
Ruang Belajar Kaisar Tan Yuan
Permaisuri sedang mengaduk tinta ketika Puteranya, Putera Mahkota Tan Yuan Ming, meminta menghadap
“ Hmm ... suruh dia masuk,” kata Kaisar.
Kasim Gu segera pergi untuk membukakan pintu dan mempersilahkan Putera Mahkota masuk. Langkahnya yang tegap dengan wajah yang tampan, tak heran banyak wanita berebut untuk menjadi wanita dari Pangeran Kerajaan Ming itu.
“ Yuan er ..” sambut Permaisuri dengan senyumnya
“ Yuan er menghadap Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri,” ucap Yuan memberi hormat
“ Hmm ... Yuan er, bagaimana persiapan pernikahanmu?” tanya Kaisar
“ Semua lancar dan sudah selesai, Ayahanda,”
Kaisar mengangguk. Tangannya meraih tangan Permaisuri dan mengajaknya turun untuk duduk di meja minum teh yang ada di sisi ruangan Kaisar
“ Duduklah,” titah Kaisar pada Puteranya. Yuan menakupkan tangannya di depan dada dan mengangguk. Ia duduk di sebelah Permaisuri.
“ Nak, ingatlah ... kau akan menjadi suami dan kepala keluarga. Jangan lagi bersikap semaumu sendiri. Kau harus bisa membantu Ayahmu dan membimbing istrimu. Agar nama Kerajaan kita semakin mashyur,” ucap lembut Permaisuri dan memegang tangan Yuan yang ada diatas meja
“ Yuan er, dengarkan ibumu. Dan jangan sakiti istrimu seperti kau menyakiti Mei Lan. Walau kau tak menyintainya, kau harus tetap berbuat adil dengan semua wanitamu. Apa kau mengerti?” petuah Kaisar membuat Yuan merasa tertohok.
“ Ba-baik, Ayahanda,”
“ Nak, aku tahu kau mencari keberadaan Mei Lan. Aku harap, kau tidak mencarinya untuk menyakitinya. Anak itu sudah menderita sejak kecil karena ulah selir-selir Ayahnya dan saudari tirinya. Jika kau terus menyakitinya, jangan harap Ibunda akan memaafkanmu!” ujar Permaisuri
Deg
Mata yuan membulat. Ia terkejut karena Ibundanya mengetahui kalau saat ini ia tengah mencari Mei Lan, yang notabene adalah mantan tunangannya.
“ Kau boleh memiliki selir, tapi ingatlah, bahwa cinta tidak bisa dibagi,” sindir Permaisuri
Uhuk ... uhuk ...
Kaisar tersedak air teh yang ia minum
“ Seorang wanita yang telah menikah bisa bertahan saat cintanya dibagi, semata-mata karena anaknya dan karena ia tak ingin terjadi banyak masalah. Tapi, rasa sakit itu akan dibawanya hingga akhir hayat,” lanjut Permaisuri dan menyesap tehnya.
Mata Kaisar terus memperhatikan istrinya dengan tatapan rasa bersalah
“ Baik, Ibunda,”
“ Ekhem hem ... Yuan er, kau boleh pergi. Tapi, ingat! Jangan sampai aku mendengar keluhan tentangmu lagi,” ancam Kaisar
“ Baik, Ayahanda. Yuan er permisi dulu,” pamit Yuan
Kaisar mengibaskan tangannya mempersilahkan anaknya untuk pergi
“ Ehmm ... Permaisuri, Jing er ( Pangeran ke 3), Yi er ( Pangeran 4) akan segera kembali ke Ibukota untuk menghadiri Pernikahan Yuan er. Apa kau mau ikut aku menyambut mereka?” tanya Kaisar dengan lembut dan memegang tangan istrinya itu
“ Maafkan hamba, Yang Mulia. Tapi, sebaiknya Yang Mulia dengan Selir Kehormatan (Selir Ning, ibu dari Pangeran ke 4). Hamba harus melihat persiapan Fei er ( Puteri bungsu Kaisar dari Permaisuri) dan Xi er ( Puteri pertama Kaisar dari Permaisuri) juga berencana akan pulan besok, jadi hamba akan mempersiapkannya,” dalih Permaisuri
__ADS_1
“ Oh, baiklah ...” jawab Kaisar dengan senyum canggungnya
“ Hamba permisi, Yang Mulia ...” pamit Permaisuri
“ Hmm ... pergilah,”
Kaisar menatap kepergian Permaisuri dengan tatapan sendu. Ia tahu Permaisuri tetap bersamanya dan berlaku sopan dan lembut, semua karena tak lepas dari tanggung jawabnya sebagai Permaisuri dan Ibu. Ia tak bisa memberi kebahagiaan kepada wanita yang merebut hatinya itu.
Ia sadar, setiap hari Permaisurinya selalu melamun dan menangis dalam diam. Semua karena ia harus membagi perhatiannya dengan Selir-selir yang dipaksakan disuguhkan kepadanya.
“ Maafkan aku, Li er,” lirihnya
Pintu masuk Benteng Ibukota
2 orang dengan berbaju zirah alias pakaian lengkap perang terlihat memasuki Pintu Gerbang. Keduanya duduk dengan gagah diatas kudanya. Diikuti ratusan prajurit, kedua laki-laki itu menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Rakyat menunduk hormat dan memberi jalan.
