Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Ibu Suri


__ADS_3

Istana Kerajaan Ming


“ Salam kepada Ibu Suri. Semoga Yang Mulia Permaisuri panjang umur dan sehat selalu,” salam seorang wanita dengan hanfu yang sedikit terbuka dan suara yang sangat lembut.


Wanita dengan sedikit rambut putih dan duduk diatas kursi kebesarannya dengan cangkir teh ditangan, tersenyum dan memberi isyarat dengan tangannya, mempersilahkan wanita itu berdiri


 


“ Terima Kasih, Yang Mulia,” jawab wanita itu lalu berdiri dan tersenyum manis


“ Xia Ling, duduklah. Bagaimana kabarmu?” tanya Ibu Suri


Xia Ling kembali menekuk lututnya dan menunduk, “ Terima kasih, Yang Mulia.”


Dengan anggun dan gemulai, Xia Ling berjalan ke tempat duduk yang ada di sisi kirinya, “ Hamba baik-baik saja, berkat Ibu Suri,” jawab Xia Ling setelah ia duduk


Ibu Suri tersenyum dan menghirup wangi teh di cangkirnya.


" Bagaimana dengan Yuan, apa dia baik padamu?" tanya Ibu suri


" Yuan ... sudah jarang mengunjungiku, Ibu Suri. Apa dia akan melupakanku setelah menikah?" keluh Xia Ling dengan suara manja. Tangannya memainkan kipas di tangannya



 


 


" Hahaha ... dia sangat mencintaimu. Dia tidak akan melupakanmu, percayalah. Oh .. Pelayan! sajikan teh untuk Selir Xia!" kata Ibu Suri


Seorang pelayan menuangkan teh untuk Xia Ling, namun karena gemetar, air teh itu sedikit tumpah di atas tangan Xia Ling


“ Aaa ...” pekik Xia Ling seraya memegang tangannya dan meringis


“  Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba sungguh tidak sengaja,” ucap pelayan itu segera dan berlutut


Brakk ...


“ Kurang ajar! Berani sekali kau melukai wanita Putera Mahkota! ...  Penjaga! Seret dan potong tangannya!” sentak Ibu Suri


Pelayan itu mengeleng-gelengkan kepalanya dan berkowtow berulang kali hingga dahinya berdarah


“ Yang Mulia Ibu Suri, Yang Mulia Selir ... tolong ... maafkan hamba ... ampuni hamba, Yang Muliaaa ...” teriak pelayan malang itu saat tubuhnya diseret paksa oleh 2 orang prajurit


“ HENTIKAN!”

__ADS_1


Ibu Suri dan Xia Ling terkejut melihat Kaisar dan Permaisuri berdiri di depan pintu. Permaisuri bahkan membantu pelayan itu untuk berdiri dan menghapus luka pada dahinya. Kaisar menatap tajam ke arah Xia Ling dan membuat wanita itu menunduk takut dan mengigit bibir bawahnya.


“ Bawa dia kembali ke kamarnya dan panggilkan tabib,” titah Permaisuri. Tapi, kedua prajurit masih menunduk dan melirik satu sama lain


“ Ada apa? Apa kalian tidak mendengar titah Permaisuri?!” sergah Kaisar


Kedua penjaga itu segera berlutut dan minta ampun, “ Ampuni kami, Yang Mulia Kaisar. Ka-kami akan laksanakan,” kata kedua prajurit itu.


“ Jika kalian berani melanggar titah Permaisuri, aku pastikan ...  siapapun dia, dia akan kehilangan kepalanya!” geram Kaisar namun dengan mata yang menatap ke arah Xia Ling dan Ibu Suri. Wanita tua yang memakai hanfu kuning merah itu meremas lengan hanfunya dan menahan nafas.  Namun, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi


‘ Kurang ajar! Berani sekali dia mengancamku!’ batin Ibu Suri


‘ Kaisar, Permaisuri ... suatu saat kau akan berakhir di tanganku,’ geram Xia Ling dalam hatinya. Tangannya meremas-remas cangkir teh ditangannya. Kedua pelayan pribadi Xia Ling, yang berada tepat di belakangnya, gemetar. Mereka tahu, saat kembali ke Paviliun, maka Xia Ling akan melampiaskan kegeramannya pada mereka.


“ Tan Yuan ... masuklah, untuk apa kau masih berdiri di sana,” ajak Ibu suri dengan senyumnya. Kaisar meraih tangan Permaisuri dan mengajaknya masuk. Keduanya berjalan bergandengan tangan  dan baru melepas saat mereka hendak memberi hormat


“ Salam hormat, Ibu Suri,” ucap keduanya.


“ Bangun, bangun ... ayo, duduklah ...” kata Ibu Suri dengan tangannya ia julurkan menyuruh Kaisar dan Permaisuri berdiri, tanpa beranjak dari tempat duduknya


“ Terima kasih, Ibu Suri,” jawab Kaisar dan Permaisuri. Kaisar kembali menuntun istrinya untuk duduk di kursi yang ada di sisi kanan mereka.


“ Pelayan! ... sajikan Teh Oolong kesukaan Kaisar!” seru Ibu Suri. Seorang pelayan menekuk lututnya dan menunduk lalu berbalik dan pergi menyiapkan Oolong Teh yang memang sangat bagus bagi kesehatan.


