Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Ambisi


__ADS_3

5 tahun kemudian


Drap ... drap ... drap ...


“BERHENTI!” seorang laki – laki dengan hanfu mewah, berjalan menghampiri seorang tentara, yang tengah berlari di pelataran Istana dengan darah berlumuran dimana – mana


Tentara itu berhenti dan melihat ke sisi kanannya. Matanya melebar. Ia segera menghampiri lelaki itu dan berlutut di hadapannya


“Tuan ... (menelan saliva) mereka ... mereka akan segera sampai ke ibukota. Saat ini mereka sudah ... sudah sekitar 10 mil dari sini,”


Lelaki itu melotot. Matanya menatap tajam keluar gerbang istana. Ia menepuk bahu tentara itu dan berlari


“KAU BOLEH PERGI KE KLINIK KERAJAAN DAN MINTALAH MAKANAN UNTUKMU!!” teriak lelaki itu tanpa menghentikan larinya


Brukk ...


Tentara itu terjatuh bebas ke lantai.


Haah ... haah ...  haah ...


“Aku harus cepat memberitahu Kaisar ...”


Haah ... haah ... haah ...


Lelaki berhanfu merah itu berlari dan berlari. Ia berhenti sejenak, ketika ia melihat pintu ruangan atasannya sudah di depan mata. Ia mengatur nafasnya dan berlari mendekati kasim yang berjaga


“Kasim Wu, segera beritahu kaisar, aku ingin bertemu,” ucapnya


Kasim itu menunduk dan masuk ke dalam. Tak lama ia kembali dengan wajah sendu dan sedikit menoleh ke belakang. Lelaki itu mengerti dan menepuk bahu si kasim


Berjalan cepat, ia masuk dalam ruang kerja Kaisar. Matanya mengedar mencari. Netranya berhenti pada pemandangan yang tak mengenakkan


Em ... ah ... oh ... yaa ... Oh ... Yang ... Muli ... a


Ia berjalan mendekati ranjang mewah dengan korden yang tertutup dan berlutut


“Ampun Yang Mulia, ada yang harus hamba laporkan,” ucapnya dengan kepala menunduk. Ia sudah biasa dengan hal ini


Seett ...


Korden itu terbuka. Laki – laki bermata tajam, sekilas melihat bawahannya. Ia menarik hanfu dalamnya dan memakainya.


“Ada apa?” tanyanya dingin


“Yang Mulia, tentara Wen sudah berada 10 mil dari Istana,” lapornya


Kaisar memejamkan matanya dan berjalan tenang menuju meja yang terletak tak jauh dari ranjangnya. Ia mengambil cawan araknya dan meminumnya


“Bai Yan. Kerajaan ini bukan dalam kuasaku. Lalu, untuk apa aku harus mempedulikannya?” ucap Yuan. Ya, kaisar itu adalah Yuan


“Ehm, Yang Mulia ... lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Bai Yan


“Hahaha ... kau bertanya padaku, apa yang harus kita lakukan? Bukankah ada Yuan Ning. Tanyakan padanya. Bukankah selama ini, dialah penguasanya. Selama 5 tahun aku memerintah, dialah yang mengatur semuanya,” ucap getir Yuan


Benar, selama 5 tahun ini, semua keputusan ada di tangan Yuan Ning. Pemerintahan yang kejam dan otoriter. Membuat semua rakyat menderita.


Beberapa bangsawan secara diam – diam mengungsi dan pindah ke Negara Wen. Bahkan, penduduk di perbatasan pun hanya tersisa segelintir orang


“Baik, Yang Mulia. Hamba permisi,”


Yuan mengibaskan lengan hanfunya dan mengijinkan bawahannya yang setia itu pergi


 


 


Beberapa waktu kemudian, seorang kasim datang. Dengan angkuh, ia melihat ke arah Yuan

__ADS_1


“Yang Mulia, Yang Mulia Puteri Yuan Ning meminta Anda datang ke tempatnya,” ucap kasim itu dan segera


pergi tanpa memberi hormat


Yuan tersenyum getir


“Hmpph ... aaaaa!”


Pyaar ...


Ia melemparkan cangkir di tangannya. Memakai hanfunya dengan asal dan berjalan gontai menuju paviliun Yuan Ning


“Anda sudah datang, Yang Mulia sudah menunggu. Silahkan masuk,” ucap seorang kasim.


Yuan masuk dan berdiri di tengah ruangan itu. Yuan Ning menyeringai. Perlahan dan pasti ia membuka satu per satu hanfunya dan berjalan perlahan menuju pembaringannya


“Yuan ... kemarilah. Aku sudah siap,”


Gerakan sensual Yuan Ning, tak membuat Yuan bergairah tapi membuatnya semakin merasa jijik. Selama hampir 5 tahun, dirinya selalu dijadikan alat Yuan Ning untuk memuaskan nafsunya.


Tak peduli siang atau malam, ia harus siap untuknya. Permaisuri dan para selir yang ia nikahi, juga menjadi alat bagi Yuan ning untuk mendapatkan jiwa murni.


Setiap bayi yang lahir, maka Yuan Ning akan menyerap jiwanya. Hanya 1 yang disisakan Yuan Ning. Yaitu pangeran Tan Yin, karena bayi itu saat lahir mengalami kebutaan.


