini?” tanya Mei Lan. Tak ada jawaban. Mei Lan segera mencuil sedikit Mantounya dan melemparnya ke arah si rubah. Rubah itu mendekat, namun tak memakannya. Ia hanya mendengus Mantou itu dan segera pergi dengan kepala yang ditegakkan


“ Wah, dia sombong sekali,” gumam Mei Lan


Merasa cukup untuk beristirahat, Mei Lan mengemasi barangnya dan kembali berjalan. Mei Lan mendengar gemiricik air, dan mencari sumber suara. Ia melihat sebuah sungai yang sangat jernih.


“ Woww ... kalau aku mandi disana, kira-kira ada yang lihat tidak, ya?” gumam Mei Lan


Mei Lan menoleh kesana kemari memastikan tidak ada orang. Ia segera turun di jalan yang sedikit berbatu lalu meletakkan buntalannya. Dan satu per satu melepas hanfunya. 


“ Ehm ... kalau aku buka semua nanti ada orang, bagaimana?” gumam Mei Lan,” Eh ... tapi ... kata Dewi dia akan menjagaku,” 


Dengan senyum sumringah, Mei Lan melepas hanfunya seluruhnya, tanpa sisa. Dengan sedikit berjongkok dan menutup dadanya dengan tangannya, Mei Lan masuk ke dalam sungai.


Di tempat lain pada waktu yang sama, 2 sosok berdiri dan terus memperhatikan MeiLan.


“ Tutup matamu!” 

__ADS_1


“ Yang Mulia belum jadi suami saja sudah posesif,” gerutu seorang laki-laki yang mengikuti sosok lelaki tampan berbaju putih di depannya, namun langsung membungkam mulutnya begitu mendapat lirikan tajam dari majikannya.


Dengan tangan yang ia buka dan membuat gerakan memutar, ia membuat pelindung dan menyamarkan keberadaan Mei Lan. Ia tak mau orang lain melihat tubuh wanita yang sudah mengisi hatinya itu, hanya dengan pakaian dalam. Dengan senyum seringai ia terus menatap ke arah Mei Lan. Namun, saat ia melihat Mei Lan membuka seluruh pakaiannya, ia segera berbalik dengan wajah memerah


__ADS_2