Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Rencana Pembalasan Yuan Ning


__ADS_3

Sore Harinya


Yuan Ning kembali ke Istana dengan hati yang panas. Ia tak menyangka, gadis arogan yang dulu gampang terprovokasi, berubah 180 derajat setelah lebih dari 2 tahun ia tak bertemu


Tadinya, ia akan kembali ke Istana setelah sarapan. Tapi, gara - gara Mei Lan berkata kalau Yin suka dengan wanita yang suka memasak, maka ia sengaja memundurkan kepulangannya, untuk membuatkan Yin makanan


Hampir setengah hari ia berada di dapur, tapi tak bisa menghasilkan 1 masakan pun, malah membuat wajah dan seluruh tubuhnya terkena asap dan berbau.


Belum lagi coretan arang yang tak sengaja teroles, saat ia memegang arang dengan tangannya untuk menambah bara kompor


“Yang Mulia, mohon jangan marah lagi. Bukankah besok adalah Festival Bunga? Disana akan ada pertunjukkan


seni. Anda dapat membalasnya saat itu,” saran pelayan Yuan Ning, saat mereka sudah berada di dalam kereta


 Yuan Ning berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya


“ Kau ada gunanya juga, aku pikir kau hanyalah pelayan berotak udang. Ternyata kau boleh juga, hahaha ...” kata Yuan Ning


Yuan Ning menoleh dan menatap senang ke arah pelayannya. Ia melepaskan 1 cincinnya dan memberikan pada pelayannya itu. Wajah pelayan itu berbinar


‘ Hihihi ... untung aku yang menemani Putri disini,’ batinnya seraya memandang kagum cincin yang ia dapat.


Matanya melirik temannya yang sedang menjadi kusir. Karena, kusir yang sebenarnya tanpa sengaja membuat kereta terperosok ke dalam lubang dan membuat bahu Yuan Ning terbentur, akhirnya, Yuan Ning memecatnya saat itu juga



Kepala Yuan Ning dipenuhi dengan berbagai hayalan tentang keberhasilannya, membuat Mei Lan malu dihadapan Kaisar dan banyak orang. Ia tahu bahwa Mei Lan tak memiliki bakat seni. Jadi, saat Festival Bunga adalah saat pembalasannya


Senyum penuh kemenangan diumbarnya hingga ke Istana. Ibunya, Permaisuri Ning Rue, tersenyum ketika melihat wajah putrinya yang cerah.


“Putriku, kau terlihat sangat bahagia. Apa Yin memperlakukanmu dengan baik, hmm?” goda Permaisuri Ning


Seketika wajah Yuan Ning menjadi gelap. Senyum di wajah Permaisuri pun menghilang.


“Ada apa? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?”


Yuan Ning menatap ibunya dengan sedih dan mulai menitikkan air mata. Permaisuri terkejut dan segera menarik putrinya dalam pelukan


“Ada apa? Katakan, katakan pada Ibunda. Apa Yin menyusahkanmu?” tanya Permaisuri sembari mengelus lembut rambut sang putri


Yuan Ning menggeleng. Ia mengangkat wajahnya dan melepas pelukan Ibundanya. Wajahnya menunduk


“ Ibunda, ini semua karena Mei Lan yang tak menyukaiku. Ia mengatakan yang tidak – tidak tentangku pada Yin Gege, sehingga ia jadi berubah. Dulu, Yin Gege sangat baik dan memperlakukanku dengan lembut jika bertemu, sekarang ... hiks ... hiks ...” adu Yuan Ning


Permaisuri mengertakkan giginya dan kembali merengkuh putrinya


“Putriku, jangan kuatir. Ibunda akan membalasnya nanti,” kata Permaisuri

__ADS_1


“Ibunda, aku tak menyalahkannya. Ia memang membenciku, karena dulu, tanpa sengaja aku mendorongnya hingga jatuh. Jadi sekarang, ia membalasku. Hiks ... hiks ... tapi sejujurnya, aku benar – benar tak sengaja Ibunda,”


“Shush ... shush ... sudah jangan menangis lagi. Aku pasti akan memberinya pelajaran, hmm?” hibur Permaisuri dan menepuk lembut punggung Yuan Ning


Yuan Ning mengangguk. Senyum licik kembali muncul.


‘ Mei Lan oh Mei Lan, lihat saja pembalasanku,’ batinnya


“Ibunda, aku sangat lelah. Bolehkah aku kembali dan beristirahat?”


Permaisuri mengangguk dan melepas pelukannya. Kedua tangannya membelai kedua pipi putrinya.


“Kembali dan beristirahatlah. Tak usah memikirkan apapun. Serahkan semua pada Ibu, hmm?”


Yuan Ning tersenyum dan mengangguk. Ia berdiri dan sedikit menekuk lututnya memberi hormat sebelum ia beranjak dari paviliun Permaisuri


Di tengah jalan, Yuan Ning mengubah arah jalannya. Ia tak pergi ke kediamannya.


