
Sehari lagi telah berlalu. Yin masih setia disisi ayahnya. Ia menjaga dan merawat sang ayah. Melia hanya datang sesekali untuk memeriksa, menggantikan Wayne yang seminar di luar negeri.
“Yin, aku ingin kembali. Ini bukan dunia kita. Biarkan Melia disini. Karena ini memang dunianya. Ia sudah tak mengingat apapun lagi.Tak ada yang dapat kita lakukan,” ujar Yuan Besar Yin lemah. Yin tak menjawab dan masih membantu menyuapi Tuan Besar Yin
“Ayah, ini sudah lewat waktu yang Dewa Tinggi Feng Huang beri. Tapi, aku masih mengingat semuanya dengan jelas. Jadi, aku harus menjaga Melia. Karena ... Yuan brengsek itu ternyata juga berada disini dan bereinkarnasi menjadi tunangan Melia,” kata Yin.
Tuan Besar menipiskan bibirnya. Matanya terpejam. Sungguh sebuah takdir yang tak disangka - sangka. Setelah ribuan tahun, keduanya masih saja dengan hubungan yang sama
“Yin, ayah sudah lebih baik. Kita harus segera kembali,” desak Tuan Besar
“Ayah ... bersabarlah,” pinta Yin
**tok ... tok ... **
“Selamat sore, Tuan Yin. Maaf, saya baru bisa cek sekarang. Saya periksa dulu, ya?”
Melia datang dengan senyum manisnya dan menghampiri bed rawat Tuan Besar. Lelaki itu hanya mengangguk dan memejamkan matanya. Ia masih malu dan tak terbiasa. Melia tersenyum dan mulai memeriksa dada Tuan Besar dengan stetoskop
Yin melihat bagaimana Melia menggunakan alat itu dan wajah seriusnya. Melia melepas stetoskop itu dari telinganya dan meminta suster menutup baju Tuan Besar Yin
“Sudah mulai normal semua. Hanya saja karena operasi ini adalah operasi besar, saya harap Tuan Yin jangan terlalu memikirkan hal – hak yang berat, ya?” saran Melia
"Tuan, ayah Anda hanya boleh memakan makanan dari rumah sakit, jadi tolong Anda juga perhatikan itu,” kata Melia lagi, sambil melirik beberapa macam makanan di atas nakas di sisi tempat tidur Tuan Besar
“Ekhem ... baiklah, saya mengerti. Terima kasih,” jawab Yin
Melia mengakhiri praktek harinya dan berjalan untuk keluar lobby. Di saat yang sama, seorang laki - laki tampan berjalan berlawanan arah dengannya. Laki – laki itu berjalan menuju resepsionis dengan 2 orang pengawalnya
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya resepsionis itu bersemangat dan memasang wajahnya semanis mungkin
“Tuan Muda akan menjalani pemeriksaan rutin. Dimana kamarnya?” kata seorang laki – laki dengan jas hitam yang sepertinya adalah pengawalnya.
“Oh, baik. Saya akan antar ...” kata resepsionis dan bersiap keluar dari kursinya
“Tidak perlu! Tuan Muda hanya minta arahnya saja,” seru pengawal itu. Wajah resepsionis itu menjadi suram
“Di lantai 2. pertigaan pertama belok kanan,” jawabnya dengan senyum kaku
Laki – laki yang disebut Tuan Muda melangkah dengan gagah menuju lift. Banyak orang berbisik – bisik tentang identitas lelaki itu.
“Tuan Muda, dr. Huang mengatur jadwalnya besok pagi jam 8. Kenapa ... kita datang malam ini?” tanya asisten lelaki itu
laki – laki yang dipanggil Tuan Muda itu berbalik dan menatap tajam asistennya
“Apakah aku harus mengatakan alasannya padamu?” ketusnya . Asisten itu menunduk dan menggeleng
“Maaf, maafkan saya, Tuan,” jawab asisten itu
“Ada kabar dari keluarga Tang?” tanya lelaki itu
**Ting **
Pintu lift terbuka. Kaki panjang lelaki itu melangkah dan menuju kamar yang akan ia tempati. Sang asisten membukakan pintu untuknya. Matanya mengedar ke sekeliling. Pengawalnya mulai bergerak dengan sebuah alat di tangan mereka
“Aman, Tuan Muda,” lapor pengawal itu
Lelaki itu masuk dan melepas jasnya dan melemparkan begitu saja pada asistennya
“Lanjutkan laporanmu!” titahnya
“Baik,” sahut asisten itu sambil menunduk,”Tuan Muda Tang akan mengikuti acara kencan buta di hotel X, Tuan.”
“Kencan buta? Apa lagi yang mereka rencanakan kali ini?” gumam lelaki dengan postur tinggi dan atletis itu
“Ini sudah 11 kalinya Tuan Muda Tang mengikuti kencan buta. Dan, kabarnya ...”
Lelaki tampan itu melirik kearah asistennya yang tampak ragu untuk meneruskan perkataanya
“Ada apa? Kabar apa?”
“Itu ... kabarnya 11 gadis cantik yang menjadi teman kencan Tuan Tang, pulang – pulang sudah seperti ... manusia tanpa nyawa.”
