
Liu berjalan mendekati keduanya dan tersenyum.
"Pak, Bu ... maafkan saya. Kita mulai sekarang," ujar Liu," Mari, ikuti saya,"
"Tuan! Tuan!"
Langkah ketiganya terhenti dan melihat seorang laki-laki yang adalah asisten Liu, berlarian mendekati mereka
"Ada apa?" tanya Liu mengerutkan alisnya
"Tuan, saya menemukan sinyal dr. Melia. Ia berada 50 km dari sini. Di jalan raya," lapor si asisten
"Apa?! Benarkah? Bawa kami kesana secepatnya!" titahnya. Asisten itu mengangguk.
"Pak, Bu. Mari," ajak Liu
Keduanya mengangguk dan mempercepat langkah mereka. Liu mempersilahkan kedua orangtua Melia naik ke mobil, dan disusul olehnya.
"Cepat!" titahnya, sambil menutup pintu.
Kecemasan masih meliputi orangtua Melia. Pikiran negatif terus bermunculan.
Krriiiingg ... kriiingg ...
Mata ayah Melia membulat. Nama pemanggil membuatnya tak mengambil waktu mengangkatnya
"Hallo! Melia? Ini kamukah, nak?" sahut si ayah. Ibu Melia menutup mulutnya dengan tangan dan mendekat pada suaminya. Liu pun menatap harap
"Oh, benarkah? Felix sudah menjemputmu?"
Ibu Melia bernafas lega dan bersandar bahagia
'Felix? ah ... iya. Waktunya mundur sebulan, ia masih belum tahu tentang tunangannya itu,' batin Liu dan mendesah.
"Baiklah, nak. Kami sekarang di Shanghai. Kami akan langsung ke tempatmu. Ayah juga lama belum bertemu calon menantu," kata ayah.
Liu memalingkan wajahnya ke luar jendela. Begitu banyak yang terjadi. Beberapa kali kehidupan, namun tak pernah sekalipun kisah cintaya berubah.
Apartemen Melia
Felix dan Melia baru saja tiba di gedung apartemennya. Keduanya berjalan mesra bersama dan masuk ke dalam lift. Selesai tadi menelepon orangtuanya, Melia meminta Felix mengantarnya pulang
"Apa kau jadi pergi?" tanya pada Felix. Lelaki itu menatap Melia hangat dan tersenyum
"Iya, tadi waktu kamu meneleponku, aku baru saja sampai. Jadi, sekarang aku harus pulang. Ayah dan ibu sudah menungguku untuk menyusun mahar untukmu," ucapnya
Melia tersenyum dan menempelkan kepalanya di bahu tunangannya
"Tidak usah banyak-banyak. Aku tak terlalu memikirkan itu. Kita hidup bersama dan saling mencintai, itu sudah cukup buatku," sahut Melia.
Felix terkekeh dan mengusap kepala Melia.
Ting
Lift terbuka. Felix mengantarkan Melia masuk ke apartemennya.
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang dulu, hmm?" pamit Felix. Melia mengangguk. Lelaki itu ingin mendaratkan ciumannya tapi ia merass enggan. Akhirnya, ia berbalik dan melambaikan tangan lalu pergi
Melia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Memikirkan yang baru saja tadi. Ia sungguh bingung tak mengerti.
"Aku tadi jelas - jelas di lobby mau tunggu taksi. Terus ... kenapa aku bisa di jalan raya? Dan itu ... bukan jalan ke arah apartemenku ataupun Felix, apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku terkena ... Demensia? Ah ... tidak, tidak. Aku masih terlalu muda untuk penyakit itu. Lalu ... apa?"
Melia menarik bibirnya dan meremas rambutnya sendiri. Ia tak bisa menemukan memorinya.
"Baiklah, sebaiknya aku mandi saja dulu. Sebentar lagi ayah ibu datang," gumamnya
Melia membersihkan diri dan berganti baju. Ia hendak mengeringkan rambutnya, ketika bel apartemennya berbunyi.
Melia segera berlari ke pintu, dan melihat di monitor, kalau orangtuanya sudah datang. Ia menekan tombol dan terbukalah kunci apartemenya
Ceklek
Pintu apartemen terbuka. Melia tersenyum ketika melihat mereka
"Melia!" seru ayah dan ibu Melia
"Ayah! Ibu!" seru Melia. Tersenyum lebar dan berlarian kecil dengan tangam terbuka, Melia menghampiri dan memeluk ayah dan ibunya bergantian
"Ayah, ibu, kenapa tidak bilang Melia kalau mau datang?" gerutu Melia
"Kami hanya ingin memberimu kejutan. Tadi kami ke rumah sakit dan katanya kamu pergi dengan mobil mewah. Siapa dia, nak?" ujar ayah Melia
"Mobil mewah? Aku sungguh tidak ingat apapun. Aku hanya ingat sedang berdiri di depan lobby, mau menunggu taksi. Setelahnya ... aku tak ingat," kata Melia dan menggarukkan kepalanya.
