Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Rasa


__ADS_3

Kediaman Putra Mahkota Yuan


Yuan berlatih tanpa henti dari pagi dan membuat asistennya, Bai Yan cemas. Ia sudah berusaha menghentikan Putra Mahkota Kerajaan Mingitu  untuk menghentikan latihannya, tapi tak ada hasil


Yuan mengeluarkan kekuatannya dan hampir menghancurkan seluruh gelanggang latihan dan beberapa peralatan latihan. Tapi, seakan semuanya belum cukup untuk melampiaskan rasa sesak didalam dadanya


“Hiyaaa ...”


Baamm ...


Sebuah gundukan jerami dengan beberapa blok bata tanah liat yang menumpuk sebagai penyanggapun ikut hancur dan beserakan


Mata Yuan memerah karena kemarahan yang tertahan. Bukan, bukan kemarahan ... tapi rasa sakit.


“Kenapa ... kenapa hatiku merasa sesak karena memikirkannya? Kenapa? Kenapa? Aarrghh ...”


Baaamm ...


Kembali Yuan melampiaskannya pada deretan senjata yang dipakai untuk latihan. Bai Yan memiringkan badannya dan menutup wajahnya. Perlahan ia membuka tangannya dan melihat ke arah Yuan. Ia menelan ludahnya dengan berat melihat betapa mengerikannya wajah Putra Mahkota saat ini


“Kau ... kenapa kau selalu menghantuiku? Kenapaaa ... tidak, tidak ... kau tidak boleh menikah dengan yang lain. Tidaakk ...” teriak Yuan


Bai Yan menatap iba pada pangeran yang ia layani sejak ia masih berumur 7 tahun itu. Sejak kedatangan Putri Mahkota Yin Mei Lan masuk dan tinggal di kediaman Pangeran, ia tahu, bahwa Pangerannya itu sudah menerima putri keluarga Yin itu sebagai calon pengantinnya.


Hanya, entah kenapa sejak kepulangan Putra Mahkota dari berburu, sikapnya semakin tidak bisa ditebak. Terutama jika menghadapi Putri Mahkota Yin. Ia akan berubah menjadi marah tak terkendali dan semakin dingin.


Ia bahkan, tak segan mengambil kakak tiri Xia Ling, yang adalah anak haram Keluarga Yin, sebagai wanitanya. Sekarang, setelah semuanya berakhir dan Mei Lan melepaskan statusnya dan kembali, sikap Putra Mahkota semakin tak dapat dimengerti


“Sebenarnya kenapa denganmu, Yang Mulia,” gumam Bai Yan


Yuan masih terus berlatih tanpa istirahat. Bai Yan memutuskan untuk menunggu di sisi arena dengan


air minum disisinya.


Seorang kasim berlari dan mendekati Bai Yan dengan tergesa – gesa


“Pengawal Bai ... Pengawal Bai!” panggilnya dengan cemas. Bai Yan mengalihkan perhatiannya dan melihat si kasim dan mengerutkan alisnya


“Ada apa kasim Wu?” tanya Bai Yan


“Pengawal Bai ...” kasim itu mengatur nafas dan menelan salivanya beberapa kali. Bai Yan melipat tangannya didepan dada, bersabar menunggu si kasim untuk berbicara


“Pengawal Bai, Yang Mulia Kaisar ... menyuruh Putra Mahkota segera menghadap,” kata kasim itu


“Kaisar sudah siuman?” tanya Bai Yan


“Sudah, Pengawal Bai. Yang Mulia sudah sadar pagi tadi. Dan sudah menghadiri Pertemuan pagi dengan para menteri,” jawab Kasih kecil itu


“Baiklah, aku akan memberitahu Pangeran Mahkota. Pergilah,” ujar Bai Yan. Kasim itu mengangguk dan memberi hormat lalu beranjak dari sana


Kediaman Keluarga Yin


Mei Lan sudah duduk selama 1 jam di ruang kerja sang ayah, berhadapan dengan 3 laki – laki tampan yang menatapnya dengan mata menyelidik


“Ayah, aku sudah ceritakan semuanya, sekarang ... apa lagi yang mau ayah tanyakan?” tanya Mei Lan dengan malas dan memainkan rok hanfunya


“Lan er! Turunkan rokmu! Kau wanita, kenapa kau begitu ceroboh mengangkat – angkat hanfumu seperti itu. duduk yang benar!”

