Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Rencana Ke Gunung Bisha Ji


__ADS_3

Xing Yue melihat geram ke arah Mei Lan. Nafasnya memburu dan tangan terkepal


“ Kau lihat! Semua guru mengistimewakanmu. Memangnya apa kelebihanmu? Kau hanya wanita ****** yang hanya menggunakan tubuhmu untuk menarik lawan jenis agar membuatmu terlihat istimewa. Dan tadi, kau katakan kau tidak menggangguku?”  seru Xing Yue dengan geram


Mei Lan hendak berucap, tapi Xing Yue kembali memarahinya


“ Kau, hanya karena kau memiliki Element Diamond Ungu, tapi tak bisa bela diri dan kau mau berbuat semaumu? Aku Xing Yue tidak akan membiarkannya! Kau lihat saja Mei Lan!”


Xing Yue menghentakkan kakinya dan berlalu dengan geram. Mei Lan menggelengkan kepalanya melihat wanita itu


“ Oh, jadi dia cemburu aku punya Element Diamond Ungu? Heeeeh ... ternyata seperti cerita Wuxia ( film klasik china) yang ada di TV,” gumam Mei Lan


“ Wuxia?”


Mei Lan melonjak kaget karena tiba-tiba ada suara lelaki di dekatnya. Ia berbalik lalu memutar bola matanya dengan malas, ketika ia melihat siapa yang datang


“ Hei, apa itu Wuxia? Apa itu TV?’ tanya lelaki itu


“ Itu bukan urusanmu, Pangeran Wen,” jawab Mei Lan ketus lalu membalikkan badannya, tapi saat ia melangkah, tangannya ditahan oleh lelaki itu.


Mei Lan menajamkan matanya dan menautkan alis. Di lihatnya tangan yang memegangnya


“ Mohon lepaskan tangan anda, Pangeran,” pinta Mei Lan yang lebih terdengar seperti perintah


Jian Ying terkekeh dan melihat Mei Lan dengan satu sudut bibirnya terangkat. Matanya memandang lekat pada manik mata Mei Lan, lalu mengambil rambut Mei Lan dan menciumnya. Mei Lan dibuat geram olehnya.


“ Jangan begitu. Kau tahu, kalau kau ingin aman tanpa gangguan dari Xing Yue, kau bisa meminta bantuanku. Dengan senang hati aku akan melindungimu. Asal ... ( mata Jian Ying kembali menatap mata Mei Lan) kau mau jadi wanitaku,” kata Jian Ying dengan satu sudut bibirnya terangkat dan mata yang mengerling menggoda


Mei Lan menyeringai dan tanpa mengalihkan matanya pada kedua bola mata Jian Ying, ia berkata


“ Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu. Seperti halnya aku datang ke tempat ini, tanpa bantuan siapapun, aku juga bisa melindungi diriku sendiri selama disini,” ucap Mei Lan dengan tatapan merendahkan. Mei Lan sengaja menggunakan kata-kata itu, sekaligus untuk menyindir Pangeran Mahkota dari Kerajaan Wen itu.


Jian Ying mengepalkan tangannya dan menatap geram Mei Lan. Sedangkan Mei Lan hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisnya


Jian Ying membuka kipasnya dan melirik Mei Lan sebelum akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu. Mei Lan menghembuskan nafasnya lega


" Hufft ... orang-orang zaman kuno ini ternyata lebih menyebalkan. Coba di duniaku, sudah ku dorr kepala kalian ... hmmph!” gerutu Mei Lan sambil menepuk tangannya membersihkan tanah yang sempat menempel.


“ Hmm ... sebaiknya aku kembali ke Paviliunku. Aku harus segera berlatih,” ucapnya lagi dan segera melangkah pergi


Mei Lan berusaha mengingat jalan kembali, tapi masih tak bisa. Malah ia sampai di satu tempat dengan keindahan yang luar biasa.  Akhirnya ia memutuskan untuk  berlatih di depan terjun cantik yang ada didepannya itu

__ADS_1


Mei Lan duduk di atas batu besar dan mulai mengambil posisi lotus. Ia segera menyerap Qi dan menyatukannya dengan element di dalam inti jiwanya.


Seorang wanita cantik melihatnya dengan tersenyum, “ Sebentar lagi kau akan kembali dan mengingat semuanya. Berlatihlah dengan tekun,” ucap wanita itu


Wilayah Utara Kerajaan Ming


Pangeran Yuan dengan dua panglimanya berjalan menyusuri kota dengan banyak mayat bergelimpangan dan bau busuk yang sangat menyengat.


“ Yang Mulia, prajurit sudah memeriksa seluruh daerah ini. Dan .... tidak ada tanda-tanda kehidupan,” lapor seorang panglima. Yuan melihat sekilas ke arah panglima itu dan netranya kembali menjelajah seluruh kota yang bisa disebut kota hantu tersebut.