"Sudahlah. Yang penting sudah pulang dengan selamat. Tidak usah diingat,"
"Anda ..."
"Ah, Melia. Ini adalah Tuan yang mengantar kami," ucap sang ayah
Liu maju dan mendekati Melia dengan mata yang terus menatap wanita itu dengan tatapan hangat dan pancaran rasa rindu.
"Oh, kenalkan. Saya Melia. Terima kasih sudah mengantarkan kedua orangtua saya," ucap Melia dengan senyumnya dan mengulurkan tangan
Liu melihat tangan yang terulur padanya dan perlahan mengulurkan tangannya. Ia menggenggam tangan lembut Melia dan tersenyum. Ia mendongak perlahan dan melihat ke arah Melia
"Aku ... Liu ..." jawab Liu dengan senyumnya. Tatapan Liu yang tampak seperti kebahagiaam seseorang yang bertemu dengan orang yang dirindukan, menggelitik hati Melia
"Ehm, apa ... kita pernah bertemu?" tanya Melia dan memiringkan kepalanya
Liu tersenyum kecut dan menggeleng. Ia menunduk dan melepas pegangannya pada Melia.
"Saya, permisi dulu," ucapnya dan segera berbalik pergi
Melia dan kedua orangtuanya bingung melihatnya.
Mata Liu menatap pintu apartemen yang sudah tertutup
"Tian Long sudah menutup auramu dengan Ring Aura. Aku rasa ... kau akan aman sementara ini," lirihnya
Kediaman Tuan Muda Long
__ADS_1
"Tuan! Ada kabar kalau nona Melia dibawa oleh seseorang dengan mobil mewah. Saya cek CCTV, ternyata dia ... dia ..." lapor asisten Yong yang tiba - tiba saja masuk menemui Long di meja makan
"Dia siapa?" tanya Long meletakkan
sendok dan garpunya
Asistennya menelan saliva," Dia adalah Tuan Muda Tang,"
"Apa?!" Long melebarkan matanya dan segera berlari menuju ruang kerjanya, mengambil sesuatu dan kembali turun
Long berlari menuju mobilnya dan menyembunyikan pistol dibagian pinggang belakangnya
"Cepat! Dan kerahkan orang - orang kita!" titahnya pada si pengawal.
"Baik, Tuan," jawab si pengawal
Kriiinggg ... kriiingg ...
"Hallo! Kau sudah dapat lokasinya?" tanya Long to the point
"Tuan, sinyal hp dr. Melia sudah kembali di apartemennya!" lapor si bawahannya di seberang
Long berhenti tak menaikkan kaki ke mobil. Matanya melebar
"Apa kau yakin?"
"Iya, Tuan. Sekarang, sudah berada di apartemennya," jawab lagi si bawahan
Long menghembuskan nafas lega. Sang asisten dan sopir masih menunggu perintah. Ling menutup telponnya
"Antar aku ke apartemen Melia," titahnya dan segera naik ke atas mobilnya
"Baik, Tuan," seru si asisten dan sopirnya
Long mengepalkan tangannya dan menempatkan di dagunya.
"Aneh. Kenapa dia melepaskannya? bukankah dia selalu suka wanita? Tapi ... dari mana dia tahu Melia? Bukankah dia suka dengan wanita dari kalangan kelas menengah keatas?" gumamnya pada diri sendiri
"Yong! Apa kau sudah tahu kenapa dia mengincar Melia?" tanya Long
"Belum, Tuan. Saya hanya berpikir, apa Tuan Muda Tang tahu kalau Anda ... em ... mendekati nona Melia?" jawab Yong, asistennya
"Karena aku? Apa mungkin? Apa dia tahu aku menyelidikinya, karena itu dia mendekati orang - orang terdekatku?" gumam Long lagi
20 menit kemudian, mobil yang mengantar Long sampai di depan gedung apartemen Melia.
Netranya melihat ke gedung apartemen itu. Matanya terpejam.
"Yong! Kirim beberapa orang dengan bela diri tinggi menjaganya. Jangan sampai terlihat," perintahnya pada Yong, asistennya
"Baik, Tuan,"
Long sekali lagi melihat ke arah gedung apartemen itu dan mendesah
"Kita pergi!"
__ADS_1
Sopir Long kembali melajukan mobilnya.