 


 


 


Tempat lain


“Apa kau mau belajar bersamaku?” tanya anak kecil itu pada teman barunya.


Ia merasa iba, ketika ia melihat teman sebayanya itu hanya memainkan kuas tulisnya saja dan berjalan kesana kemari tanpa tujuan. Membolak – balikkan buku tanpa membacanya


Anak itu melihat padanya dan menggeleng.


“Oh ya, aku belum bertanya siapa namamu. Namaku Tian er, dan kamu siapa?” tanya Tian er. Anak kecil itu hanya terdiam dan tak bersuara


“Kau ... bisu?”


Anak kecil itu langsung berlari sambil menangis. Tian er tak mengerti kenapa temannya berlari dan segera mencari pengasuhnya.


Di saat yang sama, ia melihat sang pengasuh sedang berbicara dengan seseorang berbaju hitam dengan asap hitam di badannya. Bibirnya hitam dan seperti memakai celak hitam.


“Bibi, bicara dengan siapa? Kenapa orang itu sangat menakutkan?” gumam Tian er. Saat ia hendak mendekat,


lelaki itu berbalik dan menghilang tanpa jejak


Bibi pengasuh tak menyadari keberadaan Tian er, karena Tian er berdiri di balik tembok di sisi pintu menuju kediamannya


Bibi pengasuh berbalik dan Tian er dapat melihat perubahan wajah dari pengasuhnya. Bibi yang biasanya ceria dan dengan wajah penuh kehangatan, kini tampak takut dan cemas

__ADS_1


Tian er keluar dari persembunyiannya dan berdiri di ambang pintu yang berbentuk bulat untuk masuk halaman kediamannya


Bibi sangat terkejut melihatnya, “Pa – pangeran kecil,”


Bibi menoleh ke belakang lalu kembali melihat Tian er. Ditelannya ludah dengan berat. Tangannya bergetar dan menarik masuk Tian er ke dalam rumah


“Pangeran kecil, maukah Anda ehm ... jalan – jalan dengan Bibi ke ...”


“Kemana, Bi?” potong Tian er


“Eh, ke danau yang ada di balik benteng kota. Apa Pangeran kecil mau?” tanya Bibi dengan senyum paksanya


Tian er, walau masih belum genap 3 tahun, tapi ia adalah anak yang sangat cerdas. Ia melihat ada yang aneh dengan pengasuhnya


“Kapan Bibi akan mengajak Tian er jalan – jalan?”


Bibi tersenyum cerah. Matanya berbinar. Tian er melihat aneh ke arah pengasuhnya


“Besok, saat malam Festival Bunga. Jika kita kesana malam hari, pemandangan akan sangat bagus,” jawab Bibi pengasuh


“Baiklah. Tapi, sekarang aku mau tidur,”


“Baiklah, mari Pangeran ...”


‘Maafkan Bibi, Pangeran Kecil. Bibi tidak ada cara lain. Orang itu mengambil anakku,’ ucap sedih Bibi pengasuh dalam hatinya


Kediaman Keluarga Yi


Mei Lan dan Yin, sesuai dengan rencana, mereka mulai berbicara dengan Ayahnya. Tuan Besar Yin nampak geram dan menggebrak pegangan tangan di kursinya hingga hancur


“Kenapa baru kau katakan sekarang, Yin?”


Yin mengangkat alisnya dan terkekeh, “ Ayah, kalau aku katakan lebih awal, aku yakin akan terjadi masalah. Yuan Ning akan tahu kalau kita memergokinya.


Dan ia pasti akan membuat banyak alasan, hingga Kaisar akhirnya menghukum kita, dan menganggap kita menuduh keluarga Kerajaan, karena kita tak memiliki bukti apapun.”


“Ayah, jangan kuatir. Tidak ada yang hilang disini. Ehm, Ayah ... kalau dia mencari sesuatu disini, pasti itu sesuatu yang sangat berharga.


Apa Ayah punya barang Pusaka yang tak dimiliki orang lain dan bernilai tinggi atau sesuatu yang begitu berharga, sehingga Yuan Ning menggunakan kedudukannya untuk masuk ke rumah kita agar tak mencurigainya dan membuat kita tak bisa menuduhnya jika ada sesuatu yang hilang?” tanya Mei Lan


Tuan Besar Yin mengerutkan alisnya dan mencoba berpikir. Matanya menjelajah ke seluruh ruangan perpustakaannya ini


“Aku tak memiliki apapun yang berharga disini, yang mungkin diinginkan seseorang dengan kedudukan yang jauh lebih tinggi dari kita.


Semua benda sihirku, aku bawa sendiri dan tak pernah kusimpan di rumah ini ... Ah, kecuali ...”


Mata Tuan Besar Yin terbelalak. Ia segera berdiri dan merogoh sesuatu di bawah kursinya.

__ADS_1


__ADS_2