“ Ambil contoh tanah dan air lalu bawa ke Tuan Yu. Minta dia memeriksanya,” titah Pangeran Yuan


“ Baik, Yang Mulia,” jawab panglima itu


Drap ... drap ... drap ...


Yuan berbalik dan melihat seseorang yang sangat akrab dengannya. Senyum tersungging di bibirnya.


“ Adik ... dari mana?” tanya Yuan


Seorang laki-laki yang tak kalah tampan darinya berjalan mendekatinya. Dia adalah Pangeran ketiga, Tan Jing Shi.


“ Hmm ... kau dari mana? Kenapa aku tak melihatmu 2 hari ini?” tanya Yuan


Lelaki itu tersenyum dan melihat ke kota, “ Aku dari tempat Biksu Pei.  Menurutnya, penyebab semua ini adalah Serbuk Tengkorak Putih,” kata Jing Shi


“ Serbuk Tengkorak Putih?” tanya balik Yuan


“ Hmm ... itu adalah serbuk dari dari Kerajaan Iblis. Tapi, aku sungguh tak mengerti. Kenapa mereka menyerang Kerajaan kita. Mereka ada di alam berbeda dengan kita, lalu bagaimana mereka bisa ...”


“ Aku yakin ini ada hubungannya dengan dunia persilatan. Aliran hitam,” potong Yuan


“ Hmm ... aku juga sempat berpikir saperti itu. Aku masih tak percaya dunia roh akan melakukan semua ini,”


“ Baiklah, ayo kita kembali. Aku akan segera mengambil waktu untuk bertemu mereka,” kata Yuan


Jing Shi menghela nafas dan mengikuti kakaknya menaiki kuda mereka. Diikuti seluruh pasukan dan panglimanya, mereka meninggalkan kota itu


Di Perkemahan


 Xia Ling kali ini mendapat kesempatan untuk mendekati Puteri Wen. Dengan menyamar sebagai pelayannya, ia membawakan Puteri Wen makanan.

__ADS_1


Puteri Wen yang tak menyadari itu, masih asyik dengan buku di tangannya, mengambil kue yang di letakkan Xia Ling di atas mejanya



Xia Ling tersenyum sinis dan segera keluar dari tenda Putera Mahkota. Ia mempercepat langkahnya masuk ke dalam tenda dan mengambil buntalannya. Segera ia berganti baju dengan pakaian laki-laki dan melarikan diri dari sana


Dada Puteri Wen terasa sakit. Ia terbatuk dan dengan tangannya ia menutup mulutnya. Saat ia menurunkan tangannya, tampaklah darah di telapak tangannya


“ Kurang ajar! Si .. a .. pa yang ... be ... ra ... uhuk ... uhuk ...” belum menyelesaikan kata-katanya, Puteri Wen kembali memuncratkan banyak darah dari mulut


Bruttt ....


Darah kehitaman bercecer di tanah. Di saat yang sama, Yuan datang dengan adiknya, Jing Shi.


“ Jia Li!” seru Yuan dan segera berlari menuju Putri Wen


Jing Shi melihat bercak darah di tanah, mengambilnya dengan jarinya dan mengerutkan dahi. Matanya menatap Putri Wen yang sedang di papah Yuan menuju tempat tidur dan menotok meridian Puteri Kerajaan Wen itu, agar racun tak menyebar


Jing Shi menepuk bahu Yuan dan memberi kode untuk sedikit menjauh dari Puteri Wen


“ Ada apa?” tanya Yuan


“ Racun Peremuk Tulang,” kata Jing Shi


Yuan terkejut mendengarnya. Kepalanya menoleh melihat Puteri Wen yang terbaring. Pikirannya berkecamuk. Tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras


“ Hanya satu solusinya,” kata Jing shi lagi


Yuan segera kembali melihat Jing Shi. Alisnya bertaut menjadi satu


“ Apa itu?”


“ Kau harus ke Gunung Bisha Ji. Aku dengar mereka punya penawarnya. Tapi ... untuk kesana ...” Jing Shi melipat bibirnya dan menggeleng


“ Tidak, aku harus segera kesana. Jika sampai wanita ini mati, maka perang akan terjadi. Kita tidak bisa melakukan itu. kekuatan Kerajaan kita tak sebanding dengan Kerajaan Wen,” kata Yuan.


Jing Shi menghela nafas. Yang diucapkan kakaknya benar. Ia meninggalkan kakaknya setelah memberi tepukan di bahu Yuan tanda dukungannya


“ Siapa yang berani meracuninya di tendaku?” gumam Yuan


Ia melihat sisa kue yang di makan Wen Jia Li atau Putri Mahkota, dan segera memanggil para pelayannya

__ADS_1


__ADS_2