“Apa?”
"Benar, Tuan Muda. Kabarnya wanita – wanita itu menjadi seperti zombie setelah bermalam dengan Tuan Muda Tang,” timpal seorang pengawal.
Lelaki itu menautkan alisnya,' Apa mungkin seperti yang dikatakan lelaki tua itu? Travis Tang bukan manusia?'
“Tuan Muda, kabarnya, adik kandung Tuan Muda Tang meninggal di saat usianya masih belia juga karena dia,” sambung seorang pengawal lagi
__ADS_1
“Hmm ... oke sudah cukup. Kita bicarakan lagi besok. Terus awasi mereka,” titahnya lagi
“Baik, Tuan Muda,”
Seorang wanita berjalan di sebuah ruangan tanpa batas dengan cahaya yang terang. Melihat kesana kemari semuanya sama.
“Dimana ini?” gumamnya. Ia terus berjalan
Kaki indahnya berjalan tanpa alas kaki tanpa tujuan. Rambut hitam yang halus berkilau (seperti rambut sunsilk ?) terurai lepas dan bergoyang seiring langkahnya yang cepat.
“Halooo ... ada orang?!” teriaknya. Tak ada jawaban
Ia melihat kesana kemari. Tak ada satu makhluk pun terlihat
“Ibu!!! ayah!!!!” panggilnya. Ketakutan melandanya.
“Melia ... Melia ...”
Melia berbalik cepat mencari asal suara
“SIAPA?! SIAPA KAU?!” teriaknya
"Melia ... berjalanlah ke depan dan kau akan menemukanku,” suara lembut itu seperti sebuah sihir yang membuat Melia berjalan menurutinya
Langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sesosok wanita cantik dengan tatapan hangat berdiri menunggunya
“Kau, apa kau yang memanggilku?” tanya Melia. Sosok itu mengangguk pelan dan tersenyum
“Kemarilah, nak,”
Melia menelan air liurnya dan berjalan mendekat.
“Apa ... apa aku sudah mati? Apa kau malaikat kematian yang menjemputku? Tapi ... kau terlalu cantik untuk menjadi malaikat kematian,” ucap Melia
Sosok wanita itu tersenyum,” Tidak, sayang. Kemarilah,”
Melia mengangguk dan mendekatinya. Tangan lembut nan hangat mengengenggam tangan lentik Melia
“Sayang, jangan lupakan tujuanmu datang kedunia ini. Ingatlah, banyak orang membutuhkanmu. Kembalilah, sayang,” ucap wanita itu yang kini berubah menjadi sendu
“Tujuanku kedunia ini? Apa maksudmu?” tanya Melia tak mengerti
“Sayang, ikuti kata hatimu. Kembalilah ... aku akan menunggumu,” suara wanita itu semakin lama semakin mengecil seiring dengan tubuhnya yang juga perlahan menghilang
“Aku ... aku mimpi lagi. Ooorghh ...”
Melia menyisir rambutnya dengan jari. Ia melihat kesana kemari. Ia masih di kamar apartemennya
Wanita itu melihat jam yang terpajang apik di atas nakas. 2 AM
“Huftt ... bajuku basah. Sebaiknya aku ganti baju,” gumamnya. Melia berdiri dan melangkah mencari baju tidurnya yang lain
Ia kembali dengan bajunya yang telah berganti. Duduk di pinggir ranjang memikirkan mimpi yang baru saja ia dapat
“Apa maksudnya? Tujuanku kedunia ini? Kembali? Kenapa aku tak mengerti sedikitpun perkataannya? Sudah 2 kali dia masuk ke dalam mimpiku. Apa aku harus bertanya pada biksu di kuil, ya?” gumamny dan mengigit jarinya
Melia menghempaskan tubuhnya ke ranjang, beusaha tak memikirkannya. Tapi … sia – sia … hingga matahari menyapa, netranya tak kunjung terpejam.
Dengan lingkar hitam di bawah matanya, Melia datang ke rumah sakit untuk kembali bekerja seperti biasa.
Ia melihat Wayne sedang bercengkerama dengan seseorang di ponsel. Ia mendekatinya, berusaha untuk mengejutkannya.
“Tapi kau akan menikah dengannya. Kenapa kau melakukan ini?”
“ ….....”
“Dengar, jika kau tak segera akhiri, kau akan menyesal. Felix,”
Melia berhenti dan berdiri mematung. Ia berdiri tepat di belakang Wayne. Tapi, ia masih tak mengerti apa yang dibicarakannya dengan Felix, tunangannya. Sudah beberapa kali ia menghubungi tunangannya itu, tapi panggilannya tak bisa tersambung.
‘Kenapa ia bisa menghubungi Wayne tapi tak menghubungiku?’ batin Melia dan melihat ponsel ditangannya
“Sudahlah, Felix. Aku sudah memperingatkanmu. Jangan datang padaku, kalau kau menangis karena dia meninggalkanmu,”
Wayne menutup ponselnya dan berbalik. Matanya terbuka lebar ketika ia mendapati Melia sudah berdiri dibelakangnya
__ADS_1
__ADS_1