Back to story


Yuan melepas hanfunya dan melakukan kehendak Yuan Ning. Siang pun berganti malam. Yuan membanting tubuhnya di samping tubuh polos Yuan Ning. Dengan malas ia menarik hanfunya. Tapi tangan Yuan Ning menghentikannya


“Aku lelah. Aku tak bisa lagi,”


“Hahaha ... kalau begitu, wanita yang di ranjangmu tadi siang ... harus berakhir malam ini,” ancam Yuan Ning dengan seringainya dan menatap Yuan dengan mata nakalnya


Yuan mengepalkan tangannya. Ia melempar hanfu di tangannya dan kembali berbaring.


‘Besok, pasukan Wen akan datang. Dengan senang hati aku akan membuka gerbang istanaku. Dan ... disaat itu aku bisa mengucapkan, pergilah kau ******!’ geram Yuan di dalam hati


Wei Tao dan anak buahnya menerobos masuk Istana dan membunuh semua pengikut Ratu Iblis.


“Wei Tao! Ternyata kau adalah pengkhianat!” seru seorang laki – laki berambut merah dan wajah merah, Shuoli


“Hahaha ... aku lebih kuat dari ratumu. Untuk apa aku harus tunduk padanya, hmm?” ejek Wi Tao


“Kau!!! Kau akan merasakan akibatnya kalau kau tak menarik anak buahmu!” seru Shuoli


“Benarkah? Apa kau tahu, ratumu itu sedang bersenang – senang dengan pria – pria dari kalangan manusia diluar sana. Bukankah sudah melihatnya sendiri?”


“Kurang ajar!”


Haaaa ...


Shuoli mencengkeram kan tangannya dan menyilangkannya di depan dada. Sinar merah kehitaman muncul. Tanpa berjalan, tubuhnya begerak maju dengan cepat ke depan mendekati Wei Tao


Mata Wei Tao menajam. Bibirnya menyeringai. Ia membuka kakinya dan menarik satu sikunya ke belakang dan menjulurkan satu tangan ke depan. Sinar hijau berkilatan keluar dari telapak tangannya.


Baam ...


 


Sreett ...


Tubuh Shuoli terdorong mundur. Ia menggeram dan membuat telapak kakinya mengarah keluar untuk menahan tubuhnya agar tak terus mundur, setelah serangannya berbenturan dengan serangan Wei Tao.


Crashh ... crashh ..


Tas ... tas ...


Percikan kilat kehitaman memercik di saat kedua kekuatan itu bersatu. Mata Shuoli melebar dan melihat tajam ke arah Wei Tao

__ADS_1


“Wei Tao! Kau ... kau  memakan Mutiara Jiwa Hitam milik ratu?!” tukasnya


Wei Tao menyeringai. Satu alisnya terangkat. Ia menambah kekuatannya.


"Mutiara itu tak akan ada gunanya untuknya. Kau tahu kenapa? karena aku sudah menyuguhkan jiwa tak murni padanya dan ia memakannya tanpa tahu. hahaha ..." ledek Wei Tao.


Mata Shuoli kian melebar. Ia ingat, Wei Tao yang mengumpulkan para gadis. Jadi, diantara para gadis itu ...


"Kau!!!"


Wei Tao tersenyum licik, dan ...


Hmppgh ... paaa ...


Cuss ... daass ...


Pusaran berwarna hijau kehitaman meluncur dan menghantam dada Shuoli


“Aaaa ..”


Uhuk ... uhuk ...


Brutt ..


Cairan berwarna hitam keluar dari tubuh Shuoli.


Shuttt ...


Tubuh Wei Tao bergeser cepat kedepan dan berada di depan Shuoli dengan seringainya.


"K-kau ... akan han ... cur dengan ... ambisimu .." ucap Shuoli terbata


Uhuk ... uhuk ...


Shuoli kembali terbatuk dengan darah bertambah memenuhi mulutnya. Wei Tao membuat tangannya menjadi seperti mencengkeram dan mengarahkannya pada Shuoli. Mata Suoli membulat.


“Kau sudah tak diperlukan lagi, Tetua Shuoli,” ucap Wei Tao dan tersenyum


Srrtt ...


Asap hitam terserap keluar dari tubuh Shuoli dan masuk ke dalam telapak tangan Wei Tao. Lelaki dengan mata yang berwarna merah itu menyeringai.


Ia menarik kembali tangannya, saat Shuoli sudah tak tampak lagi dan tersisa pakaiannya yang teronggok di lantai


“Ahh ... tinggal wanita itu. Hahaha ... akhirnyaa ... semuanya akan jadi milikku ... hahaha ...”


Tawa Wei Tao membahana memenuhi seluruh Istana Iblis. Semua prajurit melihat satu sama lain


“Tetua Wei Tao sudah berhasil menguasai istana ini. Yang melawan, akan dibunuh!” seru seorang laki – laki berpakaian hitam dan mata dengan manik hitam besar


Seluruh prajurit iblis berlutut,” SEMOGA TETUA WEI TAO TERUS BERJAYA,” seru mereka serentak. Wei Tao yang saat ini duduk disinggasana mendengar itu.


“Hahaha ... hahaha ...”


Suara tawa itu kembali membahana di seluruh Istana Iblis


Wanita cantik dengan wajahnya yang cantik dan berkulit pucat, mendengar semuanya. Airmata mengalir dipipinya.


“Ayah, saat ini ... aku tak bisa berbuat apapun. Tapi, jika aku keluar dari tempat ini, bagaimana aku dapat menjalani hidup?” lirihnya


 ***


Yooo ...


Part 2 Crazy Up 1


Jangan lupa Vote dan Like nya ...

__ADS_1


Pembaca siluman ... mohon tinggalkan jejak. VOTE and LIKE ya ...


__ADS_2