__ADS_1


Mei Lan merapatkan kakinya dan menipiskan bibir. Bosan. Ketiga laki – laki itu menggelengkan kepalanya.


“Sekarang, katakan siapa calon suami yang kau bilang itu? Siapa ayahnya dan dari mana asalnya?” rentet Tuan Besar Yin, bertanya melanjutkan interogasinya


Mei Lan menelan salivanya. Long belum melamarnya dan ia juga pergi selama 10 tahun. Bagaimana kalau ternyata ... Mei Lan menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam


“Kenapa? Apa itu hanya khayalanmu saja? Kau berbohong pada Yang Mulia?” tanya Tuan Besar Yin dengan mata melebar


“Ehm ... bukan, bukan begitu. Tapi ...”


Tok ... tok ...


Yin berdiri dan berjalan membuka pintu. Seorang pelayan sudah berdiri dengan wajah cemas


“Ada apa?” tanya Yin


“Yang Mulia Kaisar meminta Anda dan Tuan Muda Mou Han untuk ke Istana,” kata pelayan itu


“Baiklah, kami akan kesana nanti,” jawab Yin dan hendak menutup pintu


“Eh ... Tuan Muda Yin, Kaisar sudah mengutus 2 orang prajurit untuk menjemput Tuan Besar dan Tuan Muda Mou Han,” jelas pelayan itu, sambil menunjuk keluar


Yin menautkan alisnya,”Kaisar mengutus 2 prajurit?” pelayan itu mengangguk cepat. Yin menangguk dan berbalik berjalan mendekati ayah dan kedua adiknya


“Ayah, Kaisar mengutus 2 prajurit untuk menjemput ayah ke Istana sekarang juga. Bersama Mou Han,” kata Yin pada ayahnya


Tuan Besar Yin mengerutkan alisnya dan berpandangan dengan Mou Han. Keduanya berdiri dan melangkah


Mei Lan ikut berdiri lalu mencegat keduanya.


“Ayah, tunggu!” Mei Lan membalik telapaknya dan muncullah 2 butir pil di telapaknya


Hawa Iblis pada Kaisar sangat kuat dan beberapa orang di dekatnya juga memiliki hawa Iblis, hanya tak sekuat Kaisar.


Karena itu, untuk berjaga – jaga, ayah dan gege minumlah ini. Pil ini akan melindungi energi murni dan hawa ayah dan gege,” jelas Mei Lan


“Hmm, baiklah.”


Tuan Besar Yin dan Mou Han menelan pil itu dan segera berangkat mengikuti 2 prajurit yang menjemput mereka


Mei Lan menatap kepergian ayah dan gegenya. Yin mendesah. Ia yakin sesuatu pasti sudah terjadi


“Ge, aku kembali ke paviliunku,” pamit Mei Lan. Yin mengangguk


 


 


 


Istana Kerajaan Ming


Kaisar duduk di singgasana dan memijat pangkal hidungnya. Laporan utusan dari perbatasan sangat membuatnya resah. Putra Mahkota datang dan menghadap ayahnya


“Yang Mulia, Ayahanda,” sapanya.


Kaisar menoleh dan melihat Yuan. Ia mengangguk dan menyuruhnya untuk duduk

__ADS_1


“Yuan, bagaimana kabarmu beberapa hari ini? Apa kau sudah memilih siapa yang akan menjadi pendamping kelak?’ tanya Kaisar dengan menyanggah kepalanya.


Saat ini, Qi di dalam tubuh Kaisar, masih belum seimbang. Sehingga kekuatan tubuhnya melemah. Hanya saja, ia sudah mulai dapat berpikir jernih.


“Ananda baik – baik saja. Bagaimana dengan Ayahanda?”