“ Kak ... sepertinya kakak pertama benar-benar akan menikah kali ini,” kata lelaki dengan baju zirah putih dengan pedang di pinggangnya yang tak lain adalah Pangeran keempat, Tan Yi Xuan
“ Hmm ... sepertinya begitu,” jawab Tan Jing Shi ketika ia melihat dekorasi yang sudah mulai tampak di beberapa rumah menuju Istana. Bahkan, Pintu Gerbang Istana juga sudah dihias
“ Aku ingin melihat wajah adiknya Yin itu, saat melihat Kakak menikah. Pasti menarik ... hahaha ...” kaya Yi Xuan
Jing Shi menggelengkan kepalanya melihat adiknya
“ Kau jangan lagi menggangunya. Dia wanita baik-baik. Kasihan dia, selalu jadi korban kejahilanmu,” tutur Jing Shi
“ Ck ... Kak, kenapa kau selalu membelanya. Memangnya Kakak mau punya kakak ipar sejelek dia,” bantah Yi Xuan
“ Aku tak membelanya, tapi dia tak punya kesalahan apapun sampai kau harus mempermainkan dan menjahilinya, ingatlah, karma itu ada. Aku duluan,”
Cetaaarr ...
Drap ... drap ... drap ...
Jing Shi memacu kudanya meninggalkan adiknya yang bandel itu. Yi Xuan menatap kesal kakak ketiganya dan memutuskan menyusulnya.
Cetaaarr ...
“ Hiyaaa ...”
Kediaman Keluarga Yin
Tuan Besar Yin juga baru sampai. Tubuh lelahnya ia baringkan diatas kasur. Selir Hong membantu melepas sepatunya.
“ Beristirahatlah, Tuan Besar,” lirih Selir Hong
“ Hmm ...”
Selir Hong meninggalkan kamar Tuan Besar Yin dan menuju Paviliun Yin untuk menjenguknya.
“ Ah, Nyonya Selir ... Tuan Muda Yin sedang keluar dan belum kembali,” kata seorang pelayan yang sedang membersihkan Paviliun Putera pertama keluarga Yin tersebut
“ Keluar? Apa kau tahu dia kemana?” tanya selir Hong
__ADS_1
“ Maaf, Nyonya. Kami tidak tahu,” jawab pelayan wanita itu
“ Baiklah, aku kembali saja,”
“ Silahkan, Nyonya,” jawab pelayan itu dengan sopan
Selir Hong akhirnya berjalan untuk kembali ke Paviliunnya. Tapi, saat ia hendak berbelok ke arah Paviliunnya, ia melihat Tuan Besar Hong berjalan keluar dengan terburu-buru
Selir Hong sedikit berlari dan mengikuti suaminya. Tuan Besar Yin masuk ke dalam ruang belajarnya dan mencari-cari sesuatu.
Tok ... tok ...
“ Tuan Besar, ini saya Hong Nuan. Apa aku boleh masuk?” seru Selir Hong. Tuan Besar Yin menoleh melihat pintu dan mendesah.
“ Masuklah,” katanya dengan suara besar khasnya
Ceklek
“ Tuan Besar ..”
“ Hmm ... ada apa?” tanya Tuan Besar Yin
“ Tuan, tadi saya lihat Tuan Besar terburu-buru. Ada apa? Apa ada yang bisa aku bantu?”tanya Selir Hong
“ Hmm ... apa, apa kau lihat kotak berwarna coklat yang aku taruh di rak itu?” tanya Tuan Besar Yin seraya menunjuk rak besar dengan banyak buku dan beberapa guci kecil
“ Kotak berwrana coklat?” ulang Selir Hong dengan alis bertaut dan mulai berpikir
“ Ah, apa dengan ukiran bunga Peony?” tanya Selir Hong beberapa saat kemudian
“ Benar! Apa kau melihatnya?” tanya Tuan Besar Yin
“ Iya, tapi, itu beberapa bulan lalu,” kata Selir Hong sedikit ragu. Tuan Besar Yin mendekati Selir Hong dan memegang erat bahu wanita itu
“ Katakan, katakan dimana itu sekarang?” tanya Tuan Besar Yin
“ Kalau kotaknya sudah saya simpan di perpustakaan Anda. Memang isinya apa, Tuan? Bukankah Anda sudah membuangnya di tempat sampah?” tanya Selir Hong dengan tatapan tak mengerti
“ Apa?! Aku tak pernah membuangnya. Itu adalah peninggalan Liang er untuk Mei Lan kalau ia sudah berusia 17 tahun,” kata Tuan Besar Yin lalu menghempaskan begitu saja tubuh Selir Hong, dan membuat wanita itu hampir terjatuh.
Tuan Besar Yin berlari menuju perpustakaannya dan mencari kotak itu. Matanya berbinar ketika melihatnya. Segera ia mengambil kotak itu dan dengan telapak tangan terbuka yang ia usapkan melayang dan tak menyentuh kotak itu, ia membuka kotak dari kayu dengan ukiran indah bunga Peony
“ Liang er, aku tak mengerti maksudmu dengan memberikan gulungan ini pada putri kita. Tapi, aku akan segera memberikannya saat ia kembali,” ucap lirih Tuan Besar Yin
Dengan hati-hati, ia menaruh kotak itu dibawah kursi tampat ia biasa duduk untuk membaca di perpustakaan dan menghabiskan waktu.
“ Sekarang, dimana aku mencari pasangan gulungan itu?” gumamnya
( Pangeran ketiga : Tan Jing Shi)
__ADS_1
(Pangeran keempat : Tan Yi Xuan)