“ Untuk apa wanita ini disini, Ibu Suri?” tanya Kaisar dengan tatapan tak suka dan tak menjawab perkataan Ibu Suri


“ Hehehe ... dia ini kan istrinya Yuan, jadi di wajib memberi hormat padaku,” jawab Ibu Suri dengan senyumnya


“ Dia hanya wanita penghibur, bukan istri Yuan! Aku tidak akan pernah menerima dia sebagai menantu Kerajaan. Ingat itu, Ibu Suri! Asal Anda tahu, Aku bisa mencabut gelar Anda jika Anda masih saja membangkang dengan titahku,” sergah Kaisar lalu segera berdiri dan meraih tangan istrinya. Keduanya meninggalkan kediaman Ibu Suri tanpa memberi hormat.


Ibu suri meremas hanfunya. Nafasnya memburu. Diraihnya teko teh di sebelahnya


Pyaarrrr ....


Xia Ling dan beberapa pelayan terkejut. Xia Ling tersenyum penuh arti.


“ Hamba undur diri dulu, Yang Mulia Ibu suri,” pamit Xia Ling. Ibu Suri hanya melirik lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa menjawab Xia Ling. Wanita itu hanya tersenyum lalu melirik kedua pelayannya


“ Kita kembali,” kata Xia Ling dingin. Kedua pelayannya menunduk dan mengikuti Xia Ling


Kediaman Putera Mahkota


Para pelayan sibuk memasang kain merah dan lampion-lampion. Banyak hiasan mulai terpasang di setiap sudut dan kisi-kisi yang ada di atas koridor. Pintu-pintu semua tak lepas dari hiasan merah.


__ADS_1



 


Pintu kamar pengantin pun sudah dihias dengan kain dan juga lampion



“ Bai Yan!” panggil Yuan


“ Ya, Yang Mulia,” sahut Bai Yan


“ Bagaimana dengan Xia Ling? Apa dia marah?” tanya Yuan


“ Nona Xia Ling sekarang sering keluar untuk menemui para selir Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri, Yang Mulia,” jawab Bai Yan


Yuan menautkan alisnya. Bibirnya menipis. Ia memejamkan matanya lalu mendesah.


“ Laporkan padaku segera, jika ada yang mencurigakan. Aku tak mau Xia Ling mencelakai orang lain lagi. Akan sangat berbahaya, jika ia melakukannya,” titah Yuan


“ Lapor, Yang Mulia. Hamba sudah mengutus prajurit bayangan untuk selalu mengawasi Nona Xia Ling,”


“ Hmm ... baguslah,”


“ Ah, Yang Mulia ... tadi Yang Mulia Kaisar bertemu dengan Nona Xia Ling di kediaman Ibu Suri. Dan ... tangannya terluka, karena seorang pelayan tanpa sengaja menumpahkan teh dan mengenai tangan Nona Xia Ling. Ibu Suri marah dan menyuruh memotong tangan pelayan tersebut, tetapi berhasil dicegah Yang Mulia Kaisar dan Permasuri,” lapor Bai Yan


Yuan mengepalkan tangannya. Lagi-lagi, wanitanya membuat masalah.


“ Apa ... Ayahanda terlihat marah?” tanya Yuan


“ Benar, Yang Mulia. Beliau ... beliau berkata kalau ... kalau beliau tidak akan pernah mengakui Nona xia Ling sebagai menantu Kerajaan,” jawab Bai Yan


“ Baik, kau boleh pergi,” kata Yuan. Lelaki itu mempercepat langkahnya dan menuju kamar. Dengan kasar ia membuka pintu kamar, dan membanting cangkir yang tersedia di atas meja.


Pyaaarrr ....


“ Xia Liingg! Kenapa dia tidak bisa menahan diri ... eerrghh ... siasat apalagi yang dia pakai? Urrrghh ...” geram Yuan. Nafasnya memburu. Tangannya sudah berkacak di pinggang dan ketika ia menggerakkan kepalanya, netranya menangkap sebuah gulungan yang lama tak ia buka.


Yuan menghampiri rak bukunya dan mengambil gulungan itu. Wajah marahnya berubah. Senyum licik mengembang di bibirnya.


“ Aku pasti akan berhasil, hanya tinggal menunggu waktu ...” gumamnya dan menggenggam erat gulungan itu. Yuan berjalan ke kamarnya dan menyibakkan sedikit korden yang menutupi ranjangnya. Dengan satu tangan ia memasukkan tangannya ke kolong tempat tidur dan menekan sesuatu disana, lalu


Sreeekk ...


Ranjangnya menggeser dan tampaklah sebuah jalan rahasia dengan tangga menurun. Yuan segera menuruni tangga itu dan tampaklah sebuah ruangan yang luas dengan begitu banyak rak dan buku-buku serta sebuah lingkaran seperti tempat untuk berlatih kungfu. Di ujung ruangan, terdapat sebuah altar penghormatan arwah dengan nama Yin Mou Yun dan sebuah nama lagi yang diusap Yuan dengan begitu lembut.

__ADS_1


__ADS_2