“Ehm, Yuan ... katakan padaku, apa kau menyalahkanku karena sudah mengangkat Ning Ru menjadi Permaisuri?” tanya Kaisar tanpa menjawab pertanyaan putranya


Yuan melihat ayahnya dan kembali menunduk. Kalau boleh jujur, ia memang menyalahkan ayahnya itu. Karena itu, selama ini ia tak pernah dan bahkan jarang berkunjung ke kediaman Kaisar. Ia hanya datang memberi salam seperti biasa dan pergi


“Ayahanda, andalah Kaisar negara ini. Pendapat hamba ... tidaklah penting. Saya yakin, anda punya pertimbangannya sendiri,” kata Yuan


Kaisar tersenyum getir mendengar jawaban putranya. Jika ia katakan yang sebenarnya, mungkinkah putranya itu akan percaya padanya?


“Ayahanda, saya dengar saya dipanggil karena ada sesuatu yang penting yang ingin Ayahanda bicarakan,” ucap Yuan mengalihkan pembicaraannya


“Hmm ... kita tunggu Menteri Pertahanan dan Jenderal Muda Yin lebih dulu,”


Yuan menautkan alisnya. Menteri Pertahanan dan Jenderal Muda Yin? Apa terjadi sesuatu di perbatasan? Jika tidak, tak mungkin Kaisar yang terlihat belum terlalu sehat itu memaksakan diri mengadakan pertemuan


“Yang Mulia, Menteri Pertahanan dan Jenderal Besar Yin sudah datang,” lapor Kasim Gu


“Hmm ... suruh mereka masuk,”


Kasim Gu menunduk dan segera memanggil YuanBesar Yin dan putranya untuk masuk


Tuan Besar Yin dan Jenderal Yin masuk dengan wajah tanpa ekpresi. Keduanya memberi hormat pada Kaisar dan Putra Mahkota


“Hmm, Putra Mahkota, Menteri Yin, dan Jenderal Yin. Kali ini aku mengumpulkan kalian, karena aku mendapat laporan tentang pergerakan dari negara Xue yang mengirim sejumlah besar tentaranya ke perbatasan.


Saat ini, Jing Shi sudah aku utus untuk segera kembali ke perbatasan. Aku ingin membahas strategi jika terjadi perang. Aku akan mencoba menyurati Raja Xue dan mencoba berdiskusi dengannya. Tapi, kita harus tetap membahas kemungkinan yang terburuk,” kata Kaisar


“Ayahanda, kita memang bisa mencoba untuk berbicara dengan pihak mereka, tapi ... bagaimana kalau ternyata mereka memang berniat untuk menyerang kita? Saya yakin utusan yang kita kirim justru akan dijadikan ssandera oleh mereka.


Sedangkan, utusan yang kita pilih haruslah seseorang yang memiliki kedudukan penting di Kerajaan,


untuk menunjukkan ketulusan kita,” kata Yuan


Tuan Besar Yin juga menyetujui hal ini. Tapi, jika tak mencoba bernegosiasi, maka perang yang menyengsarakan rakyat pasti tak akan terelakkan


“Yang Mulia, ijinkan saya yang akan mencoba berbicara dengan mereka ,” ucap Menteri Pertahanan atau Tuan Besar Yin Mou San


“Ayah!” seru Mou Han terkejut


Kaisar dan Putera Mahkota juga terkejut mendengarnya.


“Setidaknya, jika mereka memang tidak ingin berdamai, dan mencoba menyendera hamba, hamba dapat melawan. Karena hamba dengar kultivasi mereka juga sedikit dibawah kita,” kata Tuan Besar


“Pejabat Yin, kita tidak boleh meremehkan musuh,” tukas Kaisar


Tuan Besar Yin tersenyum,”Hamba tidak meremehkan musuh, Yang Mulia. Tapi setidaknya, kemungkinan


saya untuk bisa melarikan diri jika terjadi sesuatu, lebih besar dibanding pejabat yang lain,” kata Tuan Besar


Kediaman Yin


Mei Lan yang bermeditasi merasakan sesuatu yang mengganjal. Ia seperti ingin menangis. Ia segera membuka matanya dan mengatur nafas

__ADS_1


“Ada apa ini? Kenapa aku punya firasat tak enak?” gumamnya


__ADS_2